
Doni membawa motor Nadia ke sebuah rumah kosong. Doni menghentikan motornya di halaman rumah itu.
"Ini rumah siapa, Don?" tanya Nadia curiga. Sebab rumah itu terlihat sepi.
"Rumahku. Ayo masuk," ajak Doni.
Nadia menggeleng.
"Aku mau pulang aja," ucap Nadia.
"Masuk dulu!" Doni meraih tangan Nadia dan menariknya.
"Lepasin Doni!" Nadia berusaha melepaskan tangannya.
Doni kembali memaksa Nadia. Dia tak mau mempedulikan penolakan Nadia.
Doni malah semakin erat mencengkeram tangan Nadia, dan menariknya.
Nadia berusaha memberontak.
"Lepasin!" seru Nadia.
Doni terus berusaha menarik tangan Nadia. Tangan kiri Nadia berpegangan pada motor dengan erat.
Doni tetap menariknya, hingga motor Nadia jatuh karena Nadia berpegangan erat.
"Auwh!" teriak Nadia yang kakinya hampir saja tertimpa motor.
Doni hanya menoleh sekilas. Lalu kembali menarik tangan Nadia.
Nadia menoleh ke kanan dan ke kiri. Tak ada orang di sekitarnya. Rumah tetangga juga jauh.
Nadia sudah hampir kehabisan tenaga untuk mempertahankan diri. Karena tenaga Doni terlalu kuat untuk Nadia.
"Doni lepasin!" seru Nadia.
"Aku enggak akan melepaskan kamu, Nadia!" sahut Doni.
"Aku akan teriak kalau kamu enggak mau lepasin!" ancam Nadia.
"Teriak aja! Enggak akan ada yang denger! Di sini tetangganya jauh-jauh!" sahut Doni.
"Tolong....! Tolong....!"
Nadia tak peduli meskipun teriakannya tak akan ada yang mendengar.
Ternyata rumah Lucky berada tak jauh dari rumah yang katanya milik Doni.
Bahkan mereka bertiga memperhatikan kejadian itu.
Awalnya yang melihat Lucky. Dia melihat ada dua orang lelaki dan wanita. Lucky tak mengenal keduanya.
Lucky tetap memperhatikan mereka, karena terjadi tarik menarik antara keduanya.
"Yog, liat kesana!" Lucky menunjuk ke rumah seberang.
Yogi pun melihat ke arah yang ditunjuk Lucky. Surya ikutan melihat juga.
"Nadia dan Doni," ucap Surya pelan.
"Ngapain mereka?" Yogi pun bertanya pelan, sambil terus memperhatikan mereka.
Saat Doni menarik tangan Nadia, Surya hendak melangkah ke sana.
__ADS_1
"Tahan dulu, Bro. Kita liat aja dulu!" Yogi menahan lengan Surya.
Surya pun menurut. Dia masih menahan diri. Melihat apa yang akan dilakukan Doni selanjutnya.
Dan saat motor Nadia jatuh, mereka bertiga pun sudah siap lari. Apalagi saat Nadia berteriak.
Surya lari duluan. Disusul Yogi dan Lucky.
Doni yang sedang menarik tangan Nadia, melihat ketiga orang itu, malah semakin kuat menarik Nadia. Hingga Nadia jatuh ke pelukannya.
Nadia pun sekuat mungkin berusaha melepaskan dirinya.
"Lepaskan!" teriak Nadia.
"Heh! Lepasin dia!" teriak Surya.
"Jangan ikut campur lagi urusanku!" sahut Doni. Doni masih memeluk Nadia dengan kuat, meski Nadia terus memberontak.
"Ooh. Masih belum puas lu? Mau gue patahin tangan elu?" ucap Yogi dengan lantang.
"Kayaknya tonjokanku tadi belum berasa, Bro," timpal Surya.
Nadia yang tadi sempat memberontak, terdiam. Dia ingat, tadi sempat melihat bibir Doni memar.
Apa itu hasil perbuatan Surya? Tapi kenapa? Tanya Nadia dalam hati.
"Kalian beraninya main keroyokan!" ucap Doni dengan keras.
"Oh, jadi kamu mau kita single?" tantang Surya.
Mata Nadia terbelalak. Dia jadi teringat lagi masa lalu. Saat Surya berkelahi dengan anak-anak punk di pinggir jalan.
Surya dan Dewa saat itu babak belur karena dikeroyok anak-anak punk itu.
"Maju kamu!" ucap Surya.
