PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 173 YOGI MINTA DIKAWININ


__ADS_3

Hari ini orang tua Yogi pulang. Mereka mau membicarakan soal hubungan Yogi dengan Sinta.


"Ma. Pa. Yogi mau melamar Sinta. Boleh, kan?" tanya Yogi pada kedua orang tuanya.


"Kok buru-buru amat, Sayang?" tanya Novia.


"Iya, Ma. Biar Sinta bisa tinggal di sini nemenin Yogi," jawab Yogi.


"Kamu sudah yakin dengan pilihanmu?" tanya Arya.


"Sudah, Pa. Yogi sudah sangat yakin pada Sinta. Boleh kan, Pa?"


Novia dan Arya berpandangan.


Pada dasarnya mereka sangat setuju dengan hubungan Yogi dan Sinta. Tapi mereka tak mengira Yogi bakal minta dikawinin secepat ini.


Selain mereka yang masih kuliah, usia Sinta juga baru saja menginjak dua puluh tahun.


"Tapi kalian kan masih kuliah? Terus bagaimana dengan kuliah kalian?" tanya Arya.


"Pa. Kampus kan tidak melarang mahasiswanya menikah. Kalau Papa masih mau membiayai, Yogi masih mau kuliah kok," jawab Yogi.


"Papa tetap akan membiayai kamu, Yogi. Bahkan kalau perlu sekalian membiayai Sinta, kalau orang tuanya menghentikannya. Tapi apa ini sudah kamu pikir masak-masak?" tanya Arya.


Bagi Arya, membiayai kuliah Yogi dan Sinta bukanlah masalah. Keponakannya saja masih ada yang dibiayainya.


Tapi persoalannya, apa mereka akan tetap konsisten dengan kuliahnya?


"Udah, Pa. Yogi dan Sinta sudah memikirkannya. Bahkan Surya pun mendukung keputusan kami," jawab Yogi.


"Lalu, bagaimana dengan orang tua Sinta?" tanya Arya.


"Yogi belum mengatakan pada mereka, Pa," jawab Yogi.


"Lho, kamu ini bagaimana sih? Mestinya kamu bilang dulu pada mereka. Mereka setuju apa enggak." Novia ikut buka suara.


"Yogi pikir, nanti aja sekalian papa dan mama datang," sahut Yogi.


"Ya enggak dong, Sayang. Kamu harus menghadap mereka dulu. Nanti kalau mereka sudah setuju, baru kami kesana," ucap Novia.


"Ya udah. Sekarang juga Yogi ke sana." Yogi beranjak dari duduknya.


"Hey, nanti dulu! Kami juga masih kangen sama kamu!" seru Arya, karena Yogi sudah berjalan ke arah pintu.


"Kangennya dipending dulu!" sahut Yogi.


Dan dengan menaiki motornya, Yogi pergi ke rumah keluarga Sinta.


"Hadeh. Anakmu itu, Ma. Kalau punya mau, enggak sabaran banget!" ucap Arya pada Novia.


"Sama kan, kaya papanya. Dulu Papa juga enggak sabaran waktu mau melamar Mama," sahut Novia.


"Iya. Tapi waktu itu kan, kita udah lulus kuliah. Papa kan udah janji mau melamar Mama secepatnya, setelah lulus kuliah." Arya tak mau disalahkan.


"Papa yang udah lulus. Mama kan belum," sahut Novia.


"Tapi akhirnya Mama bisa tetap nerusin kuliah, kan?" ledek Arya.

__ADS_1


"Iya. Tapi setelah Yogi lahir!" sahut Novia.


"Eh, apa jangan-jangan....mereka..." Novia tak tega melanjutkan kalimatnya.


"Bisa jadi!" sahut Arya paham apa maksud Novia.


"Ya udah, kalau begitu. Jangan dilama-lamain, Pa. Jangan sampai mereka punya anak dulu baru dikawinin!" ucap Novia.


"Mak! Mak Yati!" teriak Novia.


"Iya, Bu." Mak Yati buru-buru datang dengan berlari. Karena tak biasanya Novia memanggilnya sampai teriak-teriak.


"Ada apa, Bu? Ada kebakaran?" tanya mak Yati ngos-ngosan.


"Enggak! Duduk!" Novia menunjuk sofa di depannya.


"Iya, Bu. Siap!" Mak Yati yang latah, menjawab dengan tegas.


Mak Yati duduk di sofa yang ditunjuk Novia.


"Mak. Aku mau nanya serius. Jawab yang jujur, ya!" ucap Novia.


"Siap, Bu. Mak Yati akan menjawab dengan jujur!" sahut mak Yati.


