
Nadia menatap Sinta yang dari tadi melirik terus ke arah Yogi. Dia jadi ingat waktu di klinik. Sinta menanyakan tentang Yogi.
"Dia pacarnya Viona," bisik Nadia di telinga Sinta.
Nadia belum tahu kalau Yogi sudah tak mau lagi ngejar-ngejar Viona. Meskipun waktu semalam ketemu Viona, Yogi tak mau datang menemui di kedai steak.
Sinta langsung cemberut. Benar-benar kandas harapannya.
"Yog, kok kamu enggak ajak Viona?" tanya Nadia. Sebenarnya Nadia berharap Yogi memberi sinyal kalau dia memang lagi jalan dengan Viona. Dan Sinta tak mengharapkannya lagi.
"Males. Kayak enggak ada cewek lain aja!" jawab Yogi dengan ketus.
Nadia melongo. Bukankah Yogi semangat banget ngejar Viona? Kenapa tiba-tiba jadi males? Apa karena udah ketemu dengan Celyn? Atau ada cewek lain yang lebih menarik?
Sinta malah tersenyum senang. Itu artinya ada setitik harapan untuknya.
"Payah kamu, Yog! Baru segitu aja udah mundur!" ledek Surya.
Sinta kembali cemberut. Surya malah terkesan menyemangati Yogi.
Nadia memperhatikan perubahan wajah Sinta. Jangan-jangan Sinta naksir Yogi.
"Ngapain ngejar cewek batu? Enggak punya perasaan!" sahut Yogi.
"Eh, kok kamu ngomongnya kayak gitu sih, Yog?" tanya Nadia.
Surya menatap Nadia. Sifat yang hampir sama dengan Nadia. Tapi Surya tak akan pernah menyerah. Apalagi keluarganya dan keluarga Nadia sangat mendukung hubungan mereka.
"Emang kok. Apa namanya cewek yang tiba-tiba ngomongin cowok lain? Padahal dia tau kalau aku suka sama dia."
"Maaf ya....minumannya baru jadi. Mbok Nah lagi pamit ke rumah saudaranya tadi." Susi yang tiba-tiba muncul, membuyarkan pembicaraan mereka tentang Viona.
Sinta berusaha menarik perhatian Yogi. Dia membantu Susi meletakan gelas-gelas minuman di atas meja.
"Silakan kak Yogi," ucap Sinta.
"Oke. Makasih, Sinta. Eh, kamu baru semester dua ya?" tanya Yogi.
"Halah! Udah tau juga, pake nanya!" sergah Surya. Dia tak suka kalau ada lelaki yang mendekati adiknya. Karena Surya selalu berpikir, Sinta masih kecil.
"Pelit amat! Nanya aja enggak boleh!" Yogi mengambil minumannya dan menenggak habis.
"Eh, haus apa doyan?" tanya Nadia.
Yang lain tertawa.
"Biarin aja, Nad. Mama yang salah, telat bikin minumnya. Tante buatkan lagi, ya?" Susi merasa bersalah.
"Enggak usah, Tante. Ini punya Surya juga masih utuh." Yogi menunjuk gelas Surya.
"Enak aja!" Surya menjauhkan gelasnya.
"Tuh, kan. Emang dasar pelit lu, Bro." Yogi mendorong bahu Surya.
"Biarin. Siapa suruh kamu habiskan duluan," sahut Surya.
"Kalian ini kayak anak kecil. Tante masih punya banyak. Ayo Sinta, bantu Tante bikin minuman lagi," ajak Susi pada Sinta.
Sinta langsung semangat.
__ADS_1
"Siap, Tante."
Sinta beranjak dari duduknya dan mengikuti Susi ke dapur. Dia membantu Susi membuatkan minuman untuk Yogi, juga makanan kecil.
Ini saatnya aku cari perhatian. Semoga kak Yogi mau merespon. Batin Sinta.
Biasanya kalau banyak tamu, Nadia ikut membantu Susi. Tapi berhubung kakinya masih sakit, terpaksa Susi minta tolong Sinta.
Dengan hati-hati Sinta membawa nampan ke ruang tamu. Dia meletakan lagi satu gelas ke depan Yogi.
"Ini Kak. Aku buatkan lagi," ucap Sinta.
"Makasih lagi, Cinta....Eh, Sinta. Hahaha." Yogi tertawa ngakak, dan disambut toyoran di kepalanya dari Surya.
"Sembarangan ganti-ganti nama orang!"
"Yaelah. Cuma salah satu huruf aja, marah-marah. Yang punya nama aja malah senyum." Yogi membela diri.
"Emangnya mau nama kamu aku ganti satu huruf?" tanya Surya dengan kesal.
