PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 62 USAHA YANG SIA SIA


__ADS_3

Surya pergi ke kampus dengan motor kesayangannya. Bukan. Sebenarnya itu demi kenyamanan Nadia saat memboncengnya.


Hampir semua yang dilakukan Surya hanya demi Nadia.


Nadia.


Nadia.


Selalu nama itu yang jadi prioritas dalam hidup Surya. Meskipun di mata Nadia, semua hanya biasa saja.


Nadia tak pernah merasa diperlakukan spesial oleh Surya. Meskipun setiap pagi, Surya harus menyempatkan waktu menjemput dan mengantar Nadia ke kampus.


Atau sekedar memgucapkan selamat pagi lewat pesan whatsapp kalau jam kuliahnya tak sama.


Jam kuliah tak sama bukan berarti Surya akan membiarkan Nadia berangkat sendiri. Kalau jam kuliah Nadia lebih awal, maka Surya tetap akan menjemputnya.


Meskipun Surya harus merelakan waktu santainya.


Tapi hari ini, Surya mengabaikan itu semua. Tak ada sapa pagi seperti biasanya. Tak ada pertanyaan apa Nadia akan mulai masuk kuliah lagi, setelah kecelakaan itu.


Bahkan Surya tak menanyakan apa kaki Nadia sudah membaik. Atau memaksa Nadia kontrol ke dokter lagi.


Surya mengabaikan perasaan cemburunya saat nanti Nadia bertemu dengan dokter Andra yang wajahnya mirip Dewa.


Surya tak mempedulikannya lagi. Seperti kata Yogi semalam. Bahwa sendiri itu tak selalu sepi. Bahwa sendiri itu bisa jadi hal yang menyenangkan.


Surya ingin membuktikannya. Membuktikan omongan Yogi. Agar dia bisa jadi pribadi yang lebih kuat. Bukan pribadi yang selalu bergantung pada Nadia.


Yang pada akhirnya nanti, bisa saja Surya akan terhempas.


Ya, terhempas jauh. Dan jatuh di tempat yang sangat menyakitkan.


Saat perahu kertas Nadia sampai ke alamat orang yang dituju. Dan orang itu menepati janjinya. Menjemput Nadia.


Ah...Mengingat Dewa, hati Surya sedikit perih. Sahabat yang semestinya bisa mengerti perasaannya.


Atau Surya yang harus mengerti perasaan Dewa?


"Hay, Bro. Tumben baru dateng? Biasanya lu udah nangkring di kelas?" sapa Yogi yang juga baru sampai di parkiran kampus.


"Nangkring? Emangnya aku burung?" sahut Surya.


Buru-buru dia lepas helmnya dan berjalan cepat. Karena jam kuliah paginya tinggal beberapa menit lagi. Sementara kelasnya ada di lantai lima.


"Hey, Bro. Tungguin napa?" Yogi mempercepat langkahnya biar bisa menyusul Surya.


"Elu tuh ya, hobi banget sih ninggalin gue? Gue kan juga enggak mau diomelin sama dosen," ucap Yogi yang sudah mensejajari langkah Surya.


Surya tak menggubrisnya. Bagi Surya yang penting saat ini, dia tidak terlambat masuk kelas.


"Eh, yang abis begadang semalam, jadi budeg!" rutuk Yogi.

__ADS_1


Tring.


Pintu lift terbuka.


Puluhan mahasiswa yang juga datang kesiangan berebut masuk ke dalam lift.


Surya yang ada di barisan belakang, mencoba masuk. Yogi pun tak mau ketinggalan. Dia berusaha menyelusup agar bisa ikut masuk.


Lift berjubel. Hingga berbunyi tanda peringatan agar mengurangi kapasitas.


Surya memandang wajah Yogi. Yogi hanya mengangkat bahunya.


Karena tak ada yang mau mengalah, terpaksa Surya menarik bahu Yogi untuk keluar dari lift.


"Ah, ngapain sih elu ngajak-ngajak gue?" seru Yogi setelah mereka keluar lift.


"Kepenuhan. Dari pada lift enggak bisa jalan. Ayo kita olah raga pagi," ajak Surya. Dia menarik bahu Yogi lagi menuju ke tangga darurat di samping lift.


"Eh, busyet. Gue belum sarapan, Bro. Enggak kuat gue naik sampe lantai lima." Yogi mengomel. Tapi tetap saja melangkah naik karena tangan Surya masih terus mencengkeramnya.


"Entar selesai kelas, aku traktir soto!" sahut Surya.


Surya dan Yogi terus melangkah naik. Di belakang mereka pun banyak mahasiswa yang terpaksa lewat tangga karena terlalu lama menunggu lift turun lagi.


Sampai di lantai empat, nafas Yogi sudah terengah-engah.


