PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 50 TERLALU MANJA


__ADS_3

Setelah sampai di rumah Nadia, Surya membantunya turun. Sekarang Nadia tidak mau digendong lagi. Alasannya karena sudah mulai sembuh.


Dengan sabar, Surya memapahnya masuk ke ruang tengah. Lalu Surya mengangkat kaki Nadia biar bisa selonjoran.


"Mau aku bersihin sekarang, lukanya?" tanya Surya.


"Nanti sore aja, Sur. Tadi kan baru aja dibersihin sama dokter Andra," jawab Nadia.


"Hhmm. Ngobrol apa aja sama dia?" tanya Surya kurang suka.


"Dia siapa?" Nadia tak paham maksud pertanyaan Surya.


"Dokter itu," jawab Surya.


"Apa ya? Kayaknya cuma seputaran lukaku ini aja, deh. Memangnya kenapa?"


"Ooh. Enggak apa-apa. Tiga hari lagi, kalau mau buka jahitan, jangan ninggalin aku. Kalau perlu nanti aku carikan dokter lain," sahut Surya.


"Enggak perlu, Sur. Dokter Andra baik kok orangnya. Ramah dan telaten," tolak Nadia.


Kuping Surya panas mendengar Nadia memuji dokter ganteng itu. Tapi kalau dia bilang terus terang pada Nadia, kalau dia enggak suka dengan dokter Andra, kayaknya malu-maluin.


"Ya udah. Pokoknya kesananya aku antar!"


"Ya kamunya yang ontime, dong. Jangan ngaret," sahut Nadia.


"Kan aku udah bilang alasannya, Nadia." Surya mengacak rambut Nadia.


"Iih, apaan sih." Nadia menjauhkan kepalanya.


"Eh, Nad....kamu ingat enggak, peristiwa sekitar empat tahun yang lalu. Waktu aku nganter kamu beli buku, terus ban motornya bocor," tanya Surya.


Nadia berusaha mengingat-ingat peristiwa itu. Tapi otaknya lama loading.


"Yang mana, Sur?"


"Yang waktu itu uangku dan uang kamu abis. Terus akhirnya kita digratisin bayar tambal bannya." Surya berusaha mengingatkan lagi.


"Ah, enggak tau, lupa! Lagian kata kamu udah empat tahun. Mana aku ingat?"


Surya mengangguk kecewa. Dia saja masih selalu mengingatnya. Tapi Nadia malah melupakannya.


Sepertinya yang ada di otak Nadia, hanya kenangan bersama Dewa saja. Batin Surya.


"Ya udah. Aku pulang dulu, ya. Nanti siang mamaku mau pakai mobil. Nanti aku balik lagi," pamit Surya.


"Tapi aku capek, Sur. Aku mau tidur dulu. Kamu kesininya entar sorean aja, ya?" sahut Nadia.


"Oh, oke. Aku antar ke kamar dulu?" Surya masih saja menawarkan diri.


"Aku laper, Sur. Mau makan dulu," tolak Nadia.


"Kan bisa minta tolong bik Nah. Makanannya diantar ke kamar," sahut Surya.


"Enggak ah. Kayak di rumah sakit aja, makannya di kamar."


"Ya udah. Ayo aku pegangin jalannya." Surya bangkit dan siap memapah Nadia sampai ke ruang makan.


"Aku bisa sendiri, Surya." Nadia kembali menolak.


Surya menghela nafasnya. Dia tak bisa memaksa Nadia. Akhirnya Surya hanya mengangguk. Dan kembali pamit.

__ADS_1


"Aku pulang dulu, Nad."


Nadia mengangguk. Dia tak mengantar Surya ke depan. Karena kondisinya belum memungkinkan.


Dengan tertatih, Nadia berusaha berjalan sendiri ke ruang makan. Tapi tiba-tiba, kaki kanannya tersandung karpet.


Gubrak!


"Auwh!"


Nadia terjerembab. Wajahnya nyaris menghantam lantai. Untungnya dia langsung mengangkat wajahnya.


Surya yang baru sampai di pintu depan, langsung berlari masuk ke dalam lagi.


Mbok Nah juga ikut berlari ke sumber suara.


"Nadia!" seru Surya.


"Ya Allah, Non....!" seru mbok Nah.


Surya menghampiri Nadia yang masih pada posisi tengkurap.


"Nad! Kamu kenapa?" tanya Surya.


Tanpa menunggu jawaban Nadia, Surya dibantu mbok Nah, mengangkat tubuh Nadia. Lalu mereka mendudukannya di sofa.


"Kenapa bisa jatuh, Nad?" tanya Surya.


"Bik, ambilkan air putih hangat untuk Nadia!"


