
Viona menoleh. Matanya langsung terbelalak, mulutnya pun sedikit terbuka. Lalu Viona segera menangkupnya dengan telapak tangan.
Viona membalikan tubuhnya. Kini, dihadapannya berdiri seseorang yang sedang dicarinya.
Putra. Berdiri gagah dengan senyuman mengembang. Viona masih terpaku ditempatnya. Matanya tak lepas dari wajah Putra.
Putra merentangkan kedua tangannya. Berharap Viona mendekat dan mendekap.
Tapi Viona tak beranjak juga dari tempatnya berdiri. Kakinya terasa berat untuk melangkah maju.
Akhirnya Putra lah yang mendekat. Lalu memeluk Viona yang masih syok.
"Apa kabar, Viona. Aku merindukanmu," ucap Putra di telinga Viona.
Kalimat yang sangat indah bagi Viona. Setelah dia tak juga mampu meraih hati Surya. Sampai akhirnya Viona merasa lelah dan menyerah.
Dan kini Putra sudah ada dalam pelukannya. Perlahan Viona mendekap Putra. Lebih erat. Seakan takut kalau Putra akan menghilang lagi.
Meskipun Viona belum tahu asal usul Putra. Juga siapa Putra sebenarnya.
Mata Viona mulai berkaca-kaca. Dia merasa sangat bahagia juga terharu.
Setelah puas, Putra melepaskan pelukannya. Ditatapnya wajah Viona.
"Kenapa menangis?" tanya Putra. Perlahan tangannya menghapus air mata Viona.
"Aku....Aku bahagia. Akhirnya....kita bisa bertemu lagi," jawab Viona sambil terisak.
"Kalau bahagia, jangan nangis dong. Ayo senyum. Hm!" Putra mengajak Viona untuk tersenyum.
Kehidupannya di tengah laut yang sangat keras, membuat Dewa tumbuh menjadi pribadi yang kuat.
Pantang baginya meneteskan air mata. Dan dia sangat tidak suka dengan tangisan. Meski mengatasnamakan tangisan kebahagiaan.
Baginya, bahagia ya bahagia. Tanpa harus menangis. Karena tangisan hanya milik mereka yang lemah.
Viona menurut. Perlahan dia tarik bibirnya untuk tersenyum.
"Nah, begitu lebih cantik. Ayo ke sana!" Putra menunjuk ke arah tepian pantai yang lebih sepi.
Viona mengangguk. Lalu dengan bergandengan tangan, mereka berjalan menuju pinggiran pantai yang sepi.
Di tempat yang lebih sepi, mereka berhenti.
Putra berdiri menghadap Viona.
"Kamu tadi mencariku?" tanya Putra. Tangannya merapikan rambut Viona.
Angin pantai yang bertiup sangat kencang, membuat rambut Viona berantakan.
__ADS_1
Putra jadi teringat seseorang di masa lalunya. Seorang gadis muda yang cantik. Meski tak secantik Viona.
Rambutnya jadi berantakan, karena mereka berlari-larian di tepi sungai.
Lalu Putra pun merapikan rambut gadis itu, seperti yang kini dilakukannya pada Viona.
Viona mengangguk. Matanya tak lepas dari wajah Putra. Wajah yang sangat dirindukannya.
Rahang yang kokoh dengan kulit coklat terbakar matahari.
Dan tangan itu, yang sedang membelai wajah Viona. Kekar dan berotot.
Sangat berbeda dengan penampilan Surya yang cenderung rapi. Kulit putih bersih. Meski Surya juga berotot dengan tubuh tegap, tapi terlihat tak sekekar Putra.
"Aku pikir, kamu telah melupakanku," ucap Putra. Dia masih terus membelai wajah putih mulus Viona.
Wajah yang tak pernah absen ke klinik perawatan kulit. Meski dia harus menghemat pengeluarannya untuk makan, sebagai anak kos.
Sangat berbeda dengan wajah gadisnya dahulu, yang selalu tampil natural. Meskipun ekonomi orang tuanya, sangat mampu membawanya ke klinik yang termahal sekalipun, tapi tak membuatnya gila dengan penampilan wajah yang glowing.
"Aku tak pernah melupakanmu, Putra. Tapi aku tak tahu mesti mencarimu kemana," sahut Viona.
Ya, Viona memang tak pernah melupakan Putra. Tapi Putra bukanlah lelaki satu-satunya yang diharapkan.
Masih ada Surya yang setengah mati dia kejar, tapi tak didapatnya juga.
