PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 34 SENDIRI


__ADS_3

Sepanjang perjalanan ke kampus, Yogi hanya diam saja. Dia juga menjaga jarak duduknya dari Viona. Tak lagi terlalu ke belakang.


Tapi Viona tak mempedulikannya. Viona memang tak pernah merespek perhatian Yogi. Baginya Yogi adalah cowok brengsek yang hobinya berganti-ganti mengencani cewek-cewek di kampusnya.


"Aku turun di sini aja," ucap Viona sambil menepuk pelan bahu Yogi, di depan kampus.


Yogi pun menghentikan motornya dan membiarkan saja Viona turun.


Yogi hanya menatap sebentar ke arah Viona yang berjalan menjauh. Dadanya naik turun menahan rasa kesal.


Lalu Yogi kembali melajukan motornya menuju warung tadi. Dan masuk kembali ke tempat Surya sedang menikmati sarapannya yang tertunda.


"Udah?" tanya Surya sambil menatap wajah Yogi yang murung.


"Udah," jawab Yogi. Lalu duduk kembali di kursinya tadi.


"Kok cepet banget?" tanya Surya lagi.


"Cepetlah. Kan cuma sampai depan kampus doang," jawab Yogi.


"Kenapa enggak dianter sampai depan kelasnya? Entar disamber orang lho," ledek Surya.


Dipikir Surya, Yogi sudah berhasil mendapatkan Viona.


"Disamber geledek juga bodo amat!" sahut Yogi yang masih kesal dengan Viona.


"Hush! Sembarangan aja. Entar kamu nyesel, Yog," sahut Surya.


"Gue enggak bakalan nyesel, Bro. Males gue ama cewek gak tau perasaan kayak gitu! Udah dibaik-baikin masih aja kayak tembok!" sungut Yogi.


"Kirain kalian udah jadian," komentar Surya.


"Gue kira juga dia udah ngelupain elu. Enggak taunya masih aja ngarepin elu. Bete kan, gue?"


Surya terkekeh. Dia juga tidak pernah tahu kenapa Viona begitu sangat mengejarnya. Padahal Surya sendiri selalu mengacuhkannya. Dan lebih memberikan perhatian pada Nadia.


"Ya udah, enggak usah dipikirin. Masih banyak cewek lain yang lebih dari Viona," ucap Surya dengan entengnya.


Karena Surya tahu banyak sekali kelebihan Yogi. Dia ganteng, tinggi dan berkulit bersih. Anak orang kaya juga. Kurang apa lagi.


"Elu sih enak. Banyak penggemar. Eh, ngomong-ngomong, siapa cewek yang telponan ama elu tadi?" tanya Yogi.


"Celyn. Temen SMA-ku. Temennya Nadia juga. Tapi dia sekelasnya ama aku, bukan sama Nadia," jawab Surya menjelaskan dengan santai.

__ADS_1


Tak ada perasaan apapun. Karena meski terlihat akrab di telpon, tapi Surya hanya menganggap Celyn sebagai teman saja.


"Elu naksir dia, Bro?" tanya Yogi.


"Enggaklah. Gila aja," jawab Surya. Baginya tak ada cewek lain di hatinya selain Nadia. Meski Nadia tak ada apa-apanya dibandingkan Celyn ataupun Viona sekalipun.


"Kirain gebetan lu yang baru."


Surya kembali terkekeh. Tangannya menepis ke depan sambil menggelengkan kepalanya.


"Kenalin ama gue aja deh. Siapa tau dia mau gue jadiin pacar," pinta Yogi.


"Ngebet amat pingin punya pacar? Bukannya kamu enjoy dengan dunia malam?" komentar Surya.


Meski Yogi suka nongkrong di club malam ataupun cafe-cafe, tapi Surya tetap mau berkawan dengan Yogi. Karena sejauh ini sikap Yogi selalu baik padanya.


"Gue kan juga kepingin punya pacar, Bro. Kayak elu....ups!" Yogi langsung menutup mulutnya dengan tangan.


Dia tahu kalau Surya sangat mengharapkan Nadia, tapi Nadia selalu menganggapnya sahabat. Entah apa alasannya, Yogi tak pernah tahu. Karena baik Surya ataupun Nadia tak pernah mengatakan pada siapapun.


Bagi Nadia, tak perlu ada seorangpun yang tahu tentang perasaannya pada Dewa, selain Surya.


Dan bagi Surya sendiri, malu kalau ternyata dia kalah dengan orang yang sudah lama menghilang.


Surya hanya menatap Yogi sekilas. Dia memaklumi sikap Yogi.