"Aduh, Bro. Gue udah enggak kuat lagi," keluh Yogi. Dia membungkuk sambil memegangi lututnya yang terasa hampir copot.


Yogi tak juga menegakan badannya. Nafasnya masih terengah-engah.


"Bro! Tungguin gue! Tega lu!" seru Yogi. Badannya beberapa kali tersenggol mahasiswa yang juga sedang memburu waktu.


Surya menghentikan langkahnya. Tidak tega juga kalau membiarkan Yogi naik tangga sendirian.


Tangan Yogi menggapai-gapai. Seolah meminta pertolongan.


"Ayo ah. Jangan manja!"


Surya tak merespon tangan Yogi.


Yogi menegakan badan dan menghela nafasnya biar teratur, lalu kembali melangkah.


Surya terpaksa mengimbangi langkah Yogi yang mulai tertatih.


"Hebat lu, Bro. Masih kuat aja tenaga lu?" puji Yogi.


"Aku kan udah sarapan. Udah minum susu juga," jawab Surya.


Dan lagi, Surya bangun kesiangan. Jadi jam tidurnya tak berkurang meski dia tidur kemalaman.


"Elu enak. Pagi-pagi udah nyusu. Lha gue?" keluh Yogi. Bukan mengeluh sebenarnya.

__ADS_1


Yogi hanya membandingkan hidupnya dengan hidup Surya. Biar mata hati Surya makin melek. Dan sadar kalau hidupnya sangat sempurna dan menyenangkan.


Jadi tak lagi mengharapkan Nadia yang hanya menganggapnya angin lalu.


"Minta susu sama mak Yati lah," sahut Surya.


"Ogah. Susunya mak Yati udah expired. Hahaha." Yogi masih bisa ketawa meski nafasnya masih sedikit tersengal.


"Ngaco aja, kamu!" Surya menoyor kepala Yogi. Suatu hal yang sangat jarang dilakukan oleh Surya.


Yogi yang ditoyor kepalanya, bukannya marah. Tapi malah senang, karena sepertinya Surya sudah mulai meninggalkan kebiasaan kakunya.


Menurut Yogi, hidup Surya terlalu kaku. Baik dalam bahasa yang selalu tersusun rapi, sesuai dengan PUEBI. Sampai ke sikap yang selalu santun pada orang lain. Termasuk Yogi teman yang paling sinting.


Sampai di depan kelas, pintu masih terbuka. Surya dan Yogi segera masuk dan mencari kursi kosong.


Beruntung masih ada beberapa yang kosong, meski di bagian belakang. Tempat yang paling dihindari oleh Surya.


Surya lebih suka duduk di barisan depan. Karena bisa lebih fokus mendengarkan dosen. Kalau di belakang seringnya bising. Kalaupun dapat dosen yang galak, suasananya jadi sepi. Malah bikin ngantuk.


Dosen pengajar hari ini belum datang. Surya dan Yogi yang dapat kursi bersebelahan, bisa bernafas lega. Usaha mereka naik lewat tangga tak sia-sia.


Para mahasiswa mulai gaduh, karena dosennya tak juga datang. Terutama yang cewek. Tapi banyak juga yang malah saling bercanda. Bahkan yang selfie pun ada.


"Hay, guys. Kita sekarang lagi menunggu dosen killer yang menyebalkan...." Seorang mahasiswi yang katanya youtuber mulai merekam suasana kelas. Sepertinya dia mau membuat konten.


Surya menatapnya dengan malas. Karena biasanya kamera cewek itu akan lebih sering mengarah ke wajah Surya.


"Mana nih dosennya? Entar giliran kita yang menghukum dia karena terlambat!" ucap seorang mahasiswa yang duduk di depan Surya dengan suara lantang.


Dan seisi ruangan langsung tertawa. Banyak juga yang mengiyakan.


Suasana riuh itu tak lepas dari sorotan kamera sang youtuber amatiran itu. Termasuk juga wajah Surya yang berkali-kali disorot.


"Maaf. Hari ini dosen kalian tidak bisa masuk kelas. Beliau ada seminar di luar kota." Seorang lelaki muda yang sepertinya bagian tata usaha kampus, memberikan pengumuman.


"Huuuu....!" seru mahasiswa seisi kelas.


"Bilang dong dari tadi!"


"Umumin dulu kek, di grup WA. Jadi kita kan enggak buru-buru bangun!"


Banyak sekali komentar kecewa dari mahasiswa yang sudah berjuang demi tidak terlambat masuk kelas.


Termasuk Yogi yang juga ikutan bergumam.


"Sia-sia perjuangan kita naik tangga, Bro," ucap Yogi di tengah berisiknya kelas.


"Enggak ada perjuangan yang sia-sia. Minimal hari ini kita udah olah raga pagi," sahut Surya.


"Olah raga gundulmu! Dengkulku hampir copot!"

__ADS_1


__ADS_2