PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 190 KEMARAHAN KELUARGA NADIA


__ADS_3

Surya dan Lucky sampai di rumah Lucky lagi.


"Busyet, lama amat?" tanya Yogi yang ditinggal sendirian.


"Itu Surya bawa motornya kayak siput. Mentang-mentang boncengin cewek!" jawab Lucky.


"Mulai deh! Mulai!" Yogi melotot ke arah Surya.


Lucky yang belum tahu permasalahannya, kebingungan.


"Aku tadi nanya kenapa dia sampai dibawa Doni ke rumah itu." Surya membela diri.


"Bukan urusan elu, Surya! Biarin aja Nadia mau dibawa kemana kek sama si Doni. Elu kagak usah urusan lagi!" ucap Yogi dengan kesal.


"Kecuali kayak tadi! Gue masih bisa maklumi. Meski elu harus babak belur juga!" lanjut Yogi.


"Eh, ini ada apaan sih?" tanya Lucky tak mengerti.


"Masalah pribadi, Bro. Surya sama noh, si Nadia!" jawab Yogi dengan kesal.


"Itu rumah siapa, Luk?" tanya Surya masih penasaran. Sambil menunjuk ke rumah tempat kejadian perkara tadi.


Yogi mendengus dengan kasar. Memang Surya susah sekali dibilangin.


"Setahuku itu rumah mbak Maria. Janda yang katanya sekarang udah nikah sama orang kaya," jawab Lucky.


"Sekarang siapa yang nempati rumah itu?" tanya Surya lagi. Dia menoleh ke arah rumah itu.


"Kayaknya sih kosong. Tapi kadang mbak Marianya pulang juga sih, sebentar," jawab Lucky.


"Cantik kagak jandanya, Bro?" tanya Yogi.


Surya langsung melempar kepala Yogi dengan bungkus rokok yang dipegangnya.


Dengan sigap Yogi menangkapnya.


"Yaelah! Cuma nanya doang, Bro. Galak amat!" ucap Yogi.


"Kalian akur banget? Masih sodaraan ya?" tanya Lucky penasaran.


Yogi melirik ke arah Surya. Dalam hati Yogi yang lagi gemas pada Surya, kalau bukan karena Sinta, malas sekali punya saudara kayak gitu.


"Dia calon adik iparku," jawab Surya.


Surya merasa lebih baik dia terbuka pada Lucky. Biar Lucky juga bisa mengontrol pergaulan Yogi. Karena Yogi sebentar lagi mau menikahi Sinta.


"Calon adik ipar? Memangnya Yogi mau menikah?" tanya Lucky penasaran.


"Bulan depan. Dia mau nikahin adikku. Datanglah," jawab Surya.


Yogi cuma cengar cengir saja.

__ADS_1


"Ya kalau dikasih undangannya. Kabar-kabar lu, Bro." Lucky menonjok lengan Yogi pelan.


"Iya. Tenang aja. Entar gue kabarin," sahut Yogi.


"Tapi beneran lu mau nikah, Bro?" tanya Lucky masih kurang yakin.


"Beneran lah. Masa bohongan. Yang ada gue dibantai ama kakaknya yang galak itu." Yogi menunjuk Surya dengan wajahnya.


"Kuliah aja belum kelar, udah mau nikah aja lu!" ucap Lucky.


"Iya. Dia udah kebelet nikah katanya," sahut Surya.


"Halah! Kayak elu kagak kebelet aja. Coba kalau Nadia kagak nolak elu, pasti udah elu nikahin, kan?" ledek Yogi.


"Oh, jadi Surya pernah nembak Nadia?" tebak Lucky.


"Udah kena malahan. Tapi Nadianya tetep aja kabur! Hahaha." Yogi tertawa ngakak. Menertawakan kegagalan dan kebodohan Surya.


"Wah, elu kurang kenceng nutup kandangnya, Sur," komentar Lucky.


"Kamu pikir dia itu burung?" sahut Surya.


"Eh, Surya. Nembak wanita itu bisa diibaratkan kita nangkep burung. Harus hati-hati biar dia kagak terluka. Terus masukin ke sangkar emas. Dijaga tiap hari biar kagak kabur," ucap Lucky.


"Ini mah kebalik, Bro. Surya malah yang terluka. Dan akhirnya jatuh tak bisa bangkit lagi." Yogi menirukan lirik sebuah lagu.


"Sialan, kamu!" umpat Surya.


"Wah, jadi lelaki meskipun sangat mencintai wanitanya, jangan berjiwa hello kitty, Bro. Di depan cewek kita harus terlihat kuat kayak ramboo!" ucap Lucky.


