
Haris yang baru saja datang, langsung mengambil kursi di sebelah Susi.
"Liatin siapa, Ma?" tanya Haris.
"Tuh." Susi menunjuk kedua pasangan romantis yang sedang asik selfi.
"Nadia. Surya," gumam Haris sambil tersenyum.
"Romantis kan, Pa?" Susi meminta pendapat suaminya.
"Sangat romantis. Persis kayak kita waktu pacaran dulu," sahut Haris.
Susi mengernyitkan dahi. Pasalnya, saat pacaran dengan Haris dulu, mereka nyaris tak pernah bertemu. Haris tinggal nun jauh di tanah Sumatera.
Hubungan jarak jauh mereka jalani selama setahun. Sampai akhirnya Haris dan keluarganya datang melamarnya. Dan mereka memutuskan untuk tinggal di pulau Jawa. Karena orang tua Susi tak mengijinkan anaknya dibawa pergi jauh.
"Memangnya Papa pacaran sama siapa yang romantis kayak gitu?" tanya Susi.
"Ya sama Mama lah," jawab Haris. Karena semasa mudanya, dia belum pernah berpacaran sama sekali selain dengan Susi.
"Perasaan kita pacaran jarak jauh deh, Pa," ucap Susi.
"Eh, iya ya. Mm....maksud Papa, romantisnya sama. Cuma kita romantisnya lewat tulisan di kertas surat. Bener kan, Ma?" sahut Haris ketakutan. Jangan sampai istrinya yang super bawel ini mengeluarkan teriakannya. Bisa porak poranda seisi restauran.
"Hhmm.... Bilang aja dulu Papa pernah pacaran sebelum sama Mama." Susi mencibir ke arah Haris.
"Enggak, Ma. Beneran. Mama kan udah pernah nanya sama almarhumah ibuku." Haris mencoba meyakinkan Susi.
"Memangnya kalau pacaran mesti bilang sama ibu?" Susi masih saja menyerang.
"Bilanglah. Kalau enggak bilang, enggak bakalan mereka sampai ke sini dan melamar Mama."
Dan mereka terus saja memperdebatkan hal yang remeh temeh. Hingga tak menyadari kalau Nadia dan Surya sudah ada di hadapan mereka.
"Ini mau dinner apa mau berantem?" tanya Nadia.
Reflek keduanya diam. Lalu tertawa bersama. Dan saling toast. Begitulah kerukunan kedua orang tua Nadia, setelah berdebat panjang lebar, mereka akan dengan mudah berbaikan lagi.
Nadia hanya mengangkat bahunya. Enggak di rumah enggak di luaran, kelakuan mereka masih saja kayak anak kecil.
Surya pun hanya tersenyum. Ada rasa iri melihat keromantisan papa dan mamanya Nadia. Andai saja Nadia bisa bersikap romantis padanya.
Surya membuang nafasnya dengan kasar. Hati Nadia bagai batu yang sulit sekali untuk ditembus. Tubuhnya ada di sini, di dekatnya. Tapi hatinya terus melaju bersama perahu kertasnya.
Surya kembali teringat pada benda kecil yang menurutnya sangat tak ada gunanya itu. Salah satu hal konyol yang dilakukan Nadia, mengirimkan curahan hatinya lewat perahu kertas.
Sangat tidak masuk akal. Logikanya tuh di mana. Kertas pasti akan hancur terkena air.
"Sur, apa kabarnya perahu kertasku, ya?" Tiba-tiba Nadia menanyakan benda yang bagi Surya sangat menyebalkan itu.
Hhh....kenapa pikirannya sama denganku, ya? Apa ini yang dinamakan jodoh? Harap Surya dalam hati.
__ADS_1
Surya yang malas menanggapi, hanya mengangkat bahunya saja.
"Udah, ayo mulai pesan makanan." Haris yang kelihatannya sudah sangat lapar, melambaikan tangannya pada seorang pramusaji.
"Jadi dari tadi Mama sama Papa belum pesan makanan?" Matanya menatap kedua orang tuanya.
Dan mereka kompak menggeleng. Nadia menepuk jidatnya.
"Jangan keras-keras nepuknya. Entar retak." Surya meraih tangan Nadia yang masih menempel di dahi.
"Iih, apaan sih!" Nadia langsung menarik tangannya.
"Kamu pikir keningku ini mangkok beling yang gampang pecah?" Nadia melengos.
Surya yang sudah biasa dengan kelakuan Nadia, mengacak rambut Nadia dari belakang.
