PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 40 PAKET KOMPLIT


__ADS_3

Jam tujuh malam tepat, Surya sudah sampai di rumah Nadia. Dia memenuhi janjinya, menjemput sang pujaan hati.


Surya memarkir mobilnya di tepi jalanan komplek. Karena di garasi dan terasnya sudah terisi mobil kedua orang tua Nadia.


"Met malam Tante, Om. Nadianya ada?" sapa Surya pada kedua orang tua Nadia yang sedang duduk di ruang tamu.


"Malam, Surya. Kayaknya masih di kamarnya. Kalian jadi pergi?" tanya Susi. Haris hanya mengangguk saja.


Rupanya Nadia sudah bilang pada kedua orang tuanya, kalau malam ini Surya mau mengajaknya keluar.


"Jadi, Tante," jawab Surya.


"Ya udah. Masuk saja. Mungkin dia kesulitan turun tangga," ucap Susi.


"Iya, Tante." Lalu Surya bergegas naik ke kamar Nadia.


Celyn mengajaknya ketemuan jam tujuh malam ini. Yogi juga sudah di callingnya. Tapi Surya sengaja datang terlambat. Biar mereka ketemu berdua dulu.


"Hay, Nad. Udah siap?" tanya Surya di depan pintu kamar Nadia yang terbuka. Nadia masih merapikan rambutnya. Duduk di depan lemari besar yang ada cerminnya.


"Udah, Sur. Tinggal nyisir aja," jawab Nadia.


Surya yang sudah terbiasa masuk ke kamar Nadia, duduk di tepi tempat tidur. Dia perhatikan Nadia yang masih sibuk merapikan rambutnya.


"Perlu aku bantu, Nad?" tanya Surya.


"Enggak usah, Sur. Aku bisa sendiri kok," jawab Nadia.


Surya mengangguk sambil terus memandangi punggung Nadia. Rambut Nadia yang hanya sebatas bahu, membuat tengkuknya terlihat.


Apalagi blouse yang dikenakannya bermodel V-neck, membuat leher jenjang Nadia lebih terekspos sempurna.


Ingin sekali Surya mendekapnya dari belakang dan menciuminya. Tapi Surya hanya bisa menatapnya.


Tahan Surya, belum saatnya. Yakinlah, bahwa suatu saat Nadia akan jadi milikmu selamanya. Kata hati Surya.


Nadia membalikan badannya yang masih pada posisi duduk, lalu dia menunduk. Membetulkan letak selopnya agar tak mengenai bekas jahitan di kakinya.


Sementara ini, Nadia tak bisa memakai sepatu. Karena kakinya masih diperban. Tapi bengkaknya sudah mulai berkurang.


Surya menelan ludahnya, melihat belahan dada Nadia terlihat dari tempatnya duduk.


Samar-samar terlihat dua buah ranum yang berukuran tak terlalu besar.


Surya menatapnya dengan intens. Jantungnya berdetak dengan cepat. Jakunnya naik turun.


Dan saat Nadia kembali menegakan badannya, Surya memalingkan wajahnya. Seolah takut ketahuan kalau dia sedang memperhatikan dua benda pribadi Nadia.

__ADS_1


Dan mata Surya melihat sebuah benda yang tak asing lagi baginya. Sebuah perahu kertas.


Surya berdecak sebal. Kenapa masih saja Nadia membuat benda itu? Apa Nadia masih terus berharap, perahunya akan sampai pada Dewa?


Sepintas tadi, Surya melihat ada goresan tinta di lipatan perahu kertas itu.


Apa yang Nadia tuliskan di sana? Atau Nadia hanya menggunakan kertas bekas? Tanya Surya dalam hati.


"Ayo, Sur. Aku udah siap," ucap Nadia.


"Eh, tapi sebentar. Aku ambil dompetku dulu," lanjutnya. Lalu Nadia perlahan berdiri dan membuka lemarinya.


Dan di saat itulah, Surya yang juga sudah berdiri, berjalan perlahan mendekati meja belajar Nadia.


Diam-diam dia ambil perahu kertas itu, dan memasukannya ke kantong celana.


"Udah?" tanya Surya yang berjalan mendekat ke arah Nadia.


"Udah, Sur. Tolong ambilkan tasku." Nadia menunjuk ke sebuah kapstok yang berada di belakang pintu kamarnya.


Di sana tergantung beberapa tas wanita. Bukan tas-tas bermerk, tapi juga bukan tas murahan.


