
Surya menyingkap rok pendek Nadia.
"Surya! Kamu mau apa?" tanya Nadia.
Satu tangan Nadia yang bebas segera menurunkannya lagi.
Tapi Surya tetap memaksanya.
"Auwh!" pekik Nadia.
Surya tak mempedulikannya. Dia terus berusaha meski sedikit kesulitan.
"Surya....jangan, Surya! Jangan...!" Nadia berteriak-teriak agar Surya tak meneruskannya.
Tapi Surya tetap tak mempedulikannya.
"Surya jangan, Surya...!" Suara Nadia menghilang, karena Surya membekap mulut Nadia dengan mulutnya.
Dan dengan susah payah, akhirnya Surya berhasil menembusnya.
Nadia hanya bisa menangis. Tapi tanpa suara, karena mulutnya masih dibekap mulut Surya.
Hanya tubuhnya saja yang bergoncang dan dadanya naik turun.
Surya pun tak berbuat apa-apa setelah bisa menembusnya. Dia mengangkat kepalanya, lalu tercenung di atas tubuh Nadia.
Nadia menangis sesenggukan.
Surya manatapnya kebingungan. Dia seperti tak sadar dengan apa yang dilakukannya.
Lalu mengangkat tubuhnya dan melepaskan hujamannya.
"Maafkan aku, Nad," ucap Surya lirih. Lalu membuang tubuhnya ke samping Nadia.
"Kamu jahat, Surya! Kamu jahat...! Hu...hu...hu..." Nadia menangis sejadi-jadinya.
Nadia tak merubah posisinya. Dia biarkan tubuh bagian bawahnya tetap terbuka.
Surya meliriknya. Lalu bangkit dan merapikan pakaiannya sendiri.
Surya berdiri di depan Nadia. Dia perhatikan ada bercak darah disana. Tak banyak, tapi cukup jelas terlihat.
Aku merusaknya! Aku merusaknya!
Akh!
Surya mengacak rambutnya sendiri. Sementara Nadia masih terus saja menangis sesenggukan.
Surya meraih tissue, lalu perlahan dia bersihkan bercak darah Nadia.
Dan setelah bersih, Surya merapikan pakaian Nadia.
Surya kembali membaringkan tubuhnya di samping Nadia. Dia menghadap ke arah Nadia. Lalu memeluknya dengan erat.
"Maafkan aku, Nad. Aku...aku hanya tak mau kehilangan kamu. Aku...Aku mencintai kamu, Nadia," ucap Surya sambil menangis.
"Tapi tidak begini caranya, Surya...! Hk...hk...!" sahut Nadia sambil sesenggukan.
"Iya. Maafkan aku. Aku tau ini salah. Aku...Aku tak tau lagi, bagaimana caranya untuk memiliki kamu." Surya semakin mengeratkan pelukannya.
"Aku akan mempertanggungjawabkannya, Nad. Aku akan segera melamar kamu," ucap Surya.
Nadia masih terus saja menangis. Dia sangat kecewa pada Surya.
"Percayalah, Nad. Aku akan bertanggungjawab," bisik Surya.
"Aku benci kamu, Surya! Aku benci, kamu!" teriak Nadia.
"Iya, Nad. Maafkan aku," sahut Surya.
Nadia beranjak duduk.
"Kamu pikir semuanya akan baik-baik aja setelah kamu bilang maaf? Lalu bilang akan bertanggungjawab? Lalu kamu melamarku?" tanya Nadia.
Surya ikut bangun dan duduk.
__ADS_1
"Lalu apa mau kamu?" tanya Surya.
"Aku tak mau apa-apa! Aku benci kamu, Surya!" seru Nadia.
Lalu dia berdiri dan merapikan pakaiannya. Ada rasa perih yang amat sangat dari bagian intinya.
Nadia meringis menahannya.
"Kamu kenapa, Nad?" tanya Surya, melihat Nadia meringis.
"Untuk apa kamu nanya? Apa kamu bisa mengembalikannya?" tanya Nadia dengan ketus.
Surya menggelengkan kepalanya.
Ya. Dia sudah merenggutnya. Dan tak akan pernah bisa mengembalikannya lagi.
Nadia meraih tasnya, membalikan badan, lalu mulai melangkah.
"Auwh!" pekik Nadia. Area intinya terasa sangat perih.
Iya pastinya. Karena Surya memasukinya dengan paksa. Di saat milik Nadia belum siap untuk dimasuki. Bahkan miliknya sendiri pun belum cukup tegang untuk menembusnya.
"Nad!" Surya segera berdiri dan meraih tangan Nadia.
"Jangan sentuh aku!" Nadia langsung menepiskan tangan Surya dengan kasar.
"Nad...!"
"Jangan pernah menyentuhku lagi! Aku tak perlu maafmu! Aku juga tak perlu pertanggungjawabanmu! Aku benci kamu, Surya!" seru Nadia dengan geram.
