PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 192 SIKAP ANEH NADIA


__ADS_3

Susi kembali ke rumah setelah membelikan makanan kecil untuk Nadia.


"Nih." Susi memberikannya pada Nadia yang sedang duduk di teras rumah.


"Udah malam, masuk!" ucap Susi yang masih kesal pada Nadia.


"Masih sore kok, Ma. Bentar lagi Nadia masuk. Abis makan makanan ini," sahut Nadia.


Nadia membuka kantong plastik yang diberikan Susi dan mengambil makanan yang diinginya.


Susi duduk menemani Nadia.


"Tadi Mama ketemu Surya di minimarket," ucap Susi.


Nadia hanya diam. Dia seperti anak kecil yang lagi asik dengan makanannya.


Susi meliriknya dan semakin merasa kesal pada Nadia.


"Surya jalan sama sahabat kamu. Viona," lanjut Susi.


Nadia menghentikan gerakannya. Dia melirik sekilas ke arah Susi.


"Biarin aja." Nadia kembali melanjutkan gerakannya membuka makanan kecil.


Susi mendengus kesal. Lalu masuk ke dalam rumah.


Nyebelin banget sih itu anak. Bukannya bereaksi marah apa kesal, atau cemburu. Eh, malah nyantai aja.


Apa dia memang enggak pernah mencintai Surya? Kalau enggak cinta, ngapain dulu deket ama Surya? Malu-maluin aja. Batin Susi.


Mama...mama. Mau Surya jalan sama Viona kek. Sama setan kek. Aku enggak peduli. Yang penting sekarang makan.


Nadia memakan camilannya sambil senyum-senyum bahagia. Keinginannya terpenuhi. Dia bisa makan camilan dengan puas. Tak diganggu mamanya lagi.


Dari tempatnya duduk, Nadia melihat Yogi lewat berboncengan dengan Sinta. Dan Sinta membawa barang yang cukup banyak.


Mereka berdua tak menoleh sedikitpun ke arah Nadia. Nadia pun tak peduli.


Seorang tetangga lewat depan pintu gerbang rumah keluarga Nadia yang masih terbuka.


"Lho, Mbak Nadia enggak bantu-bantu di rumahnya bu Rahma?" tanya ibu-ibu itu. Dia berhenti di depan pintu gerbang.


"Memangnya ada acara apa di rumah bu Rahma?" tanya Nadia.


"Kan mau nikahin Sinta. Memangnya enggak tau?" Ibu-ibu yang tahunya Nadia adalah pacarnya Surya malah bingung.


"Oh. Enggak, Bu. Besok aja," jawab Nadia. Dia malas kalau malah banyak pertanyaan lagi.


Ibu-ibu itu mengangguk, lalu pergi begitu saja. Nadia kembali tersenyum lega.


Setelah selesai makan, Nadia masuk ke dalam rumah.


"Ma. Katanya Sinta mau nikah, ya?" tanya Nadia pada Susi yang sedang menonton televisi.


"Iya. Minggu depan. Kita diundang juga. Kenapa?" Susi bertanya dengan kesal.


Gara-gara Nadia, hubungannya dengan Rahma agak renggang. Rahma pun memberikan undangan pada Susi lewat tetangga yang disuruh menyebarkannya.

__ADS_1


Padahal mestinya Rahma datang sendiri ke rumah Susi dan basa basi memintanya membantu.


Susi mengambil undangan pernikahan Sinta yang ditaruhnya di bawah meja.


"Nih." Susi memberikan undangannya pada Nadia.


Nadia membuka dan membacanya. Sinta mau menikah dengan Yogi. Satu minggu lagi.


"Memangnya Sinta enggak kasih kamu undangan?" tanya Susi.


Nadia menggeleng.


Hhmm!


Susi menghela nafasnya dengan kasar. Bahkan Sinta pun seperti menjauhi Nadia. Batin Susi.


Ya, pasti keluarga Surya bete dengan sikap Nadia yang angin-anginan.


"Mama mau nanya sama kamu. Apa rencana kamu selanjutnya?" tanya Susi.


Nadia meletakan undangan di atas meja.


"Maksud Mama?" Nadia malah balik bertanya.


"Udah seminggu ini kamu enggak masuk kuliah. Padahal sebentar lagi kamu mau KKN. Di rumah kerjaannya tiduran sama makan aja. Mau gendutin badan doang?" tanya Susi dengan kesal.


"Memanjakan diri, Ma," jawab Nadia dengan enteng.


Nadia tak peduli meski badannya bakal jadi gendut. Toh, sekarang ini badannya boleh dibilang terlalu kurus.


