
"Nad. Kamu pulang aja, ya? Berani kan pulang sendiri?" tanya Yogi.
Meskipun Yogi merasa kesal pada Nadia, tapi dengan kejadian ini, Yogi merasa kasihan juga.
"Biar aku antar aja," sahut Surya.
"Terus motor kamu, gimana?" tanya Yogi.
"Aku ngikutin pakai motor juga," jawab Surya. Surya pun enggan berdekatan lagi dengan Nadia. Apalagi berboncengan.
Surya hanya tak ingin kalau sampai Doni mencegat Nadia lagi di jalan.
Sebagai mantan dan tetangga yang baik, Surya merasa punya kewajiban menolong Nadia. Udah, gitu aja.
Surya berusaha membuang perasaan lainnya. Dia tak mau terjatuh lagi dengan perasaan yang sama.
Sudah cukup selama ini dia dibuat sakit hati oleh Nadia.
Nadia pun mengangguk. Surya berjalan ke rumah Lucky, mengambil motornya. Yogi mengikutinya dari belakang.
Yogi tak bisa meledek Surya sebagai pahlawan kesiangan lagi. Karena situasinya tadi memang sangat urgent.
Siapapun pasti tak bisa diam saja, melihat wanita diseret lelaki dengan kasar. Dan bukan tidak mungkin Doni memperkosa Nadia nanti.
"Ati-ati, Bro. Jaga hati elu. Gue kagak mau liat elu jatuh lagi," ucap Yogi sebelum Surya pergi.
Surya hanya diam saja.
Enggak usah dibilangin juga aku udah ati-ati. Batin Surya.
"Bisa bawa motor sendiri?" tanya Lucky.
Lucky tadi sempat melihat Nadia gemetaran, saat Surya dan Doni berkelahi.
"Bisa," jawab Nadia pelan.
"Kalau ragu, biar aku aja yang bawa pulang motormu. Kamu bonceng Surya," ucap Lucky.
Sebagai lelaki, Lucky tak bisa membiarkan wanita naik motor sendiri dalam kondisi ketakutan.
Nadia tak menjawab. Dia yakin Surya tak akan mau diboncenginya. Tapi jujur, Nadia masih merasa belum tenang setelah kejadian tadi.
Jantungnya masih berdegup tak karuan. Pikirannya pun belum fokus.
"Oh iya. Kenalkan, namaku Lucky. Aku teman SMA-nya Yogi." Lucky mengulurkan tangannya.
Nadia menyambutnya.
"Nadia," sahut Nadia singkat. Nadia merasa dirinya tak perlu memperkenalkan diri lebih panjang.
Surya muncul dari arah rumah Lucky, dengan naik motornya sendiri. Lalu menghampiri Nadia dan Lucky.
Surya menatap sekilas, saat Nadia menjabat tangan Lucky. Dan sesaat kemudian, Surya memalingkan wajahnya.
"Ayo aku anterin pulang," ucap Surya dengan nada datar. Seolah tak pernah ada apapun antara dirinya dengan Nadia.
Nadia mengangguk.
"Sur. Kamu boncengin Nadia ya. Aku bawa motornya Nadia. Kasihan. Kayaknya Nadia masih trauma," ucap Lucky.
__ADS_1
Degh!
Surya jadi ingat saat dia memperkosa Nadia. Apa Nadia juga masih trauma berdekatan dengannya?
Apa itu alasannya kenapa Nadia menjauhinya?
Tapi di hotel itu, Nadia mau melakukannya lagi. Tapi tetap saja Surya yang memaksanya.
Ah! Ternyata aku tak beda dengan Doni. Aku pemerkosa! Surya memaki dirinya sendiri.
Surya menghela nafasnya dengan kasar.
"Ayo," ucap Surya memberi tanda pada Nadia agar naik ke boncengannya.
Nadia pun menurut. Daripada membonceng Lucky yang baru dikenalnya.
Nadia naik ke belakang Surya. Nadia memberi jarak diantara mereka, dan meletakan tas di tengahnya.
Surya melajukan motornya pelan. Lucky pun mengikutinya dari belakang.
"Sialan! Gue ditinggal! Gimana sih, ini?" Yogi kebingungan sendiri di teras rumah Lucky.
Mau pergi, tapi rumah Lucky tidak ada yang menjaga. Kalaupun Yogi menguncinya, lalu kuncinya dia serahkan ke siapa?
Mau telpon Lucky, ponsel Lucky tergeletak di atas meja. Telpon Surya juga percuma saja.
