
Surya dan keluarganya menikmati makan malam di sebuah restauran terkenal. Suasana tak seperti biasanya.
Surya lebih banyak diam, meskipun Sinta berkali-kali meledeknya. Paling banter Surya cuma melirik Sinta sekilas.
Sepertinya susah sekali menggoyahkan hati Surya yang sedang membatu.
Rahma dan Toni hanya saling berpandangan. Usaha Toni mengajak makan di luar, tak membuahkan hasil. Surya tetap diam kayak patung hidup.
Bahkan saat Rahma meminta tolong seorang waitres untuk mengambil gambar mereka pun, Surya lebih banyak menunduk.
Beruntungnya ada beberapa foto yang menampakan wajah Surya. Meskipun masih terlihat mendung. Foto itulah yang diunggah Rahma untuk status whatsapp-nya.
Hingga mereka pulang pun, Surya masih tak banyak bicara. Misalnya pun diajak bicara, Surya hanya menjawab seperlunya saja.
Sampai di rumah, Surya langsung masuk ke kamarnya. Sinta memberi kode pada kedua orang tuanya, untuk tetap tenang. Dia akan ikut membantu mengembalikan keceriaan Surya.
Sinta mengetuk pintu kamar Surya. Lalu tanpa menunggu jawaban, Sinta langsung masuk.
"Kak. Gimana tadi siang hasil pertemuannya dengan kak Nadia?" Sinta to the point bertanya.
Surya menatap wajah Sinta. Sinta mengangguk, menandakan dia siap mendengar apapun keputusan mereka.
"Dia tetap memilih masa lalunya," jawab Surya.
Sinta terperangah.
Gila! Kok ada ya, orang yang masih terlena dengan kenangan masa lalu? Bahkan berharap suatu saat masa lalunya akan kembali lagi padanya. Batin Sinta.
"Ya udah, Kak. Kalau begitu, mulai sekarang Kakak harus bisa melupakannya. Enggak ada gunanya juga kan, mengingatnya terus. Masih banyak cewek lebih dari dia, kok," sahut Sinta.
Ah, kamu enak ngomong. Tapi hatiku sakit banget, tau enggak sih? Surya hanya menggumam dalam hati.
"Kak. Kalau Kakak sakit hati, itu pasti. Tapi pasti Kakak akan bisa melewatinya, kok. Masih ada aku yang akan menemani. Kak Yogi juga pasti tak akan pernah meninggalkan Kakak," ucap Sinta.
Sinta yang sudah ngantuk, keluar dari kamar Surya. Dia kasihan sekali melihat Surya yang lagi terluka.
"Gimana, Sin?" tanya Rahma yang ternyata menunggu Sinta keluar dari kamar Surya.
"The end, Ma." Sinta langsung masuk ke kamarnya.
Rahma hanya terdiam di tempatnya. Tak disangka rencananya mengundang keluarga Nadia makan malam, akan berakibat begini. Ada rasa sesal di hati Rahma.
Rahma masuk ke kamarnya, dengan masih pada mode diam.
"Ada apa, Ma?" tanya Toni yang sudah membaringkan tubuhnya.
Rahma duduk di tepian tempat tidur.
"Mama nyesel, Pa," ucap Rahma.
"Nyesel kenapa?" Toni menatap wajah istrinya.
__ADS_1
"Mama tak ngira sama sekali, kalau rencana mengundang keluarga Nadia berakibat kayak begini," sahut Rahma.
Toni beranjak duduk. Lalu menggenggam tangan Rahma.
"Mama enggak usah nyesel. Apalagi merasa bersalah. Justru dengan begini, masalah Surya akan selesai," sahut Toni.
"Apanya yang selesai, Pa?" Rahma tak mengerti cara berpikir suaminya.
"Ma, kalau enggak begini, Surya selamanya akan mengharapkan Nadia. Dan pada saatnya nanti, Surya bisa hancur," jawab Toni.
"Kalau sekarang ini, Papa yakin Surya hanya kecewa saja. Dan pelan-pelan rasa kecewa itu akan hilang. Papa, Mama juga Sinta harus bisa menghiburnya. Biar Surya cepet move on. Dan menemukan dirinya lagi. Mama mau, kan?" lanjut Toni.
"Ya mau lah, Pa. Apapun akan Mama lakukan, asal Surya kembali bersemangat. Mama enggak mau, masalah ini bikin hidup Surya berantakan," sahut Rahma.
"Ya udah. Kalau begitu sekarang Mama istirahat. Biarkan Surya sendiri dulu. Kita lanjutin yang tadi, ya?"
