
Dewa memanggil Viona dan Sinta.
"Ayo, kalian mau ikut apa tidak?" tanya Dewa.
"Kemana?" tanya Viona.
"Katanya mau naik ke kapal," jawab Dewa.
"Ayo, Kak. Aku mau naik ke kapal." Sinta menarik tangan Viona.
Sinta memang kepingin banget naik ke kapal. Dan tujuannya mengajak Yogi ke pelabuhan juga untuk itu.
Viona pun menurut. Viona juga juga punya keinginan yang sama. Tapi untuk mengantar Dewa, bukan untuk berselfie.
Dewa meraih tangan Viona. Sedangkan Sinta langsung nemplok di lengan Yogi.
"Kak Surya mana, A?" tanya Sinta pada Yogi.
"Tuh, dia udah duluan." Yogi menunjuk ke arah Surya yang lagi berusaha naik ke atas kapal.
"Nanti kita foto-foto pakai hapenya kak Surya aja ya, A," ucap Sinta.
"Iya. Moga-moga aja hapenya Surya enggak lowbath," sahut Yogi.
Yogi dan Sinta mengikuti langkah Dewa juga Viona.
"Kasihan kak Surya ya, A. Dia jadi kayak orang ilang begitu," ucap Sinta sambil berjalan.
"Dia sendiri yang cari masalah. Kita kan udah sering mengingatkan," sahut Yogi.
"Iya sih. Tapi namanya juga cinta, A. Kita enggak bisa melarang," sahut Sinta. Bukannya dia membela Surya. Tapi dia sendiri juga merasakannya.
"Tapi setidaknya, dia bisa pakai logikanya. Dia kan udah dewasa." Yogi membantu Sinta naik ke atas kapal.
"Gimana Sur, apa kamu tertarik jadi pelaut?" tanya Dewa, setelah mereka semua sudah naik.
"Enggak, ah. Nanti kulitku item. Kayak kamu," jawab Surya.
"Item itu menandakan kalau kita kuat, Sur. Enggak lembek kayak kamu!" sahut Dewa.
Lalu tanpa perasaan Dewa menggandeng tangan Viona di depan Surya.
Surya hanya menatap mereka sekilas. Ada rasa iri lagi di hati Surya. Apalagi saat menoleh dan melihat Yogi sedang bercanda dengan Sinta.
Sinta yang melihatnya, langsung berlari ke arah Surya. Lalu dia membawa lari Surya agar meninggalkan Yogi sendirian.
Sinta bersikap seolah, dia mengajak bercanda juga pada Surya.
Yogi melihatnya sambil tersenyum. Bijak sekali cara Sinta menghibur Surya.
"Hape Kakak mana?" tanya Sinta.
"Mau buat apa?" tanya Surya.
"Kita selfie, Kak," jawab Sinta.
__ADS_1
"Enggak mau, ah. Ngapain!" sahut Surya yang tak begitu suka berselfie.
"Tapi aku mau, Kak. Hapeku kan mati. Ayo dong pinjem hapenya," rengek Sinta.
Dari kejauhan Yogi membiarkannya. Dia memilih merokok di tepi geladak, sambil melihat jauh ke lautan.
Dengan terpaksa Surya mengambil ponselnya. Lalu Sinta langsung merebutnya.
"Iih, kok di kunci sih? Bukain dong." Sinta menyerahkan kembali ponsel Surya.
Surya segera membuka kuncinya dan menyerahkan kembali pada Sinta.
Sinta segera berpose di sebelah Surya. Dia mengambil fotonya dengan Surya.
Reflek Surya pun ikut berpose.
Sinta berkali-kali mengambil gambar mereka berdua.
"Udah, ah. Foto melulu!" Surya melepaskan tangan Sinta yang memeluknya.
Sinta tak protes. Dia sudah merasa senang bisa menghibur Surya meski cuma sebentar.
"Ke sana yuk, Kak," ajak Sinta pada Surya.
Ada bagian terbuka dari kapal yang bisa buat melihat ke arah laut lepas.
Sinta berdiri di tepiannya.
"Kak. Beneran kan merestui hubunganku dengan Aa Yogi?" tanya Sinta.
Surya menatap Sinta. Sebenarnya ada rasa kecewa di hati Surya. Karena Sinta mengambil jalan pintas untuk bisa menikah dengan Yogi.
"Mau gimana lagi?" Surya menjawabnya dengan rasa kesal.
"Tapi jangan terpaksa setujunya, Kak. Ikhlas enggak?" tanya Sinta.
