PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 76 GARA-GARA SOTO


__ADS_3

Surya hanya diam saja. Mencoba memahami ucapan Yogi. Karena mencintai Nadia dalam waktu yang lama, tak semudah itu melupakannya.


Surya menyedot habis es tehnya.


Aah....segar sekali es teh ini. Manis. Tidak asem seperti es jeruk dengan sedikit gula kesukaan Nadia.


"Manis kan, Bro?" tanya Yogi.


Surya mengangguk. Bukan cuma manis, Yog. Tapi menyegarkan. Batin Surya.


"Jadilah diri lu sendiri, Bro. Jangan jadi orang lain. Nikmati hidup lu. Jangan paksakan diri lu buat menyukai kesukaan orang lain," ucap Yogi sambil menyuap sotonya.


"Lu tau kenapa gue suka sama soto ini?" tanya Yogi.


Surya menggeleng pelan.


"Gue suka soto ini, karena rasanya pas buat gue. Meskipun lu pernah bilang kalau rasa soto ini kurang enak. Tapi kalau menurut gue enak, gue suka, ya gue makan," ucap Yogi.


Surya masih diam. Dia ingat, dulu Nadia pernah bilang kalau es teh itu tidak enak. Rasanya hanya manis saja dan bikin eneg.


Padahal menurut Surya, rasanya sangat menyegarkan. Bisa membuat otaknya encer karena terasa nyaman setelah meminumnya.


Tapi karena dia ingin membuat Nadia bahagia dan terus menyukainya, Surya memaksakan dirinya untuk belajar meminum es jeruk yang asem.


Meski sebenarnya Surya sangat merindukan rasa es teh yang menyegarkan.


"Lu sadar kenapa lu bilang soto ini enggak enak?" tanya Yogi lagi.


Surya menggeleng lagi.


"Karena otak lu udah tersugesti oleh omongan Nadia. Nadia kan enggak terlalu doyan soto. Makanya dia bilang soto ini enggak enak." Yogi menyuap sotonya dan menikmati sensasi rasanya yang campur aduk.


Soto daging sapi dengan aroma daging yang menyengat, bumbu rempah yang kuat, ditambah perasan jeruk nipis dan sambal.


Surya menatap Yogi yang begitu menikmati soto itu. Dia makan dengan lahap. Mungkin juga karena Yogi lapar.


"Sekarang lu cobain soto ini. Nih." Yogi mendekatkan mangkuknya ke depan Surya.


"Makan aja. Gue enggak bengek, kok," ucap Yogi lalu tertawa sendiri.


Dan seperti anak kecil yang disuruh ibunya, Surya mengikuti apa kata Yogi.


Dia menyendok soto milik Yogi. Kebetulan Yogi yang tak terlalu suka pedas, hanya menambahkan sedikit sambal. Sama dengan selera Surya.


Surya mulai merasakan betapa soto ini ternyata sangat enak. Lalu Surya mau menyendoknya lagi. Tapi Yogi menarik lagi mangkuknya.


"Kalau lu suka, pesen sendiri. Entar soto gue abis, lagi." Yogi memegangi mangkuknya dengan erat. Takut direbut Surya.

__ADS_1


"Pelit!" ucap Surya ketus.


"Eh, gue kagak pelit. Cuma gue lagi laper. Lu kan tau sendiri, gue kagak pernah sarapan di rumah. Enakan sarapan di sini. Banyak temennya. Bisa liat yang bening-bening juga," sahut Yogi.


Surya beranjak dari kursinya.


"Ye...ngambek. Mau kemana, Bro?" tanya Yogi.


"Pesen soto!" jawab Surya sambil berjalan ke arah gerobak soto.


Yogi tersenyum puas. Hari ini dia sudah mampu merubah dua kebiasaan Surya.


Masih banyak yang harus dirubah dari tuh anak. Pelan-pelan, gue akan berusaha merubahnya. Biar dia cepet move on. Batin Yogi.


Surya tak seperti yang dilihat banyak orang. Dia hanya seorang lelaki rapuh yang hampir tak punya kepribadian.


Semua tingkahnya, perbuatannya dan gaya hidupnya, sangat dipengaruhi oleh Nadia.


Kalau Nadia bilang jelek, ya Surya akan meninggalkan. Dan kalau Nadia menyukai, Surya akan menjalani meski dengan terpaksa.


Surya datang membawa nampan yang isinya sama persis dengan nampan Yogi.


Surya memberikan satu gelas es teh lagi pada Yogi.


