PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 206 NADIA KENAPA


__ADS_3

Akhirnya dokter yang menangani Rahma keluar. Kalau dokter Lucky sudah pulang duluan. Karena di rumah sakit sudah ada dokter jaga.


Mereka semua berlari mendekat. Kecuali Surya dan Nadia tentunya.


Nadia merasa badannya lemas. Dia butuh minum. Tapi belum ada yang mengambilkannya.


Surya menatap sekilas ke arah Nadia. Sejenak tatapan mereka beradu. Dan sama-sama saling membuang pandangan.


Surya berdiri. Lalu ikut mendekat ke dokter. Surya mencoba mendengarkan penjelasan dokter.


Dan Surya bisa bernafas dengan lega. Karena mamanya masih bisa tertolong. Meskipun dalam beberapa hari ini harus opname dulu di rumah sakit. Untuk menghindari serangan lagi.


Surya beringsut pergi, tanpa ada seorangpun yang menyadarinya.


Surya mencari tempat yang jualan air mineral. Dia tahu gimana rasanya orang yang tidak minum setelah selesai muntah.


Tadi dilihatnya, tak ada satupun yang memberikan minum pada Nadia.


Seandainya Nadia memang benar-benar sedang hamil, ini akan menjadi tanggung jawab Surya. Tidak memberi minum untuk ibunya, tapi pada anak dalam kandungannya.


Misalnyapun Nadia tak hamil, anggap saja sodaqoh. Begitu pikir Surya. Agar dia tak punya beban pikiran lagi.


Setelah mendapatkan both tempat jualan air minum, Surya membeli dua botol. Satu air mineral dan satunya lagi minuman rasa jeruk. Yang mungkin bisa menyegarkan tenggorokan Nadia.


Tak lama, Surya pun menghampiri Nadia.


"Ini. Minumlah." Surya memberikan satu botol air mineral yang telah dibukanya.


Nadia menatap wajah Surya. Lalu menerimanya. Karena diapun memang sangat membutuhkan.


"Terima kasih," ucap Nadia. Lalu menenggak sampai tinggal setengahnya.


Surya membuka botol satunya. Minuman rasa jeruk kesukaan Nadia. Lalu mengulurkannya pada Nadia.


Nadia kembali meraih dan meminumnya sedikit.


"Kamu kenapa?" Surya nekat bertanya. Dia berharap Nadia mau jujur mengatakan padanya.


"Enggak apa-apa. Cuma masuk angin aja," jawab Nadia. Dia tak bohong. Karena setahu Nadia ya begitu. Yang dirasakannya hanya kepala berputar saat terlalu lama berdiri. Dan mual saat mencium aroma yang menyengat seperti obat atau karbol.


"Yakin cuma masuk angin?" tanya Surya yang masih belum yakin.


"Iya. Tadi udah dikerokin sama mbok Nah. Paling nanti juga sembuh. Mama kamu kenapa?" Kini giliran Nadia yang bertanya.


"Enggak apa-apa," jawab Surya. Lalu dia pergi begitu saja.


Nadia sampai heran melihatnya.


Kayak jelangkung aja. Datang tak dijemput, pulang tak diantar. Batin Nadia.


Lalu Nadia meminum kembali yang rasa jeruk. Itu membuat tenggorokannya lebih segar.

__ADS_1


Sambil berjalan Surya menggerutu dalam hati. Kenapa mama begitu khawatir tentang Nadia? Bahkan orangnya jawab sendiri, kalau dia hanya masuk angin saja.


Surya kembali ke tempatnya semula. Hanya Yogi yang peduli padanya. Dia duduk di sebelah Surya.


"Darimana, lu?" tanya Yogi. Yogi tadi hanya melihat saat Surya pergi dari tempat Nadia.


Surya bukannya menjawab, dia malah menarik tangan Yogi untuk menjauh dari keluarganya.


Di sebuah bangku taman, Surya duduk. Yogi juga ikutan duduk.


"Ada apaan?" tanya Yogi.


"Aku tadi nyari minuman buat Nadia," ucap Surya.


"Elu masih peduli sama dia?" Yogi merasa kesal dengan ucapan Surya.


"Aku cuma mau tau apa yang sebenarnya terjadi pada Nadia," ucap Surya lagi.


"Maksud lu?" tanya Yogi tak mengerti.


Lalu Surya menceritakan awal kejadian sampai akhirnya Rahma pingsan karena kena serangan jantung.


"Hah...! Jadi mama Rahma mengira Nadia hamil?" tanya Yogi.


"Iya. Dan aku barusan nanya ke Nadianya. Katanya dia cuma masuk angin aja. Jadi kecurigaan mama salah, kan?" Surya menatap mata Yogi.