"Emangnya dia kuliah di kota mana, Bro?" tanya Yogi. Dipikirnya, Celyn kuliah di kota ini juga.


Surya menyebutkan nama sebuah kota tempat Celyn kuliah.


"Sama kayak Nando abangnya Nadia, dong?" tanya Yogi.


"Iya. Tapi mereka enggak satu kampus. Dan kayaknya enggak saling kenal juga," jawab Surya meskipun dia tak menanyakannya langsung pada Celyn.


"Wah, bakalan LDR-an. Enggak jadi, ah," ucap Yogi.


"Emangnya kenapa kalau LDR-an?" Surya mengernyitkan dahinya.


"Gue paling enggak bisa menahan rindu, Bro. Rindu itu berat," jawab Yogi dengan gaya lebay.


"Ah, lebay. Kayak abege aja!"


Dan mereka pun tertawa bersama.

__ADS_1


"Ayo ke kampus. Nanti jam sepuluh kita ke kantor polisi. Kamu jadi ikut enggak?" tanya Surya.


Meskipun nanti Yogi tak jadi ikut, Surya tetap akan mengusut kasus penabrakan Nadia. Terutama mengurus motor Nadia yang diamankan di kantor polisi.


"Jadilah. Gue kan enggak ada kuliah lagi. Kita nanti pake motor lu aja. Motor gue, dibawa pulang aja. Biar nanti gue bisa bawa pulang motornya Nadia," usul Yogi.


"Oke. Atur aja. Yuk," ajak Surya.


Surya ke kasir membayar semua makanan mereka. Termasuk makanan Viona tadi.


Mereka pun ke kampus bersama pakai motor sendiri-sendiri.


Saat berjalan melewati kelasnya Viona yang pintunya terbuka, Yogi tak menoleh sedikitpun seperti biasanya.


Viona yang kebetulan sedang melihat keluar, melihat dua cowok itu melintas. Tak ada yang menoleh ke kelasnya. Viona hanya menghela nafasnya.


Bahkan sampai jam sepuluh, saat kuliah Yogi dan Surya selesai pun, Yogi tak menyapa Viona. Padahal mereka berpapasan.


Yogi hanya meliriknya sekilas. Apalagi Surya. Dia paling malas berakrab-akrab dengan Viona. Pasti ujung-ujungnya, Viona akan mengirimkan chat padanya.


Hebat sekali Nadia. Mereka begitu sangat perhatian padanya. Pasti mereka akan ke kantor polisi mengurus soal kecelakaan Nadia. Batin Viona.


Meskipun ada rasa iri pada Nadia, tapi Viona tetap bersikap baik pada Nadia. Karena selama ini, Nadia selalu bilang kalau hubungannya dengan Surya hanya sekedar sahabat.


Viona berjalan sendirian ke kantin. Dia akan menunggu jam kuliah berikutnya.


Hari ini dia merasa benar-benar sendirian. Tak ada Nadia, tak ada juga Surya. Bahkan Yogi pun enggan menyapanya.


Viona termenung sendirian di sudut kantin dengan segelas es jeruk di meja.


Apa kurangku sebagai cewek? Aku cantik. Seksi. Viona membuka galery ponselnya. Dia tatap foto-foto selfienya.


Viona mengagumi wajahnya sendiri yang nyaris sempurna. Lalu membandingkannya dengan foto Nadia.


Sekilas terlihat sangat jauh berbeda. Nadia bertubuh kerempeng. Dadanya terlalu kecil untuk ukuran cewek seumurannya.


Sedangkan dadanya, cukup montok dan berisi. Tinggi badan pun jauh. Nadia lebih pendek beberapa centi darinya.


Kulitnya lebih bersih dari Nadia. Meski Nadia tidak termasuk kategori berkulit hitam atau sawo matang.


Dan wajah? Jelas kalah jauh. Nadia sangat jarang menggunakan make-up. Sedangkan Viona, meski tak menor, tapi selalu menggunakan make-up. Lipstik tak pernah lepas dari bibirnya. Bukan lipgloss seperti yang digunakan Nadia.


Viona juga rajin melakukan perawatan wajah. Tidak seperti Nadia yang hanya membasuhnya dengan sabun muka di rumah saja.

__ADS_1


Ah, kenapa aku jadi jahat begini? Membanding-bandingkan diriku dengan Nadia. Dia kan sahabatku, dan dia tak bersalah apapun padaku.


Viona menutup galery ponselnya. Dan kembali menikmati es jeruknya sendirian.


__ADS_2