PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 219 TAK BISA MELAKUKAN


__ADS_3

Nadia dan Yudis bergegas mendekati Susi.


"Mama....!" Nadia langsung meraih tangan Susi dan menciuminya.


Susi hanya menatap nanar ke arah Nadia. Nyawanya berasa belum ngumpul. Dia sedang berusaha mengingat apa yang sedang terjadi.


"Maafkan Nadia...Ma...!" ucap Nadia terbata-bata.


Yudis hanya menatap mereka dengan pandangan kasihan. Banyak tanya di kepala Yudis.


Kenapa Nadia minta kehamilannya digugurkan? Siapa yang telah menghamilinya? Apakan lelaki yang tak bertanggung jawab?


"Tante udah lebih baik?" tanya Yudis. Lalu mulai memeriksa beberapa bagian tubuh Susi. Untuk memastikan kondisinya.


Susi masih hanya diam. Dia baru saja mendapatkan ingatannya lagi.


Nadia hamil? Siapa yang menghamili? Surya? Tapi mereka sudah tak bersama lagi.


Dewa? Bukankah mereka belum pernah bertemu?


Atau Doni? Si anak kurang ajar itu?


Sepertinya tidak mungkin. Tapi kenapa Nadia begitu takut bertemu Doni. Apa karena Nadia pernah diperlakukan tak baik oleh Doni?


Diperkosa misalnya? Tapi kenapa Nadia tak pernah mengatakannya? Kan masalahnya bisa dilaporkan dan Doni bisa dijebloskan ke penjara.


Jadi selama ini Nadia tak mau kuliah dengan alasan lagi mager, dan kerjaannya di rumah cuma makan dan tidur saja, itu karena dia lagi hamil?


Memalukan sekali. Bagaimana kalau orang-orang tahu kalau Nadia hamil tanpa suami?


Habis sudah reputasinya. Juga reputasi Haris di mata kolega-koleganya.


Dan kalau sampai Haris tahu? Selesai sudah! Haris bakal mengecapnya sebagai ibu yang tak becus mendidik anak.


Oh...Tidak...!


Susi menggeleng-gelengkan kepalanya.


Lalu pandangan Susi menatap tajam ke arah Yudis.


"Kamu....Kamu dokter kandungan, kan?" tanya Susi.


Yudis mengangguk.


"Saya baru co-***, Tante. Belum lulus kuliah," jawab Yudis.


Susi langsung bangkit dan meraih tangan Yudis. Yudis sendiri kebingungan. Kenapa Susi tiba-tiba menggenggam tangannya?


"Bantu aku!" ucap Susi.


Yudis menatap wajah Susi. Dia tak berani mengangguk seperti saat orang lain meminta bantuannya. Dia khawatir kalau permintaan Susi sama seperti permintaan Nadia.


Susi menatap wajah Nadia.


"Kamu di sini aja," ucap Susi pada Nadia.


Nadia pun kebingungan. Mau kemana mamanya?


Susi segera turun dari tempat tidur sambil masih menggenggam tangan Yudis. Sekedar untuk menopangnya agar tak limbung.


"Ikut aku sebentar." Susi menarik tangan Yudis untuk keluar ruangan.

__ADS_1


"Mau kemana, Tante?" tanya Yudis.


Susi tak menjawab. Dia terus saja menarik tangan Yudis agar menjauh dari Nadia.


Nadia hanya bisa menatap pasrah. Mau ngejar juga takut mamanya akan marah. Sebab persoalannya belum ada pembicaraan apapun.


Setelah dirasa aman dan tak ada orang, Susi menghentikan langkahnya.


"Kamu harus bantu aku. Bantu kami," ucap Susi.


"Bantu apa, Tante?" tanya Yudis.


"Kamu bisa menghilangkan janin di perut Nadia, kan?" tanya Susi.


"Maksudnya?" Yudis pura-pura tak tahu. Padahal tadi Nadia pun sudah memintanya.


"Ini demi masa depan Nadia. Jadi tolonglah. Buang janin yang baru berusia beberapa minggu itu," pinta Susi.


"Tidak bisa, Tante. Meskipun baru beberapa minggu, tapi itu adalah calon manusia seperti kita juga," sahut Yudis.


"Beda! Itu tak seperti yang kau pikirkan. Itu anak haram!" ucap Susi.


Yudis terjengit.


"Tante! Apapun itu menurut Tante, itu adalah calon cucu Tante sendiri," ucap Yudis.


"Baru calon, kan? Dia belum benar-benar jadi manusia, kan?" Susi tetap kekeh.


Yudis menggeleng dengan pasti.