"Surya....! Rambutku berantakan, tau!" teriak Nadia.
Si pramusaji yang sedang mencatat pesananpun langsung mundur saking kagetnya.
"Pelankan suaramu, Nad. Entar orang yang makan pada keselek!" ucap Haris.
Kalau dia sih sudah terbiasa. Apalagi kalau Susi yang teriak, seisi rumah seperti ikut bergetar.
"Iya, Pa. Habisnya Surya ini usil. Kan rambut Nadia jadi berantakan," sahut Nadia. Lalu menatap Surya sebentar dan kembali melengos.
Kalau lagi enggak di restauran, Surya pasti sudah menarik kepala Nadia dan mengacak-acak rambutnya.
Setelah mereka pesan makanan dan satu persatu pesanannya datang, dengan sikap kekanankan, Nadia berebut makanan dengan Surya.
Kalau sudah seperti ini, Surya melupakan hatinya yang selalu berharap pada Nadia. Mereka makan sambil terus bercanda.
"Sudah bercandanya. Makan dulu. Nanti pada keselek!" ucap Haris. Meskipun dia menyukai keakraban mereka.
"Surya tuh, Pa." Seperti biasanya, Nadia selalu menyalahkan Surya.
"Kamu, tuh!" sahut Surya tak mau kalah.
"Udah, ah. Malu dilihat orang. Udah gede-gede kok rebutan makanan," ucap Susi.
"Iya, Tan." Surya mulai serius makan.
Tapi dasarnya Nadia suka iseng tapi marah kalau diisengi balik, dia menjauhkan piring Surya saat yang punya piring sedang minum.
"Usil, ih kamu!" Surya menyenggol lengan Nadia. Karena terlalu kencang, sendok yang dipegang Nadia terlepas dan jatuh di lantai.
"Surya....!" Lengkingan Nadia mulai terdengar lagi.
"Oh, maaf." Surya langsung berdiri dan mengambil sendok yang jatuh.
"Kotor kan!" Nadia masih saja berteriak. Lalu Surya memberikan sendoknya untuk ganti.
__ADS_1
Haris sampai menepuk jidatnya. Susah memberitahukan kedua anak ini. Satunya anteng, satu lagi usil.
"Udah biarin aja, Pa. Besok-besok kalau ngajak mereka, kita cari meja sendiri aja," bisik Susi.
"Ih, Mama jahat!" seru Nadia.
"Habis kamunya malu-maluin," sahut Susi.
"Sur...." Belum sempat Nadia meneruskan, Haris langsung memotong.
"Surya lagi. Kebiasaan menyalahkan orang lain. Enggak baik!"
Surya menjulurkan lidahnya. Bangga karena dibela oleh Haris. Nadia langsung cemberut.
"Nih. Kita gantian pake sendoknya." Nadia memberikan sendok yang baru saja dipakainya.
"Tinggal minta lagi aja, kok ribet sih kalian." Susi merasa gemas.
Nadia hanya nyengir. Lalu tanpa disuruh, Surya berdiri dan memanggil pramusaji.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya pramusaji yang tadi dengan hormat.
"Saya minta sendok baru, Mbak. Yang ini jatuh. Kotor," sahut Surya.
"Baik." Si pramusaji langsung mengambilkan sendok baru.
"Nah, gitu kan gampang." Haris kembali melanjutkan makannya.
Setelah mendapatkan sendok baru, Nadia menukarnya dengan sendok bekasnya.
"Nih! Kamu pake yang bekasmu sendiri!"
Surya melirik gemas.
"Kalian ini udah kaya Tom and Jerry. Berantem terus. Tapi kalau yang satu enggak ada, dicariin. Udah kayak anak ayam kehilangan induknya," ucap Susi.
"Enggak seru Ma, kalau enggak ada Surya. Enggak ada yang bisa diajak berantem. Kak Yudi enggak pernah pulang," sahut Nadia.
"Pulang juga kamu ajak berantem terus," sahut Susi.
"Dasar preman. Hobinya berantem," komentar Surya.
"Enak aja!" Nadia menginjak kaki Surya dengan keras. Untungnya kaki Surya terlindungi sepatu sneakers.
"Sepatuku baru! Main injek aja. Entar aku suruh nyuciin tau rasa kamu!"
"Ogah!" sahut Nadia.
Susi melotot ke arah Nadia yang super usil. Surya kembali tersenyum penuh kemenangan.
Nadia bisa dipastikan, langsung manyun.
__ADS_1