Rahma menatap bingung pada suaminya.
"Lanjutin apanya, Pa?"
Toni beranjak lagi, berdiri lalu berjalan ke arah pintu kamar.
Ceklek!
Klik!
"Iih, Papa apaan sih? Mama kan lagi sedih," ucap Rahma.
Keesokan harinya, Nadia sudah siap ke rumah sakit. Dia akan menemui dokter Andra. Jadwalnya hari ini dia akan lepas jahitan di kakinya. Sekalian mengontrol lukanya.
"Mama antar ya, Nad?" Susi sudah berjanji akan meluangkan waktu lebih banyak buat anaknya.
"Enggak usah, Ma. Nadia bisa sendiri, kok," tolak Nadia.
"Yakin bisa sendiri?"
Nadia mengangguk. Dia ingin bisa mandiri, tak tergantung lagi pada orang lain.
"Ya udah. Mama pesanin taksi online, ya?"
"Enggak usah, Ma. Nadia bisa pesan sendiri, kok." Nadia menolak lagi tawaran dari Susi.
"Oke. Tapi kalau ada apa-apa, telpon Mama, ya?" Susi tetap mengkhawatirkan anak gadisnya itu.
Nadia menghela nafasnya.
"Iya, Mama. Lagian cuma deket, kok. Nadia pesan taksi online dulu, ya?"
Nadia langsung membuka ponsel, dan memesan taksi online lewat aplikasinya.
Lima menit kemudian, mobil pesanan Nadia datang.
__ADS_1
"Ma, Nadia berangkat dulu, ya." Nadia mencium pipi Susi.
"Iya, Sayang. Ati-ati." Susi masih saja khawatir.
Susi khawatir karena tahu, kalau hati Nadia sedang tak baik-baik saja.
Nadia berjalan tertatih menuju taksi online pesanannya.
"Dengan Nadia Sofia?" tanya sang driver.
"Iya, Pak. Saya sendiri." Nadia lalu masuk dan mobil mulai melaju perlahan.
Dari kejauhan, Surya melihatnya. Kebetulan hari ini Surya kuliah siang.
Nadia. Dia pasti mau ke rumah sakit. Apa dia bisa sendiri? Tanya Surya dalam hati.
Surya lupa, kalau saat kontrol yang pertama pun, Nadia berangkat sendiri. Tapi kemudian Surya menyusul, karena tak ingin Nadia ketemu dengan dokter yang wajahnya mirip Dewa itu sendirian.
Tapi sekarang, Surya berusaha untuk tidak peduli. Surya melajukan motornya, melewati mobil yang ditumpangi Nadia.
Dari dalam mobil, Nadia melihat Surya yang melewatinya itu.
Nadia hanya menatapnya sekilas, lalu memalingkan wajahnya ke samping.
Mereka jadi seolah saling tak peduli. Sulit untuk Surya, tapi tidak buat Nadia. Dia merasa bisa melakukan apapun sendiri, tanpa Surya.
Sampai di kampus, Surya ketemu Yogi. Dia juga baru saja sampai.
"Hay, Bro. Ke kantin dulu, yuk. Gue laper," ajak Yogi.
Seperti biasanya, Surya melihat jam tangannya dulu. Masih ada sekitar setengah jam lagi.
Dan seperti biasanya juga, tanpa menjawab Surya berjalan mendahului Yogi ke kantin.
"Ish. Kebiasaan banget nih, orang! Gue yang ngajakin, malah dia yang duluan." Yogi segera menyusul langkah Surya.
Sampai di kantin, Yogi yang memang benar-benar lapar, segera memesan makanan. Dia tak mau diburu-buru makannya oleh Surya kalau kelamaan pesan.
"Bro! Lu udah makan, belum?" teriak Yogi dari depan gerobak soto langganannya.
Surya hanya mengangguk. Mode irit bicaranya masih aktif.
Yogi yang udah tahu perubahan sikap Surya dari Sinta, hanya menghela nafasnya.
Yogi bertekad bakal mengembalikan semangat Surya lagi dengan caranya.
Yogi datang membawa nampan berisi satu mangkuk soto dan dua gelas es teh.
"Nih, Bro. Minum es teh. Jangan es jeruk mulu. Entar lu susah move on." Yogi memberikan satu gelas es teh. Bukan es jeruk kayak biasanya. Karena es jeruk sebenarnya bukan kesukaan Surya, tapi kesukaan Nadia.
"Lu mesti menghilangkan semua yang berhubungan dengan Nadia, Bro! Lu harus cepet move on."
__ADS_1