
Sinta menatap wajah Yogi. Wajah Sinta yang tadi ceria, berganti mendung.
Yogi meraih tangan Sinta. Lalu menggenggamnya erat.
Yogi pun menatap mata Sinta dengan tajam. Dia ingin melihat, ada apa di mata itu.
Dan Yogi seperti mendapatkan jawaban. Dia melihat ada rasa cemburu di sana. Minimal rasa tak suka kalau dia ketemu dengan Viona.
"Aku ketemu Viona. Dan kami berjalan-jalan di pelabuhan. Masuk ke kapal pembawa barang dan menikmati malam di dalam kapal itu."
Sinta menarik tangannya. Berusaha melepaskan genggaman tangan Yogi. Tapi Yogi malah menggenggamnya semakin erat.
Sinta sangat kesal pada Yogi. Ingin rasanya dia menjerit bahkan menangis mendengarnya.
Sakit sekali hatinya.
"Lepasin!" ucap Sinta dengan ketus.
"Kenapa?" tanya Yogi tanpa rasa bersalah.
"Lepasin!" Suara Sinta makin keras.
Yogi malah tertawa. Dia semakin yakin kalau Sinta sedang cemburu.
Sinta makin kesal, karena Yogi malah menertawakannya.
"Cemburu ya?" ledek Yogi.
"Enggak!" sahut Sinta dengan ketus.
"Enggak kok manyun gitu wajahnya?" ledek Yogi lagi.
"Siapa yang cemburu? Biasa aja!"
Yogi kembali tertawa.
"Kalau enggak cemburu, senyum dong."
Sinta berusaha menenangkan hatinya yang sedang panas. Tapi senyuman tetap tak bisa dia berikan lagi pada Yogi.
Ternyata dia pergi ke sana untuk menemui Viona. Hhh! Sinta makin kesal aja.
"Nih, minum dulu. Manyun juga butuh tenaga lho." Yogi mengambil minuman Sinta dengan satu tangannya yang lain.
"Enggak! Aku bisa ambil sendiri!" tolak Sinta dengan nada masih ketus.
Lalu Sinta mengambil minumannya dengan tangannya yang lain. Dan tanpa sadar, Sinta meneguk minumannya sampai kandas.
Meski tenggorokannya terasa dingin, tapi hatinya masih saja panas.
"Nah, sekarang udah dingin kan tenggorokannya?"
Yogi menarik tangan Sinta. Lalu mengecupnya dengan lembut.
Sinta menahan rasa di dadanya yang seakan mau meledak.
"Aku memang ketemu Viona. Tapi....kamu tau dia sama siapa di sana?" tanya Yogi.
Sinta hanya diam saja. Dia tak mau menjawabnya meski hanya dengan gelengan kepala.
"Viona memperkenalkan pacarnya," ucap Yogi.
Sinta langsung menatap wajah Yogi.
Yogi mengangguk.
"Namanya Putra. Dia seorang pelaut. Dan kelihatannya mereka saling menyukai," ucap Yogi lagi.
Seer...! Rasa dingin mulai menyiram rasa panas di hati Sinta.
"Dan kapal yang kita naiki, adalah kapal tempat Putra bekerja. Putra lah yang mengajak aku, mama, papa dan mak Yati jalan-jalan di dalamnya," lanjut Yogi.
__ADS_1
Senyuman mulai menghiasi wajah Sinta.
"Udah kan, cemburunya?" tanya Yogi meledek Sinta.
"Iih, apaan sih? Siapa juga yang cemburu?" Sinta menunduk malu.
Cup!
Yogi mengecup pipi Sinta sekilas. Untung saja di cafe itu tak ada orang. Jadi tak ada yang melihatnya.
Sinta terjengit. Dia kembali menatap wajah Yogi.
"Terima kasih Sinta. Kamu sudah memberi jawaban padaku, kalau kamu...cinta padaku," ucap Yogi sambil meremas tangan Sinta.
Sinta tertunduk malu.
"Benar kan, kamu mencintaiku, Sinta?" tanya Yogi.
Sinta tak bisa menjawabnya. Karena dia juga tak tahu perasaan apa yang ada di dalam hatinya.
"Sinta. Lihat aku. Tatap mataku," pinta Yogi.
Sinta pun menurut. Dengan malu-malu dia menatap mata Yogi.
"Aku juga....mencintai kamu, Sinta."
Sinta tercekat. Benarkah apa yang aku dengar? Tanya Sinta dalam hatinya.
Sinta terus menatap mata Yogi. Berusaha mencari kebenaran di sana.
Yogi mengangguk.
"Aku serius, Sinta. Maukah kamu jadi kekasih hatiku?" tanya Yogi.
Dan tanpa ditanya dua kali, Sinta mengangguk.
Yogi menarik lagi tangan Sinta, lalu mengecupnya.
