
Yogi terpaku di tempatnya. Menatap kedua orang di depannya, yang tak lain kedua orang tuanya sendiri.
"Mama....Papa...." ucap Yogi.
Surya dan keluarganya pun terkejut melihatnya. Mereka tak mengira kalau Yogi adalah anak pengusaha sukses yang berpenampilan nyentrik.
Novia, mamanya Yogi mendekati anaknya dan mendekapnya penuh kerinduan.
"Kemana aja kamu, Yogi? Mama telpon enggak diangkat?" tanya Novia.
Yogi yang jarang membuka ponselnya saat di luaran, tak menyadari kalau ponselnya itu lowbath.
"Hape Yogi mati, Ma. Lupa ngechas," jawab Yogi.
Lalu Yogi pun menyalami Arya. Papanya.
"Hallo, Toni. Apa kabar?" sapa Arya. Dan mereka pun berpelukan penuh kerinduan sebagai sahabat lama.
Satu persatu mereka memperkenalkan diri.
"Lho, Sinta kok bajunya bisa samaan sama Yogi?" tanya Novia.
"Enggak sengaja, Tante," jawab Sinta dengan sopan.
"Sengaja juga enggak apa-apa," sahut Novia yang disambut senyuman oleh semuanya.
Sinta menunduk malu.
Tiba-tiba Novia melepaskan topi cowboy-nya, lalu memasangkan ke kepala Sinta.
"Wah, cantik sekali. Kamu mau memakainya?" tanya Novia.
Novia dan Arya yang menyukai bahkan sangat memuja tokoh cowboy, memiliki banyak koleksi barang-barang yang berhubungan dengan cowboy, termasuk topi kulit asli yang harganya tidak murah.
"Tapi ini kan punya Tante?" sahut Sinta.
"Kalau kamu mau, pakai aja. Tante masih punya banyak, kok. Apa mau pakai asesories lainnya? Besok main ke rumah Yogi. Di kamar Tante banyak asesories cowboy," sahut Novia.
Entah kenapa, Novia langsung jatuh hati pada Sinta. Padahal baru sekali bertemu dan belum tahu juga, ada hubungan apa antara Sinta dengan Yogi.
"Enggak usah repot-repot, Jeng. ini kan harganya pasti mahal," ucap Rahma.
Rahma melihat sekilas bahan kulit yang dipakai, bukan kulit murahan ataupun KW.
"Jangan panggil jeng, ah. Kayaknya kurang akrab. Panggil nama aja, gimana? Dan kayaknya kita seumuran kan?"
Novia tak begitu suka dengan formalitas. Apalagi dengan orang yang dikenalnya dengan baik. Meskipun dia baru dua kali ketemu Rahma, tapi rasanya seperti sudah sangat akrab.
"Oh, iya. Maaf, Novia." Rahma ragu-ragu dan kikuk menyebut nama Novia.
"Panggil aja Via. Atau Nov juga oke kok, Ma." Novia langsung memanggil nama Rahma dengan akhirannya saja.
__ADS_1
Toni dan Arya ngobrol sendiri. Mereka lagi asik bernostalgia. Sambil sesekali membahas soal pekerjaan.
"Kalau ini, Surya kuliah di mana?" tanya Novia.
"Surya ini yang temannya Yogi. Mereka satu kampus. Satu fakultas juga satu kelas," jawab Rahma.
"Oh, jadi ceritanya temenan sama kakaknya terus mendekati adiknya, gitu?" ledek Novia.
"Ih, Mama. Enggak gitu juga," sahut Yogi. Dia malu karena di situ ada Rahma.
"Iya juga enggak apa-apa. Bener enggak, Ma?" Novia seakan minta dukungan Rahma.
"Kalau aku sih, terserah anak-anaknya aja. Kalau mereka memang cocok, kita sebagai orang tua pasti mendukung," sahut Rahma.
"Betul itu. Lagian kalian kan juga masih harus selesaikan kuliah. Jadi, jalani aja dulu. Ayo kalian mau pesan apa? Kok malah keasikan ngobrol."
Novia menekan tombol untuk memanggil waitres.
"Nah. Ayo pesan makanan sama minumannya. Sinta, kamu pesan apa, Cantik?" tanya Novia yang membuat Sinta tersipu malu.
Lalu mereka sibuk memilih menu kesukaan masing-masing. Keseruan yang sangat dikagumi Novia.
