PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 54 KELUPAAN


__ADS_3

Setelah puas makan dan bercanda, Surya, Sinta dan Yogi pamit pulang. Sebentar lagi juga sudah mau maghrib.


"Sur, Cinta biar aku yang antar, ya?" pinta Yogi.


"Enggak! Sinta, ayo naik!" Surya masih saja galak. Padahal tahu kalau Yogi hanya bercanda.


Sinta pun naik ke boncengan kakaknya. Matanya terus menatap Yogi yang juga sudah siap di atas motornya.


Yogi melambaikan tangannya ke arah Sinta dengan tersenyum nakal. Sinta menunduk malu. Tapi hatinya berbunga-bunga.


Surya yang melihatnya dari spion, menoleh ke arah Yogi. Lalu mengepalkan tangannya.


Yogi tergelak. Hari ini dia bisa membuat Surya mengeluarkan sungutnya.


Yogi juga senang, karena berkali-kali membuat wajah Sinta merah merona. Termasuk juga membuat Viona menyingkir.


Itu yang paling penting. Yogi merasa berhasil membalaskan sedikit rasa sakit hatinya pada Viona.


Dan Yogi berjanji pada dirinya sendiri, akan kembali membalaskannya lagi.


Yogi tersenyum puas. Lalu menarik gas motornya. Dia mengendarai motornya sambil meliuk-liuk di depan Surya.


Lalu kembali menarik gasnya hingga seakan dia melayang.


"Dasar sinting!" gumam Surya kesal.


"Kakak kok marah-marah terus?" tanya Sinta.


"Tuh! Gara-gara manusia sinting itu!" Surya menunjuk ke arah hilangnya Yogi dengan dagunya.


"Masa temen sendiri dikatain sinting, sih?" protes Sinta.


"Emang dia sinting. Hati-hati kamu sama dia!" sahut Surya.


"Tapi kak Yogi kan teman baiknya kakak sama kak Nadia?"


"Pokoknya kalau aku bilang hati-hati ya hati-hati. Dia itu orangnya enggak konsisten," sahut Surya.


"Enggak konsisten gimana?"


Surya tak menjawab. Karena mereka sudah sampai di depan rumahnya.


Sinta turun dari boncengan. Dia menunggu Surya turun juga.


"Ngapain di situ terus?" tanya Surya.


"Kakak belum jawab pertanyaanku," jawab Sinta.


"Pertanyaan apa?" Surya malah lupa dengan pertanyaannya sendiri.


"Ish. Nyebelin. Yang kata Kakak, enggak konsisten," jawab Sinta. Dia mengikuti langkah Surya.

__ADS_1


Surya menoleh ke arah Sinta. Lalu menghela nafasnya dan duduk di kursi teras.


"Begini adiku Sinta....Aku ceritain, dengerin ya?"


Sinta mengangguk. Dan ikut duduk di sebelah Surya.


"Kamu tau Viona, kan?" tanya Surya.


Sinta mengangguk lagi.


"Dulu Yogi ngejar-ngejar Viona. Katanya dia cinta mati sama Viona. Terus tau-tau nyerah. Katanya Viona beginilah...begitulah. Terus minta dikenalin sama Celyn. Belum apa-apa sudah mundur. Itu kan namanya enggak konsisten."


"Tadi aku sempat denger kak Yogi bilang, tak mau melakukan hal yang sia-sia. Apalagi menyakitkan," ucap Sinta.


"Sin, namanya cinta itu meskipun menyakitkan, tetap harus diperjuangkan," sahut Surya.


"Tapi kalau berakhir sia-sia?" tanya Sinta.


Seumur hidupnya Sinta belum pernah merasakan jatuh cinta. Karena Surya ekstra ketat mengawasi adiknya ini. Sesuai perintah kedua orang tuanya dahulu.


Meskipun kelihatannya Surya tak peduli pada Sinta. Tapi dia tahu dengan siapa saja Sinta bergaul.


Begitu tampak akrab dengan teman lelaki, Surya langsung menarik adiknya agar menjauh.


Sinta pernah juga naksir teman sekolanya. Tapi rasa itu perlahan menghilang, setelah Sinta sibuk dengan persiapan ujian akhir sekolah.


Surya menghela nafasnya lagi.


"Memangnya kita bisa tau kalau yang kita lakukan akan sia-sia? Itu namanya mendahului takdir."


Dia sangat mencintai dan menginginkan Nadia. Dan dia terus berjuang untuk mendapatkannya.


