
"Kabur?" Yogi dan Sinta terkejut.
Rahma mengangguk lemah.
Sinta menatap mamanya tak mengerti. Kenapa yang kabur Nadia, malah mamanya yang stres? Batinnya.
Yogi juga tak habis pikir dengan Rahma.
"Tadi pagi kan kak Nadia kesini, Ma," ucap Sinta.
Rahma menundukan wajahnya. Lalu berdiri dan meninggalkan meja makan.
Sinta menatap Toni dan Yogi bergantian.
"Mama kenapa, Pa?" tanya Sinta tak mengerti. Dia merasa tak ada yang salah dengan ucapannya barusan.
Toni menghela nafasnya dalam-dalam.
"Entahlah. Papa juga enggak tau. Tiba-tiba tadi Papa pulang, mama kamu sudah pingsan di kamar." Toni menceritakan kronologinya dengan detail.
"Lalu kak Surya?" tanya Sinta.
"Dia baru keluar dari kamarnya, setelah Papa mendobrak pintu kamar." Toni menunjuk pintu kamarnya yang jebol.
"Pasti ada apa-apa dengan mereka, Om," ucap Yogi.
"Iya, Yog. Om juga berpikir begitu. Tapi sayangnya mama kalian belum mau cerita," sahut Toni.
"Coba saya telpon Surya, Om." Yogi segera menelpon Surya.
Berkali-kali panggilan dari Yogi tak diangkat oleh Surya. Karena Surya sedang fokus di jalanan. Dia ingin segera sampai di kampung halaman Viona.
"Enggak diangkat," ucap Yogi. Lalu Yogi berpikir sejenak. Dia ingat seseorang.
Viona.
Yogi langsung menelpon Viona.
Sinta menatap tak suka pada Yogi. Kenapa mesti menelpon Viona? Yang Sinta tahu, dulu Yogi pernah mengejar-ngejar Viona.
Tapi Sinta tak berani bertanya, apalagi marah. Karena situasinya tak memungkinkan.
Viona yang masih menunggu kedatangan Surya, melihat ponselnya kembali berdering.
Yogi.
Viona menatap wajah Putra.
Putra sudah melihat siapa nama yang menelpon Viona.
"Yogi teman kuliah kamu?" tanya Putra.
Viona mengangguk.
"Angkat aja," ucap Putra. Lalu dia mengaktifkan speakernya.
Viona pun menurut.
"Hallo, Viona," sapa Yogi.
"Iya, Yog. Ada apa?" tanya Viona.
"Nadia kabur. Sekarang Surya lagi mencarinya. Kamu tau kemana kira-kira perginya Nadia?" tanya Yogi.
__ADS_1
Nadia?
Mata Putra terbelalak mendengarnya. Lalu Putra menajamkan pendengarannya.
Sementara Viona sudah merasa lemas. Keringat dingin mulai membasahi sekujur tubuhnya.
Di kepala Viona, dunia seperti mau berhenti berputar.
Ya. Sebentar lagi kiamat akan datang padanya.
"A...Aku enggak tau, Yog. Nad...dia enggak bilang. Tap...Tapi....Surya mau kesini. Dia lagi otewe," jawab Viona tergagap.
"Ke kosan kamu?" tanya Yogi tak paham.
"Bu...kan. Aku....ada di kampung," jawab Viona.
"Di kampung halaman kamu?" tanya Yogi memastikan.
"I...iya, Yogi!" Suara Viona seperti mau menangis.
"Kamu lagi bersama Putra?" tebak Yogi.
Sinta terperangah mendengarnya. Sementara Toni hanya diam menyimak. Dia tak kenal siapa Putra, juga Viona.
Viona semakin merasa lemas. Lalu Putra mengambil alih telpon Viona.
"Hallo, Yogi," sapa Putra.
"Hey, Putra. Kamu lagi di kampungnya Viona?" tanya Yogi.
"Iya, Bro. Kapalku lagi bersandar di sini. Tolong jelasin padaku tentang Nadia!" pinta Putra dengan tegas.
Yogi menelan ludahnya. Lalu menatap ke arah Sinta. Sinta hanya bisa diam. Dia tak bisa mengambil keputusan apapun.
"Nadia kabur, Bro. Aku enggak tau apa sebabnya. Tapi Surya lagi mencarinya. Bisa jadi Surya ke kampungnya Viona," ucap Yogi.
"Sebentar, Bro. Aku mau tanya. Apa kamu juga kenal Nadia?" tanya Putra yang masih bingung. Sebab dari tadi Viona tak mengatakan apapun tentang Nadia.
Yogi menghela nafasnya.
