
Pagi itu Nadya tak bersemangat pergi ke kampusnya. Susi sampai mengingatkannya berkali-kali, karena tahu jadwal kuliah anaknya pagi.
"Kamu kenapa? Kok tumben malas kuliah?" tanya Susi di depan kamar Nadia.
"Nadia kurang enak badan, Ma," sahut Nadia yang masih bergulung di balik selimut.
Susi mendekati anak gadisnya. Dipegangnya dahi Nadia. Enggak panas.
"Kamu pusing?" tanya Susi khawatir.
"Iya," jawab Nadia asal. Padahal cuma mager saja.
"Kalau begitu, biar papa telponin om Joko." Susi berjalan keluar kamar Nadia.
Joko adalah teman papanya Nadia, yang berprofesi sebagai dokter. Dan keluarga Nadia sering memanggilnya kalau ada anggota keluarganya yang sakit.
"Jangan...jangan, Ma. Nadia enggak apa-apa kok." Nadia langsung beranjak.
Dia tak mau katahuan bohong saat diperiksa nanti. Karena kenyataannya dia tidak sakit apapun.
Susi menoleh, lalu tersenyum. Hmm, dia bisa membohongiku, tapi enggak bakalan bisa membohongi dokter, batin Susi.
"Ya sudah, mandi sana. Kalau mau berangkat kuliah, bareng papa aja. Entar nyasar-nyasar lagi karena enggak fokus di jalan," ucap Susi. Lalu keluar dari kamar Nadia.
Nadia menghela nafasnya. Lalu ke kamar mandi. Kalau sudah berhadapan dengan papanya, enggak bakalan ada ampun lagi.
Tak ada alasan untuk bolos kuliah. Kecuali memang benar-benar sakit. Itupun harus ada bukti dengan pemeriksaan dari dokter.
Selesai mandi, Nadia membuka ponselnya. Dia berharap Surya mengabarinya. Kapan dia pulang atau sekedar menanyakan kabarnya saja.
Tapi harapan Nadia hanya tinggal harapan. Tak ada satu pesanpun untuknya dari Surya.
Apa dia sudah melupakanku, karena kejadian malam itu ya? Tanyanya dalam hati.
Tapi untuk mengirimkan pesan lebih dahulu, Nadia masih enggan.
Nadia membuka status whatsapp. Dia berharap ada status dari nomor Surya ataupun Sinta. Dan Nadia akan pura-pura mengomentarinya untuk membuka percakapnan. Tapi kedua orang itu tak ada yang membuat status hari ini.
Nadia menutup kembali ponselnya dan memasukan ke tasnya. Lalu turun ke ruang makan, bergabung dengan kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Gimana kamu mau berangkat sendiri apa diantar papa?" tanya Susi.
Susi tak mau memaksakan kemauannya. Karena dia tahu kalau sebenarnya Nadia tak sakit apa-apa. Hanya sedang galau saja.
"Sendiri aja, Ma," jawab Nadia sambil menyendok nasi ke piringnya.
"Yakin bisa fokus di jalan?" ledek Susi.
"Yakinlah. Nadia sehat kok," sahutnya.
Susi terkekeh. Tadi aja bilangnya enggak enak badan, giliran mau dipanggilkan dokter yang bujang tua, langsung sehat.
"Ya udah, kalau enggak mau bareng. Papa berangkat dulu. Mau ketemu orang pagi ini." Haris beranjak dari duduknya.
Susi mengikuti langkah suaminya keluar. Seperti biasanya, Susi mengantar Haris sampai masuk ke mobil.
"Jaga anak kita baik-baik, Ma. Temani dia. Kayaknya dia lagi jatuh cinta," ucap Haris.
Meski terlihat cuek, tapi Haris selalu memperhatikan setiap gelagat anak-anaknya saat bersama.
"Kok Papa tau?" Susi mengernyitkan dahinya. Setahunya Nadia tak pernah cerita apapun padanya. Dan tentu saja, dia juga tak bisa cerita apa-apa pada suaminya.
"Iya, Pa. Hati-hati." Susi melambaikan tangannya.
Setelah Haris pergi, Susi kembali ke ruang makan. Selain mau menghabiskan makanannya tadi, dia juga pingin menemani Nadia sesuai permintaan suaminya tadi.
"Surya kapan pulang, Nad?" tanya Susi setelah kembali duduk di kursi makan.