Surya tak menganggapnya sia-sia. Toh, Nadia tak pernah lepas darinya. Dia selalu ada di sisi Nadia.


Surya tak pernah mau tahu kalau dia hanya memiliki raga Nadia. Itupun tak seutuhnya. Karena dia tak bebas menyentuhnya.


Dan jiwa Nadia sendiri melayang bersama kenangan masa lalunya. Kenangan dengan cinta pertama Nadia yang masih terus saja dipertahankan sampai kini.


Nadia tak pernah mempedulikan kalau di sisinya ada hati yang sangat mendambakannya.


Sebenarnya sifat keduanya sama saja. Sama-sama keras. Sama-sama setia. Dan sama-sama memperjuangkan cinta mereka.


Tapi sayangnya mereka memperjuangkan cinta yang berbeda. Surya berjuang untuk Nadia. Sedangkan Nadia sendiri berjuang untuk Dewa. Lelaki dari masa lalunya.


"Udah, ah. Aku capek." Surya berdiri dan masuk ke dalam rumah.


Sinta pun mengikutinya. Kamar mereka berhadapan, jadi mereka berjalan beriringan.


Rahma yang melihat kedua anaknya akur, tersenyum bahagia. Dia merasa berhasil mendidik keduanya untuk saling mengalah dan saling menyayangi.


"Sinta!" panggil Rahma.

__ADS_1


"Iya, Ma." Sinta menoleh dan menghentikan langkahnya.


"Udah dibawa semua yang buat Nadia?" tanya Rahma. Dia juga baru saja pulang, jadi belum sempat mengecek meja makan.


"Udah, Ma. Berat banget. Oh, iya. Ada ucapan terima kasih dari kak Nadia sama tante Susi," jawab Sinta.


"Iya. Gimana keadaan Nadia?" tanya Rahma lagi.


"Udah baik, sih. Luka jahitannya udah kering. Tiga hari lagi katanya mau dilepas perbannya. Tapi masih bengkak karena tadi siang katanya kak Nadia jatuh lagi," jawab Sinta.


"Hah? Jatuh dimana lagi?" tanya Rahma.


"Kesandung karpet di ruang tengah katanya. Pas ada kak Surya juga kok."


"Ya ampun. Surya gimana sih, enggak bisa jagain Nadia." Rahma malah menyalahkan Surya.


Sinta mengangkat bahunya. Lalu berjalan lagi masuk ke kamarnya.


Sampai di kamar, Sinta tak mandi lagi. Dia hanya mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur.


Dan saat melepas celana jeansnya, Sinta teringat pada kertas yang didapatnya dari kamar Surya kemarin.


Sinta mengunci pintu kamarnya dan mengambil kertas yang masih terselip di kantong celananya.


Ya ampun, kenapa aku sampai lupa mencocokan tulisan ini dengan tulisan tangan Nadia?


Ah, gara-gara asik bercanda dan ngobrol, jadi enggak kepikiran lagi.


Gara-gara pesona Yogi juga. Sinta jadi malu sendiri.


Sinta bercermin. Melihat wajahnya sendiri. Aku enggak jelek kok. Meski tak secantik Viona.


Sinta berputar dan melihat tubuhnya dari berbagai sisi. Lalu membandingkannya dengan tubuh Viona yang padat berisi.


Mungkin kurang seksi sedikit lagi. Apa aku harus banyak makan, ya? Biar badanku enggak terlalu kerempeng.


Lalu make up-ku? Kayaknya aku mesti mulai memikirkan perawatan wajahku. Dan dengan sedikit polesan, pasti aku tak kalah cantik dari Viona.


Dan Yogi....pasti dia akan tertarik padaku dan melupakan Viona yang katanya tak pernah menghargai perasaannya.


Sinta senyum-senyum sendiri.


"Sinta...!" Rahma memanggil Sinta sambil mengetuk pintu kamar Sinta yang dikunci.


"Iya, Ma...!" sahut Sinta, lalu membuka pintu kamarnya.


"Ayo kita makan malam. Papa udah pulang. Katanya pingin makan bareng. Mama tadi beli ayam goreng kesukaan kamu dan Surya," ucap Rahma.


"Tapi kita tadi barusan makan di rumah kak Nadia," sahut Sinta.


Lalu Sinta teringat kalau dia ingin tubuhnya berisi seperti Viona.

__ADS_1


"Eh, tapi Sinta masih laper, Ma." Sinta bergegas keluar dan berjalan duluan ke ruang makan.


Sementara Rahma memanggil Surya yang juga mengunci pintu kamarnya.


__ADS_2