PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 152 BABAK KEDUA


__ADS_3

Sinta dan Yogi bangun pagi-pagi buta. Jelas saja, mereka tidur dari sore setelah bertempur untuk pertama kalinya.


Sinta yang terbangun lebih dulu. Dan dia mendapati dirinya dalam pelukan Yogi.


Sinta berusaha mengingat-ingat apa yang telah terjadi.


Setelah ingat, Sinta tersenyum sendiri.


Ah, ternyata aku telah melakukannya dengan Yogi. Batin Sinta.


Sinta menatap wajah Yogi yang masih terlelap. Lalu turun ke dada Yogi.


"Inikah lelaki yang akan menjadi suamiku? Yang semalam mengajakku menikah?" gumam Sinta pelan, sambil jemarinya bermain di dada Yogi.


"Will you marry me?"


Suara Yogi membuat Sinta terjengit. Dia pikir, Yogi masih terlelap.


Sinta langsung menatap wajah Yogi.


Yogi ternyata sudah bangun dan sedang menatap Sinta sambil tersenyum.


"Iih, Aa! Ngagetin aja!" seru Sinta, sambil tangannya memukul dada Yogi pelan.


Yogi terkekeh.


"Lagian kamu malah ngomong sendiri," sahut Yogi.


"Jadi Aa denger?" tanya Sinta.


"Dengerlah. Kamu ngomongnya deket banget," jawab Yogi.


"Hehehe." Sinta pun ikut terkekeh.


"Jadi malu." Sinta menyembunyikan wajahnya di dada Yogi.


Yogi membelai rambut Sinta dengan lembut. Lalu mengecup puncak kepalanya.


Sinta semakin merekatkan tubuhnya, karena merasa sangat nyaman dan damai.


"Jangan rekat-rekat gitu. Nanti ada yang bangun, lho," ucap Yogi.


"Kan Aa emang udah bangun," sahut Sinta. Dia belum paham apa yang dimaksud Yogi.


"Iya. Nanti adikku juga ikut bangun. Kamu mau bertanggung jawab?" goda Yogi.


Sinta mengangkat wajahnya. Dia sama sekali belum paham.


"Adik yang mana?" tanya Sinta dengan polosnya.


Yogi menatap wajah Sinta sekilas.


Anak ini udah dewasa tapi masih sangat polos. Batin Yogi.


Lalu Yogi meraih tangan Sinta, dan mengarahkan ke adiknya yang sudah mulai menggeliat.


"Adik yang ini!" Tangan Sinta disentuhkan pada adik Yogi.


"Akh!"


Spontan Sinta menjauhkan tangannya. Dia menyentuh sebuah benda yang menurut Sinta aneh.


"Apaan itu, A?" tanya Sinta.


"Ini adikku. Kamu kan udah kenalan. Semalam juga bobok bareng," jawab Yogi sambil terkekeh.


"Ih apaan, sih? Aku enggak paham," sahut Sinta.


"Kok enggak paham? Kan kemarin sore adikku udah masuk ke sarangnya." Yogi terus saja membuat Sinta kebingungan.


"Aa, apaan sih? Aku enggak paham ah!" ucap Sinta.

__ADS_1


"Kepingin paham?" tanya Yogi.


Sinta mengangguk.


"Tapi jangan teriak, ya? Entar orang-orang pada bangun," ucap Yogi.


Sinta kembali mengangguk.


Yogi beringsut bangun. Sinta pun ikutan duduk bersandar di kepala springbed. Tangannya memegangi sebagian selimut, untuk menutupi tubuhnya yang juga masih polos.


Lalu Yogi melepas bagian selimut yang menutupi tubuhnya.


Yogi memegang adiknya yang sudah berdiri tegak.


Mata Sinta langsung melotot seperti hampir terlepas.


"Aakkhh....!" Sinta spontan berteriak, sambil memejamkan matanya.


Yogi langsung membekap mulut Sinta dengan tangannya.


"Hhmmpptt!"


Sinta berusaha melepaskan tangan Yogi.


"Dibilangin jangan teriak, malah suaranya kenceng banget," ucap Yogi. Lalu melepaskan tangannya.


Sinta terengah-engah, seperti orang habis lari maraton. Matanya sudah dia buka. Tapi wajahnya menghadap ke samping.


"Abisnya kaget. Itu tadi...." Sinta menunjuk ke arah adik Yogi, dan tak bisa malanjutkan kalimatnya.


Yogi terkekeh. Sinta sangat lucu menurutnya.


"Iya, Cinta. Ini adikku. Dan kemarin sore udah memasuki kamu," sahut Yogi.


Hah? Jadi benda itu yang kemarin sore memasuki bagian intinya? Sebesar itu? Tanya Sinta dalam hati.


Sinta tak pernah membayangkan kalau benda yang telah memasukinya, sangat besar.