"Iya, Mas Surya." Mbok Nah segera ke dapur.


"Sakit? Sini aku pijat sebentar." Surya meraih kaki Nadia, lalu menaruhnya di atas pangkuan.


Perlahan Surya memijatnya.


"Ini air putihnya. Diminum dulu, Non." Mbok Nah memberikan gelas berisi air hangat.


Surya meraih gelas itu. Dan membantu Nadia minum.


Mbok Nah melihatnya sambil tersenyum. Dia senang sekali melihat perhatian Surya yang begitu besar pada Nadia. Lalu pergi lagi ke dapur.


"Minum, Nad. Buat mentralkan jantungmu."


Nadia menurut. Dia meminumnya separuh.


"Makasih, Sur," ucap Nadia.


"Eh, kok kaki kamu di situ, Nad? Enggak sopan, ah!" Susi baru saja datang.


"Nadia baru aja jatuh, Tante. Kakinya sakit lagi," sahut Surya.


"Ya Allah. Jatuh? Kok bisa?" Susi menghampiri Nadia.


"Kesandung, Ma," jawab Nadia.


"Kamu gimana, sih? Ati-ati, dong." Susi memperhatikan kaki Nadia.


"Udah, turunin kakinya. Nanti Mama carikan tukang pijat," ucap Susi.


"Enggak mau. Nadia takut," sahut Nadia.

__ADS_1


Nadia lebih suka dipijat Surya atau mbok Nah. Karena bisa nawar kalau terlalu kencang mijatnya.


"Biar Surya aja, Tante." Surya terus memijat kaki Nadia perlahan.


"Jangan terlalu manjain Nadia, Sur. Nanti jadi kebiasaan," ucap Susi.


Nadia langsung cemberut. Kenyataannya memang dia sangat manja pada Surya. Hingga orang yang melihatnya, mengira mereka adalah sepasang kekasih.


"Enggak apa-apa, Tante," sahut Surya lagi.


"Ya udah. Ini Mama tadi beli gado-gado. Kita makan yuk. Kamu sekalian makan ya, Sur. Tunggu sebentar, Mama siapkan dulu." Susi berjalan ke ruang makan.


"Sur. Memangnya aku manja, ya?" tanya Nadia.


Dia malu dikatain mamanya tadi. Lagi pula Nadia paling tidak suka dengan cewek manja.


"Enggak ah, biasa aja. Mungkin akunya aja yang terlalu manjain kamu," jawab Surya.


Dari dulu Surya selalu menyalahkan dirinya sendiri demi membenarkan Nadia. Dia selalu mengalah untuk Nadia.


"Kenapa kamu selalu manjain aku?" tanya Nadia lagi.


Surya menghela nafasnya. Apa aku harus mengatakan yang sejujurnya?


"Sur! Malah melamun!" Nadia menepuk bahu Surya.


"Eh. Enggak."


"Enggak apa?"


"Enggak melamun."


"Ya udah, jawab pertanyaanku, dong," pinta Nadia.


"Tadi pertanyaannya apa?"


"Tuh, kan. Kamu melamun sih. Jadi lupa deh sama pertanyaanku." Nadia langsung cemberut.


Aku enggak lupa, Nad. Aku cuma pura-pura lupa. Aku takut untuk menjawabnya. Bahwa semua aku lakukan karena aku....sangat menyayangimu. Juga aku....mencintai kamu, Nad. Jawab Surya dalam hati.


"Ayo makan, Nadia! Surya!" Susi berteriak dari ruang makan dengan suara melengkingnya.


"Ayo aku gendong, ya?"


Nadia yang masih trauma jatuh lagi, mengangguk.


Dengan senang hati Surya menggendong Nadia sampai ruang makan.


"Tuh, kan. Jalan aja bisa, malah minta gendong," komentar Susi.


"Bukan Nadia yang minta, Tante. Surya yang menawarkan diri," sahut Surya.


Lalu Surya mendudukan Nadia di kursi yang sudah disiapkan oleh Susi.


"Ayo, makan. Jangan bilang enggak bisa makan, biar disuapin Surya," ucap Susi pada Nadia.


"Enggak, Ma. Kalau cuma makan, Nadia bisa sendiri," jawab Nadia dengan kesal. Kesal karena mamanya menilai dia terlalu manja pada Surya.


Surya hanya tersenyum. Surya memang terlalu memanjakan Nadia. Terlebih setelah Dewa pergi dan tak pernah kembali lagi.


Tak ada lagi yang menghalanginya untuk memberikan kasih sayangnya pada Nadia. Meski Nadia masih menganggapnya angin lalu.

__ADS_1


__ADS_2