"Nih. Aku ganti es tehnya yang tadi."


"Oke. Thankyou, Bro. Tau aja kalau es teh gue abis." Yogi langsung menyedot es teh barunya.


"Lu laper apa doyan? Bukannya lu udah sarapan di rumah?" tanya Yogi.


Tanpa harus dijelaskan pun, Yogi tahu kebiasaan Surya. Tak pernah lupa sarapan pagi di rumah. Sebuah rutinitas keluarganya. Yang tak pernah Yogi lakukan karena kedua orang tuanya jarang ada di rumah.


"Udah. Ternyata enak banget soto ini," sahut Surya.


Yogi terkekeh. Kena lu! Batin Yogi.


"Lu enggak takut gendut? Udah sarapan, baru jam segini udah makan lagi?" tanya Yogi.


Setahu Yogi, Surya tak mau makan diluar jam makan. Karena mengikuti Nadia. Tanpa Surya berpikir, Nadia itu anak perempuan, pastinya akan menjaga pola makannya.


Apalagi badan Nadia yang kurus, bisa dipastikan makannya hanya sedikit dan jarang-jarang.


"Enggak. Biarin aja badanku gemuk. Yang penting sehat," jawab Surya.


Yogi kembali terkekeh. Surya yang dulu, sangat menjaga berat badannya. Karena Nadia selalu mengatakan, jangan kebanyakan makan, entar gendut.


Dan sekarang, dengan santainya Surya menjawab tidak apa-apa, yang penting sehat.

__ADS_1


Ah, cinta memang bikin orang jadi bego.


Surya sendiri juga tak mau lagi memperhatikan bodynya. Buat apa body bagus tapi enggak bahagia? Buat apa melakukan sesuatu untuk orang yang tak pernah bisa diraihnya?


"Lagian masa cuma nambah satu mangkuk soto aja, badan lu langsung bengkak? Emangnya balon?" Yogi segera menghabiskan sotonya.


"Buruan makannya, Bro. Entar telat lho." Sekarang giliran Yogi yang menyuruh Surya buru-buru.


"Iya, bentar lagi. Nanggung!" Surya tak mau meninggalkan sisa soto sedikitpun di mangkuknya.


"Busyet. Kagak usah dicuci lagi tuh mangkuk. Udah bersih!" ledek Yogi.


Surya hanya tersenyum saja. Dia merasa sayang kalau menyisakan sotonya.


Setelah Surya selesai makan, mereka segera keluar dari kantin. Jam kuliah mereka tinggal beberapa menit lagi.


Tapi di tengah jalan, Surya merasa perutnya sakit. Rasanya sangat mulas.


Bukan karena kekenyangan, tapi tadi Surya memberikan sambal terlalu banyak.


"Yog. Kamu duluan, deh. Perutku sakit. Mulas banget," ucap Surya sambil memegangi perutnya.


"Yaelah. Tahan dulu lah. Tinggal lima menit lagi ini. Bisa telat kita," sahut Yogi.


"Tapi aku udah enggak tahan." Surya langsung berlari ke arah toilet yang kebetulan tak terlalu jauh.


Yogi geleng-geleng kepala. Sekalinya makan soto malah perutnya mulas. Tapi bukan gara-gara soto juga sih, Surya saja yang nambahin sambal terlalu banyak.


Yogi terpaksa menunggui Surya di dekat toilet. Tak tega kalau membiarkan sahabatnya terlambat masuk kelas sendirian.


Lumayan lama Surya di dalam toilet. Rasa mulasnya tak juga hilang.


Karena hampir tak pernah kena makanan pedas, perutnya langsung bereaksi.


Setelah merasa perutnya lebih enakan, Surya keluar dari toilet. Tak disangka Yogi dengan setia menungguinya.


"Lho, Yog. Kamu enggak masuk ke kelas?" tanya Surya.


"Gue kasihan ama elu, Bro. Ditungguin malah lama banget. Lu berak apa beranak, sih?"


Surya menoyor kepala Yogi yang suka asal kalau komentar.


"Udah yuk, masuk kelas," ajak Yogi.


Surya melihat jam tangannya. Mereka sudah terlambat sepuluh menit.


"Udah telat, Yog. Percuma aja ke sana. Paling juga enggak dibukain pintu," sahut Surya.

__ADS_1


"Elu sih, kelamaan ngedennya!"


Surya tertawa terbahak-bahak. Yogi malah melongo. Tak disangkanya, Surya bisa tertawa lagi. Semua gara-gara semangkuk soto.


__ADS_2