Tapi Sinta tak pernah membayangkan sebesar itu. Dan benda itu benar-benar ada di depan matanya.


"Sini. Matanya liat kesini, dong. Biar kamu enggak kaget lagi," ucap Yogi.


Perlahan Sinta menoleh. Lalu matanya kembali terpejam.


"Buka mata kamu, Cinta...!" pinta Yogi.


Sinta pun perlahan membuka matanya. Dengan ragu dia tatap benda yang sudah berdiri tegak itu.


Glek!


Pantesan, meskipun nikmat tapi terasa sakit dan mengganjal. Bendanya segede pentungan hansip. Batin Sinta.


"Udah liat?" tanya Yogi.


Sinta mengangguk malu-malu. Baginya hal itu masih sangat tabu.


"Sekarang pegang!" ucap Yogi.


Sinta kembali melotot.


"Iya. Pegang. Biar kamu bisa mengenali bentuknya. Tapi jangan kaget, kalau dia bisa lebih besar lagi. Hehehe." Yogi terkekeh lagi.


Lebih besar lagi? Sebesar pentungan baseball? Batin Sinta.


Yogi maraih tangan Sinta. Lalu merekatkan ke pentungannya.


Tangan Sinta langsung bergetar hebat.


"Pegang, Cinta. Jangan cuma disentuh," ucap Yogi.


Sinta pun menurut. Dia memegangnya dengan lembut.

__ADS_1


Jantung Sinta berdegup sangat cepat. Matanya sedikit terpejam. Yogi jadi ingin ketawa melihatnya.


"Diremas juga boleh," ucap Yogi.


"Nanti Aa sakit," sahut Sinta.


"Enggak, Cinta. Asal jangan kenceng-kenceng. Yang lembut. Begini, nih." Tangan Yogi malah melepas selimut yang dipegangi Sinta. Lalu meraih salah satu gundukan Sinta.


"Akh!" Sinta kembali berseru. Dan menjauhkan badannya. Tangannya buru-buru menaikan kembali selimutnya.


Hadeeh...! Yogi ingin sekali menepuk jidatnya sendiri.


"Udah, ah!" Sinta langsung melepaskan pegangannya.


"Aa ada-ada aja. Aku mau mandi, A. Terus kita keluar yuk, nyari makan," ajak Sinta.


"Mau nyari makan di mana? Ini masih jam empat pagi, lho," sahut Yogi.


"Aku kan mandinya lama. Nanti juga agak siangan," ucap Sinta.


"Benaran ini enggak mau pegang lagi?" tanya Yogi.


"Enggak, ah," jawab Sinta. Lalu bergegas berdiri.


Dengan mengenakan selimut, Sinta berlari ke kamar mandi.


Sinta melemparkan selimutnya keluar, lalu menutup pintu.


Yogi tertawa melihatnya. Sangat lucu. Dan membuat Yogi ingin kembali menggodanya.


"Sinta! Sinta!" Yogi mengetuk pintu kamar mandi.


"Iih, apaan A! Aku lagi mandi nih!" sahut Sinta sambil membuka sedikit pintunya. Dia mengintip sedikit. Badannya dia sembunyikan di balik pintu.


"Aku kebelet pipis," ucap Yogi.


"Aduh, aku lagi mandi. Gimana dong?" tanya Sinta. Dia tetap menyembunyikan tubuhnya.


"Buka. Kita mandi bareng," jawab Yogi.


"Hah...! Enggak mau!" Sinta berusaha menutup lagi pintunya.


Tapi sayangnya kaki Yogi mengganjalnya. Hingga Sinta tak bisa menutupnya.


"Aa mau ngapain?" tanya Sinta.


"Pipis, Cinta. Terus mandi bareng sama kamu," jawab Yogi tanpa merasa bersalah.


"Enggak mau. Aku malu," sahut Sinta.


"Entar aku pipis di sini gimana?" tanya Yogi.


Akhirnya, karena merasa kasihan, Sinta membukanya juga. Yogi masuk, lalu pipis. Sinta menghadap ke tembok. Dia tak mau melihatnya.


Yogi menahan tawanya.


"Liat juga enggak apa-apa. Gratis kok," goda Yogi.


"Aa, ih....Jorok!" sahut Sinta.


Yogi tak bisa lagi menahan tawanya.


"Tapi suka kan?" Yogi terus saja menggoda Sinta yang masih menghadap tembok.


Sinta tak menjawabnya. Dia sangat malu. Lalu menyalakan lagi kran shower dan berdiri di bawahnya.


Setelah selesai pipis, Yogi pun ikut bergabung mandi dengan Sinta.


Dan bisa dipastikan apa yang mereka lakukan selanjutnya.


Babak kedua pun dimulai lagi.

__ADS_1


Hingga mereka baru keluar kamar, setelah benar-benar siang.


__ADS_2