PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 205 INTUISI


__ADS_3

Yogi dan keluarganya masuk duluan ke dalam rumah sakit. Mereka menuju ruang emergency.


Nadia sengaja mengajak Susi jalan belakangan saja. Sebab mereka belum tahu dimana Rahma berada. Meskipun mereka bisa saja bertanya pada bagian informasi.


"Kenapa sih? Mama buru-buru, nih." Susi menepiskan tangan Nadia yang menahan lengannya.


"Itu Yogi sama orang tuanya," sahut Nadia.


Nadia masih ingat wajah orang tua Yogi, saat mereka ketemu di restauran.


"Oh, itu calon besannya Rahma? Yang waktu itu ketemu di restauran kan?" Susi juga masih ingat kejadian itu. Tapi Susi lupa dengan wajah mereka.


"Iya, Ma. Biar mereka duluan aja. Kita belakangan," sahut Nadia.


"Memangnya kenapa? Kita kesini bukan untuk menemui mereka. Kita mau lihat kondisinya Rahma," ucap Susi.


"Ma...Nadia enggak enak!" sahut Nadia dengan kesal.


"Kalau kamu merasa enggak enak, tadi enggak usah ikut aja!" Susi merasa sangat kesal pada Nadia.


Susi menganggap Nadia selalu membuatnya jadi enggak enak juga pada orang lain.


"Ya udah, deh." Nadia menurut.


Tapi karena perdebatan tadi, membuat mereka tetap berada di belakang keluarga Yogi.


Nadia dan Susi sampai di dekat ruang IGD. Di sana sudah berkumpul keluarga Surya, lengkap dengan kedua eyangnya.


Begitu juga keluarga Yogi.


Mereka semua dalam keadaan sangat cemas. Apalagi Surya, keadaannya sangat berantakan. Rambutnya acak-acakan. Wajahnya sembab dan pipinya memar.


Dari kejauhan Nadia melihatnya. Persis seperti saat Surya berkelahi dengan Doni. Waktu itu pipi Surya memar dan bibirnya robek.


Apa yang terjadi sama dia? Apa dia berkelahi lagi? Tapi sama siapa? Nadia hanya bisa bertanya-tanya dalam hati.


"Ma...Mama bawa masker enggak?" tanya Nadia.


Bau menyengat obat-obatan dan wangi karbol, membuat kepala Nadia pusing.


"Ngapain kamu minta masker? Mau sembunyi?" Susi sudah negatif thinking saja pada Nadia.


"Enggak, Ma. Nadia enggak betah. Bau obat banget ini," jawab Nadia.


"Namamya rumah sakit, ya bau obat. Kalau mau bau masakan, sana ke rumah makan!" sahut Susi.


Nadia cemberut. Karena kembali Susi ngomel-ngomel.


"Udah, ayo kesana," ajak Susi.


Nadia menggeleng. Bukan karena malu ketemu keluarga Surya. Tapi Nadia benar-benar tak tahan dengan bau obat-obatan.

__ADS_1


"Ya udah. Mama kesana sendiri. Kamu di sini aja. Jangan kemana-mana. Duduk situ." Susi menunjuk sebuah bangku panjang.


Nadia mengangguk. Lalu dia pun duduk, sambil tangannya sesekali menutupi hidung.


Susi menghampiri kedua orang tua Rahma. Susi sudah mengenalnya. Dulu saat mereka sering ke rumah Rahma.


"Ibu, Bapak." Susi menyalami tangan keduanya, seperti pada orang tua sendiri.


Kedua eyangnya Surya pun menyambut Susi dengan ramah. Mereka berdua sudah tahu hubungan antara Surya dan Nadia yang kandas.


Tapi tak membuat mereka juga harus menjauhi Susi. Menurut mereka, itu hanyalah masalah anak-anak saja.


Susi pun menyalami Toni, Sinta lalu Surya. Surya tak bicara apapun pada Susi. Bukan karena tidak suka dengan kedatangan Susi.


Tapi Surya sejak berangkat tadi memang selalu diam. Diajak bicara juga cuma diam. Ditanyapun tak menjawab.


Susi juga menyalami keluarga Yogi. Mereka sangat ramah pada Susi. Meskipun tadi sudah diceritakan oleh Surya, bagaimana sikap Nadia yang menyebalkan.


Mereka terlibat pembicaraan tentang kondisi Rahma. Tapi belum ada yang tahu permasalah sebenarnya.


Satu-satunya orang yang tahu adalah Surya. Tapi Surya masih pada mode diam.


Akhirnya mereka memutuskan untuk konsen pada kondisi Rahma saja. Tak membahas penyebabnya.