Arya malah kepingin ketawa melihat sikap mak Yati yang lucu. Mak Yati duduk dengan tegap, dan mendengarkan dengan serius.


"Mak Yati kenal Sinta, kan?" tanya Novia.


"Non Sinta pacarnya den Yogi, Bu?" Mak Yati bertanya balik.


"Iya." Novia mengangguk.


"Hmm..." Novia menghela nafasnya. Sebenarnya Novia juga menahan tawanya.


Apalagi saat mak Yati juga ikutan menghela nafas.


Arya memilih meminum kopinya, demi bisa menahan tawanya.


Pantas saja anakku betah dan kadang suka melucu. Yang merawat juga kocak banget. Batin Arya.


Arya jarang sekali berkomunikasi dengan mak Yati. Kalau dia lagi di rumah, mak Yati jarang menemuinya.


Beda dengan Novia. Novia sering berkomunikasi dengan mak Yati. Terutama saat menyiapkan makan.


"Sinta sering ke sini?" tanya Novia.


"Jarang, Bu. Tapi kadang ke sini juga sih," jawab mak Yati.


"Kalau ke sini, Sinta duduk dimana?" tanya Novia.


"Di sini!" Mak Yati menunjuk sofa yang di dudukinya.


"Tapi kadang juga di situ." Mak Yati menunjuk sofa yang diduduki Novia.


"Ya oke. Sekarang jawab lagi dengan jujur. Apa Sinta pernah masuk ke kamar Yogi?" tanya Novia.


Novia seperti orang yang sedang menginterogasi. Karena mak Yati kadang suka lemot kalau pertanyaannya berbelit-belit.

__ADS_1


"Pernah, Bu," jawab mak Yati.


Novia menatap ke arah Arya.


"Waktu itu, non Sinta masuk ke kamarnya den Yogi. Waktu mas Surya, kakaknya non Sinta menginap di sini," lanjut mak Yati.


Novia menghela nafasnya lagi.


"Terus? Apa Sinta menginap di sini juga?" tanya Novia lagi.


"Enggak, Bu. Non Sinta kan datangnya paginya. Eh, siangnya. Ya, pokoknya sekitar jam sepuluhanlah. Non Sinta masuk, membangunkan mereka berdua yang masih pada tidur, terus keluar lagi," jawab mak Yati dengan detail.


"Selain itu?" tanya Novia.


"Selain itu, non Sinta membantu saya di dapur. Terus den Yogi dan mas Surya ikut datang ke dapur. Lalu mereka nangis bersama-sama. Saya juga ikut menangis," jawab mak Yati.


Novia dan Arya kembali berpandangan.


"Kenapa mereka menangis?" tanya Novia.


Mak Yati menggeleng.


"Lah, terus kenapa mak Yati ikutan nangis?" tanya Novia lagi.


"Saya kan sedih melihatnya, Bu. Jadi saya ikut nangis," jawab mak Yati dengan polosnya.


"Maksud ibu tadi, apa selain hari itu Sinta pernah datang ke sini dan menginap?" tanya Arya. Dia gemas dengan jawaban mak Yati yang terlalu polos.


Mak Yati terdiam. Dia sedang mengingat-ingat.


"Setahu saya sih, enggak pernah. Kan non Sinta rumahnya dekat. Jadi buat apa menginap?"


Arya menepuk jidatnya.


Tapi dari jawaban mak Yati yang jujur, sudah bisa menjawab keingintahuan mereka.


"Ya udah. Kembali ke dapur sana. Masak yang enak. GPL!" ucap Novia.


"GPL apaan, Bu?" tanya mak Yati.


"Gak Pake Lama!" jawab Novia dengan suara keras.


"Siap, Bu! Laksanakan!"


Mak Yati kembali berlari ke dapur. Dia akan memasak GPL.


Novia dan Arya tertawa bersama.


"Lucu sekali mak Yati itu," ucap Arya.


"Ya emang begitu orangnya, Pa. Tapi malah jujur lho. Papa bisa lihat sendiri, kan. Selama ini semua yang ada di rumah ini aman?" Novia menatap wajah Arya.


"Iya. Yogi juga betah tinggal sama mak Yati," sahut Arya.


"Tapi sekarang kelihatannya Yogi sudah bosen sama mak Yati, Pa," ucap Novia.


"Benarkah?" tanya Arya.

__ADS_1


"Buktinya, Yogi minta dikawinin. Biar Sinta menemaninya di sini," sahut Novia bercanda.


"Iya. Yogi mau menduakan mak Yati." Arya menjawabnya dengan candaan juga.


__ADS_2