PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 122 SISI GELAP SURYA


__ADS_3

Surya cuma nyengir melihat Yogi yang kaget, juga mak Yati yang ikutan kaget dengan gaya latahnya.


"Ngagetin aja, lu!" ucap Yogi.


"Aku laper, Yog," ucap Surya.


Yogi mengernyitkan dahinya, mendengar gaya bahasa Surya yang kembali seperti biasanya.


Mak Yati segera mengambilkan piring untuk Surya. Dia yang mendengar kalau tadi Surya muntah-muntah, merasa kasihan. Pasti Surya kelaparan. Begitu pikir mak Yati.


"Udah sadar, lu?" tanya Yogi.


"Udah. Gerah di kamarmu. Laper juga, jadi aku keluar," jawab Surya.


"Bagus deh, kalau elu udah sadar. Baju lu, tuh. Kotor banget. Mana bau, lagi!" sahut Yogi.


"Ini piringnya, Mas Surya," ucap mak Yati.


"Iya, Mak. Makasih," sahut Surya. Lalu mengambil nasi dan semur daging.


"Entar gue pinjemin baju, ya. Buat ganti," ucap Surya.


"Baju elu kan ada di sini," sahut Yogi.


"Mak...! Bajunya Surya udah dicuci, kan?" tanya Yogi pada mak Yati.


"Udah. Di lemarinya Den Yogi," jawab mak Yati.


"Ye...baju itu kan udah kekecilan, mana muat?" sahut Surya.


"Oh, iya. Badan lu sekarang kan udah mekar, kayak kebo!" sahut Yogi.


"Enak aja, aku dibilang kebo!" Surya menoyor kepala Yogi.


"Lah, berat banget gitu. Ditarik aja berat, apalagi digotong?" ucap Surya.


"Digotong, emangnya aku udah mati?"


Yogi tertawa ngakak.


"Mak, tolong bersihin kamarku ya? Itu sepreinya diganti. Kotor kena muntahannya si kebo!" seru Yogi pada mak Yati.


"Mana kebonya, Den?" tanya mak Yati dengan lugunya.


"Ono di sawah!" jawab Yogi.


"Eh, sawah! Eh, kebo! Ah, udah. Emak mau naik dulu," ucap mak Yati dengan latahnya.


"Naik kemana, Mak?" tanya Yogi menggoda mak Yati.


"Ke atas genteng. Ah, auk ah." Mak Yati buru-buru naik ke kamar Yogi.


Yogi terkekeh, merasa senang berhasil menggoda mak Yati.


"Lu tadi ngapain pake acara mabok, Sur?" tanya Yogi setelah mak Yati pergi.


Surya hanya diam. Dia masih asik mengunyah makanannya.

__ADS_1


"Nadia lagi?" tanya Yogi. Meskipun tadi Surya sudah ngoceh saat mabuk. Tapi Yogi pingin dengar langsung dari mulut Surya setelah sadar.


"Aku stres banget, Yog," sahut Surya.


"Tentang Dewa?" tanya Yogi lagi.


"Iya," jawab Surya.


"Dari mana lu tau, kalau Nadia mau ngejar Dewa lagi?" tanya Yogi.


"Aku denger sendiri." Lalu Surya menceritakan saat dia mendengarnya di depan kamar Nadia.


"Wah, parah tuh cewek. Masih aja ngejar orang yang udah kagak peduli ama dia lagi," ucap Yogi.


"Itu yang bikin aku kesel, Yog," sahut Surya.


"Kesel sih kesel. Tapi jangan rusak diri elu juga dong. Diri elu lebih berharga daripada cewek macam Nadia!" ucap Yogi.


Surya menatap Yogi tak suka. Karena baginya, Nadia adalah segalanya.


"Sur. Elu mestinya sadar, kalau elu tuh enggak ada artinya bagi Nadia. Gue kan udah pernah ngingetin, kalau elu itu cuma pelariannya aja," ucap Yogi.


Surya menghela nafasnya dengan kasar.


"Jujur, aku enggak terima kalau dia nganggep kayak gitu," ucap Surya.


"Tapi nyatanya begitu, kan? Apa namanya kalau bukan pelariannya? Saat dia tau kalau Dewa masih hidup, dia bakal kembali mengejarnya," tanya Yogi.


Surya menghela nafasnya lagi. Rasa sakit kembali menyeruak dalam hatinya.


"Sur. Coba deh buka mata hati elu. Biar elu bisa lihat kenyataannya," ucap Yogi.


"Pahit apa manis, lu harus bisa menerimanya, Sur. Elu harus kuat. Jangan jadi laki-laki cengeng!" ucap Yogi.


