
"Aduh, Bu. Ini kabar dari mana?" tanya Rahma dengan panik.
Surya keluar mencari Rahma. Dia baru saja membuka ponselnya dan mendapatkan kabar dari Yogi, kalau keluarganya diundang makan malam.
"Ma. Ada undangan makan malam di restauran," ucap Surya sambil berjalan menghampiri Rahma.
"Ooh, acaranya di restauran? Ya sudah. Berarti kami tidak perlu membantu, kan," ucap salah satu tetangga.
"Ya kalau dioleh-olehi makanan dari restauran, kami juga enggak nolak, kok. Hehehe," ucap yang lainnya sambil terkekeh.
"Ih, Bu Yanti ini. Ya udah, kami permisi bu Rahma. Mas Surya, selamat ya. Jangan lupa undangannya. Kami tunggu!"
Lalu beberapa orang tetangga itu bubar. Mereka pulang ke rumah masing-masing.
Surya bengong mendengarnya.
"Undangan apaan, Ma?" tanya Surya.
"Ah, enggak taulah. Mama pusing sama mereka. Tau-tau mereka pada dateng kesini. Katanya kamu mau melamar Nadia, dan mereka mau bantu-bantu. Dapat info dari mana sih mereka?" jawab Rahma.
Surya diam sejenak. Lalu tertawa ngakak.
Ini pasti bu Nur yang nyebarin gosip. Hadeh...dengernya apa, nyampeinnya apa!
"Kenapa kamu ketawa?" tanya Rahma makin puyeng.
"Enggak apa-apa, Ma. Lucu aja lihat orang-orang tadi," jawab Surya berbohong.
Rahma mendengus kesal.
"Kamu tadi bilang ada undangan makan malam. Siapa yang mengundang?" tanya Rahma.
"Barusan Sinta telpon. Katanya orang tua Yogi ngundang kita makam malam di restauran," jawab Surya.
"Kapan?" tanya Rahma makin bingung.
"Malam ini. Kata Sinta juga mereka besok pagi-pagi udah terbang lagi," jawab Surya.
"Kok dadakan? Sinta di rumah Yogi?" tanya Rahma. Dia dari tadi juga tak bisa menghubungi Sinta.
"Iya, Ma. Gak tau tuh anak. Gak jelas!" jawab Surya.
"Terus Yogi enggak jadi kesini?" tanya Rahma lagi.
"Ya enggak lah, Ma. Ketemu di sana."
Surya kembali lagi ke kamarnya.
"Gimana sih ini. Surya...! Jam berapa?" seru Rahma.
Toni keluar dari kamarnya.
"Ada apa sih, Ma? Kok teriak-teriak?" tanya Toni.
Setelah pulang dari kantornya, Toni tiduran di kamarnya.
"Enggak tau, Pa. Pada enggak jelas!" jawab Rahma.
Surya keluar lagi dari kamarnya sambil membawa handuk.
"Udah, Mama sama Papa siap-siap. Abis maghrib kita berangkat," ucap Surya, lalu masuk ke kamar mandi.
"Tuh, enggak jelas kan?" Rahma makin bingung.
"Coba telpon Sinta," suruh Toni.
__ADS_1
"Dari sore tadi Mama telpon dia, tapi hapenya enggak aktif," sahut Rahma.
"Coba aja ditelpon lagi. Siapa tau sekarang bisa," ucap Toni.
Rahma pun mengangguk, menurut.
"Sinta. Kamu dimana?" tanya Rahma lewat telpon.
"Sinta di rumah Aa Yogi, Ma," jawab Sinta.
Lalu Sinta mengatakan tentang undangan orang tua Yogi nanti malam.
"Ya udah. Mama siap-siap." Rahma kemudian menutup telponnya.
"Gimana?" tanya Toni.
"Iya, kita diundang orang tuanya Yogi. Katanya mereka buru-buru. Besok harus kembali pergi," jawab Rahma.
Rahma pun masuk ke kamarnya.
Toni mengikuti, bahkan mengikuti sampai ke kamar mandi.
"Papa mau ngapain?" tanya Rahma.
"Mandi bareng Mama," jawab Toni.
"Ish, Papa. Jangan aneh-aneh deh," ucap Rahma.
"Siapa yang aneh? Biar cepet, Ma," sahut Toni.
Rahma pun tak bisa menolak. Bahkan saat akhirnya Toni mengajaknya bermain di kamar mandi.
"Papa ih, nakal...." Suara Rahma berubah parau. Dan itu semakin membuat semangat Toni membara.
