
Setelah menghabiskan rokok ketiganya, Surya pulang. Yogi pun ikut pulang.
"Besok kita ada kuliah pagi. Lu berangkat enggak, Bro?" tanya Yogi di parkiran.
"Berangkatlah," jawab Surya.
"Oke. Sampe ketemu besok, ya." Yogi pergi duluan.
Hebat juga tuh anak. Jam segini masih di luaran, pagi-pagi udah sampai kampus. Batin Surya.
Dari Yogi, Surya banyak belajar. Belajar untuk jadi pribadi yang lebih kuat dan berani ambil keputusan.
Siap untuk menerima konsekuensi dari keputusan yang diambil. Bukan jadi seorang pecundang seperti dirinya.
Mengorbankan perasaannya sendiri karena takut akan kegagalan. Surya juga merasa dirinya sangat pengecut. Kalah sebelum berperang.
Ah, tidak! Aku tidak mau jadi pecundang. Aku harus berani. Apapun resiko yang bakal aku terima.
Surya melajukan motornya dengan perasaan lebih tenang. Dia malah berharap esok segera tiba dan dia mau menemui Nadia.
Sampai di halaman rumahnya, Surya melihat lampu ruang tamu masih menyala. Padahal biasanya sudah mati setelah jam sembilan malam.
Surya berpikir mamanya lupa mematikannya. Karena biasanya Rahma yang selalu mematikan lampu dan mengecek semua pintu rumah.
Ceklek!
Surya membuka pintu perlahan. Dia tak mau mengganggu keluarganya yang pastinya sudah tidur.
"Dari mana saja kamu, Surya?"
Surya terperanjat. Tak mengira ada yang menyambutnya.
"Mama...!"
Rahma masih pada posisi tiduran di sofa. Rupanya Rahma menunggu Surya pulang sampai ketiduran.
"Mama belum tidur?" tanya Surya.
"Mama nunggu kamu pulang. Dari mana aja kamu?"
Rahma bangkit dan berdiri.
Surya merasa bersalah karena mamanya menunggunya sampai ketiduran.
"Dari rumah Yogi, Ma," jawab Surya masih setia dengan kebohongan..
"Papamu bilang, kalau main ke rumah teman, jangan sampai larut. Kasihan keluarganya. Mereka kan juga butuh istirahat," ucap Rahma.
"Mm....Orang tuanya Yogi lagi ke luar kota kok, Ma." Surya terpaksa berbohong lagi.
Memang benar apa kata mamanya. Jam segini itu waktunya orang istirahat. Sangat tidak sopan masih di rumah orang.
"Ya udah. Sana masuk kamar. Terus tidur. Jangan lupa ganti baju kamu," perintah Rahma. Sudah seperti memberi perintah pada anak TK.
Surya menghela nafasnya. Lalu mengangguk, menurut seperti biasanya.
__ADS_1
Sifat Rahma yang over protektif pada anak-anaknya, yang menjadikan kedua anaknya jadi pribadi yang penurut.
Mereka selalu menuruti apapun perintah Rahma. Hingga tak memberi kesempatan bagi mereka untuk mengambil keputusan sendiri.
Surya masuk ke kamarnya. Dan otomatis melakukan apa yang diperintahkan Rahma. Karena sudah terbiasa seperti itu dari dulu.
Ma...Aku bukan anak kecil lagi. Yang harus selalu disetir, diperintah dan dilayani. Biarkan aku berkembang sendiri, melakukan apapun sendiri. Surya bermonolog dalam hati.
Malam semakin larut, dan Surya pun tertidur. Surya hampir tak pernah begadang. Apalagi hanya untuk sekedar nongkrong yang enggak penting.
Keesokan harinya.
Rahma sudah menyiapkan makan pagi untuk suami dan anak-anaknya. Dia terbiasa bangun pagi, dan dengan dibantu bik Siti yang sudah datang setelah subuh, Rahma menyiapkan makan pagi yang berkualitas.
Rahma tak pernah mengabaikan gizi buat keluarganya, seiring membaiknya perekonomian keluarganya.
Setelah siap dengan sarapan pagi yang sudah disusun rapi di atas meja makan, Rahma mulai memanggil satu persatu anggota keluarganya.
Dimulai dari suaminya. Dia akan membantu Toni bersiap berangkat ke kantor.
"Pa. Ayo siap-siap. Terus kita sarapan," ajak Rahma.
Toni yang sedang duduk di teras rumah sambil ngopi dan membaca berita online dari aplikasi di ponselnya, beranjak tanpa ada penolakan apapun.
Toni mengikuti Rahma yang berjalan ke kamar mereka.
Sampai di kamar, Rahma mencarikan pakaian kerja suaminya. Dia padu padankan sesuai mood-nya hari ini.
Toni membuka pakaiannya, dan Rahma membantu Toni memakainya. Merapikan kemejanya. Memasangkan dasi. Memperhatikan suaminya menyisir rambut, sambil sesekali mengomentari kalau kurang rapi.
