PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 179 ULTIMATUM UNTUK NADIA


__ADS_3

Setelah selesai berendam, Nadia keluar dari kamarnya. Perutnya terasa lapar.


Saat Nadia lagi asik makan, Susi menghampiri.


"Nad. Tadi ada yang nyariin kamu," ucap Susi. Lalu Susi duduk di depan Nadia.


"Siapa, Ma?" tanya Nadia menghentikan makannya.


"Katanya pacar kamu. Namanya Doni," jawab Susi.


Nadia tersentak dan langsung tersedak.


Uhuk.


Uhuk.


Lalu Nadia meraih gelasnya.


Susi menatap Nadia dengan heran.


"Beneran dia pacar kamu?" tanya Susi penasaran.


"Pacar dari hongkong!" jawab Nadia setelah selesai minum.


"Lah, kok dia bilang begitu?" Susi makin penasaran.


"Biarin ajalah. Suka-suka dia!" Nadia kembali makan.


"Anaknya ganteng juga." Susi berusaha memancing Nadia.


"Ganteng, tapi songong!" sahut Nadia.


Hhmm. Susi menghela nafasnya.


"Kayaknya anak orang kaya," ucap Susi.


"Yang kaya kan bapaknya. Dia tetep aja mahasiswa biasa. Dableg lagi!" sahut Nadia.


"Dableg gimana?" tanya Susi.


"Yang lain kuliah, dia mah nongkrong di kantin," jawab Nadia.


"Emang begitu rata-rata kalau merasa orang tuanya kaya. Suka seenaknya sendiri. Enggak pernah mikir kalau orang tuanya bisa kaya, karena rajin. Bukan dableg," ucap Susi.


"Nah, itu Mama tau. Yang kayak gitu kok mau jadi pacar Nadia. Hiiih...!" Nadia mengedikan bahunya.


Tadi memang Nadia mau jalan bareng Doni dari luar kampus sampai ke dalam kelas. Cuma sekedar untuk menemaninya jalan, daripada bete sendirian.


"Kamu harus pilih-pilih kalau berteman, Nad. Bukan soal kaya atau enggaknya, tapi kelakuannya." Susi menasehati Nadia.


"Iya. Nadia tau, Ma. Nadia juga enggak punya banyak teman kok di kampus."


Tiba-tiba wajah Nadia berubah sendu. Semua gara-gara Surya yang selalu membatasi pergaulannya.


Sekarang giliran Surya jalan sama Viona, Nadia jadi merasa sendirian.


Yogi juga ikutan menjauh darinya.

__ADS_1


Nadia tak mau menyadari kalau semua itu akibat sikapnya yang plin plan. Yang selalu mengecewakan dan menyakiti Surya.


Nadia tak merasa bersalah, karena Surya yang selalu mengejarnya. Padahal Surya tahu kalau dirinya masih mengharapkan Dewa kembali padanya.


"Kamu kok jadi menjauh dari Surya sih?" Susi kembali mengungkit soal Surya.


Karena Susi masih mengharap Nadia jadi dengan Surya. Bagi Susi, Surya itu lelaki yang sempurna.


Ganteng. Sopan. Pinter. Anak orang yang dikenal baik juga oleh Susi. Jadi Susi tak perlu khawatir melepaskan Nadia pada Surya.


"Ma. Please, deh. Jangan bahas tentang Surya lagi, ya?" pinta Nadia.


Susi kembali hanya menghela nafasnya.


"Ya udah. Terserah kamu deh. Mama cuma mau ngingetin ke kamu, kalau cari pacar, yang bertanggung jawab. Seperti Surya," ucap Susi.


Bertanggung jawab dan mau menikahiku?


Oh, No.


Aku hanya mau menikah dengan Dewa. Bukan Surya. Batin Nadia.


Nadia kembali dibutakan oleh cintanya. Oleh harapannya.


Padahal sudah jelas kalau Dewa lebih memilih Viona. Bukan dirinya.


Tapi Nadia malah merasa tertantang. Dia akan merebut kembali Dewa dari Viona, bagaimanapun caranya.


"Kapan kamu mulai KKN?" tanya Susi.


"Mungkin bulan depan. Atau bulan depannya lagi. Tapi yang pasti semester ini, Ma," jawab Nadia.


"Kira-kira kamu dapat di daerah mana ya, Nad?" tanya Susi dengan cemas.


"Belum tau kalau itu, Ma. Minggu ini Nadia mau ketemu dosen. Untuk memastikan dapat di mana," jawab Nadia.


"Sayang ya, kamu enggak satu fakultas sama Surya," gumam Susi.


Susi akan lebih tenang kalau saat KKN nanti, Nadia bersama Surya. Pasti Surya akan menjaganya dengan baik.


Hadeh...Surya lagi. Surya lagi.