"Yang mana, Nad?" tanya Surya.


"Yang warna krem aja. Biar cocok dengan warna bajuku," jawab Nadia.


Nadia mengenakan blouse berwarna coklat muda dan celana kulot berwarna lebih tua. Sangat serasi dengan warna kulitnya yang bersih. Meski tak terlalu putih.


"Iya. Itu tas yang dikirimi Sinta adikmu, dari Jogja," jawab Nadia.


Aha....Pantes saja Surya seperti pernah melihatnya. Meski bukan dia yang membelinya, tapi dia yang memilih saat Sinta membelinya, meski hanya lewat video call. Dan Nadia juga pernah memasang foto tas itu di status whatsapp-nya.


Saat itu, Surya tak mengomentari. Tapi menscreenshootnya dan menyimpan hasilnya di galery ponsel.


"Kamu menyukainya, Nad?" tanya Surya.


"Menyukai apa?" tanya Nadia tak mengerti.


"Tas ini." Surya mengacungkan tas yang baru diambilnya.


"He em. Modelnya simple. Warnanya juga manis. Ternyata selera Sinta sama dengan seleraku," sahut Nadia.


Surya tersenyum senang. Bukan selera Sinta yang sama, Nad. Tapi selera kita. Batin Surya.


"Ayo berangkat," ajak Nadia setelah menyelempangkan tasnya.


"Aku gendong?" Surya menawari Nadia.

__ADS_1


"Bantu aku jalan aja, Sur. Kalau digendong, nanti bajuku kusut," jawab Nadia.


Dia senang digendong Surya, karena tidak perlu capek jalan. Tapi itu akan merusak penampilannya.


"Oke." Lalu Surya memeluk Nadia dari samping. Nadia pun memeluk Surya dengan sebelah tangannya.


Begini juga aku bahagia, Nad. Bisa menyentuhmu. Memelukmu. Menghirup aroma tubuhmu. Batin Surya dengan senang.


Surya terus memapah Nadia sampai ke lantai bawah. Susi dan Haris sudah pindah ke ruang tengah yang berada dekat tangga.


Mereka melihat pemandangan yang membuat perasaan bahagia. Nadia telah menemukan lelaki yang tepat. Batin mereka.


"Pelan-pelan, Nad!" ucap Susi. Tak lagi ada kekhawatiran. Karena ada Surya di sisi Nadia yang siap menolong.


"Iya, Ma," sahut Nadia. Dia masih terus memeluk Surya tanpa malu-malu.


Nadia dan Surya mendekat ke sofa tempat mereka duduk.


"Om...Tante...Kita jalan dulu," pamit Surya dengan sopan.


"Iya, Sur. Ati-ati di jalan," ucap Susi.


"Surya, kalian pakai mobil Om saja." Haris menawari. Haris pikir Surya naik motor, tadi.


"Saya bawa mobil kok, Om," sahut Surya.


"Oh, oke. Ati-ati bawanya."


"Iya, Om. Kami berangkat dulu." Surya kembali memapah Nadia dengan sabar. Meskipun dia lebih suka menggendong Nadia, karena bisa lebih cepat.


Surya terus memapah dengan sabar sampai Nadia masuk ke mobilnya.


Hhh....Surya bernafas dengan lega. Perlu kesabaran ekstra untuk memapah jalan Nadia yang kayak siput.


Sementara Susi dan Haris tersenyum bahagia melihat keakraban mereka.


"Cocok banget enggak sih mereka, Pa?" tanya Susi dengan manja.


"Iya cocok, Ma. Tapi semua kita serahkan pada mereka. Jangan memaksa," jawab Haris.


"Iih, memangnya siapa yang memaksa?" Susi langsung manyun.


"Ya kali aja, Mama maksain. Biarkan saja semua berjalan sewajarnya. Kita sebagai orang tua, cukup mengawasi," ucap Haris.


"Dan mendukung dong, Pa. Papa mendukung mereka, kan?" tanya Susi.


"Pasti, Ma. Papa malah merasa, tak ada lelaki lain yang bisa mengerti Nadia. Cuma Surya yang bisa memahaminya," jawab Haris.

__ADS_1


"Iya, Pa. Kurang apa lagi Surya? Dia itu paket komplit pokoknya," sahut Susi. Haris mengiyakan.


Dan obrolan mereka semakin seru, mengomentari juga mendukung hubungan Nadia dan Surya. Tapi mereka tak pernah tahu yang terjadi sesungguhnya.


__ADS_2