
Surya terus saja ngoceh tak karuan sampai di rumah Yogi.
Yogi turun dari mobilnya. Lalu membukakan pintu untuk Surya.
"Keluar lu! Ngoceh mulu!" Yogi menarik tangan Surya.
"Emang udah sampe?" tanya Surya. Lalu dia membuka matanya.
"Ini bukan rumah gue. Rumah gue sebelah sono!" ucap Surya sambil menunjuk ke arah jalanan. Padahal jelas- jelas rumahnya jauh dari rumah Yogi.
"Berisik! Buruan turun!" bentak Yogi.
Yogi tak peduli lagi, meski Surya adalah sahabatnya. Dia bentak-bentak seperti membentak preman di jalanan.
"Ga! Tolongin gue nurunin nih orang gila!" seru Yogi.
Arga sudah sampai juga di halaman rumah Yogi. Dia meletakan motor Surya, lalu berlari ke arah Yogi.
"Ayo bantuin gue nurunin nih manusia! Entar dia muntah lagi di mobil gue!" seru Yogi.
Arga pun siap menopang tubuh Surya saat Yogi menariknya dari mobil.
Dan benar saja, Surya kembali muntah saat turun. Karena dia membuka matanya, dan kepalanya kembali berdenyut.
Howek...!
"Tuh, kan? Gue bilang juga apa! Dasar manusia enggak punya akhlak! Baru mabok sekali aja, muntahnya berkali-kali!" omel Yogi.
Dia kesal, karena bajunya kembali kena muncratan muntahan Surya.
Arga ketawa ngakak.
"Ketawa lagi, lu!" Yogi malah ngomel ke Arga.
"Anak lu belum kebal, Bro. Masih kayak anak nying-nying! Muntah-muntah mulu!" sahut Arga.
"Sialan lu! Gue kagak sudi punya anak kayak dia!" Tapi tangan Yogi malah memijat lagi tengkuk Surya.
"Tapi dia kan calon kakak ipar lu! Hahaha." Arga kembali ketawa.
"Apes gue, punya kakak ipar cemen kayak gini!" sahut Yogi.
"Udah belum muntahnya? Kalau belum, gue tinggal lu di sini!" tanya Yogi pada Surya.
Surya tak menjawab. Dia hanya menegakan kepalanya. Rasa pusingnya udah mulai berkurang. Perutnya pun terasa lebih enak.
"Udah, ayo masuk." Yogi menarik tangan Surya.
Surya hanya diam saja. Jadi Yogi keberatan menarik badan Surya yang lebih besar dari dia.
"Ye...Bantuin, Ga! Ini kebo berat banget!" seru Yogi.
Arga mendorong tubuh Surya biar mau melangkah.
"Jalan, bego! Lu pikir enteng? Badan lu, udah kayak kebo!" maki Yogi dengan kesal.
Yogi membawa Surya masuk ke kamarnya. Lalu mendorongnya hingga tubuh Surya jatuh ke tempat tidurnya.
__ADS_1
"Awas aja lu, kalau muntah di sini. Gue suruh lu tidur di gudang!" ancam Yogi. Lalu dia masuk ke kamar mandi.
Arga melepaskan sepatu Surya yang kotor kena muntahannya sendiri. Lalu membuangnya ke pojokan kamar Yogi.
Arga membetulkan letak tubuh Surya.
Surya hanya diam saja, tanpa penolakan. Dia kembali memejamkan matanya.
Tak lama, Yogi keluar dari kamar mandi cuma dengan handuk. Lalu mengambil pakaiannya di lemari.
"Tidur lagi dia, Ga?" tanya Yogi sambil memakai pakaiannya.
"Iya. Kasihan juga sih. Kayaknya dia lagi stres berat, Yog," ucap Arga.
"Iya. Maklum anak mama, enggak tahan cobaan. Baru masalah cewek aja, udah kacau hidupnya!" sahut Yogi.
"Masalah sama Nadia, maksud lu?" tanya Arga.
"Iya. Siapa lagi? Kayak di dunia ini kagak ada cewek lain aja!" jawab Yogi.
"Namanya juga cinta mati, Yog. Hehehe." Arga nyengir. Sebab dia juga pernah merasakan hal yang sama.
"Ngapain pake cinta mati? Yang ada cintanya pergi entah kemana, dianya cari mati! Akh! Pusing gue ama si kebo ini!"
Dengan kesal Yogi melemparkan handuknya ke badan Surya.
"Gila lu, Yog. Anak orang lu lemparin handuk!" ucap Arga.
"Kalau lagi kayak gini sih, dia bukan anak orang! Tapi anak kebo!" Yogi masih saja kesal pada Surya.