Sebagai laki-laki, Surya merasa tertantang. Selama ini Surya jadi lelaki pendiam, bukan karena penakut. Tapi Surya bukan type orang yang suka cari ribut.
Doni pun tak mau kalah. Meski tadi dia sempat dikalahkan Surya.
Doni merasa tadi dia belum sempat membalas, tapi Yogi sudah datang dan memelintir tangannya.
Dan kemenangan Surya tadi hanya sebuah kebetulan saja. Kebetulan Yogi datang membantu Surya.
Doni masih menganggap Surya laki-laki cemen. Banci.
Doni pun melepaskan Nadia.
Begitu terlepas dari pelukan Doni, Nadia langsung berlari menjauh.
Sementara Lucky sedang berusaha memberdirikan motor Nadia. Yogi berdiri siaga di belakang Surya.
Yogi berjaga-jaga kalau sampai Doni nekat. Sebab tadi di parkiran kampus, Yogi melihat Doni menggenggam sebuah paku besar.
Doni mengangkat tangannya dan melayangkan dulu tinjunya ke arah Surya.
Surya langsung menghindar. Tapi Doni kembali menyerang. Dan perkelahian pun tak terelakan.
Surya memberikan Doni tinju di muka, di dada dan di perut. Hingga membuat Doni limbung.
Tapi Surya pun sempat mendapatkan satu buah bogem mentah Doni di wajahnya.
Pelipis Surya berdarah. Itu yang membuat Surya kemudian menyerang Doni berkali-kali.
__ADS_1
Sebenarnya saat wajah Surya kena hantam, Yogi ingin membantunya. Tapi melihat Surya yang masih bisa bertahan dan menyerang, Yogi pun membiarkannya saja.
Yogi cukup berjaga-jaga saja. Jangan sampai juga Surya bonyok oleh Doni.
Lucky juga hanya melihat sambil berjaga-jaga. Jangan sampai perkelahian mereka melewati batas.
"Heh! Ada apa ini?" tegur seorang lelaki setengah baya, yang kebetulan melintas.
"Eh, Pak RT. Ini ada orang yang mau memperkosa teman saya," sahut Lucky.
Nadia diakuinya sebagai teman. Meskipun Lucky sebenarnya tak mengenal sama sekali.
"Siapa? Hey! Hentikan!" teriak lelaki yang dipanggil Lucky dengan sebutan pak RT.
Surya dan Doni tak juga menghentikan perkelahiannya.
"Apa perlu saya panggilkan warga untuk melerai kalian?" teriak pak RT lagi.
Surya merasa sangat marah pada Doni. Bukan saja karena dia tadi memaksa Nadia, tapi juga karena pelipisnya terasa sangat perih.
Yogi dan Lucky langsung mendekat dan memisahkan mereka.
Yogi menarik badan Surya. Dan Lucky menjauhkan Doni yang sudah babak belur.
Nadia berdiri jauh dari mereka. Dia merasa sangat takut dan trauma kalau melihat orang berkelahi.
Surya berusaha melepaskan diri dari Yogi.
"Udah, Bro. Udah!" seru Yogi.
"Lepasin! Aku mau habisin itu anak!" sahut Surya.
Nadia tak berani mendekat. Selain merasa takut, Nadia juga merasa tak enak pada Surya.
Orang yang sedang dijauhi, malah menolongnya.
Lucky mendudukan Doni di bangku panjang.
"Siapa elu?" tanya Lucky.
Lucky warga asli situ. Tapi merasa tak mengenal Doni.
Doni tak menjawab. Hanya mendengus dengan kasar.
Lucky jadi merasa gregetan. Dalam hati, ingin rasanya memberikan satu tonjokan pada Doni.
Tapi karena ada pak RT, Lucky pun menahan kekesalannya.
"Ini orangnya yang mau memperkosa teman saya, Pak RT. Serahin aja ke warga, biar dihajar rame-rame," ucap Lucky.
Doni mengangkat wajahnya menatap tajam ke arah Lucky.
"Orang mana dia?" tanya pak RT.
"Saya tidak tau, Pak. Dia bukan orang daerah sini!" jawab Lucky.
"Kalau begitu, bawa saja dia ke polisi. Saya panggilkan warga dulu. Biar mereka yang mengurusnya.
Waduh! Manggil warga? Gue bisa mati konyol dihajar warga.
Doni langsung berdiri dan mengambil langkah seribu.
Mereka yang ada di situ hanya memandangi saja. Tak ada yang berniat mengejar atau menangkap Doni.
__ADS_1