Surya sudah selesai mandi dan berpakaian rapi. Dia menunggu kedua orang tuanya yang tak juga keluar dari kamar.
Surya tak tahu kalau kedua orang tuanya lagi bertempur di dalam kamar mandi, dan melanjutkannya di atas tempat tidur.
"Ayo, Nadia. Siap-siap! Papa kamu sebentar lagi menjemput kita!" Suara Susi sudah melengking di depan kamar Nadia.
"Iya, Ma! Sebentar lagi!" jawab Nadia.
Ih, lagian ngapain sih papa ngajakin kok dadakan begini? Mana aku belum mandi, lagi.
Nadia buru-buru mandi. Tak perlu lama-lama. Karena tadi siang dia sudah lama berendam. Yang penting ngilangin keringat aja.
Setelah rapi, Nadia pun keluar dari kamarnya.
"Anak Mama, lama amat siap-siapnya?" tanya Susi.
Susi tak tau, kalau Nadia dari tadi cuma iya iya saja. Tapi enggak juga segera mandi.
"Iyalah, Ma. Biar cantik. Kan kata Mama wanita itu mesti cantik," jawab Nadia.
"Nah, gitu dong. Masa anak Mama culun banget." Susi melihat penampilan Nadia yang berbeda dari biasanya.
Nadia mengenakan gaun yang dulu pernah dibelikan Susi, tapi tak pernah dipakainya.
Make up-nya juga lebih tebal dari biasanya. High hells juga tas tangan kecil.
Anggun. Itu komentar Susi dalam hati.
Ternyata anakku cantik juga. Meskipun pantatnya tepos dan dadanya kurang berisi. Batin Susi.
"Apaan sih, Mama liat-liat terus?" Nadia merasa risi diperhatikan Susi dengan intens.
__ADS_1
"Mama lagi terpesona dengan penampilan kamu. Cantik sekali," puji Susi.
"Ish. Enggak ada uang recehan, Ma," sahut Nadia.
"Uang recehan...memangnya Mama pengamen di perempatan?" sanggah Susi.
"Abisnya, kayak enggak pernah lihat orang cantik aja!" sahut Nadia.
Tak lama, Haris pun datang.
"Kalian udah siap?" tanya Haris.
"Udah dong," jawab Susi.
Haris pun melongo melihat penampilan Nadia.
"Kenapa, Pa? Anak kita cantik, kan?" tanya Susi.
Haris mengangguk.
Dalam hati Haris berkata, sepertinya Nadia sudah mau berubah. Semoga saja, tidak bikin masalah lagi.
"Papa mandi dulu sebentar, ya? Ngilangin keringat."
Haris langsung masuk ke kamarnya, tanpa menunggu jawaban dari istri dan anaknya.
"Hhmm. Bakalan lama, deh. Mama di sini aja!" Nadia melarang Susi masuk ke kamar.
"Lho, memangnya kenapa?" tanya Susi.
"Memangnya Mama mau ngapain ke kamar?" Nadia malah balik bertanya.
"Nyiapin baju buat papa kamu, Nadia." Susi tetap masuk ke kamarnya.
Susi menyiapkan pakaian Haris. Mulai dari baju luaran sampai dalaman.
Hal yang sering dilakukan Susi. Meski tak selalu juga. Karena kadang Haris menyiapkannya sendiri, kalau Susi lagi sibuk di dapur.
"Mau ketemu siapa sih, Pa?" tanya Susi pada Haris, setelah suaminya itu keluar dari kamar mandi.
"Rekan bisnis baru, Ma," jawab Haris.
Susi memberikan satu persatu pakaian Haris.
"Memangnya mesti harus ikut semua?" tanya Susi lagi.
"Iya. Karena mereka mengundangnya buat Papa dan keluarga."
Haris memakai kemeja lengan pendeknya. Susi pun membantunya, biar cepat selesai.
Karena kalau kelamaan, Nadia bakal cemberut.
"Ayo, udah," ajak Haris. Dia pun harus buru-buru.
Haris selalu tepat waktu. Dia tak mau membuat rekan bisnisnya terlalu lama menunggu.
"Ayo, Nad," ajak Susi setelah keluar dari kamar.
Mereka pun berjalan beriringan ke mobil Haris yang diparkir di tepi jalan.
"Eh, Bu Susi. Selamat, ya," ucap seorang tetangga yang tadi memberikan selamat pada Surya.
"Selamat apa?" tanya Susi.
"Nadia sudah mau dilamar Surya," jawab tetangga itu dengan santai.
__ADS_1
Hah?
Nadia, Susi dan Haris melongo mendengarnya.