PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 100 JALAN JALAN DI KAPAL


__ADS_3

Setelah menghabiskan rokoknya, Yogi kembali masuk ke dalam.


"Lama amat, Yog?" tanya Novia.


"Kan Yogi merokok dulu, Ma," jawab Yogi.


"Hmm...Kebiasaan deh," sahut Novia.


Novia tak lagi melarang Yogi merokok, karena sudah dewasa. Asalkan tahu tempat. Dan Yogi mematuhi itu.


"Ya mau gimana lagi? Kan enggak boleh merokok di ruangan ini. Mama sih, carinya tempat yang di dalam. Coba di luar sana?"


"Tadi kan penuh, Sayang. Masa iya, enggak jadi makan cuma gara-gara enggak dapat tempat yang outdoor?" sahut Novia.


"Den Yogi mau jalan-jalan ke pelabuhan, enggak?" tanya mak Yati.


"Boleh, Mak," jawab Yogi.


Dia kepingin juga melihat kapal-kapal yang bersandar. Sekalian kepingin lihat kapal yang katanya tempat kerjanya Putra.


"Ayo. Mama juga mau. Papa mau juga, kan?" tanya Novia pada Arya.


"Masa Papa ditinggal sendirian di sini?" jawab Arya.


Dia terbiasa kemana-mana bareng Novia, rasanya bakal kesepian kalau sendirian.


"Ya udah. Ayo. Jalan kaki kan, Mak?" tanya Novia.


"Naik helikopter, Ma. Hahaha," sahut Yogi sambil tertawa.


"Bisa aja kamu, Yogi!" Novia juga ikut ketawa. Anaknya ini memang paling suka nyleneh kalau nyautin orang bicara.


Mereka pun berjalan kaki ke sana. Novia sangat bahagia bisa melihat begitu banyaknya kapal yang bersandar, terlebih bisa jalan bareng keluarganya.


Hal yang lama tak pernah mereka lakukan. Sejak mencari uang jadi tujuan utama mereka.


Mereka jadi lupa, kalau di antara mereka masih ada Yogi yang sangat membutuhkan kebersamaan.


Yogi pun tak kalah bahagianya. Tapi sayangnya dia malah menggandeng tangan mak Yati, orang yang telah mengasuhnya sejak kecil. Bukan Novia, wanita yang telah melahirkannya.


Tapi bagi Novia sendiri, itu sudah jadi resikonya. Karena dia tak punya banyak waktu untuk anaknya ini.


"Apa kita bisa naik ke kapal itu?" seru Novia.


Angin malam yang cukup kencang, ditambah suara riuh orang yang hilir mudik dan juga suara sirine dari kapal yang mau berlayar, membuat bising.


Ngomong kalau enggak teriak tak akan terdengar.


"Bisa! Tante mau naik ke kapal tempatku bekerja?"


Novia terkesiap. Arya, Yogi dan mak Yati pun menoleh.


"Putra....!" seru Yogi.

__ADS_1


"Kamu kenal dia?" bisik Novia di telinga Yogi.


"Kami tadi ngobrol sebentar di dekat toilet, Ma," jawab Yogi.


"Apa kami bisa ke sana?" tanya Arya. Karena baik Yogi maupun Novia, malah asik ngomong sendiri.


"Bisa, Om. Kebetulan kapal kami bersandar sampai besok sore. Sekarang kapal sedang dibersihkan. Kalau sekedar melihat-lihat, mari saya antar!" ucap Putra dengan ramah.


"Terima kasih...." ucap Arya yang belum mengenal Putra.


"Saya Putra. Temannya Viona, teman kuliah Yogi!" Putra mengulurkan tangannya pada Arya. Juga Novia dan mak Yati.


"Ayo, mari saya antarkan!" ajak Putra.


Mereka semua pun berjalan ke arah kapal tempat bekerjanya Putra. Viona yang belum pulang ke rumahnya juga ikut naik.


Awalnya, Putra memang ingin mengajak Viona ke sana. Biar Viona tahu tempat kerjanya. Dan juga tahu apa yang dikerjakannya di atas kapal itu.


Putra bagaikan seorang tour guide, memberitahukan seluk beluk kapalnya pada mereka.


Novia yang paling antusias. Ini adalah pengalaman pertamanya masuk ke dalam kapal barang.


Putra menerangkan apa tugasnya di dalam kapal ini dan bagaimana hari-harinya selama di atas kapal.


"Wah, pasti menyenangkan, ya. Setiap hari menatap hamparan laut luas," ucap Novia.