Lalu Nadia memaksakan dirinya melangkah menuju pintu.
"Nad! Kamu mau kemana?" tanya Surya.
"Aku mau pergi selama-lamanya dari kehidupan kamu, Surya! Jangan pernah mencariku! Selamat tinggal!"
Nadia mulai membuka pintu yang terkunci.
Surya langsung berlari mendekat.
"Nad! Jangan pergi, Nad!" Surya menepis tangan Nadia yang sedang membuka kunci pintu. Lalu mengambil paksa kuncinya.
"Enggak! Aku tak akan membiarkan kamu pergi!" sahut Surya.
"Lalu, apa yang kamu inginkan?" tanya Nadia, lalu kembali menangis.
"Kamu tetap di sini. Bersamaku," jawab Surya.
"Gila kamu, Surya! Berikan kuncinya!" pinta Nadia.
Surya menggelengkan kepalanya.
"Aku enggak akan memberikannya, sampai kamu mau berjanji akan menerima lamaranku!" sahut Surya.
Nadia menatap wajah Surya dengan emosi yang mulai naik. Lalu menghapus air matanya. Dan...
Plak!
Nadia menampar pipi Surya.
Surya bukannya menghindar. Dia malah memberikan pipinya yang sebelah lagi.
"Tampar lagi! Kalau itu membuatmu tenang!" ucap Surya.
Nadia hanya menghela nafasnya, berusaha menghentikan tangisnya.
"Kamu udah gila, Surya!" sahut Nadia masih sesenggukan.
"Iya. Aku memang sudah gila. Kamu yang membuatku gila, Nadia!"
Nadia menatap Surya dengan jengah.
"Buka pintunya!" pinta Nadia.
Surya menggeleng.
__ADS_1
"Buka pintunya!" seru Nadia.
"Enggak! Aku bilang enggak, ya enggak! Kalau kamu mau teriak, teriak aja. Biar semua tetangga mendengarnya!" Surya tetap tak mau membukakan pintu untuk Nadia.
Nadia mendengus dengan kesal.
Berteriakpun sepertinya tak ada gunanya. Malah yang akan terjadi, semua tetangga mendengarnya. Dan bisa dipastikan, bakal jadi berita viral.
Nadia melangkah kembali ke tempat tidur Surya, lalu duduk. Surya menatapnya dengan senyum kemenangan.
Dia berhasil menahan Nadia.
Lalu dia pun mendekat dan ikut duduk di sebelah Nadia. Nadia bergeser menjauh.
Surya tak melarangnya. Dia sudah puas membuat Nadia tetap tinggal.
"Mau sampai kapan kamu menahanku di sini?" tanya Nadia dengan ketus. Isakannya masih terdengar.
"Sampai kamu berjanji mau menerima lamaranku!" jawab Surya.
"Jangan harap!" sahut Nadia.
"Dan aku akan terus menahanmu di sini!" ucap Surya.
Nadia mendengus dengan kasar.
Mereka sama-sama terdiam. Hanya isakan Nadia yang masih terdengar.
"Sur. Tolong biarkan aku pergi," pinta Nadia lagi.
"Enggak! Aku tak akan membiarkanmu pergi, sebelum kamu berjanji dulu!" Surya tetap tak goyah.
"Gila kamu!" ucap Nadia.
"Biarin!"
"Surya!" seru Nadia.
Surya tetap tak bereaksi. Dia tak akan pernah melepaskan Nadia begitu saja.
Mereka terus saja berdebat, sampai akhirnya pintu diketuk dari luar.
Nadia buru-buru menghapus air matanya.
"Surya! Kamu di dalam?" Suara Rahma mengejutkan Surya dan Nadia.
Nadia bernafas lega. Akhirnya, dia bakal bisa lepas dari Surya.
"Iya, Ma!" sahut Surya.
"Kenapa pintu depan kamu biarkan terbuka?" tanya Rahma.
Surya tadi tak sempat menutup pintu depan, saat dia memaksa Nadia masuk ke kamarnya.
"Iya, Ma. Lupa!" jawab Surya.
Nadia langsung berdiri.
"Buka pintunya, atau aku berteriak," ancam Nadia pelan tapi ketus.
Surya mendengus kesal.
Lalu terpaksa dia membuka pintunya.
Rahma masih berdiri di depan pintu. Matanya terbelalak melihat Nadia ada di kamar Surya.
"Maaf, Tante. Surya mengurung saya di sini," ucap Nadia.
Rahma menatap wajah Nadia sekilas. Terlihat wajah Nadia memerah.
"Permisi!" lanjut Nadia, lalu melangkah pergi.
"Nadia!" seru Surya.
Nadia tak menoleh sedikitpun. Dia terus melangkah keluar dengan air mata mengalir lagi perlahan.
__ADS_1
Rahma menatap wajah Surya dengan tajam.
"Apa yang kalian lakukan di dalam, Surya?"