PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 159 NADIA YANG NEKAT


__ADS_3

"Sur. Sebentar lagi kapal ini berlayar. Aku titip Viona, ya," ucap Dewa. Mereka bertemu di bagian lainnya.


"Emangnya barang, main titip-titip aja!" sahut Surya.


"Kalau Viona itu barang, aku malah enggak perlu nitipin ke kamu, Sur. Aku bawa kemana-mana. Enggak bakal kena tegur atasan," ucap Dewa.


"Iya, deh. Aku akan jaga Viona buat kamu," sahut Surya mengalah.


"Gitu dong. Aku juga mau minta tolong sama kamu, Viona biar numpang mobilmu kembali ke kota. Besok katanya dia ada kuliah," ucap Dewa.


Surya menatap Viona sebentar, lalu mengangguk. Lumayan juga ada teman di perjalanan, batin Surya.


Tadinya Surya berharap dia pulang bersama Nadia. Tapi sekarang harapan itu sudah dibuangnya jauh-jauh.


Malah Surya merasa beruntung, ditemani Viona. Jadi dia tak akan kembali teringat Nadia.


"Enggak apa-apa kan, Sur?" tanya Viona.


Viona masih ingat, dulu Surya selalu bersikap dingin padanya.


"Enggak apa-apa, Vi. Malah seneng ada teman di perjalanan," jawab Surya.


"Tapi nanti anterin aku pulang dulu, ya. Ambil pakaianku," pinta Viona.


"Iya. Enggak masalah, Vi. Tapi nanti langsung pulang, ya. Biar enggak kesorean," sahut Surya.


"Iya, Sur." Viona mengangguk paham. Dia juga sebenarnya sudah sangat capek. Dari kemarin nyaris tidak istirahat.


"Oke. Berarti soal Viona beres, ya. Kalian masih punya waktu satu jam lagi. Karena sebentar lagi kapal ini mulai berlayar. Kecuali, kalian mau ikut kita berlayar juga," ucap Dewa sambil tertawa.


"Ya enggaklah. Yang ada kita pingsan di tengah lautan," sahut Surya.


Surya, Dewa juga Viona berdiri berjejer menghadap ke laut lepas. Mereka menatap lautan yang begitu tenang.


Sinta dan Yogi menghampiri mereka.


"Kak. Kita mau ke hotel dulu. Mau ambil barang-barang sekalian check out," ucap Sinta pada Surya.


"Memangnya kamu bawa barang apa aja?" tanya Surya.


"Enggak banyak sih, Kak. Sebenarnya aku bawain pakaian ganti buat Kakak lho. Tapi aku lupa ngasihinnya ke Kakak," ucap Sinta.


Sebenarnya bukan lupa, tapi belum sempat. Karena dari pagi, banyak sekali kejadian yang di luar perkiraan mereka.


"Hm. Aku jadi enggak ganti baju, deh," ucap Surya.


"Iya, Kak. Maaf," ucap Sinta.


"Yogi, Sinta. Aku juga sekalian pamit. Dua jam lagi kapalku mulai berlayar. Selamat ya, buat kalian," ucap Dewa.


"Selamat buat apaan, Kak?" tanya Sinta.

__ADS_1


Apa kak Surya sudah menceritakan tentang rencanaku pada kak Dewa, ya? Tanya Sinta dalam hati.


"Buat hari jadi kalian. Kita punya kenangan yang sama dengan pelabuhan ini. Aku dan Viona pun memulainya dari sini," jawab Dewa.


Sinta bernafas lega. Ternyata Dewa hanya mengucapkan selamat atas hari jadinya dengan Yogi.


"Sur, gue minta elu bisa cepet move on dari Nadia. Gue tahu elu sangat mencintai dia. Tapi jangan memaksakan diri. Oke?" pinta Dewa.


"Iya, Wa. Gue akan melupakan Nadia. Doain semoga gue mampu," sahut Surya.


"Elu harus mampu, Surya. Jadilah lelaki yang tangguh. Bukan lelaki cengeng yang menangisi cinta!" Dewa menepuk-nepuk bahu Surya.


Surya mengangguk, lalu memeluk Dewa dengan erat. Sahabat yang masih tetap bersikap sebagai sahabat, meski yang terjadi di antara mereka terlalu menyakitkan buat Surya.


Dan akhirnya mereka pamit pada Dewa. Meski sebenarnya masih merasa betah di atas kapal itu.


"Hati-hati kalian semua. Surya, ingat pesen gue tadi. Dan tolong jagain Viona!"


