
"Tidak! Aku tak akan mengijinkannya!" seru Viona.
Surya tersenyum sinis.
"Kamu pikir Nadia akan meminta ijin dulu padamu?" tanya Surya.
Viona menatap Surya.
"Dia akan melakukannya tanpa kita ketahui!" ucap Surya.
"Bagaimana caranya? Aku sendiri tak bisa menemui Putra sesukaku! Harus menunggu kapalnya bersandar dulu!" sahut Viona.
"Kamu pikir dia sebodoh itu? Papanya pengusaha besar. Yang bisa membantunya mencari kapal tempat kerja Putra!"
Surya yang kesal pada Viona, malah menakut-nakuti. Padahal dia tahu, mamanya Nadia saja tak mendukung. Apalagi papanya. Tak akan berbuat hal yang konyol seperti itu.
Mata Viona terbelalak.
"Sur....gimana dong ini?" Viona meraih tangan Surya. Dia sangat memohon pertolongan dari Surya.
Surya menepiskan tangan Viona dengan kasar.
"Kamu pikir aja sendiri!"
Surya jadi berpikir, dia akan memanfaatkan Viona untuk ikut mencegah Nadia menemukan Dewa.
Viona terdiam.
"Enggak, Sur! Nadia tak akan bisa menemukannya! Dia juga tak tahu nomor telpon Putra!" ucap Viona dengan yakin.
"Nomor telpon Dewa? Kamu bilang Dewa tak punya hape!" Surya merasa Viona telah berbohong padanya.
"Sebelum Putra berlayar kemarin, dia beli hape dulu. Untuk bisa menghubungiku saat kapalnya bersandar," sahut Viona.
"Dan kamu percaya pada omongan Dewa?" tanya Surya.
"Kemarin Putra baru saja menghubungiku," jawab Viona.
"Kalau begitu, kasih aku nomornya Dewa!" pinta Surya.
Viona menatap Surya.
"Kenapa? Kamu enggak percaya padaku?" tanya Surya.
"Vi. Kita sama-sama sedang mencegah pertemuan itu. Kalau kamu tak percaya padaku, ya sudah. Silakan kamu pikirkan sendiri caranya!" ancam Surya.
Viona menghela nafasnya.
"Oke. Aku kirimkan nomor telpon Putra!" Lalu Viona mnegirimkannya ke nomor Surya.
Surya membuka ponselnya. Viona sudah mengirimkan nomor telpon Dewa padanya.
"Oke. Aku akan berusaha menghubunginya. Semoga Dewa mau mendengarkan aku," ucap Surya.
Viona mengangguk. Dia percaya kalau Surya bisa menyelesaikan masalahnya ini.
"Jangan sampai nomor itu diketahui oleh Nadia!" ucap Viona mengingatkan Surya.
"Aku tak sebodoh itu, Viona!" sahut Surya.
Viona mengangguk lagi.
"Lakukan yang terbaik untuk kita!" ucap Viona.
"Pasti! Aku pulang dulu," pamit Surya.
"Iya. Ati-ati, Sur," sahut Viona.
Surya mengangguk, lalu keluar dari kamar Viona.
__ADS_1
Surya tak pulang ke rumahnya. Dia pergi ke sebuah cafe. Tempat dimana biasanya dulu Yogi nongkrong.
Otak Surya lagi enggak konek. Dan dia sedang ingin mendinginkan otaknya.
Entah setan dari mana yang menggoda Surya, tiba-tiba dia memesan minuman beralkohol.
Minuman yang pernah dia lihat dipesan oleh Yogi.
Surya menenggaknya sedikit.
Akh!
Gila! Panas sekali tenggorokanku!
Surya meletakan kembali gelas slokinya.
Tak jauh darinya, duduk seorang yang pernah dikenal Surya. Dia memperhatikan Surya. Dia juga merasa pernah mengenal.
Lalu lelaki itu menghampiri Surya.
"Hay! Apa kabar, Bro?" Lelaki itu menepuk punggung Surya.
Surya terkejut dan langsung menoleh.
"Kamu?" Surya berusaha mengingat. Lelaki bertato dengan banyak tindikan di wajahnya.
"Defa!"
"Ah, iya! Defa. Kakaknya Celyn, kan?" tanya Surya.
"Yoi, Bro."
Lalu mereka berjabat tangan.
"Sama siapa, Sur?" tanya Defa. Matanya melihat ke sekeliling Surya.
"Berani juga, lu." Defa menepuk kembali lengan Surya.
"Berani lah. Lu sendiri, sama siapa?" Surya jadi ngikutin Defa, pakai gaya bahasa lu-gue.
"Ya, gue mah biasa sendirian. Entar maleman juga banyak temen di sini," jawab Defa.