"Ma. Bisa enggak sih, Mama move on dari Surya?" tanya Nadia dengan kesal.


"Enggak bisa," jawab Susi dengan jujur.


"Oke. Sekarang Nadia ceritain yang sebenarnya ya. Tapi Mama harus percaya sama Nadia. Dan janji bisa move on dari Surya," ucap Nadia.


Susi mengangguk.


Tapi dalam hati merasa ragu. Mau ngarang cerita apalagi ini anak?


"Surya itu sekarang jalan sama Viona. Padahal Viona itu kan ngomongnya udah jadian sama Dewa. Tapi nyatanya? Mereka malah jalan. Kan songong dua-duanya," cerita Nadia.


"Jalan gimana, maksudmu?" tanya Susi.


"Ya jalan. Pacaran. Semua temen di kampus juga tau. Terus, Nadia harus terus mengharapkan Surya?" Nadia balik bertanya.

__ADS_1


"Terus kamu mau mengharapkan siapa? Dewa? Sebentar...sebentar. Kamu belum cerita soal Dewa. Gimana ceritanya sampai Viona jadian sama Dewa?" Susi semakin kepo. Karena Nadia kalau cerita cuma sepotong-sepotong.


Akhirnya Nadia menceritakan semua kejadian saat dia kabur.


"Gila kamu, Nad. Kalau kamu sudah tau Viona jadian sama Dewa, ngapain kamu masih ngarepin?" Susi semakin tak mengerti dengan jalan pikiran Nadia.


"Ma. Viona itu berselingkuh dengan Surya!" sahut Nadia.


"Kamu yakin?" tanya Susi.


"Yakin seratus persen. Mereka itu bersingkuh. Mentang-mentang Dewa lagi berlayar," jawab Nadia.


"Kamu punya buktinya?" tanya Susi lagi. Susi tak mau Nadia cuma mengira-ngira saja.


"Tenang aja. Nadia lagi mengumpulkan bukti-bukti," jawab Nadia dengan percaya diri.


"Terus mau kamu apakan bukti-bukti itu?" Susi belum paham maksud Nadia.


"Ya nanti, Nadia kasihkan ke Dewa lah. Biar dia tau, gimana kelakuan Viona di belakangnya!" jawab Nadia dengan ketus.


"Nad. Jangan campuri urusan orang lain. Apalagi masalah begituan. Nanti kamu dianggap pelakor, gimana?" tanya Susi.


Batin Susi, kayak enggak ada laki-laki lain aja. Ngejar-ngejar pelaut. Yang bisa saja ceweknya banyak di mana-mana.


Karena Susi sendiri selalu berpikiran negatif pada mereka. Seperti cerita-cerita yang sering didengarnya.


"Ini bukan urusan orang lain, Ma. Ini urusan Nadia juga. Kan Dewa...." Nadia tak berani meneruskan kalimatnya. Karena bakal kena semprot Susi.


"Karena apa? Karena dia pacar kamu? Udah lewat, Nadia! Sekarang dia pacar Viona. Sahabat kamu sendiri! Kamu tega menyakiti hati Viona?"


Benar saja, Susi langsung menyemprot Nadia.


"Viona yang duluan menyakiti Nadia, Ma!" Nadia tak mau kalah.


"Viona enggak bermaksud begitu, Nadia. Itu karena Viona tak tahu siapa Dewa atau Putra, atau siapa lah namanya! Mama yakin itu!" ucap Susi dengan nada tinggi.


"Dan kalaupun Viona enggak pacaran sama Dewa, apa kamu yakin Dewa masih mau sama kamu?" Susi terus menyerang Nadia.


"Dengar Nadia. Kalau Dewa masih mencintai kamu, dia pasti bakal mencari kamu. Bukan menghilang begitu saja!"


"Ma...!" Nadia berusaha menghentikan ocehan Susi.


"Apa? Pokoknya, Mama enggak bakalan setuju dengan apa yang ada di otakmu! Hentikan Nadia! Hentikan pikiran ngaco kamu itu!" pinta Susi.


Nadia hanya bisa diam.


"Oke, kalau kamu udah enggak mau sama Surya. Mama coba untuk bisa move on. Tapi cari laki-laki lain. Bukan Dewa!" Susi mengultimatum Nadia.


Nadia menghela nafasnya yang terasa sesak.


"Kalau kamu minta Mama move on dari Surya, kamu juga harus bisa move on dari Dewa!"


Nadia menatap wajah Susi dengan tajam.


"Kalau kamu enggak bisa cari lelaki lain, Mama yang akan mencarikannya untuk kamu!" Susi langsung bangkit dan meninggalkan Nadia dengan kesal.


Nadia hanya bisa bengong. Dijodohkan? Emang jaman Siti Nurbaya?

__ADS_1


__ADS_2