Yogi seakan sudah menyatu dengan keluarga Surya.
"Kalau Surya, sudah punya pacar apa belum?" tanya Novia.
Surya terdiam, tapi tetap memperlihatkan senyumannya.
"Wah, pasti IPK-nya tinggi, ya?" komentar Novia.
"Calon cumlaude dia, Ma." Yogi yang menjawab lagi.
"Enggak, Tante. Biasa aja," sahut Surya merendah.
"Cari pacarnya nanti aja kalau sudah sukses. Pasti banyak cewek yang bakalan ngantri," ucap Novia.
Yogi menepuk jidatnya.
Surya terkekeh.
"Lho kenapa, Yog?" tanya Novia.
Rahma juga tidak paham maksud kedua anak itu.
"Enggak apa-apa, Ma. Cuma....kasihan aja kalau Surya kelamaan menjomblo," jawab Yogi berbohong.
Yogi sudah berjanji pada Surya kalau dia baru mau nembak Sinta, setelah Surya mendapatkan pasangan dan bahagia.
Sebuah janji yang mulia sebenarnya. Tapi harus rela mengorbankan perasaannya sendiri.
Waitres masuk dengan membawa pesanan mereka, satu persatu.
__ADS_1
"Nah. Ayo kita makan. Anakku ini, Ma, kalau kata mak Yati pengasuhnya, mau makan banyak kalau ada yang nemenin. Kalau enggak ada, ya kuat nahan laper dia," cerita Novia pada Rahma.
Ooh, pantesan kalau di rumahnya, Yogi makannya banyak. Batin Rahma.
"Wah, berarti mesti cepet-cepet cari pendamping dong," sahut Rahma.
"Kalau Sinta udah semester berapa, Cantik?" tanya Novia. Dia mengagumi kecantikan alami Sinta. Yang baginya sangat imut dan menggemaskan.
"Baru semester dua, Tante," jawab Sinta.
"Mau enggak kalau jadi temennya Yogi? Biar dia enggak kesepian?" bisik Novia pada Sinta yang duduk di sebelahnya.
Wajah Sinta langsung merah merona.
"Mama bisikin apa ke Sinta?" tanya Yogi yang melihat perubahan wajah Sinta.
"Rahasia dong. Jangan bilang-bilang Yogi, ya?"
Sinta mengangguk.
Ah, menggemaskan sekali anak ini. Pantas saja Yogi menyukainya. Tapi sayangnya masih terlalu muda. Kalau enggak? Udah aku nikahkan sama Yogi. Batin Novia.
Kadang Novia merasa kasihan pada Yogi. Dia jarang sekali ketemu anak satu-satunya itu. Sampai harus merelakan Yogi tumbuh besar di tangan pengasuhnya.
Tapi kesibukan Novia dan Arya, membuatnya harus mengikhlaskan. Tapi sebisa mungkin, Novia dan Arya pulang meski hanya sebulan sekali.
Mungkin itu juga yang menyebabkan Yogi tak punya prestasi akademik. Nilai-nilainya selalu pas-pasan. Itu juga kadang harus dengan campur tangan Novia dan Arya.
Karena keterbatasan pendidikan mak Yati. Dan juga karena mak Yati terlalu menyayangi Yogi. Jadi cenderung membebaskan Yogi bermain.
Novia harus mengeluarkan biaya membayar guru private. Untuk mengajari Yogi di rumah.
Tapi semua itu sudah resiko dari kesibukannya. Dan beruntungnya, Yogi tak menjadi anak nakal atau bermasalah. Bagi Novia itu sudah lebih dari cukup.
"Yog, di rooftop resto ini katanya instagramable. Kalian enggak pingin foto-foto di sana?" tanya Novia yang sempat melihat promo dari resto itu.
"Kesana, yuk," ajak Sinta.
Tentu saja Sinta sangat bersemangat. Karena dia nantinya bisa posting di akun medsosnya.
Lain halnya dengan Surya dan Yogi yang tak begitu suka bermain medsos.
Tapi demi menyenangkan Sinta, mereka mau juga ke sana.
Setelah anak-anak pergi, Novia pindah ke kursi dekat Rahma.
"Ma. Boleh enggak aku minta sesuatu padamu?" tanya Novia.
Rahma mengernyitkan dahinya. Tapi mengangguk juga. Karena tak enak kalau menolaknya.
"Aku minta Sinta untuk Yogi."
__ADS_1