Sementara Toni menuju ke ruang makan, Rahma mulai memanggil satu persatu anaknya.
Dimulai dari Sinta. Karena biasanya Sinta yang paling lama. Maklum saja anak gadis yang sudah mulai beranjak dewasa.
Belum lagi Sinta yang kurang teliti, kadang memerlukan bantuan Rahma untuk mengambilkan ini itu. Rahma membantunya tanpa mengeluh. Semua dilakukannya dengan ikhlas. Dia ingin anak gadisnya terlihat cantik, rapi dan wangi.
"Jangan pakai baju itu, Sinta. Hari ini kamu kuliah sampai sore. Nanti kamu berkeringat. Pakai yang agak longgar." Rahma mencarikan baju ganti di lemari Sinta.
"Ini udah jam berapa, Ma? Nanti Sinta terlambat," protes Sinta.
"Enggak akan terlambat kalau hanya untuk ganti baju. Nih, pakai yang ini." Rahma memberikan sebuah kemeja longgar yang dirasa lebih nyaman.
"Ayo Mama bantu. Cepetan dilepas kaosmu. Masa mau kuliah pakai kaos, sih? Enggak sopan. Apalagi terlalu ketat, nanti malah berkeringat," oceh Rahma.
Rahma membuka satu persatu kancing kemeja yang akan dipakai Sinta. Biar anaknya ini lebih mudah memakainya.
Padahal Sinta lagi pingin memamerkan bentuk tubuhnya.
Ya. Sinta lagi mencari perhatian Yogi. Biar Yogi bisa melihatnya yang punya bentuk tubuh tak terlalu kerempeng seperti Nadia.
Meskipun tak seseksi Viona. Tapi Sinta yakin, dia mampu membuat Yogi mau menatapnya berlama-lama.
Sekarang malah mamanya menyuruh ganti dengan kemeja longgar.
Dengan mulut mengerucut, Sinta melepas kaosnya. Dan Rahma membantu Sinta memakai kemeja. Membantu memasangkan kancingnya. Persis seperti anak TK yang lagi belajar memakai seragam.
__ADS_1
"Nah, begini kan lebih enak dilihatnya. Sampai sore enggak akan bau keringat." Rahma memperhatikan penampilan anak gadisnya yang menurutnya sudah oke.
"Udah. Ayo, papa udah nunggu di meja makan." Rahma keluar duluan.
Sinta meraih tasnya dan ikut juga keluar kamar. Sinta menuju ke ruang makan, sedangkan Rahma ke kamar Surya.
Ceklek!
Rahma membuka pintu kamar yang tidak dikunci.
"Ya ampun, Surya...! Kamu belum bangun?"
Rahma mengguncang bahu Surya.
"Surya, bangun! Kamu gimana sih? Kan ada kuliah jam pertama. Ini udah jam berapa?" Rahma sangat hafal jadwal kuliah anak-anaknya.
Rahma menarik bedcover yang masih menutupi sebagian badan Surya. Surya menggeliatkan badannya.
"Jam berapa ini, Ma?" Surya mulai mengerjap-ngerjapkan matanya.
"Jam setengah tujuh. Makanya jangan begadang. Begini akan akibatnya. Ayo buruan bangun, terus mandi!"
"Iya, Ma." Surya langsung bangun dan keluar dari kamarnya. Di kamar Surya tak ada kamar mandinya, jadi dia harus mandi di kamar mandi sebelah kamarnya.
Rahma merapikan tempat tidur Surya. Lalu membuka korden dan jendelanya. Tak lupa Rahma mematikan AC.
Rahma juga menyiapkan pakaian Surya. Memilih sesuai moodnya juga.
Setelah semuanya beres, Rahma ke depan kamar mandi.
"Jangan lama-lama mandinya, Sur! Nanti kamu terlambat!" seru Rahma.
"Iya, Ma!" sahut Surya.
Rahma ke ruang makan. Toni dan Sinta sudah menunggunya sambil memainkan ponsel masing-masing.
"Kok lama, Ma?" tanya Toni, lalu melihat jam tangannya.
"Surya ternyata belum bangun," jawab Rahma. Lalu mulai melayani suaminya makan.
"Kalian makan duluan aja. Kalau nunggu Surya, nanti terlambat semua," ucap Rahma.
Dia sendiri makannya menunggu Surya.
Tak lama, Surya datang dengan penampilan masih belum rapi.
Dengan sigap, Rahma mengambilkan makan untuk anak sulungnya ini.
"Kalau udah selesai makan, rapikan baju kamu, Surya," ucap Rahma.
"Iya, Ma." Surya mulai makan.
Mereka makan tanpa banyak bicara. Gara-gara Surya yang terlambat bangun.
Dan setelah selesai makan, satu persatu anggota keluarga Rahma pamit.
__ADS_1
Hhh. Akhirnya, selesai juga tugasku pagi ini. Rahma menghela nafas lega.