"Terima kasih, Sinta. Tapi soal ini jangan kasih tau siapapun dulu ya," ucap Yogi.
"Aku enggak mau Surya sampai tau. Kasihan dia. Kamu tau sendiri kan, bagaimana terlukanya dia?" tanya Yogi.
Sinta mengangguk, mengerti.
Karena mereka tak mengerti kalau sekarang Surya sedang sangat bahagia juga.
"Iya, Kak. Aku ngerti. Kakak enggak mau kan melihat kak Surya makin sedih kalau melihat kita udah jadian?"
"Mulai sekarang manggilnya jangan kakak, ah," protes Yogi.
"Terus apaan dong? Abang?" tanya Sinta.
"Emangnya aku abang tukang bakso mari mari sini?" sahut Yogi.
Sinta tertawa. Yogi memang selalu bisa membuat siapapun tertawa.
"Terus apaan? Mamang?" Sinta sengaja membalas meledek Yogi.
"Sinta...! Kamu pikir aku setua mamang-mamang? Panggil Aa. Oke?"
"Aa?"
Yogi mengangguk senang.
"Oke. Kalau ingat," sahut Sinta dengan santainya.
"Kamu mulai nakal, ya? Hhmm....!" Yogi menggelitik perut Sinta.
"Iih, Kakak geli!" Sinta berusaha menjauhkan tangan Yogi.
"Tuh, kan. Kakak lagi." Yogi kembali menggelitiki Sinta.
__ADS_1
"Kan aku bilang kalau ingat, Kakak!" Sinta tertawa terbahak-bahak.
"Sekali lagi kamu manggilnya kakak, aku cium kamu!" ancam Yogi. Dia menghentikan tangannya yang menggelitiki Sinta.
"Hhm...kayak berani aja!" tantang Sinta.
"Berani! Tadi juga berani kan? Apa, jangan-jangan kamu mau lagi, ya?" ledek Yogi.
"Iih, apaan sih?" Sinta mencubit tangan Yogi.
"Mau juga enggak apa-apa, kok. Aku akan memberikannya dengan ikhlas!"
Sinta semakin tersipu malu.
Mereka tak menyadari kalau sedari tadi, penjaga cafe diam-diam memperhatikan dari tempatnya duduk.
Namanya juga orang lagi jatuh cinta, mana peduli dengan orang lain.
Dunia serasa milik mereka berdua. Yang lain ngontrak!
"Eh, Kak...."
Cup!
Belum sempat Sinta meneruskan omongannya, Yogi langsung mencium pipi Sinta. Tentu saja, sebelumnya Yogi melihat situasi dulu.
Sinta tertunduk malu.
"Kalau mau dicium, bilang aja. Jangan pakai acara salah manggil," bisik Yogi.
"Iih, apaan sih? Aku kan lupa," sahut Sinta.
"Oke. Lupa apa enggak lupa, aku tetep akan cium kamu kalau salah manggil!"
"Ih! Gitu aja dipermasalahkan. Nyebelin!"
"Biarin. Dah, tadi mau ngomong apa?" tanya Yogi.
"Ah, lupa! Aa sih, nyebelin." Sinta langsung manyun. Tapi dia hati-hati mengucapkan kata Aa-nya. Takut kesleo. Maklum, belum terbiasa.
"Ya udah, kalau lupa." Yogi meminum minumannya.
Sinta hanya menelan ludahnya. Minumannya sudah kandas duluan.
"Mau?" Yogi menawarkan minumannya.
Sinta mengangguk.
"Nih! Cium dulu!" Yogi menunjuk pipinya sendiri.
"Ogah! Mending pesen sendiri aja!" Sinta langsung beranjak menuju ke penjaga cafe. Dia memesan satu jus lagi untuknya.
Yogi hanya menatap Sinta yang lagi pesan jus lagi. Seru juga pacaran sama anak kecil. Di cium malah malu. Tapi mau. Yogi tersenyum sendiri.
Sinta kembali ke mejanya.
"A'. Aku baru inget mau ngomong apaan tadi." Sinta kembali duduk.
"Katanya Aa foto-foto di kapal. Mana coba lihat dong. Pingin tau, kayak apa sih pacarnya kak Viona," ucap Sinta.
Yogi mengeluarkan ponselnya dari kantong celana. Lalu membuka galerinya.
Novia sudah mengirimkan semua foto mereka ke nomornya Yogi. Karena kemarin mereka foto-foto pakai kamera ponselnya Novia.
"Ini!" Yogi menunjuk wajah Putra.
Sinta mengambil ponsel Yogi dan menge-zoom-nya, biar lebih jelas.
Jantung Sinta seakan berhenti berdetak. Dia melihat wajah seseorang yang pernah dikenalnya.
Sinta memperjelas lagi fotonya. Yogi sampai melongo melihatnya.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Yogi.
"Ini kan...Kak Dewa!"