
Nadia sampai di kampus lebih awal. Dia langsung masuk ke kelasnya. Beberapa mahasiswa sudah duduk di kursi masing-masing.
Pagi ini ada mata kuliah yang dosennya lumayan bawel. Jadi mereka memilih lebih awal juga masuk kelas. Termasuk Viona. Gadis yang biasanya santai saat masuk kelas.
Karena beberapa kali kena tegur dosen wanita yang terkenal bawel, Viona malu juga.
"Tumben udah sampe duluan," sapa Nadia. Lalu mengambil kursi di sebelah Viona yang kebetulan masih kosong.
"Daripada diomelin lagi. Mending berangkat buru-buru. Jadi gak sempet sarapan deh," keluh Viona.
Viona cukup dekat dengan Nadia. Dia berasal dari luar pulau jawa. Dia ngekos tak jauh dari kampus. Biar irit ongkos, katanya. Maklum, dia bukan anak orang kaya, katanya juga.
Nadia mengangkat bahunya. Dan tak lama, dosen bawel yang katanya perawan tua itu datang.
Langkah yang tegap dengan kaca mata yang tak pernah lepas dari atas hidungnya, menatap semua mahasiswa yang hadir.
Masih ada banyak kursi yang kosong. Dia meletakan buku-bukunya di atas meja.
"Kemana yang lain?" tanya Juli, nama dosen itu.
Tak ada satupun yang berniat menjawab. Mereka asik menyiapkan buku catatan.
"Saya tanya pada kalian! Kemana yang lain?" tanya Juli lagi.
Masih tak ada yang menjawab.
"Kamu!" Juli menunjuk Nadia.
"Iya, Bu," sahut Nadia. Hatinya yang lagi bete, makin merasa bete saja.
"Jawab pertanyaan saya!" ucap Juli dengan lantang.
"Saya tidak tau, Bu. Saya juga baru saja datang," jawab Nadia.
Emangnya aku emaknya? Mana aku tahu kemana mereka. Gerutu Nadia dalam hati.
"Baik. Walaupun cuma separuh, saya tetap akan memberikan tugas untuk kalian. Siapkan kertas dan alat tulisnya!" Lalu Juli menuliskan beberapa soal yang membuat otak Nadia semakin keriting.
Beberapa hari ini dia sedang tak fokus dengan mata kuliahnya. Apalagi mata kuliah yang diajarkan oleh Juli. Mata kuliah yang sangat tak menarik.
Biasanya Surya yang selalu memberikan semangat pada Nadia. Dan membantu kalau Nadia sedang kesulitan karena belum paham.
Nadia tak menuliskan apapun di kertasnya. Karena tak satupun soal yang mampu dikerjakannya.
__ADS_1
Nadia melirik ke meja Viona. Kertasnya sudah penuh dengan tulisan.
Meski sedikit bandel, kalau soal kuliah, Viona sangat rajin. Biar cepat kelar dan bisa kerja, katanya.
Nadia memperlihatkan kertasnya yang masih kosong. Mata Viona melotot. Bagaimana mungkin waktu yang hampir satu jam, tak menghasilkan tulisan apapun.
Nadia mengangkat bahunya. Otaknya benar-benar blank. Dan dia tak peduli, meski setelah ini akan diberikan tugas yang lebih banyak lagi. Seperti kebiasaan dosen bawel itu untuk mahasiswa yang tak mampu mengerjakan tugas-tugas darinya.
Karena kasihan, Viona memberi kode pada Nadia untuk memberikan kertasnya. Dengan malas, Nadia memberikannya.
Dengan sigap, Viona menuliskan jawaban dari lima soal yang diberikan.
Setelah selesai, Viona memberikan lagi kertas Nadia. Nadia tersenyum bahagia. Artinya setelah ini dia akan bebas dari tugas-tugas yang lebih banyak.
Karena sekarang, mungkin juga selamanya, tak akan ada lagi yang akan membantunya.
Mengingat itu, wajah Nadia jadi murung. Dia merindukan Surya. Sahabat yang menemaninya sejak SMA dulu.
"Kamu! Kenapa melamun? Udah selesai tugasmu?" tanya Juli.
Nadia yang sedang menunduk sedih, mengangkat wajahnya.
"Sudah, Bu." Nadia memperlihatkan kertasnya yang sudah penuh.
Nadia beranjak, dan memberikan kertasnya. Kertas yang entah apa isinya. Karena yang mengisinya Viona.
