PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 184 MENJILAT LUDAH SENDIRI


__ADS_3

"Lama amat ke toiletnya, Bro," tanya Yogi pada Surya.


"Iya. Sekalian liat live show!" jawab Surya.


"Oh ya? Memangnya ada live show, Kak?" tanya Sinta.


"Ada. Tadi aku lihat. Tapi sekarang udah bubar," jawab Surya.


Yogi langsung paham. Ini pasti live show dalam tanda kutip. Bukan live show seperti yang dipikirkan Sinta.


"Kok live shownya dibelakang? Bukannya di tempat makan? Apa di belakang sana masih ada ruangan lagi?" tanya Sinta.


"Udah. Dibohongin kamu sama Surya," ucap Yogi pelan.


Sinta langsung manyun mendengarnya.


Setelah acara makan selesai, Yogi meminta ijin keluar sebentar untuk merokok. Seperti kebiasaannya yang sudah dihafal semua orang.


Surya juga ikutan pamit sebentar. Rahma melotot ke arah Surya. Yang dipelototin cuma nyengir. Lalu pergi mengikuti Yogi.


"Biarkan saja, Rahma. Namanya juga anak muda. Nanti juga ada waktunya mereka berhenti," ucap Novia, melihat Rahma tadi melotot ke arah Surya.


Rahma menghela nafasnya.


"Paling juga merokok. Mungkin Toni dulu juga pernah merokok waktu mudanya?" tanya Novia.


"Dulu. Sekarang udah berhenti sama sekali," jawab Toni.


"Nah kan. Aku bilang juga apa? Ada saatnya bakal berhenti sendiri. Jadi biarin aja," sahut Novia.


Rahma terpaksa mengangguk.


Jujur Rahma kurang suka kalau anaknya merokok. Meskipun Surya laki-laki dan sudah dewasa juga.


Bagi Rahma, merokok itu tidak keren. Hanya membuat mulut jadi bau, bibir kering dan berwarna pekat. Belum lagi ancaman penyakit yang mengintai.


Tapi di saat seperti ini, Rahma tak bisa berbuat apa-apa. Malu juga sama calon besan kalau harus memarahi Surya yang telah dewasa, hanya masalah rokok.


Surya dan Yogi memilih tempat di teras samping restauran. Di sana memang disediakan area bebas merokok. Selain di halaman depan.


Mereka pun mulai menyalakan rokok yang dibawa Yogi. Seperti biasanya, Surya nebeng rokok Yogi.


Surya jarang membeli rokok sendiri. Karena dia bukanlah perokok sejati seperti Yogi. Hanya sesekali saja saat kepingin atau bete.


"Yog. Kamu lihat Nadia enggak?" tanya Surya.


"Liat. Dia sama kedua orang tuanya, kan?"

__ADS_1


Kebetulan tadi Yogi melihat saat Nadia dan kedua orang tuanya datang. Sinta juga melihatnya. Tapi karena mereka berdua menunduk, Nadia tak melihatnya.


"Kamu tau mereka lagi ketemuan sama siapa?" tanya Surya lagi.


"Kagaklah. Gue kan kebetulan duduknya membelakangi, kayaknya. Betul enggak?" Yogi tak lagi memperhatikan Nadia dan keluarganya.


"Iya. Mereka lagi ketemuan dengan Doni dan keluarganya," ucap Surya.


"Serius, lu?" tanya Yogi tak percaya.


"Aku juga enggak tau pasti sih, itu keluarganya Doni apa bukan. Aku lihat di sana ada Doni dan seorang bapak-bapak. Mungkin bapaknya Doni. Juga seorang wanita, yang menurutku bukan ibunya Doni," jawab Surya.


"Kenapa elu yakin begitu?" tanya Yogi.


"Dilihat dari wajahnya, wanita itu masih sangat muda kalau sebagai ibunya Doni. Jauhlah sama mama-mama kita. Meskipun kelihatannya di atas kita," jawab Surya.


"Ya kali dia operasi plastik, Bro. Orang tuanya Doni kan kaya raya," ucap Yogi.


Yogi sangat mengenal Doni. Dan setahu Yogi, Doni itu anak konglomerat kelas kakap.


Tapi kalau soal keluarganya, Yogi tidak tahu. Karena Yogi juga bukan emak-emak yang suka kepo urusan orang lain.


