PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 164 PILIHAN YANG SULIT


__ADS_3

Sinta keluar lagi dari kamar Surya. Dia tak tega membangunkannya. Karena pastinya, Surya sangat capek.


Sinta berjalan kembali ke ruang tamu, dengan banyak pertanyaan di kepalanya. Pasalnya tadi, Sinta sempat membaca sekilas, pesan berbalas antara Surya dan Viona.


Mereka terlihat sangat akrab. Meskipun tidak dengan kalimat yang mesra, tapi terkesan mereka sudah sangat dekat.


Sedangkan yang Sinta tahu, dari dulu Surya selalu mengacuhkan Viona. Tapi berbeda dengan pesan chat mereka tadi.


Apa karena kak Dewa menitipkan kak Viona pada kak Surya? Lalu kak Surya jadi mau akrab dengan kak Viona? Tanya Sinta dalam hati.


Tapi jangan sampai ada apa-apa di antara mereka. Bisa makin ruwet masalahnya. Batin Sinta.


"Mana kakakmu?" tanya Rahma melihat Sinta datang kembali sendirian.


"Tidur, Ma. Mau bangunin, enggak tega. Tidurnya enak banget," jawab Sinta.


"Ooh, ya udah. Kalian juga istirahat. Yogi kalau mau istirahat di kamar Surya aja. Tempat tidurnya kan muat buat kalian berdua," ucap Rahma.


Rumah keluarga Surya hanya memiliki tiga kamar. Jadi kalau ada tamu yang mau menginap, mesti berbaur dengan anak-anaknya.


Atau salah satu anaknya mengalah, dan tidur jadi satu dengan lainnya.


Itu juga alasannya di rumah itu tak ada pembantu yang menginap. Tidak ada kamar lagi yang bisa ditempati.


Kalau rumah keluarga Nadia, meski luas tanahnya sama, tapi dibangun dua lantai. Jadi terkesan lebih besar.


"Saya pulang aja, Tante. Udah kangen ama mak Yati," ucap Yogi.


"Udah kaya orang pacaran aja, pake kangen-kangenan," sahut Sinta.


"Emangnya orang pacaran aja yang pake kangen? Kamu juga kangen sama mama, kan?"


Sinta mengangguk sambil nyengir.


"Saya pamit dulu, Tante. Om," pamit Yogi dengan sopan.


"Terima kasih, Yogi. Kami merepotkan kamu," ucap Rahma.


"Enggak apa-apa, Tante. Saya malah seneng, kok," sahut Yogi.


Sinta mengantar Yogi ke depan.


"A! Gimana? Katanya mau ngomong sama mama papa," tanya Sinta pelan.


"Sabar, Sayang. Nanti malam aku mau telpon mama papaku dulu. Jadi ngomongnya sekalian mama papaku dateng ke sini. Sekalian melamar kamu," jawab Yogi.


Sinta langsung tersenyum dan matanya berbinar.


Yogi terus berjalan masuk ke mobilnya.


"Ati-ati ya, A. Jangan ngebut-ngebut," ucap Sinta dari jendela mobil yang terbuka.


"Iya, Sayang. Kamu juga istirahat. Udah, ya." Yogi mengacak rambut Sinta.

__ADS_1


Sinta kembali masuk ke dalam rumah. Rahma dan Toni masih duduk di ruang tamu.


"Sinta. Duduk dulu sini," pinta Rahma.


"Ada apa, Ma?" tanya Sinta, setelah duduk.


"Kalian ketemu juga sama Nadia, di sana?" tanya Rahma.


"Iya, Ma. Tapi udah deh, jangan bahas lagi soal itu. Males ngomonginnya," jawab Sinta.


Sinta beranjak dari duduknya.


"Sinta ke kamar dulu ya, Ma. Capek," ucap Sinta.


"Enggak makan dulu? Mama udah belikan makanan kesukaan kalian," tanya Rahma.


"Enggak, Ma. Nanti aja. Capek. Ngantuk juga." Sinta menguap dengan lebar. Dan tangannya langsung menutup mulutnya.


"Ya udah, tidur dulu sana," sahut Rahma.


Sinta pun berlalu, sambil meraih tas kecilnya. Kalau tas isi pakaian kotor, sudah dimasukan dari tadi.


"Gimana sih, Nadia itu? Anak kok susah banget wataknya!" tanya Rahma dengan kesal.


"Hhh! Biarin ajalah, Ma. Kalau dia enggak mau menerima tanggung jawabnya Surya, ya mau dibilang apa? Masa iya, kita paksakan!" jawab Toni.


"Iya, Pa. Tapi sekarang Surya mesti gimana, nih? Benar-benar harus melupakan Nadia?" tanya Rahma.