Juli membaca jawaban dari kertas Nadia. Lalu dia manggut-manggut. Menandakan kalau jawaban Nadia benar.
Nadia kembali ke kursinya. Viona memberikan kode kalau semua baik-baik saja.
Rupanya Juli melihat kode itu. Lalu menyuruh Viona membawa maju kertasnya.
Viona langsung panas dingin. Karena bakal ketahuan kalau dia yang menuliskan jawaban untuk Nadia.
Juli mengambil kertas jawaban Viona. Matanya melotot melihat tulisan yang sama model dan jawabannya.
Lalu dengan tatapan geram, dia melihat ke arah Nadia juga Viona. Dan tanpa basa basi, dia robek dua kertas itu dan menghamburkannya di depan wajah Viona.
"Kalian berdua, keluar dari ruangan ini!" Juli menunjuk Viona dan Nadia.
Viona menelan ludahnya. Maksud hati kepingin menolong sahabatnya, malah dia kena batunya.
Dengan langkah lunglai, Viona kembali ke kursinya dan mengambil tasnya.
__ADS_1
Nadia pun berdiri dan keluar lebih dulu. Viona mengikutinya dari belakang.
Nadia berjalan ke kantin. Dia tak menoleh ke belakang. Tapi yakin kalau Viona akan mengikutinya, karena tadi dia bilang belum sarapan.
Nadia ingin mentraktir makan buat Viona sebagai bentuk permintaan maafnya. Meskipun sebenarnya Nadia tak sepenuhnya bersalah.
Bukan Nadia yang meminta dibuatkan jawaban. Hanya Viona yang berniat menolong. Sayangnya niat baik tak selalu mendapatkan hasil yang baik juga.
Nadia mengambil kursi di baris belakang. Jam delapan lewat, tak banyak mahasiswa yang nongkrong di kantin. Kebanyakan masih fokus dengan kelasnya.
Dan seperti dugaan Nadia, Viona mengikutinya. Lalu mengambil tempat di sebelah Nadia.
Dengan kesal Viona melemparkan tasnya di atas meja.
"Maafkan aku, Vi. Gara-gara aku, kamu jadi kena akibatnya," tutur Nadia dengan nada menyesal.
Nadia menyesal tadi membiarkan saja niat baik Viona. Andai saja dia menolaknya, pasti hanya dia yang kena marah dosen bawel itu.
"Enggak apa-apa, Nad. Salahku juga kok. Kita lagi apes aja, jadi ketahuan," jawab Viona. Meski dalam hatinya dia juga kesal. Tapi tak sepatutnya kekesalan Viona ditujukan pada Nadia.
"Kamu lagi ada masalah, Nad?" tanya Viona.
Nadia menggeleng. Bukan mau berbohong, tapi memang sebenarnya tak ada masalah. Hanya hatinya saja yang sedang merasakan rindu pada sosok Surya, sahabat karibnya.
"Pesan makan, gih. Aku yang bayarin. Anggap aja sebagai permintaan maafku. Kamu belum makan, kan?"
Viona mengangguk. Lalu segera bangkit dan memesan banyak makanan. Bukan aji mumpung karena dibayari, tapi Viona hanya ingin melampiaskan kekesalannya dengan banyak makan.
Pesanan Viona diantar oleh pelayan kantin. Mata Nadia melotot melihat banyaknya makanan yang dipesan Viona.
"Vi, aku udah sarapan lho. Kamu mau menghabiskan ini semua?" tanya Nadia.
Viona mengangguk. Lalu mengatakan pada Nadia, kalau dia selalu melampiaskan rasa kesalnya dengan banyak makan.
Nadia geleng-geleng kepala. Meskipun Nadia tahu kalau Viona makannya banyak, tapi apa mungkin perutnya mampu menampung banyak makanan ini?
Nadia hanya sesekali saja ikut mencicipi makanan pesanan Viona. Tapi kalau disuruh ikut menghabiskan, dia tak akan sanggup.
"Nad. Habis ini kita jalan aja yuk," ajak Viona.
"Kemana? Kita kan masih ada kelas jam sepuluh nanti," jawab Nadia.
"Ke mall. Bete aku. Udah enggak mood masuk kelas," sahut Viona.
__ADS_1
Sebenarnya Nadia ingin menolak. Tapi karena merasa bersalah, terpaksa menurut. Anggap saja untuk menebus kesalahannya. Kesalahan yang tak pernah dilakukannya.