PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 49 POSESIF


__ADS_3

Setelah selesai, Surya memberikan selembar ratusan ribu.


"Yang kecil aja, Mas. Saya belum punya kembaliannya," ucap pak tua penambal ban.


"Ambil aja kembaliannya, Pak. Dulu, sekitar empat tahun yang lalu, saya pernah punya hutang sama Bapak," sahut Surya.


"Hutang apa, ya?" tanya pak tua. Dia tidak merasa memberikan hutangan apapun pada orang lain. Jangankan memberi hutangan, untuk hidup dia dan keluarganya saja, senen kamis.


"Saya pernah nambal ban di sini. Tapi saya enggak punya uang lagi. Lalu Bapak bilang, bawa saja. Waktu itu saya janji mau membayarnya kapan-kapan. Tapi maaf Pak, saya lupa," jawab Surya panjang lebar sambil tersenyum malu.


"Kapan, ya? Saya udah lupa. Maklum udah tua. Lagipula, banyak yang minta tolong pada saya dan enggak bayar karena enggak punya uang," sahut pak tua.


"Ya udah, kalau Bapak lupa. Anggap ini rejeki Bapak. Dan saya jadi enggak punya hutang lagi."


"Tapi ini kebanyakan, Mas." Pak tua itu berusaha mengembalikan uang Surya.


"Enggak apa-apa, Pak. Ambil aja." Surya segera mengambil motornya. Dia tak mau berlama-lama. Karena dia sudah janji pada Nadia.


Dan pastinya Nadia sudah menunggunya. Surya janji jam sembilan mau datang, ini malah hampir jam sepuluh.


"Ada apa, Sur?" tanya Rahma yang duduk agak jauh.


"Enggak apa-apa, Ma," jawab Surya.


"Enggak apa-apa kok lama." Rahma segera naik ke belakang Surya.


Bukannya Surya malas menjelaskan pada Rahma, tapi dia sudah terlambat.


"Nanti aja, Surya ceritain. Sekarang Surya antar Mama pulang. Surya kan udah janji mau nganter Nadia ke rumah sakit," sahut Surya.


"Oke." Rahma langsung berpegangan erat ke pinggang Surya. Karena yakin kalau Surya bakalan ngebut.


Benar saja, Surya sudah mirip pembalap. Semua motor di depannya dia salip. Rahma memejamkan matanya karena takut. Dan tangannya semakin erat mendekap anak lelakinya itu.


Sampai di rumah, Surya meminjam mobil Rahma. Kondisi kaki Nadia yang belum sembuh, tak memungkinkannya naik motor.


Surya mengambil ponselnya dulu di kamar. Dan saat membukanya, ada beberapa panggilan tak terjawab dari Nadia. Dan sebuah pesan terkirim.


Sur, aku berangkat ke rumah sakit sendiri. Naik taksi online. Mama tadi pagi pergi ke rumah tante Nia.


Surya terpaku di tempatnya. Nadia sudah berangkat setengah jam yang lalu. Dan dia berangkat sendirian.


Ah! Gara-gara ban bocor dan lupa bawa ponsel. Surya merutuki nasib apesnya pagi ini.


Lalu secepat kilat, Surya mengambil kunci mobil mamanya.

__ADS_1


"Ati-ati, Sur. Jangan ngebut kayak tadi!" seru Rahma melihat Surya yang terburu-buru.


"Iya, Ma!" sahut Surya sambil berjalan dengan cepat. Dia sampai lupa mencium tangan mamanya.


Tujuan Surya sekarang, langsung ke rumah sakit. Karena menurut perkiraannya, Nadia pasti sudah sampai.


Saat berhenti di perempatan, Surya menyempatkan menelpon Nadia. Tapi entah mengapa, telpon Surya tak diangkat.


Berkali-kali Surya menelpon, sampai lampu hijau menyala. Nadia tak juga mengangkat telponnya.


Hati Surya semakin tak enak. Berbagai pertanyaan muncul di benaknya.


Ah! Surya berusaha menghilangkan pikiran buruknya. Tapi sikap posesif Surya pada Nadia, membuatnya tak tenang.


Sampai di rumah sakit, Surya kembali menelpon Nadia. Dan kali ini Surya beruntung. Nadia langsung mengangkatnya.


"Iya, Sur," sahut Nadia.


"Kamu dimana, Nad?" tanya Surya.


"Aku di rumah sakit," jawab Nadia.


"Iya. Di bagian apa? Aku udah sampai di lobi rumah sakit," tanya Surya.


Lalu Nadia menerangkan dimana dia sekarang berada.