"Tadi pas aku ke toilet, aku sempat melihat Doni dan wanita itu masuk ke satu toilet yang sama. Setelah aku keluar dari toilet sebelah, enggak sengaja aku denger suara-suara aneh dari sana," cerita Surya sambil menghempaskan asap rokoknya.


"Terus?" Yogi jadi penasaran.


"Doni liat elu kagak?" tanya Yogi.


"Liat lah. Dia kaget liat aku. Ya...kamu taulah gimana sikap Doni ke aku. Dari dulu kan emang gitu," jawab Surya.


"Pasti ngeledekin elu, ya?" tebak Yogi.


Surya mengangguk, sambil tersenyum. Surya tak pernah peduli meskipun dari dulu Doni selalu meledekinya.


Bagi Surya, Doni bukan levelnya. Tak pantas bersaing dengan manusia bobrok seperti Doni.


"Tapi pastinya elu liat mereka keluar bersamaan, kan?" tanya Yogi.


"Iya. Wajah wanitanya udah kayak kepiting rebus. Merah padam," jawab Yogi.


"Jelas lah. Kalau Doni bisa dipastikan sok percaya diri. Gue kan sering liat live shownya juga sama cewek-cewek di kampus kita, Bro," ucap Yogi.


Dulu jaman Yogi masih sering nongkrong di cafe remang-remang, bukan sekali dua kali dia ketemu Doni.


Dan Doni selalu berganti wanita.


Sebenarnya sebelas dua belas dengan Yogi. Yogi pun selalu berganti gandengan.

__ADS_1


Cuma bedanya, Yogi tak pernah sampai ke kamar hotel atau mojok di cafe.


Yogi cuma mengajak mereka minum aja. Tak sampai mabuk, hingga Yogi bisa mengantar cewek-cewek bawaannya pulang kembali.


Kalau Doni, sudah bisa dipastikan bakal sampai ke kamar hotel. Atau kamar mandi cafe, seperti yang didengar Surya tadi.


"Ooh. Jadi Doni udah biasa begituan?" tanya Surya.


"Makanan sehari-hari. Eh, tapi ada urusan apa keluarga Nadia ketemu dengan keluarga Doni?" tanya Yogi.


Surya mengangkat bahunya.


"Tadi siang sih aku sempet liat mereka jalan bareng di kampus. Mungkin mereka udah jadian. Terus lamaran," jawab Surya.


Meski Surya ingin ikhlas, tapi jauh di lubuk hatinya masih terasa sakit.


"Udah. Ikhlasin aja, Bro. Toh, elu yang udah merawanin Nadia. Biarin aja Doni dapet bekasan elu. Hahaha." Yogi tertawa ngakak.


Surya kembali menghempaskan asap rokoknya ke udara.


"Elu tinggal nyari perawan lagi. Menang banyak deh. Hahaha." Yogi kembali tertawa.


Surya mendengus dengan kasar.


Yogi gampang saja ngomong. Karena dia tak menjalaninya. Tapi bagi Surya yang menjalani, dia hanya bisa bersembunyi di balik tawa.


Pura-pura bahagia.


Pura-pura move on, dengan jalan tiap hari bersama Viona.


Ya, meskipun Viona mampu membuat Surya sejenak melupakan Nadia.


Viona lah yang membuat Surya bisa cuek di depan Nadia.


"Eh, elu kayaknya makin deket aja ama Viona, Bro?" Yogi mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Seperti janjiku pada Dewa. Untuk menjaga Viona. Itu aja," sahut Surya.


"Gila tuh, si Dewa. Dulu dia janji ke Nadia, bakal menjemputnya suatu saat nanti. Dan Nadia mau aja nungguin. Sekarang elu yang setia juga menjaga gacoannya. Punya ilmu pelet apaan ya, si Dewa. Bisa bikin elu dan Nadia percaya ama dia?" ucap Yogi.


"Kalau aku sih, demi menghargai dia aja sebagai sahabat. Lagi pula, Viona ternyata bisa jadi temen yang baik buat aku," sahut Surya.


"Baru nyadar lu, kalau Viona baik?" goda Yogi.


Yogi tahu, bagaimana dulu Surya menolak Viona dan menilainya sebagai wanita yang hyper. Terlalu agresif. Sok bergaya.


Sekarang Surya seperti menjilat ludahnya sendiri. Dia baru menyadari kalau Viona tak seburuk penilaiannya.

__ADS_1


__ADS_2