"Eh, apaan tuh yang lu minum, Bro?" Defa mengambil botol minuman yang dipesan Surya.
"Gila! Ini mahal, Bro. Lagi banyak duit, lu?" tanya Defa.
"Enggak. Biasa aja. Lu kalau mau, ambil aja," sahut Surya.
Surya yang tak pernah minum, enggak bakalan mampu menghabiskan.
Jangankan satu botol, satu sloki aja, Surya perlu ancang-ancang dulu.
"Boleh nih, beneran?" tanya Defa.
Surya mengangguk.
Defa langsung minta sloki satu lagi. Lalu dia menuang sendiri.
"Toast dulu, dong!" Defa mengangkat slokinya tinggi-tinggi.
Surya mengikutinya.
"Mantap...!"
Surya mengikuti Defa menenggak minuman itu.
Di rumah keluarga Surya, Rahma sudah kebingungan. Karena Surya belum juga pulang.
Padahal biasanya dia sudah pulang sebelum maghrib.
__ADS_1
Rahma sudah berusaha menelpon Surya, tapi telponnya tak diangkat. Di whatsapp juga tak dibaca.
"Sinta. Kakak kamu kemana? Coba dicari di rumah Nadia. Mama telpon dari tadi enggak diangkat," ucap Rahma.
"Ih, masa orang lagi pacaran, disamperin. Malu, Ma," sahut Sinta.
"Udah lah, Ma. Surya udah besar. Bukan anak kecil lagi," ucap Toni.
"Ayo makan," ajak Toni. Mereka sudah siap di meja makan.
"Yogi udah pulang, Sinta?" tanya Toni.
"Udah, Pa. Tadi sebelum maghrib. Dia katanya mau jalan ama temen-temennya," jawab Sinta.
Toni mengangguk.
Kadang dia kasihan pada Surya. Sebagai anak muda, tak punya kebebasan bergaul seperti yang lainnya.
Rahma selalu mengkhawatirkannya. Selalu menelponnya kalau terlambat pulang.
"Yogi mau jalan kemana, Sin? Kok kamu enggak ikut?" tanya Rahma.
"Paling nongkrong di cafe, Ma. Yogi kan udah lama enggak pernah nongkrong lagi. Tadi sih mau ngajakin kak Surya. Tapi kakak ditelpon enggak diangkat." Sinta mengingatkan Rahma lagi.
"Tuh, kan? Kemana lagi, Surya?" tanya Rahma.
Sinta dan Toni hanya bisa menghela nafas sambil mengangkat bahu.
"Entar juga pulang, Ma. Kakak kan masih hafal jalan pulang," sahut Sinta.
"Iya! Tapi kalau kemalaman? Besok pagi kan kakakmu ada kuliah pagi-pagi. Entar terlambat bangunnya," oceh Rahma.
Sinta dan Toni tak begitu mempedulikan.
"Sin, coba abis makan, kamu telpon Nadia. Surya masih di rumahnya apa enggak," pinta Rahma.
"Kenapa enggak mama aja yang telpon tante Susi?" Sinta balik menyuruh Rahma.
"Hhm...kamu itu. Disuruh malah nyuruh. Enggak baik kayak gitu," ucap Rahma.
Sinta hanya nyengir aja. Lalu setelah selesai makan, dia buru-buru masuk ke kamarnya.
Rahma menelpon Susi juga. Rasa khawatirnya lebih besar dari rasa tak enaknya.
"Hallo, Jeng Susi. Aku mau nanya, Surya masih ada di situ?" tanya Rahma.
"Surya?" Susi balik bertanya.
"Iya. Apa dia masih sama Nadia?" tanya Rahma.
"Surya....seharian ini enggak ke rumah, Jeng," jawab Susi.
Susi ingat, tadi saat dia turun dari kamar Nadia, mbok Nah bilang Surya datang.
Lalu Surya naik ke atas, tapi terus pergi lagi. Katanya enggak enak, Nadia lagi ngobrol dengannya.
Susi sudah berpikir, kalau Surya sudah mendengar semuanya. Buktinya Surya tak datang ke rumahnya. Tak seperti biasanya, yang seharian menemani Nadia.
Dan sekarang Rahma menanyakan Surya padanya. Berarti Surya pergi dan belum pulang.
Ah! Susi jadi merasa bersalah. Semua gara-gara Nadia yang kembali berulah.
"Nadia....!" teriak Susi dengan suara cemprengnya. Dia sangat kesal pada anak gadisnya itu.
Susi lupa, kalau ponselnya masih pada mode panggilan.
Di rumahnya, Rahma langsung menjatuhkan ponsel saking terkejutnya.
"Ada apa, Ma?"
__ADS_1