"Iya hallo, Cin," sapa Yogi duluan.
"Gimana, kak Surya udah ketemu?" tanya Sinta dengan khawatir.
"Udah. Ini lagi tidur di rumahku. Kayaknya dia capek banget," jawab Yogi. Dia menutupi fakta yang sebenarnya dari Sinta.
Karena Yogi berpikir, jangan sampai mamanya Sinta tau kondisi anaknya. Bisa syok kalau tahu Surya baru saja mabok.
"Emangnya kak Surya abis ngapain?" tanya Sinta dengan lugunya.
"Tau! Abis lari-lari kali! Udah dulu, ya. Ini juga ada Arga. Bye Cinta. Muach...!"
Yogi menutup telponnya.
"Busyet mesra amat lu?" komentar Arga.
"Iyalah. Kan ama pujaan hati. Adiknya si kebo ono!" sahut Yogi sambil menunjuk Surya yang masih tidur.
"Gue pulang dulu ya, Yog. Udah malem nih. Entar mama gue nyariin," ucap Arga. Maksudnya dia menyindir Surya. Padahal yang disindir enggak denger.
"Emak lu malah seneng kalau lu kagak pulang! Dasar anak nying-nying!" sahut Yogi. Lalu keduanya ngakak.
Yogi mengantar Arga keluar.
"Eh, Ga. Lu pulang naik apaan?" tanya Yogi.
"Iya. Gue lupa, kalau tadi lu jemput gue," jawab Arga.
__ADS_1
"Terus lu mau gue ngaterin lu pulang lagi, gitu?" tanya Yogi.
Arga cuma nyengir.
"Males amat! Lu bawa motornya si keboa aja sono! Besok kalau dia udah bangun, biar dia ambil ke rumah elo!" ucap Yogi.
"Oke deh. Gue balik, ya!" Arga langsung naik ke motor Surya. Dia masih mengantongi kuncinya.
Setelah Arga pulang, Yogi kembali masuk ke dalam.
"Mak...! Masak apaan? Aku laper nih," ucap Yogi pada mak Yati.
"Itu ada semur daging. Emak panasin dulu, ya," sahut mak Yati.
Meski biasanya mak Yati tidur jam delapanan, tapi kalau Yogi belum pulang, dia akan menunggunya. Meskipun sambil ngantuk.
"Enggak usah deh, Ma. Kelamaan. Keburu laper!" Yogi langsung duduk di kursi makan.
Mak Yati melayani dan menemaninya. Sebab Yogi tak akan mau menghabiskan makanannya kalau tidak ditemani.
"Mas Surya tadi kenapa, Den?" tanya mak Yati.
"Mabok dia. Lagu-laguan! Anak mama pakai acara mabok segala! Mana pakai muntah lagi!" jawab Yogi dengan kesal.
"Ish! Lagi makan, jangan ngomongin yang jorok-jorok. Entar makannya enggak abis," sahut mak Yati.
"Abisnya kesel. Bajuku sampai bau banget!" ucap Yogi. Dia sering mengadu pada mak Yati apa yang lagi mengganjal di hatinya. Biar plong.
"Emangnya mas Surya sering mabok?" tanya mak Yati.
"Ye...anak mama mana pernah. Baru pertama itu," jawab Yogi.
"Lha kok enggak dilarang sih? Mestinya Den Yogi melarangnya," ucap mak Yati.
"Aku enggak tau, Mak. Dia perginya enggak ama aku. Tau-tau udah mabok!" sahut Yogi sambil terus makan.
"Terus dia tidur di sini, udah pamit belum sama mamanya? Entar dicariin, lagi," tanya mak Yati.
"Udah. Tadi Sinta udah telpon. Eh, ntar kalau ketemu Sinta, mak Yati jangan bilang ya kalau Surya mabok," pinta Yogi.
"Kenapa, Den?" tanya mak Yati.
"Entar kalau mamanya tau, bisa pingsan. Mak Yati mau, tanggung jawab?" sahut Yogi.
Mak Yati geleng-geleng kepala.
"Nah, makanya diem aja. Tutup mulutnya!" Yogi memberi tanda pada mak Yati dengan tangannya.
Mak Yati yang latah, mengikuti tangan Yogi sambil terkekeh. Yogi pun ikut terkekeh.
Yogi paling suka menggoda mak Yati, karena bagi Yogi itu adalah hiburan baginya.
"Yog! Gue laper!" ucap Surya yang tiba-tiba muncul.
"Eh, kampret! Ngagetin aja lu!" bentak Yogi.
"Eh, kampret....kampret..! Eh, kampret!"
__ADS_1