"Kok Mama nanya Nadia?" Nadia malah balik bertanya.
"Lha terus mau nanya ke siapa lagi?"
Nadia mengangkat bahunya. Susi malah jadi pusing. Bukannya selama ini mereka sangat dekat. Atau bisa jadi benar apa yang dipikirkannya, kalau mereka sedang bermasalah.
"Kamu sedang tidak bermasalah dengan Surya kan, Nad?" tanya Susi.
Nadia mengangkat wajahnya, dan menatap wajah mamanya. Lalu menggeleng pelan. Tak mungkin kalau dia mengatakan hubungannya dengan Surya sedang tidak baik-baik aja. Apalagi kalau mamanya sampai tahu penyebabnya. Surya bisa dilaporkan ke polisi oleh mamanya dengan tuduhan percobaan pemerkosaan.
"Kalau enggak, kenapa kelihatannya kalian saling menjauh. Bahkan setahu Mama, Surya pergi ke Jogja tanpa pamit ke kamu," serang Susi.
__ADS_1
Susi hanya ingin Nadia terus terang dan masalahnya bisa segera diselesaikan. Kalau mungkin dia harus membantu, ya Susi akan dengan ikhlas membantu urusan mereka biar cepat clear.
"Nadia kan bukan orang tuanya, Ma. Jadi kalau dia mau ngapa-ngapain, enggak perlu pamit sama Nadia dulu, kan?" sahut Nadia.
Lalu tanpa menghabiskan dulu makanannya, Nadia meraih tasnya.
"Nadia berangkat dulu, Ma." Nadia mencium pipi Susi.
"Iya, hati-hati," sahut Susi. Dia pun mengikuti langkah Nadia ke depan dan seperti biasanya juga, Susi menunggu sampai Nadia pergi, baru masuk lagi ke dalam.
Anak itu, makin gede, makin keras kepala aja. Punya masalah bukannya diselesaikan, malah dibiarkan. Tapi ujung-ujungnya uring-uringan sendiri. Gerutu Susi sambil merapikan meja makan.
"Bi, nanti ke pasar. Belanja sayuran," ucap Susi pada pembantunya.
"Iya, Bu. Saya bereskan ini dulu." Mbok Nah, membantu Susi membereskan meja makan.
Setelah Susi memberikan uang pada mbok Nah untuk belanja, dia membuka ponselnya.
Susi ingin menelpon Surya. Sekedar bertanya dulu kapan Surya akan pulang.
Ge er enggak ya, dia? Susi menimbang-nimbang apa yang akan dilakukannya.
Tiba-tiba Susi ingat, kalau nanti sore ada arisan di RT-nya. Susi mendapat ide untuk menelpon Rahma saja. Pura-pura membahas soal arisan nanti sore. Toh, Surya pasti sedang bersama Rahma.
"Iya, hallo jeng Rahma. Nanti sore ada arisan RT di rumah bu Tejo. Gimana, bisa datang kan?" tanya Susi membuka pembicaraan di telpon.
"Iya, saya ingat jeng Susi. Pagi ini kami semua pulang kok. Jadi buat arisan nanti sore, aman," jawab Rahma. Dia sedang menunggu taksi online bersama keluarganya.
"Oh, begitu. Baiklah, nanti sore saya samperin ya. Dan terima kasih udah kirimin makanan kemarin," sahut Susi.
"Iya, Jeng. Sama-sama. Itu yang kirim Sinta. Disuruh sama Surya. Sudah dulu, ya. Taksi online-nya udah dateng. Kita mau otewe bandara." Lalu Rahma menutup telponnya.
Susi tersenyum. Berarti siang nanti mereka sudah sampai rumah. Dan nanti sore ada alasan Susi untuk ke rumah mereka.
Susi akan menyamper Rahma. Karena kebetulan rumah bu Tejo melewati rumah Rahma.
Aku akan cari tahu penyebab Nadia uring-uringan. Siapa tahu Surya mau cerita padaku, batin Susi.
Dia lalu ke dapur. Membuat puding kesukaan Nadia juga Surya. Susi akan membawakannya untuk Surya nanti sore.
__ADS_1
Biarlah kalau ini dianggap sogokan. Yang penting aku punya alasan bicara sama Surya. Biar mereka bisa akur lagi, tekad Susi.