
Setelah selesai makan, Yogi meminta Surya mengantarnya kembali ke kampus. Siang ini ada mata kuliah yang harus diikutinya.
Meski sebenarnya Surya sudah tak bersemangat lagi mengikuti kelas, tapi dia menurut saja.
Sementara Nadia dan Viona sudah sampai di kosan Viona. Mereka sudah memutuskan membolos satu mata kuliah lagi.
Nadia menghabiskan waktu seharian di kosan Viona yang cukup nyaman.
"Eh, Vi. Tadi kata kamu Yogi terus-terusan chat kamu. Nanyain juga kita lagi dimana. Kirain mau nyusulin kamu, Vi?" tanya Nadia.
"Enggak tau tuh anak. Enggak jelas," jawab Viona. Dia pun tak mengharapkan itu. Takutnya ada yang tahu, bisa gagal misinya mendekati Surya.
"Tapi kayaknya Yogi serius ngejar kamu deh, Vi," ucap Nadia.
Nadia sering melihat Yogi diam-diam menatap Viona. Dan bukan sekali dua kali juga, Yogi mendatangi mereka saat di kantin.
"Ya biarin aja, Vi. Itu kan haknya dia. Aku juga punya hak buat lari, kan?" sahut Viona.
"Lari ngejar Surya? Hahaha." Nadia tertawa lepas. Dia tahu betul kalau Viona pantang menyerah mengejar Surya. Meskipun Surya selalu menghindar dan bersembunyi di balik Nadia.
"Iya. Susah banget itu orang dideketin. Kayaknya Surya ngejarnya kamu deh, Nad," ucap Viona.
"Sembarangan. Mana ada dia ngejar aku. Aku kan...." Nadia tak meneruskan ucapannya.
Selama ini tak ada yang tahu tentang perasaannya selain Surya.
"Kamu kenapa, Nad? Udah punya gebetan?" tanya Viona. Dan Viona berharap Nadia mengiyakan. Biar dia bisa terus mengejar Surya tanpa harus berseteru dengan sahabatnya ini.
Nadia menatap wajah Viona tanpa berniat menjelaskan. Lalu dia meraih selembar kertas yang tergeletak di lantai. Dengan jemarinya yang lentik, Nadia membuat sebuah perahu kertas.
Setelah jadi, Nadia meletakan perahu kertasnya di atas meja kecil.
"Perahu kertas ini yang akan menjelaskan kepadamu, Vi. Suatu saat nanti," ucap Nadia sambil terus memperhatikan perahu kertasnya.
Viona menatap Nadia penuh tanya. Sahabatnya ini kalau soal hati, sangat pintar menyembunyikannya. Tidak seperti dirinya yang selalu mengungkapkan apapun yang lagi dirasakannya.
"Udah, enggak usah dipikirin. Kamu fokus aja ngejar Surya," lanjut Nadia.
"Kamu bantuin aku dong, Nad," pinta Viona.
"Kalau soal hati, aku enggak bisa maksa, Vi. Kamu juga enggak mau kan jalan sama orang yang terpaksa mencintai kamu?" sahut Nadia.
__ADS_1
Viona mengangguk, mengiyakan. Seperti halnya dia yang selalu dikejar Yogi. Tak mau memaksakan diri menerimanya.
"Ribet juga ya Nad, kalau bicara soal hati." Viona pasrah saja.
"Enggak juga, Vi. Cuma butuh keteguhan. Kalau kamu yakin dengan hati kamu, tetaplah bertahan. Itu aja," terang Nadia. Seperti dirinya yang tetap bertahan meskipun sampai detik ini tak ada sedikitpun kabar tentang Dewa.
Mereka ngobrol sampai menjelang sore. Walaupun di kampus mereka selalu bersama, tapi tak pernah bosan dan selalu mencari kesempatan diluar jam kuliah.
Kecuali kalau ada Surya. Karena Surya pasti akan menyeret Nadia pergi menjauh dari Viona.
"Vi, aku pulang dulu ya. Salam buat hati kamu. Bilangin, kalau capek ngejar, istirahat dulu. Hahaha," pamit Nadia pada Viona.
"Sialan kamu, Nad. Bukannya bantuin malah ngeledek," sahut Viona sambil berjalan mengantar Nadia ke parkiran motor.
"Salam buat Surya, enggak? Ups!" Nadia langsung menutup mulutnya. Dia lupa kalau lagi enggak ngobrol sama Surya.
Viona kembali menatap curiga pada Nadia. Curiga karena beberapa hari ini si kembar siam tak lagi bareng kemana-mana.