"Namaku udah paten, Bro. Enggak usah diganti-ganti," sahut Yogi.
"Ayo dimakan kuenya. Nad, ayo dong tamunya dipersilakan makan," ucap Susi.
"Iya, Ma. Ayo, Yog. Dimakan. Surya. Sinta. Ayo dimakan." Nadia mendahului.
"Jauhin. Entar dihabisin sama Yogi, lagi." Surya menjauhkan piring kue, setelah Yogi mengambilnya satu.
Karena sudah terbiasa bercanda, Yogi tidak tersinggung sama sekali. Malah semakin meledek Surya.
"Jauhin aja. Entar juga bakal diambilin sama Cinta. Eh, Sinta." Yogi tertawa lagi.
Surya semakin kesal pada Yogi. Lalu pura-pura mengajak Sinta pulang.
"Iih, baru juga sampai," tolak Sinta.
Selain lagi bahagia karena Yogi meresponnya, Sinta juga masih punya misi penting yang belum dilakukannya.
"Ngapain sih, buru-buru, Sur?" tanya Susi yang menganggap Surya serius.
"Takut Yogi jatuh cinta sama Sinta, Tante," jawab Surya.
"Emangnya aku mesti jatuh cinta sama kamu?" sahut Yogi.
Sinta semakin merona.
"Nanti ada yang cemburu, Yog," ucap Susi, lalu pergi meninggalkan mereka sambil menyenggol bahu Nadia.
"Iih, Mama. Apaan, sih?" protes Nadia. Dia paham yang dimaksud mamanya adalah dirinya.
"Oh iya, lupa. Sorry, Nad. Tenang aja. Aku masih normal, kok," sahut Yogi.
Giliran Nadia yang salah tingkah.
Semua orang memang menganggap Nadia pacaran sama Surya.
"Syukurlah kalau masih normal. Tapi jangan sama adikku juga," sahut Surya.
"Lho, memangnya kenapa? Cinta udah punya pacar?" pancing Yogi.
__ADS_1
"Belum! Aku cuma enggak mau punya adik ipar kayak kamu!" sahut Surya lagi.
"Eh, mestinya kamu bangga punya adik ipar yang ganteng kayak gue!" Yogi membanggakan dirinya.
"Ganteng enggak jaminan, Yog," ucap Surya.
"Nah. Berarti lu mengakui kegantenganku, kan?" Yogi tertawa lagi.
"Ge er!" Surya kembali menoyor kepala Yogi.
Sinta hanya senyum-senyum saja. Ternyata Yogi orangnya seru juga. Batin Sinta.
Mereka terus saja bercanda, sampai tiba-tiba Viona datang.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Eh, Viona!" seru Nadia dengan senang. Tapi tidak dengan yang lainnya.
"Wah, lagi pada ngumpul rupanya. Hay, Sur," sapa Viona.
Lalu dia menyalami mereka satu persatu.
Surya terlihat kesal, karena hanya dia yang disapa Viona. Dan di depan Nadia pula.
"Naik apa kamu, Vi?" tanya Nadia.
"Naik ojek online." Viona duduk diantara Yogi dan Sinta. Persis berhadapan dengan Surya.
Sinta langsung berubah muram. Dia sudah membayangkan, pasti nanti Yogi mengantar Viona pulang.
"Kok enggak kabar-kabar sih, kalau mau kumpul di sini?" tanya Viona. Pertanyaan yang sebenarnya ditujukan pada Surya.
"Enggak sengaja, Vi. Dadakan," jawab Nadia.
Yang lainnya tak berniat menjawab.
"Sinta, boleh minta tolong buatkan minum buat Viona, enggak?" pinta Nadia.
"Iya, Kak." Dengan malas, Sinta berdiri.
Yogi menyusul Sinta. Dia malas duduk bersebelahan dengan Viona.
"Aku bantuin ya, Cinta." Yogi segera mengikuti Sinta ke dapur.
"Kenapa kak Vionanya ditinggal?" tanya Sinta setelah sampai di dapur.
"Aku malas ketemu dia," jawab Yogi. Dia hanya melihat Sinta membuatkan minuman untuk Viona.
"Kenapa?" tanya Sinta, kepo.
"Malas aja. Nyebelin!" jawab Yogi.
Sinta bersorak senang dalam hatinya. Meski Viona jauh lebih cantik dan dewasa, tapi mendengar alasan Yogi, Sinta merasa punya peluang untuk mendekatinya.
"Kakak yang bawain keluar?" pancing Sinta.
"Ogah! Kamu aja!" jawab Yogi dengan ketus.
Sinta kembali tersenyum. Karena dia tahu kalau jawaban itu bukan untuknya, tapi untuk Viona.
__ADS_1