
Susi mengelus dadanya. Susah sekali membuat anak gadisnya jatuh cinta. Padahal di depannya sudah ada lelaki yang nyaris sempurna.
"Mau cari yang kayak apa lagi sih, itu anak?" gumam Susi sendirian.
Susi tak pernah kepikiran tentang sahabat Nadia yang bernama Dewa. Meskipun dia cukup mengenalnya. Tapi yang Susi tahu, Dewa sudah pindah ke luar kota dan tak pernah memberikan kabar apapun pada Nadia juga Surya.
Ponsel Susi berdering. Rupanya Rahma yang menelponnya. Orang yang digadang-gadang akan menjadi besannya.
"Ya hallo, Jeng Rahma...." sapa Susi duluan.
Ternyata Rahma mengatakan akan jalan-jalan ke Malioboro sekalian akan mencari batik. Dan dia menawari Susi.
"Enggak usah repot-repot, Jeng," sahut Susi. Meski dia sangat senang karena Rahma begitu perhatian padanya.
Rahma tetap memaksa, sampai akhirnya Susi mengiyakan saja. Dalam hati Susi berfikir, kalau ujung-ujungnya maksa, ngapain tadi nawarin?
Susi hanya mengedikan bahunya sambil tersenyum memikirkan sikap calon besannya, setelah Rahma menutup telponnya.
"Ayo, anak-anak. Siap-siap jalan. Biar enggak kemaleman,!" Rahma sudah meneriaki kedua anaknya yang masih bermalas-malasan.
"Surya enggak ikut, Ma. Masih capek," tolak Surya.
"Eh, kamu harus ikut. Mama mau sekalian nyariin batik buat mamanya Nadia. Masa kamu enggak mau bantuin milih?" Rahma mengiming-ngimingi, biar Surya mau ikut.
"Memangnya Mama yakin, tante Susi mau?" tanya Surya meragukan. Pasalnya dia kemarin sempat menawari, dan Susi menolaknya.
"Mau. Tenang aja. Mama barusan telpon orangnya. Kamu enggak sekalian telpon Nadia? Siapa tau dia juga mau," sahut Rahma.
"Kak Nadia kan kemarin udah Sinta paketin pesanannya. Eh, pesanannya kak Surya." Sinta yang menyahutnya.
"Memangnya kamu paketin apa aja, Sin?" tanya Rahma. Saat Sinta mengirimkan paketnya, Rahma sedang berada di rumah sepupunya.
"Banyak. Ada tas selempang, kaos sama makanan khas sini," jawab Sinta.
"Kok kaos, sih? Nadia kan sudah dewasa. Nanti biar Mama cariin rok yang bagus, deh," sahut Rahma. Dia sangat perhatian pada Nadia. Dan menginginkan Nadia berpenampilan lebih feminin.
"Kak Surya yang minta, kok. Sinta kan cuma beliin. Itu aja uangnya belum diganti," ucap Sinta tak mau disalahkan.
"Iya, nanti Kakak ganti. Kalau udah gajian," sahut Surya.
Sinta mengernyitkan dahinya.
"Emang Kakak udah kerja?" tanya Sinta penasaran. Setahunya, kerjaan Surya sama sepertinya. Hanya kuliah dan bermalas-malasan.
Hanya satu yang membedakan. Surya paling rajin antar jemput Nadia. Sementara adiknya sendiri diabaikan.
__ADS_1
"Belum," jawab Surya jujur.
"Lha terus siapa yang menggaji?" tanya Sinta yang belum paham.
"Papa. Kan tiap bulan ngisiin rekening Kakak. Itu juga namanya gaji, toh?" Surya tertawa terbahak-bahak.
Sinta memanyunkan bibirnya. Kalau itu sih, dia juga dikasih setiap bulannya.
"Udah sana siap-siap." Rahma langsung masuk ke kamarnya. Dan itu tandanya tak ada yang bisa menolak.
Dengan malas, dua kakak beradik itu beranjak dan segera bersiap.
"Iih, Kakak ngapain masuk ke kamarku?" Sinta mendorong tubuh Surya.
"Tasku kan di dalam situ, bawel," sahut Surya.
Sinta masuk dan mengambilkan tas Surya. Jangan sampai dengan alasan malas mengambil terus ganti baju di kamarnya.
Surya langsung merebut tasnya dengan kesal. Memang dia lagi malas di kamar yang biasa dia gunakan. Rasanya sepi dan juga sedikit pengap. Jendelanya jarang dibuka karena sering macet.
Berbeda dengan kamar lainnya. Eyang selalu membuka jendela-jendelanya. Hingga udaranya lebih segar.
Dan sekarang, terpaksa Surya masuk ke kamar itu. Benar saja, bau pengap langsung menyergapnya. Surya menutup hidungnya dan tetap berusaha masuk.
