PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 55 SALING MEMBANDINGKAN


__ADS_3

"Surya....!" Rahma mengetuk pintu kamar Surya.


"Iya, Ma....!" sahut Surya. Lalu membuka kamarnya.


"Kalian kenapa sih, pada ngunci pintu kamar?" tanya Rahma. Tak biasanya kedua anaknya itu mengunci pintu kamar.


"Enggak apa-apa, Ma," jawab Surya bohong. Padahal tadi dia lagi mematut dirinya di cermin. Sedang membandingkan dirinya dengan Dewa.


Ya jelas saja jauh berbeda. Karena yang ada di ingatan Surya, Dewa saat masih SMA dulu.


Meski Dewa lebih jangkung, tapi tubuh Dewa cenderung ceking. Berbeda dengannya yang lebih berisi sejak masih SMA dulu.


Apa Nadia lebih menyukai lelaki yang kurus seperti Dewa? Apa aku mesti berdiet agar tak terlalu gemuk? Ya, aku akan diet.


Surya berputar melihat tubuhnya dari berbagai sisi. Aku enggak gendut. Tubuhku proporsional. Tapi kenapa Nadia sepertinya tak pernah tertarik padaku? Batin Surya tadi saat mengunci pintu kamarnya.


"Hey, malah melamun. Ayo makan. Udah ditunggu papa sama Sinta," ajak Rahma.


"Mm....Surya udah makan, Ma. Tadi di rumah Nadia," sahut Surya.


"Tapi papa mau kita makan bareng. Mama juga tadi beli ayam bakar kesukaan kalian. Ayo makan." Rahma tetap memaksa. Dan seperti biasanya, dia berjalan duluan tanpa mau mendengar alasan Surya.


Kalau sudah begini, Surya tak bisa berbuat apa-apa selain menuruti perintah mamanya.


Dengan malas, Surya berjalan di belakang Rahma. Di meja makan sudah terhidang aneka makanan. Dan yang paling menarik perhatian Surya pastinya ayam bakar kesukaannya.


Surya menelan ludahnya. Tadi dia sudah bertekad ingin diet. Mengurangi makan malamnya. Tapi kalau sudah melihat makanan kesukaannya, mana mungkin Surya bisa menahannya.


Surya menarik kursi di sebelah Sinta.


"Lama amat sih keluarnya? Aku kan udah lapar," ucap Sinta. Dia sudah siap memegangi piringnya. Sinta sudah siap menyantap habis ayam bakar.


"Laper? Bukannya tadi kamu sudah makan, di rumah Nadia?" tanya Surya.


"Masih laper. Apalagi lihat itu, tuh...!" Mata Sinta mengarah pada ayam bakar yang seakan melambai-lambai ke arahnya minta dieksekusi.


Hmm...Surya juga sebenarnya sudah sangat gemas ingin menghabiskannya. Tapi dia ingat pada janjinya tadi pada diri sendiri.


"Ayo makan. Malah pada ngobrol terus." Rahma mengambilkan nasi untuk Toni.


"Papa mau pakai ayam bakarnya?" tanya Rahma.


"Iya, dong," jawab Toni. Mereka memang penggemar ayam bakar. Dan kalau tak sempat bikin sendiri, Rahma akan membelinya di rumah makan langganannya.

__ADS_1


Sinta juga sudah mulai mengeksekusi ayam bakar itu.


"Sinta, enggak salah kamu makan sebanyak itu?" tanya Rahma. Biasanya Sinta hanya makan sedikit, apalagi saat makan malam.


Kalaupun makan pakai lauk favoritnya, dia akan mengambil nasinya sedikit sekali.


Tapi malam ini, Sinta mengambil nasi hampir sama dengan porsi makan Surya. Dan ayam bakarnya, dia ambil dua sekaligus.


"Kan Sinta udah bilang tadi, Ma. Masih laper," sahut Sinta.


"Iya, tapi ini kan udah malam. Kamu enggak takut badanmu gendut?" tanya Rahma. Karena biasanya, setiap kali Rahma menegur Sinta yang makannya sedikit, jawabannya selalu begitu.


"Enggak, Ma. Sinta malah kepingin gendut. Eh, enggak...enggak. Pingin lebih berisi. Enggak kerempeng kayak gini," jawab Sinta.


Rahma tersenyum mendengarnya. Dalam hatinya membatin, apa anak gadisnya sudah mulai tertarik dengan lelaki?


"Surya, kenapa nasimu sedikit banget? Jangan bilang kamu mau diet, ya?" Rahma melihat nasi yang diambil Surya tak sebanyak biasanya.