Nadia yang tahu kecurigaan Viona, langsung menstater motornya dan melaju. Tanpa mempedulikan Viona yang masih menyimpan banyak pertanyaan.
Nadia terus melaju, tanpa memperhatikan ada sepasang mata yang memperhatikannya dari dalam mobil. Bahkan kini mengikutinya.
Nadia. Ngapain dia seharian di kosan Viona? Bukannya tadi mestinya dia ada satu mata kuliah lagi? Batin Surya sambil terus menguntit Nadia diam-diam.
Tak ayal, sepeda motor itu menabrak sepeda motor Nadia yang ada di barisan depan.
Brak!
Nadia terpental jatuh dari motornya. Untung saja tak terlalu jauh terseret. Jadi Nadia tak sampai luka parah.
Kehebohan pun terjadi. Para pengendara lain banyak yang berhenti untuk menolong korban. Termasuk si penabrak.
Mereka langsung berkerumun. Ada yang membantu Nadia bangun, ada juga yang sekedar melihatnya.
Surya melotot melihat Nadia terjatuh tepat di depan matanya. Dia pun langsung menepi dan berlari ke arah Nadia.
"Tolong minggir, kasih saya jalan. Ini istri saya!" Surya berusaha mencari jalan diantara kerumunan orang.
Nadia menoleh ke arah sumber suara yang sangat dikenalnya.
Surya! Kenapa dia bilang istrinya?
__ADS_1
Nadia yang sedang dibantu berdiri oleh seorang lelaki, melihat ke arah penabraknya. Seorang lelaki juga. Lalu siapa yang dimaksud oleh Surya sebagai istrinya.
Surya langsung meraih tubuh Nadia yang sedang ditopang oleh lelaki lain. Ada rasa marah karena lelaki itu memeluk lengan Nadia.
"Kamu baik-baik aja kan, Nad?" tanya Surya dengan khawatir.
Nadia yang masih syok hanya bisa mengangguk. Kaki dan tangannya terasa perih. Meski terlihat tak parah, tapi banyak lecet yang melukai kulitnya.
"Pak, tolong amankan motornya. Saya akan bawa istri saya ke rumah sakit," ucap Surya.
Surya tak mempedulikan wajah Nadia yang penuh tanda tanya. Surya juga tak mempedulikan nasib penabraknya. Yang dia pikirkan hanya keselamatan Nadia.
Untungnya di perempatan ada pos polisi. Dan dua orang polisi yang berjaga, mengamankan motor Nadia juga si penabrak.
Surya berniat membawa Nadia ke mobilnya. Dia memapah Nadia yang kesulitan berjalan.
Karena tak sabar dengan jalan Nadia, Surya langsung menggendong tubuh Nadia.
Nadia tak menolaknya. Dia malah mengalungkan satu tangannya yang tak terluka ke leher Surya.
Sepanjang jalan menuju mobil, Nadia menatap wajah Surya.
Kenapa Surya tiba-tiba ada di dekatnya? Apa dia pas kebetulan lewat, atau....
Nadia tak bisa menjawab pertanyaannya sendiri. Dia lalu memejamkan matanya menahan rasa perih di beberapa bagian tubuhnya yang lecet.
"Pak, tolong bukakan pintu mobil saya," pinta Surya pada seorang lelaki yang berdiri tak jauh dari mobilnya.
Lalu Surya meletakan Nadia di jok depan dengan hati-hati. Dia pun segera berlari ke bagian kanan dan melajukan mobilnya ke rumah sakit.
Nadia masih memejamkan matanya. Wajahnya meringis menahan perih.
"Sakit, Nad?" tanya Surya sambil terus fokus nyetir.
Nadia mengangguk pelan.
"Tahan dulu, ya. Depan situ ada klinik," ucap Surya. Satu tangannya menggenggam tangan Nadia. Berusaha memberikan kekuatan pada Nadia.
Tanpa sadar, Nadia pun menggenggam tangan Surya demi mengurangi rasa perihnya.
Surya mengangkat telapak tangan Nadia dan mengecupnya perlahan. Bukan mencari kesempatan, tapi dia sangat mengkhawatirkan kondisi Nadia.
__ADS_1
Nadia membuka matanya sedikit dan melirik ke arah Surya. Lalu pura-pura merem lagi saat Surya melirik ke arahnya.
Surya tersenyum penuh arti. Nad, serahkan hatimu untukku. Aku yang akan selalu menjagamu, bukan Dewa.