"Tadi waktu ditanya mama gue, dia juga bilang cuma masuk angin. Sama mama gue disuruh periksa ke dokter sekalian mumpung di rumah sakit, dia menolak," ucap Yogi.


"Emang kepala batu tuh anak! Biarin ajalah. Nanti kalau sudah parah, baru tau rasa!" Yogi masih saja merasa kesal pada Nadia.


Apalagi dari cerita Surya, ternyata Nadia lah penyebab ambruknya Rahma.


"Aku berharap dia segera sembuh. Biar mama bisa tenang pikirannya. Dan enggak ngejar-ngejar aku lagi suruh tanggung jawab," ucap Surya.


"Memangnya elu kagak mau tanggung jawab lagi?" Yogi masih belum percaya pada Surya.


"Kan dari awal dia sendiri yang enggak mau. Jangan salahin aku dong." Surya membela diri.


"Iya juga sih," sahut Surya.


"Mama malah menyalahkan aku deket sama Viona. Dulu katanya aku disuruh move on dari Nadia. Giliran dekat sama Viona, mama marah-marah begitu," ucap Surya menyesalkan kemarahan Rahma, yang menurutnya tanpa bukti.


"Jangan salahin mama Rahma. Bagaimanapun dia orang tua, Bro. Pastinya sudah berpikir jauh ke depan. Kalau sampai Nadia benar-benar hamil, terus siapa bapaknya kalau elu malah sama Viona," ucap Yogi.


"Pikiran mama kejauhan. Akhirnya jadi begini, kan? Sementara yang dipikirin, tuh orangnya...." Surya menoleh ke arah Nadia. Tapi Nadianya sudah tidak ada.


Lalu Surya mencari Susi diantara kerumunan keluarganya. Susi masih ada di sana.


"Kemana dia?" tanya Surya.


Yogi pun ikut melihat ke arah tadi Nadia duduk.

__ADS_1


"Auk...!" Yogi mengangkat bahunya.


"Jangan-jangan dia kabur lagi," ucap Surya khawatir. Entah kenapa dia merasa sangat khawatir begitu.


"Ngapain lu pikirin dia? Dia aja kagak pernah mikirin elu!" sahut Yogi.


Surya hanya diam sambil menangkup wajahnya. Meski dia sudah bisa melupakan Nadia, tapi dia kebawa juga dengan apa yang dikhawatirkan Rahma.


Susi pamit pada keluarga Surya juga keluarga Yogi. Dan saat hampir sampai ke bangku tempat duduk Nadia, Susi terkejut karena Nadia tak ada.


"Kamana anak ini?" gumam Susi. Dia menengok ke kanan dan ke kiri.


Karena tak menemukan Nadia, Susi menelponnya. Tapi panggilan Susi tak diangkat. Hingga berkali-kali Susi menelpon, tetap saja tak diangkat.


"Aduh, enggak diangkat lagi." Susi makin gelisah.


Dari kejauhan Surya dan Yogi memperhatikan. Surya hanya diam saja. Kalau dia bereaksi, pasti Yogi bakalan ceramah lagi.


"Bro. Kita bantuin tante Susi!" Malah Yogi sendiri yang mengajak Surya. Dia menarik tangan Surya.


Surya pun segera bangkit dan mengikuti Yogi menuju ke tempat Susi.


"Ada apa, Tante?" tanya Yogi.


"Nadia. Dia kan tadi di sini. Tapi, sekarang kemana ya?" Susi makin kebingungan.


"Udah ditelpon?" tanya Yogi lagi.


"Udah, tapi enggak diangkat. Enggak tau deh," jawab Susi.


"Kita cari ke depan aja, Tante. Siapa tau, Nadia enggak betah bau obat-obatan, terus keluar," ucap Yogi.


Akhirnya mereka bertiga keluar mencari Nadia. Dan saat mata Surya mencari ke segala arah, dia melihat Nadia ada diantara kerumunan pedagang kaki lima.


"Itu Nadia, Tante." Surya menunjuk ke arah gerobak cilok.


"Ya ampun, itu anak. Ada-ada aja. Malah jajan cilok. Kayak anak kecil aja!" Susi merasa lega bisa menemukan Nadia.


"Makasih ya, Surya. Yogi," ucap Susi.


"Iya, Tante. Kita permisi masuk dulu," sahut mereka berbarengan.


Surya menatap wajah Yogi.


"Ada apaan?" tanya Yogi.


"Dari dulu, Nadia tidak pernah suka dengan cilok," jawab Surya.


"Terus maksud, lu?" tanya Yogi.


Surya hanya mengangkat bahunya.

__ADS_1


__ADS_2