Surya tak akan pernah mau mengangkat telpon kalau sedang dalam perjalanan.
"Tadi Doni mau ngapain?" tanya Surya di tengah perjalanan.
Nadia menghela nafasnya. Dia pikir, Surya akan terus diam sampai ke rumahnya.
"Dia memaksa aku mengantarnya sampai ke rumah itu," jawab Nadia.
"Aku enggak tau. Doni enggak bilang. Dia cuma bilang minta diantarkan ke satu tempat. Itu juga dengan memaksa," jawab Nadia panjang lebar.
Nadia lupa kalau mereka sedang saling menjauh. Saat bersama Surya seperti ini, Nadia kembali merasa nyaman.
"Lagian kamu mau aja!" ucap Surya dengan ketus.
"Dia maksa aku! Sejak di parkiran kampus tadi!" sahut Nadia tak kalah ketusnya.
"Tadi saat kamu masih di kelas, Doni juga mau merusak motormu pakai paku," ucap Surya.
"Hah...! Kamu melihatnya?" tanya Nadia tak percaya.
"Iya. Aku sempat menonjok mukanya," jawab Surya.
"Kenapa?" tanya Nadia kembali tak percaya.
"Dia duluan yang nyolot. Aku cuma menegurnya karena mau merusak motor. Aku juga tadinya enggak ngeh, kalau itu motor kamu," jawab Surya.
"Gila itu orang! Apa sih maunya?" gumam Nadia.
"Bukannya kalian udah jadian?" tanya Surya.
"Jadian? Kata siapa?" Nadia malah balik bertanya.
"Waktu itu, bukannya keluarga kalian udah ketemuan?" tanya Surya lagi.
__ADS_1
Nadia terkikik.
"Ngaco aja, kamu! Itu enggak ada hubungannya dengan aku. Tapi papaku dan papanya Doni yang janjian ketemuan," jawab Nadia.
Nadia benar-benar melupakan masalahnya sendiri, juga masalahnya dengan Surya.
"Ooh. Kirain kalian mau lamaran," sahut Surya.
"Enggaklah. Kayak enggak ada lelaki lain aja!"
Degh!
Paling juga lelaki lain itu Dewa kan? Tanya Surya dalam hati. Lalu menghela nafasnya dan membuangnya dengan kasar.
Lalu Surya diam. Dia kembali teringat dengan rasa sakit hatinya pada Nadia.
Nadia pun diam. Tapi dalam hati bertanya, apa ada yang salah dengan ucapannya?
Mereka saling diam sampai tiba di depan rumah Nadia.
Surya menghentikan motornya. Nadia pun turun.
"Makasih udah nganterin aku. Makasih juga udah nolongin aku tadi," ucap Nadia.
"Iya. Sama-sama. Lain kali, ati-ati sama Doni. Dia bajingan!" sahut Surya.
Nadia mengangguk.
Lucky pun turun dari motor Nadia.
"Ini kunci motormu, Nad." Lucky menyerahkan kunci motor Nadia.
"Makasih ya, Lucky. Jadi ngerepotin kamu. Mau mampir dulu?" tanya Nadia basa basi.
"Enggak Nad. Terima kasih. Next time, ya," jawab Lucky.
Nadia pun mengangguk.
"Sur. Lu mau nganterin gue balik enggak? Kalau enggak, gue pesen ojek online aja," tanya Lucky.
"Aku anterin aja. Lagian Yogi juga masih ada di rumahmu. Entar ngoceh dia kalau aku enggak balik lagi ke sana," jawab Surya.
Lucky pun naik ke motor Surya. Lagi pula, dia baru inget kalau ponselnya ketinggalan di rumah. Dia juga enggak bawa uang sama sekali.
"Kamu diantar Surya?" tanya Susi, setelah Nadia masuk ke dalam rumah.
Nadia menghentikan langkahnya.
"Mama ngagetin aja, ih!" Nadia memegangi dadanya. Rasa traumanya kembali datang.
"Iya, Ma. Tadi....Ah! Udahlah!" Nadia langsung naik ke kamarnya.
"Ada apa, Nadia?" teriak Susi dengan keras.
Tapi Nadia sudah masuk ke dalam kamarnya dan menguncinya dari dalam.
Nadia ingin melupakan kejadian tadi. Saat Doni memaksanya, menariknya juga memeluknya paksa.
Nadia juga ingin melupakan saat Surya berkelahi dengan Doni.
__ADS_1
Kejadian tadi benar-benar akan menjadi kenangan buruk bagi Nadia.
Nadia membenamkan wajahnya di atas bantal dan menangis.