"Bukan cuma laut, Tante. Tapi samudera. Kapal ini membelah samudera. Kami lintas negara." Putra memperlihatkan lambang bendera Indonesia di badan kapal itu.


"Kelihatannya begitu," jawab Viona.


"Kamu juga serius sama dia, kan?" tanya Yogi.


Yogi ikut bahagia kalau Viona bahagia. Sementara dia, akan menjemput kebahagiaannya sendiri.


Yogi bukan Surya yang terlalu rapuh. Yogi ingin menjadi pribadi yang kuat. Karena dia terdidik mandiri sejak kecil, meski kedua orang tuanya bergelimang harta.


"Iya. Tapi sementara kita begini dulu. Karena dia harus menyelesaikan kontrak kerjanya dulu," jawab Viona.


Sebenarnya Viona juga maunya selalu bersama dengan Putra. Tapi kenyataannya memang sangat tidak memungkinkan.


Akhirnya Viona memilih untuk terus menjalani hubungan itu meski bagaikan kapal yang terombang ambing di lautan.


Kapal bisa tenggelam kapan saja, atau hancur diterpa badai.


"Resiko punya pacar nenek moyangku," sahut Yogi.


"Kok nenek moyangku?" tanya Viona tak memgerti.


"Nenek moyangku kan seorang pelaut. Hahaha."


Putra menoleh ke arah Yogi. Yogi memberikan dua jarinya ke atas.


Ternyata Putra adalah orang yang sangat menyenangkan. Dia sangat ramah dan sopan. Jauh dari image seorang pelaut yang garang.

__ADS_1


Novia berkali-kali mengabadikan moment itu dengan kamera ponselnya. Bukan untuk narsis, tapi karena ini kesempatan yang langka.


Dan bisa jadi tak akan terulang lagi. Mereka pun berpose bersama-sama. Putra dan Viona juga ikut. Termasuk mak Yati.


Mereka di sana sampai jam sembilan malam. Setelah itu baru pamit pulang. Karena Putra pun mesti beristirahat.


"Viona pulangnya jauh?" tanya Novia.


"Enggak, Tante. Rumah orang tua saya dekat sini kok," jawab Viona.


"Mau kami antar sekalian?" tanya Novia lagi. Dia tak tega membiarkan anak gadis pulang sendirian malam-malam.


"Terima kasih, Tante. Saya bawa motor. Atau Tante mau main ke rumah kami? Kami mempunyai tambak kecil di belakang rumah," sahut Viona.


Viona merasakan keluarga Yogi yang sangat baik padanya.


"Terima kasih, Viona. Ini sudah malam, nanti malah merepotkan. Besok pagi-pagi, kami juga akan kembali ke kota. Mungkin lain waktu kami berkunjung ke rumah orang tuamu," sahut Novia.


"Kalau begitu, saya duluan, Tante," ucap Viona. Dia diantar Putra sampai ke parkiran motornya.


"Viona, besok pagi aku akan berkunjung ke rumah kamu. Aku ingin kenal dengan orang tuamu," ucap Putra sambil berjalan.


"Iya. Mereka pasti akan sangat senang. Besok kamu bisa ke sana naik ojek online," sahut Viona.


"Bagaimana memesannya? Aku kan tak punya ponsel."


Viona menepuk dahinya.


"Ah, iya. Aku lupa. Kalau begitu, aku yang akan menjemputmu di sini. Jam berapa kamu siap?" tanya Viona.


Mau tak mau, Viona harus mengalah.


"Apa enggak merepotkan kamu?" tanya Putra. Dia paling tidak suka merepotkan orang lain.


"Ya enggaklah. Lagi pula rumahku kan enggak jauh," jawab Viona.


Apapun akan aku lakukan untukmu, Putra. Batin Viona.


"Oke. Besok kita ketemu di sini jam sembilan pagi. On time!" ucap Putra.


Putra yang terbiasa bekerja di kapal, selalu menerapkan tepat waktu dalam segala hal.


"Siap, Kapten!" sahut Viona.


"Aku bukan kapten. Aku hanya Anak Buah Kapal biasa," ucap Putra tanpa malu-malu.


"Suatu saat kan kamu bisa jadi kapten kapalnya," sahut Viona.


"Aamiin. Semoga omongan kamu adalah doa bagiku."


Putra menggenggam tangan Viona, lalu mengecupnya dengan lembut.


"Ati-ati di jalan, Vionaku...!"

__ADS_1


__ADS_2