"Surya kan udah makan tadi, Ma. Masih kenyang," jawab Surya.


"Hmm. Terserah kalian lah. Yang pasti Mama enggak mau kalian bermasalah dengan badan lho ya." Rahma mengambil makan untuk dirinya sendiri.


"Udah biarin aja, Ma. Mereka udah pada gede. Bisa dong ngira-ngira sendiri porsi makannya," sahut Toni yang dari tadi asik menikmati makanannya.


Toni mengangkat piringnya yang sudah hampir bersih. Tanpa diminta, Rahma mengambilkan lagi.


Rahma type istri yang sangat patuh pada suami. Dia selalu menurut apapun kata suaminya. Begitu yang selalu diajarkan kedua orang tuanya.


Dan terbukti, pernikahan mereka awet sampai sekarang. Tanpa ada masalah yang berarti. Hanya kadang perselisihan kecil saja. Hal biasa dalam kehidupan rumah tangga.


Itu sebabnya Rahma sangat mendukung kedekatan Surya dengan Nadia. Karena di mata Rahma, Nadia gadis yang penurut.


Hidupnya tak pernah neko-neko. Lurus-lurus aja. Apalagi Surya selalu menemaninya kemanapun Nadia pergi. Hingga bisa mengontrol pergaulan Nadia.


Dan Nadia pun kelihatannya tak pernah keberatan. Bahkan sering mencari Surya hanya sekedar mengantar beli barang kebutuhannya.


Bebet, bibit dan bobotnya pun jelas. Itu yang paling penting bagi Rahma yang masih teguh memegang prinsipnya.


Surya mengambil nasi lagi. Lauk kesukaannya mendukung untuk menambah porsi makannya.


Besok lagi aja dietnya. Sekarang puas-puasin dulu makannya. Batin Surya.


Rahma tersenyum bangga melihat suami dan kedua anaknya makan dengan lahap. Tak salah pilihan lauknya malam ini.

__ADS_1


"Entar tambah gendut lho." Sinta menyenggol lengan Surya yang sedang nambah lauk.


"Enggaklah. Besok pagi-pagi joging buat membakar lemak," jawab Surya.


"Sekarang aja kalau mau joging. Kalau besok, keburu mekar perutnya," sahut Sinta sambil tertawa.


"Eh, kalau makan enggak boleh sambil bercanda. Nanti tersedak," larang Rahma.


"Sinta tuh, Ma. Usil banget. Bilang aja dia yang lagi maruk makan," sahut Surya.


"Biarin, whee...!" Sinta menjulurkan lidahnya meledek Surya.


"Kalian itu. Udah selesaikan makannya," ucap Rahma.


"Udah makannya, Pa?" tanya Rahma pada Toni.


"Udah. Papa udah kenyang banget," jawab Toni.


"Iyalah, Papa makan banyak banget," sahut Rahma.


Toni beranjak duluan. Mencuci tangannya di wastafel. Sementara Sinta dan Surya masih berebut ayam bakar yang tinggal satu potong.


"Jangan berebut, ah. Besok Mama belikan lagi," ucap Rahma.


Hah...! Bisa gagal dietku kalau mama besok membelinya lagi. Batin Surya.


Sementara Sinta bersorak kegirangan. Itu artinya, sebentar lagi badannya akan berisi. Dan tak akan kalah seksi dari Viona.


Rahma tersenyum, lalu menyusul Toni. Mencuci tangannya di wastafel.


"Sinta, kalau sudah selesai makannya, beresin meja makan," perintah Rahma.


Di rumahnya tak ada ART yang menginap. Bik Siti yang bekerja membantunya, pulang setelah semua pekerjaan selesai.


Dan biasanya akan kembali lagi saat dibutuhkan. Karena rumah bik Siti tak jauh dari rumah keluarga Surya.


Ada juga suami bik Nah, yang bekerja sebagai tenaga serabutan. Bukan cuma keluarga Surya yang mempekerjakannya.


Tetangga lainnya juga banyak yang memanfaatkannya sebagai pekerja lepas.


"Iya, Ma," jawab Sinta. Dan biasanya Sinta sekalian mencuci piring, dibantu Surya.


Rahma mengajarkan kedua anaknya untuk bisa mengerjakan pekerjaan rumah. Meski yang ringan-ringan saja.

__ADS_1


Jadi hidup mereka tak tergantung pada pembantu. Saat tak ada pembantu, mereka sudah terbiasa. Tak lagi kelabakan.


__ADS_2