Mereka melambaikan tangan pada Dewa dan bergegas meninggalkan kapal.


"Kita konvoy, Bro," ajak Yogi.


"Boleh. Tapi aku ngantar Viona dulu ambil barang-barangnya," sahut Surya, yang diangguki Viona.


"Yoi. Gue juga mau ambil barang juga di hotel," sahut Yogi.


"Ambil terus buruan ke rumah Viona. Aku tunggu di sana. Jangan lama-lama. Awas kalian!" ancam Surya.


"Deeeh...galak amat yang enggak bisa lagi...Ups!" Yogi langsung menutup mulutnya sendiri.


Surya hanya melotot ke arah Yogi.


"Ampun Kakak Ipar...!" Yogi menangkupkan kedua tangannya di atas kepala.


Viona hanya tersenyum saja. Dia sudah bisa mengira apa yang akan diucapkan Yogi.


Yogi langsung menarik tangan Sinta, agar buru-buru kabur.


"Jangan dengerin omongan Yogi, Vi. Dia suka agak error," ucap Surya pada Viona, setelah Yogi dan Sinta pergi.


Mereka kembali berjalan menuju tempat parkir mobil.


"Iya. Tapi sayangnya, kupingku udah terlanjur denger," sahut Viona. Viona bermaksud meledek Surya. Tapi Surya malah menganggapnya serius.


"Vi. Tolong jangan kamu berpikir serius tentang omongan Yogi," pinta Surya.


Viona malah terkekeh.


"Tapi emang bener, kan?" tanya Viona.


"Bener apanya?" Surya malah balik bertanya.

__ADS_1


"Udahlah, Sur. Lupain aja," jawab Viona.


"Apanya yang bener, Vi?" tanya Surya.


"Kamu jangan berpikir serius dengan pertanyaanku, Surya," balas Viona.


"Hhmm...!" Surya menghela nafasnya. Lalu segera membuka pintu mobilnya. Viona pun ikut naik.


Tanpa mereka sadari, ternyata Nadia mengintai mereka dari kejauhan di dekat pelabuhan.


Dan begitu mereka semua sudah turun dari kapal dan pergi, Nadia langsung berlari ke arah kapal Dewa.


Nadia dihadang oleh seorang ABK, teman Dewa.


"Mau kemana, Mbak? Kapal ini sudah mau berlayar. Yang tidak berkepentingan dilarang naik," ucap ABK itu.


"Aku mau ketemu Dewa!" sahut Nadia.


"Dewa? Dewa siapa?" tanya ABK itu tak mengerti. Sebab mereka biasa memanggil Dewa dengan nama Putra.


"Putra. Dewa Putranto!" jawab Nadia.


"Oh, Putra. Tapi dia udah mulai bekerja. Sebentar lagi kapal kami berlayar!" sahut ABK itu dengan tegas.


"Sebentar aja. Ada yang harus aku sampaikan padanya!" pinta Nadia.


"Enggak bisa, Mbak. Saat jam kerja, kami tidak bisa diganggu. Jadi sebaiknya Mbaknya turun!" ucap ABK itu setengah mengusir.


"Enggak! Aku harus menemuinya sekarang!" Nadia tetap ngeyel. Dia khawatir tak akan bisa ketemu lagi dengan Dewa kalau kapal itu sudah berlayar.


"Maaf, Mbak. Kami tidak bisa mengijinkan siapapun masuk ke sini!" ABK itupun tetap ngotot.


Nadia yang sudah berada di atas kapal, mendorong tubuh ABK itu, dan langsung berlari masuk ke dalam.


ABK yang tak siap, hampir saja terjatuh. Lalu dia berusaha kembali berdiri tegap.


"Hey! Tunggu!" ABK itu mengejar Nadia.


Dan bisa dipastikan, Nadia gampang sekali ditangkap.


"Tolong, jangan memaksa kami berbuat kasar!" ucap ABK itu yang sudah berhasil menangkap tangan Nadia.


"Ada apa ini?" tanya ABK lain yang melihat kejadian itu.


"Ini, ada wanita yang memaksa masuk! Ayo, bantu aku mengeluarkannya!" jawab ABK itu pada temannya.


Dan tanpa diminta dua kali, lengan Nadia langsung diraihnya.


"Aku cuma mau ketemu dengan Putra, sebentar!" teriak Nadia dengan suara melengking.


Putra yang kebetulan melintas, mendengar teriakan Nadia. Lalu dia menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Nadia..." ucap Dewa perlahan.


"Dewa....!"


__ADS_2