"Terus, sekarang mereka putus?" tanya Lucky pada Yogi.


"Tanyain aja noh, sama orangnya! Soalnya tadi kan boncengan, bisa jadi tau-tau balik lagi kayak setrikaan!" Yogi terus saja menyindir Surya.


"Enggaklah. Tanya aja sama Lucky. Kita tadi cuma nganter sampai depan rumahnya aja. Iya kan, Luk?" Surya menatap wajah Lucky.


"Iya sih. Tapi gue kan kagak tau apa yang mereka bicarain sepanjang perjalanan," sahut Lucky.


Lucky tadi bete banget sama Surya yang membawa motornya pelan banget. Saat memboncengkan Nadia.


"Nah, itu dia. Si hello kitty ini gampang trenyuh perasaannya. Baru dicolek aja udah meleleh." Yogi semakin kesal mengingat kembali kelakuan Surya yang sering plin plan.


"Luk, kamu kenal sama janda yang tinggal di rumah itu?" tanya Surya memgalihkan pembicaraan, sambil menunjuk ke arah TKP.


"Cie...malah dia yang nanyain soal janda itu! Masih banyak perawan, Bro!" ledek Yogi pada Surya.


"Apaan sih. Diem dulu!" ucap Surya.


"Kenal banget sih enggak. Cuma tau aja. Dia jarang keluar juga sih. Sekalinya keluar, jauh. Berhari-hari enggak pulang. Itu yang gue denger," jawab Lucky.


"Apa dia punya tahi lalat di pipi?" Surya menunjuk pipinya sendiri.

__ADS_1


Lucky mengangguk. Yogi yang dari tadi meledek Surya, jadi menyimak dengan serius.


"Lu kenal juga, Bro?" tanya Yogi pada Surya.


"Kayaknya dia itu nikah sama bapaknya Doni. Jadi ibu tirinya Doni," tebak Surya.


"Maksud elu, dia wanita yang main sama Doni di toilet waktu itu?" tanya Yogi.


"Kayaknya," jawab Surya.


Yogi pun mengangguk paham. Lucky yang semakin kebingungan.


Keesokan harinya, Nadia tak mau berangkat ke kampus.


"Kamu enggak berangkat kuliah?" tanya Susi.


Susi naik ke kamar Nadia, karena Nadia tak ikut sarapan dengan Haris.


"Enggak, Ma. Nadia takut sama Doni," jawab Nadia.


"Takut sama Doni. Kenapa?" tanya Susi.


Nadia terdiam. Dia masih ragu mengatakannya pada Susi. Karena Susi pasti bakal lapor pada Haris, dan masalah akan jadi panjang.


Tapi kalau enggak bilang, pasti kedua orang tuanya bakalan marah kalau dia tidak mau ke kampus lagi.


"Kenapa diam?" tanya Susi.


Nadia menghela nafasnya. Lalu mulai menceritakan kejadian kemarin. Bahkan saat Doni berusaha merusak motornya dan ketahuan Surya.


"Hah...! Gila! Benar-benar gila! Ini enggak bisa didiamkan!" ucap Susi dengan geram.


Nadia hanya bisa diam. Tapi perasaannya jadi lega. Dan Nadia lebih baik menyerahkan semua pada orang tuanya saja.


Sore setelah pulang dari kantornya, Haris pun merasa sangat emosi mendengarkan cerita dari Susi.


Bagaimana tidak, Nadia hampir jadi korban pemerkosaan oleh Doni.


"Biar Papa laporkan ke polisi saja!" ucap Haris dengan geram.


"Iya, Pa. Mama juga setuju," sahut Susi.


"Tapi, Pa. Doni bisa semakin gila kalau kita lapor polisi." Nadia merasa khawatir dengan kegilaan Doni yang mungkin bakal lebih parah lagi.


"Enggak kalau dia dijebloskan ke penjara!" sahut Haris.


"Tadi juga Surya sudah menghajarnya. Dua kali malah, Pa," ucap Nadia.


"Kalau kamu masih dekat dengan Surya, Papa yakin dia bisa melindungi kamu!" sahut Haris dengan ketus.


"Kamu sih, pakai acara menjauhi Surya. Untung Surya masih mau menolong kamu. Kalau enggak? Apa enggak akan kejadian tuh." Susi ikut menimpali.

__ADS_1


"Besok, Papa akan temui Tedi. Biar dia tau kelakuan anaknya!" ucap Haris.


"Dan kalau dia membela anaknya, Papa akan bawa masalah ini ke jalur hukum! Biar tau rasa mereka!" lanjut Haris.


__ADS_2