"Mama itu khawatirnya, gimana kalau setelah Surya susah payah ngelupain Nadia, tau-tau dituntut pertanggungjawaban?" tanya Rahma dengan cemas.


"Atas dasar apa?" Toni balik bertanya.


Rahma menatap wajah Toni dengan ragu.


"Hamil, misalnya," jawab Rahma.


Toni menghela nafasnya.


"Kalau soal itu, kita pikirin nanti, Ma. Sekarang yang penting kita jaga lagi aja perasaan Surya," sahut Toni.


Rahma mengangguk menurut.


"Papa enggak nyangka, punya anak lelaki serapuh Surya." Toni kembali menghela nafasnya.


Yang diharapkan Toni, Surya jadi lelaki tangguh seperti dirinya. Atau minimal seperti Yogi, yang terlihat selalu smart dan tangguh.


Bisa jadi Surya tumbuh jadi lelaki cengeng, karena sikap over protektif dari Rahma.


Sejak dahulu, Rahma terlalu memanjakan kedua anaknya. Semua kebutuhan mereka selalu dipenuhi Rahma.


"Surya enggak rapuh, Pa. Dia cuma gampang terbawa perasaan aja. Lama-lama juga bakal bersikap lebih dewasa." Rahma selalu saja membela anak-anaknya. Terutama Surya.


"Mau seberapa lama lagi? Dia udah dewasa lho, Ma," tanya Toni.

__ADS_1


"Kedewasaan setiap orang kan beda-beda, Pa." Rahma yang mulai tak nyaman dengan pembicaraan itu. Lalu beranjak berdiri, dan membawa belanjaannya ke dapur.


Rahma memilih menyiapkan makanan yang tadi dibelinya, daripada berdebat soal anak-anaknya.


Rahma paling tidak suka kalau dikritik soal anak-anaknya. Karena pasti ujung-ujungnya, dia yang harus mengalah mengakui kesalahan.


Kesalahan bagi orang lain, tapi bukan bagi Rahma. Karena Rahma merasa sudah benar mendidik anak-anaknya.


Toni hanya menatap Rahma yang buru-buru pergi. Dia sudah hafal dengan sikap istrinya itu.


Toni masuk ke dalam kamarnya. Lalu berganti pakaian santai, dan tidur.


Toni juga tak mau berdebat dengan Rahma. Kasihan juga kalau istrinya itu jadi merasa tertekan.


Malam harinya, setelah makan bersama, Toni mengajak Surya duduk berdua di teras.


"Ada apa, Pa?" tanya Surya.


Badan Surya sudah terasa lebih enakan. Tadi setelah bangun tidur, dia mandi. Dan merasakan segar lagi.


"Duduklah." Toni menunjuk kursi di sebelahnya.


Surya pun menurut, tanpa penolakan.


"Bagaimana soal Nadia?" tanya Toni.


Surya terdiam sejenak. Lalu menghela nafasnya dalam-dalam.


"Dia tak mau lagi dengan Surya, Pa," jawab Surya.


"Kamu yakin itu?" tanya Toni.


Surya menatap ke depan. Sikap Nadia selama ini yang membuatnya ikutan plin plan.


"Entahlah, Pa. Kadang dia menjauh. Kadang, tiba-tiba mendekat. Surya bingung mesti bagaimana," jawab Surya.


"Kalau begitu, kamu yang ambil keputusan. Kamu laki-laki, Surya," ucap Toni.


"Surya enggak tega, Pa. Surya kasihan sama Nadia. Surya tau, kalau cintanya pada Dewa bakal kandas. Penantiannya bakal sia-sia," sahut Surya.


"Kamu kasihan sama dia. Tapi kamu mengorbankan dirimu sendiri. Itu enggak bener, Surya. Ingat, kamu tidak hidup sendirian. Ada mama kamu yang akan ikut terluka kalau kamu menderita. Kamu tega melukai perasaan mamamu?" tanya Toni.


"Mama kamu sudah mengorbankan hidupnya buat kamu, Surya. Apa kamu tidak bisa merasakan itu?" tanya Toni lagi.


Surya hanya diam saja.


"Kamu masih mau menyakiti perasaan mamamu?" Toni terus saja memojokan Surya.


"Kalau itu yang akan kamu lakukan pada mamamu, Papa yang akan menghadapimu. Karena Papa orang yang sangat mencintai mamamu!" ancam Toni.


"Satu hal lagi, kalau kamu masih mau mempertahankan dia, silakan angkat kaki dari sini! Papa tidak mau mamamu terluka lagi!"


Lalu Toni beranjak dan masuk ke dalam.

__ADS_1


__ADS_2