PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 201 GOSIP HANGAT


__ADS_3

Sampai di rumah, Nadia langsung turun dari mobil dan berlari.


"Nadia! Jangan lari! Nanti kamu malah jatuh!" teriak Susi.


Bagi tetangga dekat, mendengar suara teriakan Susi sudah biasa.


Bu Yudi, tetangga di sebelah rumahnya, yang sempat mendengar teriakan Susi pun menoleh.


"Ada apa, Bu Susi?" tanya bu Yudi.


"Nadia masuk angin. Tadi di jalan muntah-muntah, Bu Yudi," jawab Susi.


"Owalah. Suruh istirahat, Bu. Apa dikerokin aja, biar cepat sembuh," ucap bu Yudi.


"Iya, Bu. Saya masuk dulu, ya," pamit Susi.


Susi pun segera mengejar Nadia.


Untungnya Nadia yang sudah sampai di kamar, tak menutup pintunya.


"Udah kamu rebahan dulu. Mama carikan minyak angin," ucap Susi. Lalu keluar dari kamar Nadia.


"Mbok...! Mbok Nah...!" panggil Susi dari tangga.


"Iya, Bu." Mbok Nah mencari sumber suaranya.


"Ealah, Ibu di situ, toh. Ada apa, Bu?" tanya mbok Nah.


"Ambilin minyak angin di kamarku! Cepetan!" jawab Susi.


Mbok Nah kalau tidak disuruh cepetan, suka lelet jalannya. Maklum, sudah tua.


"Iya, Bu. Siap!" Mbok Nah pun bergegas ke kemar Susi mencarikan minyak angin.


"Apa ibu masuk angin? Tapi kenapa malah berdiri aja di tangga? Bukannya masuk kamar, terus rebahan," gumam mbok Nah pelan.


Setelah menemukan yang dicarinya, mbok Nah bergegas naik.


"Loh, ibu kemana? Tadi di sini." Mbok Nah mencari keberadaan Susi.


"Bu! Bu Susi! Ibu dimana?" teriak mbok Nah.


Susi keluar dari kamar Nadia.


"Bawa sini, Mbok." Susi melambaikan tangannya.


Mbok Nah mengangguk. Lalu memberikan minyak anginnya pada Susi.


"Ibu masuk angin?" tanya mbok Nah.


"Nadia," jawab Susi. Lalu masuk lagi ke kamar Nadia.


Mbok Nah ikut masuk juga. Sebagai pembantu yang sudah kerja di rumah Susi sejak dulu, Mbok Nah merasa khawatir juga pada Nadia.


Susi membuka pakaian Nadia. Lalu membalurkan minyak angin ke seluruh badan Nadia.


"Apa enggak dikerokin aja, Bu?" tanya mbok Nah.

__ADS_1


Susi belum menjawab.


"Biar cepet sembuh," lanjut mbok Nah.


Susi masih diam. Dia ingat dulu waktu Nadia kecil, dikerokin sama mbok Nah, malah nangis menjerit-jerit. Lalu lari ngumpet di kolong meja.


"Kalau dikerokin kan anginnya bisa keluar semua." Mbok Nah kembali bicara.


"Kamu mau dikerokin?" tanya Susi pada Nadia.


"Sakit enggak?" tanya Nadia.


Nadia juga masih ingat kejadian waktu dia masih kecil dulu. Meski lupa rasanya, tapi Nadia masih ingat kalau dia menangis sejadi-jadinya.


"Pelan-pelan, biar enggak sakit," jawab mbok Nah.


Nadia melihat ke arah Susi. Minta pertimbangannya.


"Terserah kamu. Kamu yang mau dikerokin kok," ucap Susi yang tahu maksud Nadia melihatnya.


"Mama kan juga sering dikerokin sama mbok Nah. Rasanya gimana?" tanya Nadia.


"Kalau buat Mama sih enak. Enggak sakit. Abis itu badan rasanya segar lagi. Enggak tahu kalau kamu. Kamu kan penakut. Sama jarum suntik aja takut," jawab Susi.


"Ish. Malah bawa-bawa jarum suntik. Ya beda lah, Ma. Jarum suntik kan ditusukin ke badan. Kalau ini kan enggak," sahut Nadia.


"Nah, itu tau. Udah buruan. Lepasin bajunya. Biar mbok Nah bisa ngerokin," ucap Susi.


Nadia pun menurut. Meski ragu-ragu. Dia lepasin juga semua pakaiannya.


"Heeh...yang atas aja. Emangnya mau dikerokin sampai kaki!" Susi jadi kepingin ketawa melihatnya.


"Tengkurap, Non," ucap mbok Nah, setelah kembali ke kamar Nadia.


