
Yogi dan keluarganya kembali ke hotel. Mak Yati masih mau tidur di rumahnya sendiri.
Keluarga Yogi menginap di hotel, karena rumah mak Yati tak ada kamar kosong yang bisa ditempati.
Rumah mak Yati ditempati adiknya beserta suami dan anaknya.
Mak Yati sendiri sejak bercerai dengan suaminya, memilih merantau ke kota lain dan menjanda hingga sekarang.
Dia tak punya anak sama sekali. Makanya dia sangat sayang pada Yogi. Dan dianggapnya seperti anak sendiri.
Hingga kedua orang tua Yogi pun mempercayakan mak Yati untuk merawat Yogi sejak masih bayi.
Di kamar hotel, Yogi tak bisa tidur. Dia memilih keluar lagi. Duduk sendirian di rooftop hotel. Menikmati malam terakhirnya di kota pesisir.
Angin berhembus cukup kencang, tapi tak membuat Yogi buru-buru masuk.
Pikirannya malah kembali pada Viona. Begitu mudahnya Viona menjatuhkan hatinya pada Putra, yang pasti akan meninggalkan Viona lagi untuk berlayar.
Belum lama dia mengejar Surya. Dan semudah itu berpindah pada lelaki lain.
Atau Putra punya kelebihan yang membuat Viona jatuh hati? Sedangkan dirinya saja dulu ditolak.
Ah, mungkin aku bukan type Viona. Atau aku kurang keras memperjuangkannya?
Sudahlah, aku akan mencoba menjalin hubungan dengan Sinta. Tapi nanti, setelah Surya mendapatkan pasangan. Aku kasihan lihat dia menjomblo.
Yogi menghisap rokoknya sambil membuka ponsel. Tak ada pesan apapun dari Surya. Kelihatannya dia sangat sibuk, hingga melupakan Yogi.
Tapi ada banyak pesan dari Sinta. Sebenarnya Yogi sudah tahu dari tadi sejak di pelabuhan. Tapi Yogi tidak enak kalau dia membukanya, sementara mereka lagi bersenang-senang.
Yogi membalas pesan Sinta. Dia bilang kalau besok mereka sudah akan kembali.
Tapi sayang, pesannya tak dibaca. Sinta juga terakhir online setengah jam yang lalu.
Mungkin Sinta sudah tidur. Begitu pikir Yogi. Lalu dia menutup ponselnya. Dan kembali menikmati semilir angin di rooftop.
Keesokan harinya, mereka pulang pagi-pagi. Sebelumnya mereka menjemput mak Yati dulu di rumahnya.
Banyak sekali oleh-oleh yang dibawakan oleh adiknya mak Yati. Yang pasti, ikan asin dan terasi. Membuat mobil mereka jadi bau pantai.
"Kok banyak banget oleh-olehnya, Mak?" tanya Viona di jalan.
Dia duduk di jok tengah bareng mak Yati. Yogi yang membawa mobil ditemani Arya.
__ADS_1
"Iya. Enggak apa-apa, Bu. Katanya biar bisa buat persediaan. Den Yogi kan juga suka makan ikan asin," jawab mak Yati.
Novia tertawa terpingkal-pingkal.
"Kok Mama ketawa sih?" tanya Yogi.
"Habisnya kamu itu lucu. Orang-orang makannya steak, kamu malah makannya ikan asin," jawab Novia.
"Enak tau, Ma. Apalagi pake sambal terasi. Mantap!" sahut Yogi.
"Haduh....! Anak Mama ini seleranya ndeso banget!" ucap Novia.
"Yang penting orangnya enggak ndeso kan, Ma!" Yogi menyahut dengan percaya diri.
Arya hanya senyum-senyum saja mendengarkan obrolan istri dan anaknya.
Sampai di rumahnya, sudah hampir sore. Karena tadi mereka juga berhenti di rest area cukup lama.
Apalagi kalau bukan nungguin Yogi merokok. Novia juga tak mau cuma nungguin saja. Dia berkeliling kawasan rest area yang luas, ditemani mak Yati.
Novia mau cari oleh-oleh buat keluarga Surya. Juga cari makanan buat dibawa mereka stayvacation besok.
Meski Novia belum tahu, mereka mau pergi kemana.
"Apa rencana kamu setelah lulus kuliah, Yog?" tanya Arya. Dia menemani Yogi yang masih asik merokok, di rumah makan tempat mereka makan siang tadi.