"Memangnya kalau aku enggak ikhlas, terus kamu enggak jadi menikah dengan Yogi?" Surya balik bertanya.
"Kami tetap akan menikah, Kak. Aku juga enggak mau kehilangan Aa Yogi," sahut Sinta.
"Apa kamu yakin setelah menikah, bakal selamanya memiliki Yogi?" tanya Surya.
"Harus yakin, Kak. Seperti mama dan papa. Mereka bisa langgeng sampai sekarang. Juga mama dan papanya Aa Yogi. Mereka pasangan yang asik, kan?" sahut Sinta.
Surya menghela nafasnya.
Ya. Mestinya dia juga bisa seperti kedua orang tuanya. Bisa langgeng memiliki Nadia. Tapi kenyataannya?
Ah, sudahlah.
Surya membuang pandangannya ke arah laut lepas. Tak ada gunanya menyesali diri. Tak ada gunanya juga bersedih.
Nadia tak pernah mempedulikannya. Nadia hanya peduli dengan masa lalunya. Masa lalu yang sudah jauh meninggalkannya.
"Aku cuma bisa berdoa untuk kalian. Semoga kalian bisa seperti mama dan papa," ucap Surya.
__ADS_1
"Iya, Kak. Makasih," Sinta tersenyum.
"Kapan kalian akan menghadap mama dan papa?" tanya Surya.
"Kata Aa Yogi, secepatnya. Mungkin setelah kita pulang. Aa Yogi juga enggak mau terlalu lama membiarkan aku menunggu, Kak," jawab Sinta.
Yogi berjalan mendekat ke arah mereka.
"Aku akan segera melamar Sinta, Bro. Setelah kami sampai di rumah," ucap Yogi tiba-tiba.
Surya dan Sinta menoleh.
"Jangan katakan apapun tentang yang telah kalian lakukan di sini," ucap Surya.
Sinta dan Yogi saling berpandangan.
"Jangan bikin mama syok lagi," lanjut Surya.
"Maksudnya?" tanya Sinta.
"Mama sudah cukup syok dengan yang terjadi padaku. Kalian tak perlu tau lebih jauh. Cukup jaga perasaan mama aja," jawab Surya.
Surya tak mau mengatakannya pada Sinta. Dia tak mau Sinta kecewa terhadapnya.
"Iya, Kak. Sinta janji tak akan membuat syok mama dan papa," sahut Sinta.
"Iya, Bro. Itu bagianku yang akan bicara baik-baik pada orang tua kalian. Aku pasti akan menjaga perasaan mama. Jangan khawatir," janji Yogi.
"Kak Surya juga jangan bikin kecewa mama lagi," ucap Sinta.
"Iya. Aku pun janji tak akan mengecewakan mama lagi. Aku akan melupakan Nadia," sahut Surya.
"Apa janjimu kali ini bisa dipegang?" tanya Yogi. Sebab sudah dua kali Surya berjanji padanya, tapi diingkarinya setelah ketemu lagi dengan Nadia.
Surya mengangguk pasti.
"Aku jadi malu sama kamu, Yog. Tapi kali ini, aku janji tak akan mengecewakan kamu lagi. Bulan depan aku akan mengikuti KKN. Aku akan ambil di kota lain. Mungkin dengan begitu, aku bisa melupakannya," ucap Surya.
Sinta malah menoleh ke arah Yogi.
Yogi tahu apa maksud Sinta. Lalu Yogi mengacak rambutnya.
"Aku pastikan sebelum KKN, kita udah menikah. Kamu enggak apa-apa kan, kalau ditinggal sebentar?" tanya Yogi pada Sinta.
"Memangnya berapa lama, A?" tanya Sinta dengan perasaan sedih.
"Emangnya kenapa? Takut kangen, ya?" ledek Yogi.
"Iih, Aa. Masa baru menikah terus ditinggal pergi." Sinta langsung manyun.
"Itu kan kewajiban, Cinta. Kalau aku enggak ambil, kapan aku lulus kuliahnya? Kamu enggak mau kan, kalau aku DO?" tanya Yogi.
Sinta menggeleng.
Ya, mau tak mau Sinta harus merelakan ditinggal Yogi, untuk sementara.
__ADS_1
"Apa kamu mau ikut ke tempat KKN? Kan lumayan, di sana pasti butuh orang buat di dapur!" ledek Surya sambil melangkah pergi.
"Kakak...!" Sinta menjerit dengan kesal.