Dan sekarang, mungkin saatnya Viona menambatkan hatinya pada Putra.
Pandangannya dia buang jauh ke lepas pantai sana.
Viona pun ikut duduk di sebelah Putra.
"Aku bahagia kamu masih mau mencariku, Viona. Tapi sayangnya, aku belum bisa selalu bisa dicari," ucap Putra.
"Kenapa?" tanya Viona.
"Aku punya kontrak lima tahun dengan kapal tempatku bekerja. Dan selama lima tahun itu, aku harus ikut kemanapun kapal itu berlayar," jawab Putra.
"Tapi kita kan bisa tetap berkomunikasi. Lewat hape," sahut Viona.
Putra tertawa terbahak-bahak.
Viona mengernyitkan dahinya.
"Kamu tau kenapa aku tertawa?" tanya Putra, setelah dia puas tertawa.
Viona menggeleng. Karena menurutnya, tak ada yang lucu sama sekali.
"Di lepas pantai sana...!" Putra menunjuk ke arah lautan lepas.
__ADS_1
"Tak ada sinyal, Viona! Sedangkan hidupku sembilan puluh persen ada di sana. Lalu apa gunanya hape? Tak ada, kan?"
Viona terdiam, karena dia tak tahu soal itu.
"Lalu bagaimana kalian berhubungan dengan daratan? Kalau terjadi sesuatu misalnya," tanya Viona.
Setahunya, kalau di film-film barat yang ditontonnya, selalu ada komunikasi antara mereka yang di atas kapal, dengan pihak pelabuhan.
"Itu ada alatnya sendiri, Viona. Dan mereka menggunakan satelit. Kami dipekerjakan di sana, bukan untuk bermain hape. Bukan untuk selfie-selfie. Tapi untuk bekerja. Hampir dua puluh empat jam sehari," sahut Putra.
"Kalian tidak pernah dikasih hari libur?" Viona berpikir, setiap tenaga kerja berhak untuk menikmati hari libur, bahkan weekend.
"Hari libur untuk apa? Tak ada hiburan di tengah lautan. Mau berenang sama ikan paus?" Putra tertawa lagi.
Viona semakin tak mengerti dengan cara kerja mereka. Viona berpikir, itu bukan bekerja, tapi perbudakan. Kerja paksa.
"Tapi kami dikasih kebebasan saat kapal bersandar dimanapun. Kami bebas pergi kemanapun, sampai saat kapal kembali berlayar," lanjut Putra.
"Kamu menikmatinya?" tanya Viona.
"Hanya itu yang bisa aku nikmati. Kalau kata orang, hidup itu pilihan. Tapi tidak bagi hidupku. Aku tak punya pilihan lain!" jawab Putra.
"Bukankah kamu sendiri yang awalnya memilih jadi seorang pelaut?" tanya Viona lagi. Baginya tak ada satupun orang yang bisa memaksakan pilihannya.
Putra menggeleng.
"Belum saatnya kamu tahu alasanku memilih pekerjaan itu, Viona!" Putra melemparkan cangkang kerang kecil, yang ada di dekatnya.
Viona mengangguk. Dia pun tak mau memaksa Putra untuk cerita, kalau itu tak membuatnya nyaman.
"Lalu apa rencanamu selanjutnya?" tanya Viona.
"Aku hanya ingin menyelesaikan kontrak kerjaku dulu. Setelah itu barulah aku pikirkan langkah selanjutnya. Biar tak menjadi beban buat siapapun," jawab Putra.
"Apa itu artinya, aku tak bisa mengharapkanmu?" tanya Viona dengan sedih.
"Jangan pernah mengharapkan aku, Viona. Aku tak bisa menjanjikan apapun. Bahkan waktu untuk bertemu kembali pun, aku tak bisa menjanjikan," jawab Putra.
"Lalu yang pernah kita lakukan?" tanya Viona lagi.
"Kamu menyesal, kita pernah melakukannya?" Putra balik bertanya.
Viona hanya diam. Mestinya tak perlu dipertanyakan. Karena setiap wanita pasti akan menyesal saat melakukannya dan kemudian dipaksa untuk melupakan.
"Entahlah." Viona berdiri dan berjalan perlahan menyusuri pantai kembali.
Viona berpikir, kalau Putra menyusulnya, berarti masih ada harapan baginya menunggu.
Tapi kalau Putra membiarkannya pergi semakin jauh, itu artinya Viona harus bisa melupakan apa yang telah mereka lakukan.
__ADS_1
"Viona...! Tunggu!"