"Mau sampai kapan?" tanya Susi lagi.


"Terus KKN kamu gimana?" tanya Susi.


"Kapan-kapan deh, Ma. Kalau Nadia ke kampus. Pasti bakal Nadia urus," jawab Nadia.


Lalu Nadia naik ke kamarnya.


Saat ini Nadia benar-benar lagi tak mau diganggu dengan pikiran-pikiran yang memberatkannya. Nadia ingin relaks dan melupakan kejadian yang membuatnya trauma.


Malam semakin larut. Haris yang lembur, baru pulang dari kantor.


"Papa mau makan?" tanya Susi. Dia sudah menyiapkan makan malam buat Haris.


"Boleh deh, Ma. Tapi Papa mandi dulu, ya." Haris masuk ke dalam kamarnya.


Susi memanaskan lauk yang sudah dingin. Mbok Nah ikut membantu, biar cepet. Karena biasanya kalau mandi malam, Haris tak terlalu lama.


Dan benar saja. Baru juga selesai memanaskan, Haris sudah datang ke ruang makan.


Susi melayani Haris, seperti biasanya.


"Nadia mana?" tanya Haris.


"Ada di atas. Anak itu makin hari makin malas aja. Enggak mau berangkat kuliah. Di rumah cuma tiduran. Makan. Mau jadi apa dia?" jawab Susi.


Susi mengeluhkan kelakuan aneh Nadia yang tak seperti biasanya.

__ADS_1


Dulu Nadia hampir jarang makan. Kalau tidak cocok dengan seleranya, Nadia akan menolak untuk makan.


Tapi sekarang, apa saja dimakannya. Bahkan porsinya lebih banyak dari biasanya.


"Mungkin karena iseng, Ma. Jadi bawaannya makan terus. Baguslah, biar badannya berisi. Enggak kerempeng," sahut Haris.


"Iya. Tapi malas gerak. Tiduran mulu. Nonton tivi aja, tau-tau merem. Takutnya malah dia kena penyakit, Pa. Apa kita bawa ke dokter aja, ya?" tanya Susi.


"Mama jangan berlebihan, ah. Masa begitu aja dibawa ke dokter. Terus kalau dokternya nanya, apa yang dirasakan, Mama mau jawab apa?" Haris balik bertanya.


"Jawab aja anak ini berubah aneh!" jawab Susi dengan kesal.


"Kalau begitu, bawanya ke psikiater. Tapi nanti dikira Nadia kita menganggapnya kurang waras. Udah, ah. Biarin aja. Mama enggak usah terlalu mikirin Nadia. Dia udah gede, Ma," sahut Haris.


Susi pun hanya menghela nafasnya.


Serba salah memang. Tapi Susi tetap saja tak bisa tenang.


Tak lama, Nadia turun dan ikut bergabung di meja makan.


"Mbok Nah...!" teriak Nadia setelah duduk di kursi makan.


"Iya, Non...!" Mbok Nah menjawab dari dapur dan lari tergopoh-gopoh menghampiri Nadia.


"Ambilin piring dong. Aku mau makan," pinta Nadia.


Susi dan Haris berpandang-pandangan.


"Iya, Non," sahut mbok Nah.


"Kamu kan bisa ambil sendiri, Nad. Masa piring aja minta diambilin," ucap Susi.


"Males, Ma. Lagian biasanya di meja juga udah ada piring," sahut Nadia.


"Kan ini udah malam. Lagian kamu tadi juga udah makan," ucap Susi.


"Ini, Non." Mbok Nah meletakan piring dan sendok di meja depan Nadia.


"Mau diambiln makanannya juga?" tanya mbok Nah.


Mbok Nah yang sudah bertahun-tahun bekerja di keluarga Nadia, sangat menyayangi anak majikannya ini yang kadang manja padanya.


"Jangan, Mbok. Biar dia ambil sendiri. Udah, mbok Nah balik ke belakang lagi!" hardik Susi.


"Iya, Bu." Mbok Nah pun kembali ke dapur.


Nadia cemberut mendengarnya.


"Cuma ngambilin makan aja enggak boleh," gerutu Nadia.


"Sstt." Haris menatap tajam wajah Nadia. Dia tak suka kalau Nadia menggerutui Susi.


Nadia pun diam. Lalu mengambil makanan sendiri.


Susi dan Haris saling berpandangan, melihat piring Nadia penuh dengan makanan.


"Busyet. Itu mah, porsi kuli!" komentar Susi sambil geleng-geleng kepala.

__ADS_1


Nadia cuma nyengir saja.


__ADS_2