Surya melirik sekilas ke arah Nadia. Terlihat Nadia berkali-kali menutup hidungnya.


Kenapa dia? Apa masih masuk angin, seperti yang dikatakan mama? Surya hanya bertanya dalam hatinya saja. Lalu melengos. Membuang pandangan sejauh-jauhnya.


Saat mereka asik bicara, Nadia bangkit dari duduknya. Lalu dia muntah.


"Tante. Kak Nadia muntah!" ucap Sinta sambil menunjuk ke arah Nadia.


"Ya ampun, Nadia!" Susi berlari ke arah Nadia.


Novia dan Sinta pun ikut menghampiri. Surya hanya menatap saja dari kejauhan.


Perasaannya semakin campur aduk.


Benarkah Nadia hamil?


Tapi kenapa tante Susi tak mengatakannya?


Apa Nadia merahasiakannya. Atau Nadia belum menyadarinya?


Ah! Surya mengacak rambutnya yang jadi semakin betantakan.


Toni yang sudah tahu peristiwa pemerkosaan yang dilakukan oleh Surya, menyandarkan kepalanya di dinding.


Feelling Rahma benar. Nadia pasti sedang hamil. Batin Toni.


"Kamu kenapa, Nad?" tanya Susi.

__ADS_1


Novia dan Sinta sudah ada di dekatnya.


Nadia menggeleng. Sambil masih mengeluarkan isi perutnya.


Sinta membuka tasnya, lalu memberikan tissue pada Nadia. Novia yang kemana-mana selalu membawa minyak anginpun, mengoleskannya di leher Nadia.


Yogi menghampiri. Dia ingin tahu apa yang terjadi pada Nadia.


"Nadia kenapa, Tante?" Yogi memberanikan diri bertanya.


"Tadi siang dia juga muntah-muntah begini. Terus sudah dikerokin sama mbok Nah. Eh, sekarang mulai lagi. Katanya sih tadi enggak tahan sama bau obat," jawab Susi.


"Kenapa enggak dibawa ke dokter, Tante?" tanya Sinta.


"Dianya enggak mau. Katanya nanti juga sembuh," jawab Susi.


Novia selesai mengoles leher Nadia dengan minyak angin. Lalu membimbing Nadia untuk kembali duduk.


"Makasih, Jeng. Malah merepotkan," ucap Susi.


"Enggak apa-apa. Mumpung di rumah sakit, sekalian diperiksain aja," saran Novia.


"Enggak, Tante. Nadia enggak apa-apa, kok." Nadia tetap bersikeras tak mau diperiksa dokter.


Susi hanya mengangkat bahunya. Dia menyerah kalau harus menghadapi sikap keras kepala Nadia.


Susi hanya berharap nanti saat Haris pulang dari luar kota, bisa memaksa Nadia periksa ke dokter.


"Entar kalau muntah lagi, gimana?" tanya Novia dengan sabar.


"Enggak. Udah abis kok isi perutnya," jawab Nadia, lalu nyengir.


Yogi melihat wajah Nadia pucat. Yogi hafal betul rona wajah Nadia.Karena dia dulu sering ada di antara Nadia dan Surya.


"Wajah kamu pucat, Nad," ucap Yogi.


"Enggak. Biasa aja." Nadia berusaha tersenyum. Biar semua orang yakin kalau dia baik-baik saja.


Diam-diam eyang putri menatap Nadia dari kejauhan. Dia merasa ada yang berbeda pada diri Nadia.


Intuisi eyang putri sangat kuat. Bahkan persoalan pingsannya Rahma saja, dia sudah bisa menebaknya.


Tapi sekarang belum tepat waktunya untuk membahas soal Nadia. Dan eyang putri memilih tetap duduk di tempatnya. Bersisihan dengan suaminya.


"Kenapa, Bu?" tanya eyang kakung. Dia paham akan kelebihan yang dimiliki istrinya itu.


"Kelihatannya Nadia lagi hamil, Pak. Ibu bisa merasakan itu," jawabnya berbisik. Agar tak ada yang mendengarnya.


Hhh! Eyang kakung menyugar rambutnya. Kepalanya terasa panas.


Niat mereka datang ke rumah Rahma untuk merayakan pernikahan Sinta. Malah disuguhi banyak masalah.

__ADS_1


Pantas saja istriku ini ngotot mau kesini. Walaupun beberapa hari yang lalu mengeluh sakit pinggang.


Ternyata instingnya mengatakan kalau mereka harus mendampingi Rahma menghadapi persoalan anaknya.


__ADS_2