Tapi sayangnya, Surya terlambat. Nadia yang terdaftar sebagai pasien pertama, sudah masuk ke dalam ruangan dokter ganteng itu.


Sampai di depan ruangan dokter Andra, Surya mencari keberadaan Nadia. Tapi tak ada jejaknya.


Surya menelpon Nadia, kembali tak diangkat. Jelas saja Nadia tak mengangkatnya, dia sedang diperiksa oleh dokter Andra.


Surya nekat membuka pintu ruangan dokter Andra yang tertutup. Dan benar saja. Nadia sedang berbaring di ranjang periksa dan dokter yang wajahnya mirip Dewa itu sedang membuka perban di kaki Nadia.


"Maaf, permisi. Saya mau menemani Nadia," ucap Surya.


Nadia dan dokter Andra menoleh ke pintu.


"Hey, Sur. Dok, boleh teman saya masuk?" tanya Nadia pada dokter Andra.


Dokter ganteng itu tersenyum.


"Boleh. Masuk aja," jawabnya dengan ramah.


Surya langsung mendekat ke tempat tidur. Matanya menatap tak suka pada dokter yang sedang memegang kaki Nadia.

__ADS_1


"Lukanya udah kering. Jahitannya juga bagus. Tiga hari lagi, kesini ya? Saya lepas benangnya," ucap dokter Andra.


"Iya, Dok. Belum boleh kena air, ya?" tanya Nadia.


"Sebaiknya jangan dulu. Nanti kalau sudah benar-benar kering aja. Tapi sering dibersihkan, ya? Biar enggak infeksi," jawab dokter Andra.


"Iya, Dok. Nanti saya bersihkan." Surya yang menjawab pertanyaan dokter Andra.


"Bersihkan pakai kapas dan air hangat. Kalau sudah, semprot pakai alkohol spray. Bisa beli di apotek," ucap dokter Andra. Lalu kembali menutup luka Nadia dengan perban baru.


Hhh! Andai saja aku seorang dokter, aku sembuhkan sendiri luka Nadia. Biar kaki Nadia tak disentuh oleh dokter itu. Surya tetap menatap tak suka.


"Udah, selesai." Dokter Andra berniat membantu Nadia bangun. Tapi Surya mencegahnya.


"Biar saya saja yang membantunya, Dok."


Surya segera meraih tangan Nadia. Lalu membantu Nadia bangun.


Dokter Andra hanya tersenyum melihat sikap Surya. Lalu kembali ke mejanya.


Nadia dan Surya berjalan dan duduk di kursi depan meja dokter Andra.


"Tidak ada obat untuk Nadia. Karena semuanya sudah membaik. Yang penting antibiotiknya yang kemarin, dihabiskan. Dan kalau butuh alkohol spray, bisa beli di apotek mana saja," ucap dokter Andra.


Matanya sekilas menatap tangan Surya yang terus menggenggam tangan Nadia.


"Jangan lupa, tiga hari lagi kesini," lanjutnya.


"Baik, Dok. Kami permisi dulu," sahut Surya. Lalu segera membantu Nadia berdiri dan menggandengnya keluar.


Dokter Andra hanya geleng-geleng kepala. Dia memaklumi semua itu. Namanya juga anak muda yang lagi kasmaran.


"Kenapa kamu enggak nungguin aku datang, Nad?" tanya Surya sambil berjalan keluar rumah sakit.


"Aku yang mestinya nanya sama kamu. Kenapa telponku enggak diangkat? Pesan whatsapp-ku juga kamu abaikan?" Nadia balik bertanya.


"Aku tadi pagi nganter mama belanja. Pas mau pulang, ban motorku bocor. Aku dan mama juga enggak bawa hape. Jadi enggak bisa kasih kabar ke kamu," jawab Surya.


"Sejak kapan tante Rahma mau diboceng motor?" Setahu Nadia, mamanya Surya tak pernah bonceng motor.


"Tadi aku pikir biar cepet, enggak kena macet. Eh, malah bannya bocor," sahut Surya.


"Ayo naik." Surya membukakan pintu mobil untuk Nadia.


"Kamu kok pilih kasih sih, Sur? Sama aku kamu naik mobil. Sama mama kamu sendiri malah naiknya motor," komentar Nadia sebelum naik.

__ADS_1


"Sikonnya kan berbeda, Nad," sahut Surya. Walaupun memang sebenarnya dia lebih mengistimewakan Nadia.


Namanya juga orang lagi kasmaran. Semua hanya untuk kekasih hatinya. Yang lain lewat.


__ADS_2