Nadia pun menurut.


"Iya, kayak gitu," ucap mbok Nah. Lalu siap-siap mengerok Nadia.


"Jangan kenceng-kenceng ya, Mbok. Nanti sakit," pinta Nadia.


Hhh! Susi menghela nafasnya. Tak sanggup melihat Nadia nanti teriak-teriak, Susi memilih pergi. Dia turun ke bawah.


Dan bisa dipastikan, Nadia menjerit-jerit. Tapi tak pakai menangis kayak dulu.


"Dasar penakut!" gumam Susi.


Susi keluar. Dia mau mengambil barangnya yang ketinggalan di mobil. Kebetulan mobil Susi masih berada di pinggir jalan.


Susi ketemu lagi dengan bu Yudi.


"Gimana Nadia, Bu?" tanya bu Yudi ikutan cemas.


"Enggak apa-apa, Bu Yudi. Cuma masuk angin. Tuh, lagi dikerokin sama mbok Nah. Sampai jerit-jerit," jawab Susi.


Bukan maksud Susi melebih-lebihkan. Tapi memang Nadia menjerit-jerit.


Tapi sayangnya bu Yudi menangkapnya lain.

__ADS_1


"Pasti parah itu masuk anginnya, kalau sampai histeris," ucap bu Yudi.


"Aduh...enggak histeris, Bu. Cuma biasa, Nadia kan anaknya enggak tahan sakit. Jadi ya, gitu. Udah ya, Bu. Saya masuk dulu."


Susi yang terlanjur malas bicara panjang lebar lagi dengan bu Yudi, memilih kembali masuk ke rumah.


"Kalau parah, bawa ke rumah sakit aja, Bu Susi. Kasihan Nadia lho. Nanti malah kenapa-napa!" seru bu Yudi.


Sayangnya Susi sudah terlanjur masuk ke rumah. Jadi tak mendengar seruan tetangganya itu. Mendengarpun, Susi malas menjawabnya.


Dijawab apa, dengernya apa. Kayak mbok Nah yang sudah tua aja. Gumam Susi.


"Ada apa, Bu Yudi?" tanya tetangga yang lain.


Alhasil, berita tentang Nadia yang masuk angin menyebar ke tetangga-tetangga.


Kalau beritanya cuma masuk angin biasa, orang juga akan menanggapinya biasa saja.


Tapi ini sudah banyak bumbu-bumbunya. Maklumlah, mulut ibu-ibu komplek. Sumbernya singkong, sampai ke mulut lainnya udah jadi combro.


"Hah? Nadia masuk angin parah sampai muntah-muntah?" Rahma terkejut mendengar berita yang sedang beredar di sekitarnya.


"Begitu yang saya dengar, Bu. Tapi sama bu Susi belum dibawa ke rumah sakit. Katanya dikerokin sama mbok Nah, sampai histeris," ucap tetangga Rahma.


Rahma baru saja pulang bersama Sinta. Sinta pun mendegarnya.


Setelah berbasa basi sebentar, Rahma masuk ke dalam rumahnya.


Di garasi Rahma melihat ada motornya Surya. Rahma pun bergegas mencari Surya.


"Surya mana, Bu?" tanya Rahma pada eyang putri.


"Di kamarnya Sinta. Tidur," jawab eyang putri.


"Eh, Rahma. Jangan diomelin dulu. Biar anak itu bangun sendiri. Kasihan kalau tau-tau kamu omelin," ucap eyang putri yang melihat kecemasan di wajah Rahma.


Rahma pun urung mencari Surya. Dia masuk dulu ke kamarnya.


Eyang putri mengikutinya.


"Kamu mandilah dulu. Biar pikiran kamu adem. Enggak baik bicara kalau kepala masih panas," ucap eyang putri mengingatkan.


Eyang putri tahunya, Rahma akan memarahi Surya karena soal tadi pagi.


"Iya, Bu."


Rahma pun menurut. Dia mandi dulu untuk mendinginkan otaknya. Lagi pula sudah sore. Sudah waktunya mandi.


Sinta yang juga merasa capek dan ingin rebahan, keluar lagi dari kamarnya. Karena di tempat tidurnya, Surya masih terlelap.


"Kamu enggak mandi, Nduk?" tanya eyang putri.


"Sinta capek, Eyang. Ngantuk juga," jawab Sinta.


"Kalau mandi kan ilang capeknya. Ngantuknya juga berkurang. Kalaupun mau tidur, badan udah bersih. Jadi bisa lelap ti..."


Belum selesai eyang putri ngomong, Sinta udah merem aja.

__ADS_1


__ADS_2