PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 94 PLAGIATOR


__ADS_3

"Iih, lepasin!" Nadia berusaha melepaskan tangan Surya.


"Enggak sebelum kamu jawab!" Surya tetap kekeh tak mau melepaskan.


"Aku teriak, nih!" ancam Nadia.


"Teriak aja! Emangnya ada yang denger? Di sini kan sepi," sahut Surya.


Nadia melihat ke sekelilingnya. Benar juga, tak ada orang satu pun di sekitar situ.


Hanya ada beberapa petani yang sedang di tengah sawah, nun jauh di sana. Mana mungkin mereka mendengar teriakan Nadia. Apa dia mesti mengibarkan bendera putih?


"Enggak ada orang kan?" tanya Surya merasa menang.


Akhirnya Nadia menyerah. Lalu duduk lagi di batu.


"Oke. Aku jawab. Tapi kamu merem!" ucap Nadia.


Surya menatap wajah Nadia. Nadia mengangguk.


"Oke." Surya pun menurut. Lalu memejamkan matanya.


Cup!


Nadia mengecup bibir Surya sekilas.


Surya langsung membelalakan matanya. Dia tak mengira Nadia akan menciumnya.


Surya menoleh ke kanan dan ke kiri seperti mencari sesuatu.


"Kok nengak nengok? Nyari apa?" tanya Nadia.


"Tadi kayak ada yang mencium bibirku. Siapa ya?"


Blush!


Wajah Nadia langsung merona.


"Enggak tau! Cuma perasaanmu aja, kali!" sahut Nadia, lalu memalingkan wajahnya.


"Nad!" Surya menarik wajah Nadia agar menghadap ke arahnya.


Lalu Surya pun langsung mencium bibir Nadia, tanpa adegan slow motion lagi.


Tak cuma sekilas, tapi Surya ********** dengan lembut sambil tangannya menekan tengkuk Nadia, agar dia enggak melengos lagi.


Sejenak Nadia terpaku. Lalu menikmati. Lalu....


Nadia mendorong tubuh Surya.


"Jangan mesum di sini, ya! Aku enggak mau kita ditangkap warga!" ucap Nadia.


"Oke. Kita lanjut di tempat lain!" Surya langsung berdiri dan menarik tangan Nadia.


"Kemana?" tanya Nadia.


"Cari tempat aman, yang enggak mungkin dilihat orang!" jawab Surya.


Padahal Surya sendiri tak tahu di mana tempatnya. Di rumahnya jelas enggak mungkin. Karena ada mamanya.


Di rumah Nadia, juga sama saja.


Tapi Surya pura-pura serius mengajak Nadia mencari tempat yang aman.


"Ayo naik!" Surya sudah lebih dulu naik ke atas motor.


Nadia pun naik.

__ADS_1


"Peluk!" perintah Surya.


Nadia pun menurut.


"Apalagi?" tanya Nadia.


"Ya udah, kita jalan. Hehehe." Surya malah terkekeh.


"Nyebelin...!" teriak Nadia.


Surya malah tergelak, sambil terus melajukan motornya perlahan. Satu tangannya menahan tangan Nadia biar enggak lepas. Padahal Nadia sudah memeluknya dengan erat.


Surya melajukan motornya ke arah bengkel. Tapi sebelum sampai, dia berbelok dulu ke sebuah warung makan sederhana.


"Mau ngapain?" tanya Nadia.


"Katanya tadi laper," jawab Surya.


Nadia tersenyum. Ternyata Surya masih ingat omongannya tadi. Padahal sebenarnya Nadia berbohong. Dia tadi cuma cari alasan saja.


Mereka pun masuk ke warung makan itu. Sebuah warung makan sederhana. Yang harganya sesuai dengan kantong mahasiswa.


"Kamu mau makan apa, Nad?" Surya sudah mengambil piring, siap mengambil nasi dan lauk sendiri.


Nadia pun ikut mengambil piring. Lalu mengambil nasi dan lauk yang persis sama seperti yang diambil Surya.


"Kenapa nyama-nyamain?" tanya Surya.


"Memangnya enggak boleh? Di sini kan bebas ngambil. Iya kan, Bu?" Nadia malah bertanya pada ibu pemilik warung.


Wanita setengah baya itu tersenyum sambil mengangguk. Lalu menawari minuman.


"Es teh manis dua, Bu," jawab Nadia sambil berjalan mencari bangku kosong.


Surya yang berjalan di sebelahnya sambil membawa piring, menoleh ke arah Nadia.


Nadia cuma nyengir. Lalu duduk di sebuah bangku panjang yang kosong.


"Kok kamu pesen es teh juga?" tanya Surya.


"Iih, kamu kenapa sih? Suka-suka aku dong," jawab Nadia.