"Ayolah. Ini demi masa depan Nadia! Aku bisa bayar berapapun kamu mau!" Susi berpikir mahasiswa seperti Yudis bisa dengan mudah dibayar.


Susi tak pernah berpikir kalau untuk kuliah di kedokteran seperti Yudis, pasti bukan dari keluarga sembarangan.


"Kamu tidak membunuh! Janin Nadia belum bernyawa!" ucap Susi.


Susi yakin, kalau janin Nadia baru berupa segumpal darah yang belum jadi apa-apa.


Yudis menggeleng.


Tugasnya sebagai calon dokter kandungan adalah membantu memberikan kehidupan. Bukan malah menghilangkannya.


Lalu Yudis berniat pergi. Meninggalkan Susi yang punya keinginan sama gilanya dengan Nadia.


Susi kembali meraih tangan Yudis yang tadi dilepaskannya.


"Kalau begitu, berikan aku obat yang bisa menghilangkan janin itu!" pinta Susi kembali.


Yudis tetap menggeleng.


"Maaf, Tante. Saya enggak bisa!" sahut Yudis dengan ketus. Lalu satu tangannya berusaha melepaskan genggaman tangan Susi.


Yudis berjalan meninggalkan Susi. Juga melewati ruangan dimana Nadia masih ada di dalamnya.


Susi mendengus kesal.


Payah! Gitu aja enggak bisa! Gerutu Susi dalam hati.


Aku akan cari dokter lain. Selama ada uang, apapun bisa aku lakukan. Yang penting jangan sampai suamiku mengetahuinya. Batin Susi.


Susi menghela nafasnya. Lalu kembali ke ruangan dimana Nadia berada.

__ADS_1


Susi hendak membuka pintu, berbarengan dengan Nadia yang juga akan keluar.


"Ayo, pulang," ajak Susi.


Nadia mengangguk. Lalu mengikuti Susi melangkah.


"Resep ini gimana, Ma?" Nadia memperlihatkan kertas resep yang tadi diberikan oleh dokter Frans.


Susi mengambilnya dan meremasnya. Lalu dengan tanpa rasa bersalah, dia masukan ke dalam tempat sampah.


"Kok dibuang, Ma?" tanya Nadia.


Susi menoleh ke arah Nadia.


"Buat apa?" Susi balik bertanya.


Nadia tak berani menjawab. Hanya menatap sekilas wajah Susi, lalu menunduk.


Susi menarik tangan Nadia agar segera berlalu dari rumah sakit.


Di depan ruangan dokter Frans, Nadia dan Susi bertemu dengan Yudis.


Susi melengos dengan kesal. Nadia hanya menatap Yudis sekilas.


Dan mereka pun berjalan ke parkiran mobil.


"Kita mau kemana, Ma?" tanya Nadia di mobil. Arah mobil yang dikendarai Susi, tak menuju rumah.


"Kita harus bicarakan ini dulu, sebelum kembali ke rumah. Mama enggak mau papa kamu tau ini semua!" jawab Susi.


"Maksud Mama?" tanya Nadia.


Susi hanya diam. Dia membelokan mobil ke sebuah restaurant yang masih sepi.


Mata Nadia langsung berbinar. Masalah yang sedang dihadapinya, seakan menguap entah kemana.


Susi turun dari mobil, diikuti Nadia dengan langkah riang.


Susi mencari meja yang paling jauh, sekiranya nanti dia bicarakan masalah Nadia, tak ada yang mendengar.


"Duduk. Segera pesan makanan. Mama mau bicara serius dengan kamu!" ucap Susi.


Nadia mengangguk takut. Wajah Susi sedang sangat tak bersahabat.


Nadia pun mulai melihat daftar menu. Seorang waitress mendekat.


"Silakan, Ibu," ucap waitress itu.


Nadia pun menyebutkan beberapa makanan yang diingininya. Sedangkan Susi hanya memesan minuman saja.


Saat-saat seperti ini, Susi tak punya nafsu makan sama sekali. Dia membawa Nadia kesini, hanya untuk bicara. Dan Nadia akan lebih mudah diajak bicara kalau perutnya kenyang.


"Nad. Tolong kamu jawab pertanyaan Mama dengan jujur," pinta Susi.


Nadia mengangguk.


"Siapa yang sudah melakukannya padamu?" tanya Susi dengan suara dan emosi ditekan. Susi tak mau emosinya meluap di depan umum.


Nadia menelan ludahnya. Lalu menatap wajah Susi.


"Jawab!" ucap Susi dengan geram.

__ADS_1


Nadia langsung menunduk.


__ADS_2