"Iya. Kami satu kampus," jawab Yogi.
"Dan Surya berpacaran dengan... Nadia?" tanya Putra dengan tegang.
"Iya. Mereka berpacaran. Tapi..." Yogi tak sampai hati mengatakan kalau Nadia masih saja mengharapkan Dewa kembali. Karena Yogi tahu di sana ada Viona. Pasti Viona akan sangat terluka. Meskipun Viona sudah mengetahuinya.
"Tapi apa?" tanya Putra.
"Nanti aku jelasin. Sekarang juga aku ke sana." Yogi segera menutup telponnya.
"Om. Saya akan menyusul Surya!" ucap Yogi.
"Aku ikut!" Sinta langsung nyamber.
"Jangan, Cinta," tolak Yogi.
"Enggak! Pokoknya aku mau ikut!" Sinta duluan berdiri.
Toni semakin merasa bingung. Selama ini dia tak pernah tahu permasalahan anak-anaknya.
"Ya sudah. Kalian susul Surya. Yogi, tolong bantu Surya menyelesaikan masalah ini. Om jagain mama kalian," ucap Toni.
Toni hanya ingin masalah ini bisa segera selesai. Meski dia tak paham ujung pangkalnya.
__ADS_1
"Sinta. Temani Yogi. Jagain juga kakak kamu. Kasihan dia," ucap Toni pada Sinta.
"Iya, Pa. Sinta pamit mama dulu." Sinta segera ke kamar mamanya. Yogi mengikuti.
"Ma. Kita mau menyusul kak Surya. Mama istirahat aja, ya. Kak Surya baik-baik aja, kok," pamit Sinta. Dia berusaha membesarkan hati Rahma.
Semua orang belum ada yang tahu soal pemerkosaan yang dilakukan Surya pada Nadia. Hanya Rahma yang tahu. Dan itulah yang membuat Rahma sangat terpukul.
"Iya. Ati-ati di jalan. Temani kakak kamu nanti," ucap Rahma.
"Iya, Ma." Sinta menyalami Rahma.
"Kita pergi dulu, Tante." Yogi pun menyalami Rahma.
"Cin. Kamu bawa baju ganti, gih. Kayaknya kita enggak mungkin bisa langsung pulang. Perjalanan ke sana jauh dan lama. Bisa empat jam-an," ucap Yogi sebelum pergi.
"Aa sendiri gimana?" tanya Sinta.
"Aa entar balik ke rumah. Ambil baju juga. Sekalian pamitan ama mak Yati. Biar dia enggak khawatir," jawab Yogi.
"Iya, A. Kak Surya apa sekalian dibawakan?" tanya Sinta.
"Bawakan aja. Belum tentu juga dia mikir bawa baju ganti," jawab Yogi.
"Ya. Aku siapin dulu semuanya." Sinta bergegas masuk ke kamarnya dulu. Menyiapkan beberapa keperluan pribadinya.
Yogi berjalan ke teras. Dia akan menunggu Sinta di sana.
"Yog. Kampungnya Viona itu dimana?" tanya Toni yang tiba-tiba ada di teras.
"Oh, Om. Maaf, saya lagi merokok." Yogi berniat mematikan rokoknya.
"Enggak usah dimatikan. Lanjut aja," ucap Toni.
Toni tak pernah anti rokok. Cuma karena Rahma tak menyukai asap rokok, akhirnya Toni mengalah tidak merokok lagi.
Tapi saat berkumpul dengan teman-temannya, Toni sering merokok juga.
"Iya, Om. Makasih," jawab Yogi.
Lalu Yogi mengatakan dimana kampung halaman Viona.
"Itu jauh banget, Yog," ucap Toni.
"Iya, Om. Saya udah pernah ke sana, kok," sahut Yogi.
"Ati-ati aja di jalan. Kalau capek, istirahat aja dulu di rest area." Toni mengeluarkan dompetnya.
Lalu dia mengeluarkan semua uangnya.
"Pakai ini buat beli bensin dan makan di jalan." Toni memberikannya pada Yogi.
"Enggak usah, Om. Saya ada, kok," tolak Yogi dengan sopan.
"Bawa aja. Buat tambah-tambah. Siapa tau kepake." Toni tetap memaksa.
Yogi terpaksa menerimanya. Dia tidak enak juga kalau menolak.
"Kami berangkat dulu, Om," pamit Yogi setelah Sinta keluar.
"Iya. Ati-ati kalian," sahut Toni.
Toni memandangi kepergian Yogi dan Sinta.
__ADS_1
Dan ternyata di balik pintu, Rahma berdiri menatap kepergian mereka menyusul Surya.
Tak terasa air matanya menetes.