"Hhmm....!" Surya tak mau berdebat. Karena tahu kalau Nadia sudah mulai mengeluarkan suara emasnya, semua orang bakal menutup telinga.


Suara lengkingannya bisa sangat memekakan telinga.


"Ini minumnya, Mbak."


"Iya. Makasih, Bu." Nadia memberikan satu gelas buat Surya.


Surya manggut-manggut. Perasaannya sangat bahagia. Karena kini tak harus selalu dia yang mengikuti Nadia. Nadia pun mulai mengikutinya.


"Sejak kapan kamu doyan kikil, Nad?" tanya Surya.


Setahu Surya, Nadia merasa jijik dengan kikil. Karena trauma, pernah makan kikil dan ternyata masih banyak bulunya.


Belum lagi aromanya yang menyengat dan juga kenyel-kenyel di mulut. Pokoknya banyak alasan yang membuat Nadia ilfeel sama kikil.


"Iseng aja. Liat kamu ambil, ya ikut aja ngambil," jawab Nadia.


Padahal sejak Surya mengundurkan diri beberapa waktu yang lalu, Nadia merasa sangat kehilangan. Dan untuk mengobati rasa rindunya pada Surya, Nadia selalu makan makanan yang disukai Surya.


Karena untuk menelpon dan meminta Surya kembali, Nadia merasa gengsi. Apalagi kalau Surya menolaknya.


Nadia pun tak kalah stressnya. Terlebih mamanya marah padanya karena dia sudah mengecewakan Surya yang sangat baik.


Nadia benar-benar merasa sendiri. Mamanya hampir tak mau bicara padanya. Hanya sekedarnya saja.

__ADS_1


Papanya pun tak kalah cueknya. Sepulang kerja, langsung masuk kamar dan tak keluar lagi.


"Hhmm. Bilang aja kepingin. Enak, kan?" ledek Surya.


"Lumayan," jawab Nadia sekenanya.


"Apalagi es teh manis." Surya menyedot es tehnya.


"Hhmm. Seger....!"


Nadia melihat Surya dengan kesal. Lalu menyedot es tehnya. Saking keselnya, tak sadar Nadia menyedotnya sampai kandas.


"Ya...Abis!" pekik Nadia.


Surya terbahak-bahak.


"Seger kan?" Lalu Surya mengambil gelas Nadia dan meminta pemilik warung membuatkannya lagi.


"Abisin dulu makannya. Nanti kekenyangan es teh. Makanannya malah enggak abis," ucap Surya.


Kembali Nadia menurut. Dia menghabiskan makanannya.


"Sur, long weekend kamu ada acara?" tanya Nadia.


"Kenapa? Kamu mau ngajakin aku stay vacation?" tanya Surya.


"Iya. Tapi kamu yang bayarin," jawab Nadia.


Nadia pura-pura minta dibayari. Padahal Nadia tahu kalau uang Surya tak sebanyak uangnya.


"Enak aja. Kamu yang ngajakin, kok," sahut Surya.


Padahal dalam hati, mau benget. Meski dia harus menguras tabungannya.


"Ya udah, enggak jadi." Nadia pura-pura cuek.


"Oh iya, aku lupa. Mamanya Yogi ngajakin kita liburan bareng. Jadi enggak, ya? Mereka kan masih di kampungnya mak Yati," ucap Surya.


Nadia langsung menoleh. Dalam hati berharap Surya mengajaknya.


"Kenapa? Mau ikut juga?" tanya Surya. Dia tahu kalau Nadia ngarep minta diajak.


"Emangnya boleh?" tanya Nadia pelan. Dia malu juga sebenarnya, karena itu acara keluarga Surya dengan keluarga Yogi.


"Boleh. Tapi ada syaratnya," jawab Surya.


Nadia langsung berbinar.


"Syaratnya apa? Aku bayar sendiri? Enggak apa-apa. Aku bayar semuanya sendiri," cerocos Nadia.


"Bukan. Kalau itu sih urusan orang tua," sahut Surya.


"Terus apa dong?" tanya Nadia.


"Cium aku lagi. Hm!" Surya memajukan bibirnya.


Nadia langsung menepis bibir Surya dengan tangannya.


"Jangan macem-macem, Sur. Banyak orang!" ucap Nadia pelan.


"Enggak apa-apa. Di sini enggak ada tulisan dilarang ciuman, kan?" ledek Surya. Tak mungkin juga Surya nekat. Bisa digetok sama pemilik warungnya.


Surya menangkap tangan Nadia, lalu kembali mendekatkan bibirnya.


"Iih. Aku teriak nih!" ancam Nadia.


"Teriak aja. Emangnya aku takut?" tantang Surya, sambil terus memajukan bibirnya.

__ADS_1


"Surya.....!"


__ADS_2