Tapi ternyata nafasnya tidak kuat. Dia tak tahan dengan baunya. Sambil terbatuk-batuk, Surya keluar dari kamar itu.
"Kamarnya bau banget, Eyang," jawab Surya sambil batuk-batuk.
"Iya, memang jarang dibersihkan. Jendelanya macet, jadi ndak ada sirkulasi udara," sahut eyang putri.
"Samin belum membetulkannya toh, Bu?" Eyang kakung yang mendengar ikut nimbrung.
"Belum sempat, Pak. Dia kan kerjaannya banyak sekali, toh," sahut eyang putri.
"Ya sudah, kamu campur sama Sinta saja. Sinta...! Sinta...!" Eyang putri mengetuk pintu kamar Sinta.
"Iya, Eyang," sahut Sinta sambil membuka pintu.
"Kakakmu biar satu kamar sama kamu. Kasihan dia batuk-batuk."
Tanpa menunggu persetujuan Sinta, Surya langsung nyelonong masuk.
Sinta pun langsung cemberut. Tapi dia juga ikut masuk tanpa menutup pintunya lagi.
"Lagian ngapain sih, Kakak. Pakai akting batuk-batuk segala." Sinta masih saja menggerutu.
__ADS_1
"Siapa yang akting? Coba kamu yang ke sana sendiri. Kakak bayar hutang yang kemarin dua kali lipat kalau betah," sahut Surya.
Sinta mengacuhkan. Lalu keluar dari kamarnya, karena dia sudah siap.
Bagi Sinta, kalau cuma jalan-jalan ke Malioboro tak perlu dandan berlebihan. Cukup pakai kaos oblong, celana pendek dan topi.Tak lupa tas selempang juga kaca mata hitam biar trendi.
Sampai di ruang tamu, belum ada siapapun. Sinta berdecak sebal. Tadi saja, diburu-buru. Giliran dia sudah rapi, yang lainnya masih belum keluar dari kamar.
Tak lama, Surya pun selesai. Dia cuma mengenakan celana jeans, kaos oblong dan topi. Juga kaca mata hitam tentunya.
"Mana mama sama papa?" tanya Surya. Dia langsung duduk di sebelah Sinta.
"Enggak tau. Dari tadi enggak keluar-keluar. Nyuruh cepet-cepet malah...."
Belum sempat Sinta melanjutkan kalimatnya, Rahma dan Toni keluar dari kamarnya. Mereka sudah rapi dan siap berangkat.
"Tumben kalian sudah siap?" komentar Rahma.
Sinta langsung merengut.
"Kenapa, anak Mama kok merengut?" tanya Rahma.
"Kita udah siap dari tadi, Ma," jawab Sinta.
"Baguslah. Ayo kita berangkat. Tadi Mama udah pamit sama eyang, kita langsung berangkat saja. Mereka lagi istirahat," ajak Rahma.
Mereka pergi naik mobil eyang kakung. Meski hanya mobil tua, tapi lumayanlah. Tidak perlu naik kendaraan umum.
Surya kebagian tugas menyetir mobil. Sinta duduk di depan menemaninya. Sedang mama dan papanya duduk di jok belakang.
"Biar tua, mobil eyang masih enak dibawanya ya, Pa," komentar Surya.
"Kan eyang rajin merawatnya. Bersih juga," sahut Toni.
Eyang kakung selalu membersihkan mobil tuanya setiap pagi. Sampai catnya pun masih kinclong. Tak kalah dengan mobil mewah.
Rahma bukan dari keluarga kaya raya. Kedua orang tuanya hanya mengandalkan hasil panen sawah yang lumayan luas di area pedesaan.
Kedua orang tuanya tak pernah merepotkan Rahma dan Guntur, kakaknya. Bahkan dulu saat kehidupan Rahma dan Toni masih pas-pasan, sering membantunya.
Mobil melewati jalanan kota Jogja menuju ke jalan Malioboro tujuan mereka. Surya masih hafal kalau hanya ke jalan Malioboro.
Setelah mendapatkan tempat parkir, Rahma berjalan mendahului mereka. Dan bagai anak ayam yang mengikuti induknya, mereka menurut saja kemana Rahma berjalan.
Suasana akrab dan familiar sangat merekat sepanjang jalan. Para pedagang menjajakan dagangannya dengan ramah. Hingga mereka tak memikirkan kalau mereka sudah berjalan cukup jauh dari tempat parkiran.
__ADS_1
Lalu lalang orang berbelanja pernak pernik khas Jogja membuat Sinta pun tak mau kalah. Dan kali ini, giliran Surya yang membayarnya. Sebagai ganti uang Sinta yang dipakai buat membelikan tas dan kaosnya Nadia.