Degh!


Perasaan Surya tertohok.


Ya, dia hanyalah seorang lelaki lemah. Lelaki cengeng!


"Sekarang, coba elu mulai membuka hati lagi buat cewek lain! Masih banyak stock cewek yang jauh lebih oke dari Nadia!" lanjut Yogi.


Surya terdiam.


"Contohnya gue sendiri deh. Dulu gue sakit ati banget, ditolak Viona. Tapi gue kagak patah arang. Nyatanya, gue bisa dapetin adik lu yang jauh lebih baik dari Viona," ucap Yogi.


"Paham kan, maksud gue?" tanya Yogi.


"Iya. Tapi jujur, aku sakit hati banget, Yog," ucap Surya.


"Pasti. Terus apa yang mau elu lakukan? Mau nyincang-nyincang Nadia dan Dewa? Lalu elu lemparin ke laut, buat makanan paus?" tanya Yogi, menirukan ocehan Surya saat mabok tadi.


"Ngaco aja! Kriminal itu namanya!" sahut Surya.


Yogi tertawa ngakak. Berarti tadi yang ngoceh setannya Surya.


"Lu tadi ngoceh begitu, Kebo!" ucap Yogi.

__ADS_1


"Emangnya aku tadi ngoceh apaan?" tanya Surya.


"Banyak! Tapi udahlah, lupain aja. Anggap aja itu setan elu yang ngoceh!" jawab Yogi.


Surya diam. Dia berusaha mengingat-ingat apa yang dia bilang tadi saat dirinya tak sadar. Tapi tetap saja tak ingat.


"Lu minum sendirian?" tanya Yogi. Mereka udah selesai makan. Yogi menyalakan rokoknya. Surya pun mengambilnya sebatang.


"Ditemenin Defa," jawab Surya, lalu menyalakan rokoknya.


"Defa? Kayak pernah denger," ucap Yogi.


"Kakaknya Celyn. Yang dulu menabrak Nadia," sahut Surya.


"Ooh, ya, ya. Yang tatoan itu. Kok, elu bisa minum ama dia?" tanya Yogi. Setahunya, Surya tak suka dengan Defa karena penampilannya yang kayak anak punk.


"Kebetulan aja ketemu di sana," jawab Surya.


"Akh! Parah tuh anak.Ngebiarin elu minum sampe mabok," ucap Yogi dengan kesal.


"Akunya yang nekat, Yog. Abisnya, kesel banget sama...Nadia."


Surya tak mau Yogi menyalahkan Defa. Karena nyatanya Surya yang menawari minumannya pada Defa.


"Nekat yang gila itu namanya. Gimana kalau nyokap lu tau coba? Bisa jantungan! Anak kesayangannya mabok!" ucap Yogi.


Surya menatap wajah Yogi.


"Jangan bilang ke Sinta ya, Yog?" pinta Surya.


"Kenapa? Malu? Takut? Cemen lu! Kagak tanggung jawab!" sahut Yogi.


"Ya anggap aja, ini sisi gelapku. Jangan sampai keluargaku tau. Aku enggak mau mereka kecewa padaku," ucap Surya.


"Nah, itu lu tau kalau mereka kagak bakalan suka. Kenapa elu lakukan juga?" tanya Yogi.


Meskipun Yogi sering minum, tapi dia tak suka kalau Surya ikut-ikutan.


"Kan udah aku bilang, anggap itu sisi gelapku. Cuma kamu yang tau," sahut Surya.


"Arga juga tau!" ucap Yogi.


"Hah? Arga?" Surya merasa terkejut.


"Iya. Dia nemenin gue nyariin elu. Nolongin elu masuk mobil. Nurunin elu dari mobil. Dorong-dorong badan elu yang segede kebo! Nglepasin sepatu elu yang bau itu juga!" sahut Yogi.


"Ya ampun! Bakalan gempar deh." Surya menepuk jidatnya.


"Kagak! Jangan lu samain Arga sama si Santi! Lagian, berani koar-koar, gue abisin tuh si Arga!" ancam Yogi.


"Motor elu juga dibawa sama Arga. Tadinya kan kita hangout bareng temen-temen. Gue jemput Arga di rumahnya," lanjut Yogi.


"Ya udah, sekarang anterin aku ambil motor yuk," ajak Surya.


"Mabok lagi lu?" tanya Yogi.


Surya mengernyitkan dahinya.

__ADS_1


"Liat noh, jam berapa sekarang!"


Yogi tepok jidat buat Surya.


__ADS_2