"Ya jangan nganggur, dong. Buang-buang waktu itu namanya," jawab Arya.
"Yogi kan enggak ada yang dikejar juga, Pa. Jadi santai-santai dulu aja. Sambil nyari inspirasi," sahut Yogi asal.
"Inspirasi apa? Kayak penulis aja, pake nyari inspirasi," ucap Arya.
"Maksud Yogi, sambil berpikir, kira-kira mau ngapain nantinya," sahut Yogi.
"Yog. Kalau mau berpikir, ya sekarang ini. Sambil kuliah, sambil mikir nantinya mau ngapain," ucap Arya.
Yogi hanya diam sambil menghisap rokoknya.
"Kamu laki-laki, Yogi. Suatu saat kamu akan jadi tulang punggung keluargamu. Kamu enggak mau kan, kalau suatu saat menikah terus yang menafkahi malah istrimu?" tanya Arya.
"Ya enggaklah, Pa. Masa Yogi minta makan sama istri. Malu!" sahut Yogi.
"Makanya. Pikirkan sejak sekarang. Kamu bisa lihat Putra. Dia kayaknya seumuranmu juga. Tapi dia sudah bekerja keras. Di kapal," ucap Arya.
__ADS_1
Yogi ingat kembali pada sosok Putra. Laki-laki tegar dan pekerja keras.
"Kerja di kapal itu enggak segampang kelihatannya, lho. Mereka bukan cuma menggunakan otak, tapi juga otot," lanjut Arya.
"Iya, Pa. Sampai Putra lengannya berotot kayak popeye. Hehehe." Yogi terkekeh.
"Karena ototnya setiap hari dipakai buaf kerja keras. Dan katanya dia sudah dua tahun kerja di kapal, ya?" tanya Arya.
"Iya. Dan dia punya kontrak lima tahun dengan kapal tempatnya bekerja. Kasihan juga ya, Pa. Lima tahun harus berada di tengah laut," sahut Yogi.
"Tapi dia menikmatinya, kok. Kelihatannya enjoy juga," sahut Arya.
"Pa. Kalau Yogi kerja di kapal, boleh enggak?" tanya Yogi iseng.
Sengaja mau meledek Arya.
"Kalau Papa sih, boleh aja. Dimanapun kamu mau bekerja. Papa akan bantu. Tapi enggak tahu kalau mama kamu," jawab Arya.
Bagi Arya yang juga pekerja keras, bekerja tak selalu harus di darat.
Mau di laut, di udara, kalau memang mau, ya apa salahnya.
"Tapi apa Yogi kuat ya?" ucap Yogi.
"Nah, kamu aja malah meragukan kemampuanmu sendiri, kok. Yog, untuk kerja di kapal itu enggak tiba-tiba. Kamu daftar terus langsung diterima. Itu ada pendidikannya. Kalau kamu berminat, setelah lulus kuliah, bisa Papa ikutkan pendidikannya," tantang Arya.
Dia hanya ingin anak lelakinya tak menjadi anak yang lemah dan manja. Tapi jadi pribadi yang kuat.
Tak lama, Novia dan mak Yati kembali.
"Asik amat ngobrolnya. Ngomongin apaan, sih?" tanya Novia.
"Ini, anakmu katanya kepingin jadi pelaut kayak Putra, Ma," jawab Arya.
Yogi menepuk dahinya. Papanya malah mengadu pada mamanya. Bakal kena ceramah panjang kali lebar.
Karena bisa dipastikan Novia akan menolak mentah-mentah.
"Oh, ya? Kalau begitu, selesaikan dulu kuliahmu. Kalau udah, minta papamu membiayai pendidikan biar bisa kerja di kapal. Mungkin kamu nanti bisa punya jabatan lebih tinggi dari Putra di sana," sahut Novia.
Yogi malah melongo. Dia pikir, mamanya bakal menentang. Eh, ternyata malah mendukung.
"Nah, itu mama kamu sudah setuju. Nanti Papa carikan informasinya. Dan juga siapin dana. Karena buat ikut pendidikan itu, kabarnya enggak murah." Arya terlihat makin bersemangat.
__ADS_1
Yogi semakin melongo lagi.
Tadi dia cuma iseng-iseng aja ngomongnya. Kenapa malah ditanggapi serius?