
Pagi harinya keluarga Surya sarapan bersama. Seperti kebiasaan mereka sehari-hari.
"Kamu enggak ke kampus, Sur?" tanya Rahma. Biasanya anak lelakinya ini sudah rapi dan siap pergi ke kampus. Walaupun kadang cuma nongkrong di rumah Nadia.
"Enggak, Ma. Surya nanti mau antar Nadia ke rumah sakit. Kontrol jahitan di kakinya," jawab Surya.
"Sampai jam berapa ke rumah sakitnya, Kak?" tanya Sinta. Hari ini dia berencana mau besuk Nadia.
"Belum tau. Nanti berangkat sekitar jam sepuluhan. Kamu ada kuliah kan, hari ini?"
"Iya, Kak. Dan rencananya aku mau main ke rumah kak Nadia," jawab Sinta.
"Mau ngapain?" tanya Surya. Karena tak biasanya Sinta main ke sana.
"Besuklah, Kak. Kak Nadia kan lagi sakit," jawab Sinta dengan santai. Dia tak mau Surya mencurigainya.
"Oh. Kalau begitu sore aja. Pastinya kita udah kembali," sahut Surya.
"Eh, Sin. Kalau kamu mau ke rumah Nadia, pulang dulu. Nanti Mama bawakan makanan buat Nadia. Enggak enak kan, kalau kamu kesana enggak bawa apa-apa." Rahma ikut menyahut.
Sinta mengangguk senang. Karena mamanya malah mendukungnya. Jadi rencananya bisa berjalan dengan lancar.
"Memangnya Mama enggak ikut Sinta besuk Nadia?" tanya Toni yang dari tadi menyimak pembicaraan mereka.
"Enggak, Pa. Nanti sore Mama ada janji sama temen," jawab Rahma.
"Kemana?" tanya Toni. Dia selalu memberikan kebebasan pada istrinya untuk pergi dan bergaul dengan siapapun. Tapi dia juga selalu menanyakan kemana perginya dan dengan siapa.
"Cuma ke mal aja kok, Pa. Kita mau cari baju yang samaan buat acara reuni nanti. Tapi tenang aja, Mama bakalan pulang sebelum Papa pulang kerja," jawab Rahma.
"Enggak usah buru-buru juga, Ma. Kebetulan nanti sore Papa ada meeting di hotel Arta. Bisa jadi Papa pulangnya agak malam," sahut Toni.
"Oh, ya udah. Berarti Mama masih bisa jalan-jalan."
Surya bangga dengan kehidupan rumah tangga orang tuanya yang sangat harmonis. Mereka bisa saling percaya dan memberikan kebebasan.
Sedangkan Surya sendiri? Surya jadi malu memikirnya. Dia sangat protektif pada Nadia. Bahkan sangat posesif.
Dia sering melarang Nadia pergi sendirian. Dan kadang secara tidak langsung membatasi pergaulan Nadia.
Hingga Nadia tak punya banyak teman. Karena kemana-mana selalu didampingi Surya. Entah sampai kapan.
Surya tak ingin Nadia bermasalah di luaran sana. Tak ingin juga Nadia bergaul dengan lelaki lain, lalu tertarik dan menjauhinya.
Sedang dia saja yang bertahun-tahun menemani Nadia, belum juga bisa mendapatkan hatinya.
"Pa. Sinta bareng ya? Malas bawa motor sendiri," ucap Sinta pada Toni.
"Iya. Kamu siap-siap. Sebentar lagi, Papa berangkat," jawab Toni.
"Habiskan dulu sarapannya," sahut Rahma. Dia tak suka kalau anak-anaknya kelaparan di luaran sana.
__ADS_1
Sinta mengangguk karena mulutnya sudah penuh makanan.
"Kalau kamu nebeng papa, pulangnya gimana?" tanya Surya.
Terhadap Nadia dia sangat protektif, hingga kadang Nadia merasa ketergantungan pada Surya. Tapi dengan adiknya sendiri, Surya selalu mengajarkan untuk mandiri.
"Gampang. Banyak ojek online. Angkot juga banyak," jawab Sinta.
"Jangan naik angkot, ah. Bahaya. Lagian seringnya angkot kan kotor," sahut Rahma.
"Ish, Mama. Kalau kotor kan, pulang tinggal mandi." Sinta paling tidak suka kalau mamanya udah mulai bawel.
"Kalau ada yang penyakitan, terus kamu ketularan, gimana? Nanti bawa masker. Biar lebih aman," sahut Rahma lagi dengan segala aturannya.
"Iya, Mama. Segitunya banget sih!" gerutu Sinta.
"Udah ayo, siap-siap kalau mau bareng Papa." Toni berdiri menyudahi pembicaraan yang berujung perdebatan itu.
Sinta pun meninggalkan ruang makan, dan mengambil tasnya di kamar.
"Mama tuh, banyak aturan. Kayak aku anak kecil aja," gerutu Sinta sambil berjalan. Dia tak menyadari kalau Surya juga berjalan di belakangnya.
"Hush! Enggak boleh menggerutu. Mama begitu juga biar kamu aman dan nyaman," sahut Surya.
Sinta menoleh.
"Kalau pingin aku aman dan nyaman, jemput!" sahut Sinta dengan geram. Dia yakin kakaknya ini pasti menolak.
"Huuh! Kak Nadia juga bukan anak kecil. Tapi Kakak selalu antar jemput?" Sinta kembali menggerutu. Tapi sayangnya Surya sudah tak mau mendengarnya.
Dia memilih bersiap ke rumah Nadia. Biarlah dia datang lebih awal dari janjinya. Daripada bete nunggu waktunya di kamar.
Setelah rapi, Surya keluar dari kamarnya. Toni dan Sinta sudah lebih dulu berangkat.
"Kamu mau kemana, Sur?" tanya Rahma.
"Kan tadi Surya udah bilang, Ma. Mau anter Nadia ke rumah sakit," jawab Surya.
"Kamu bilang kesananya jam sembilan? Ini baru jam setengah delapan." Rahma menoleh ke jam dinding besar di sisi kanannya.
"Nunggu di sana enggak apa-apa kan, Ma? Hehehe," sahut Surya sambil terkekeh.
"Mending kamu antar Mama ke supermarket dulu aja. Mama mau belanja sekalian cari oleh-oleh buat Nadia. Nanti sore kan Sinta mau besuk," pinta Rahma.
"Jam segini mana ada supermarket yang buka, Ma?" Surya pun reflek menoleh ke jam dinding. Padahal tangan kanannya melingkar jam tangan.
"Nunggu di sana enggak apa-apa kan, Sur?" Rahma tersenyum sambil matanya menggoda anaknya.
"Ayo berangkat," ajak Rahma. Rupanya dia sudah siap dari tadi.
"Hhmm....Tapi jangan lama-lama ya, Ma. Dokternya buka jam sepuluh," sahut Surya.
__ADS_1
"Iya. Mama juga pernah muda, Sur."
"Maksudnya?" tanya Surya tak mengerti.
"Ya begitulah kalau orang lagi jatuh cinta. Yang dipikirin cuma pacarnya aja. Yang lain, lewat," jawab Rahma.
"Enggak gitu juga, Ma. Nadia kan mau ke dokter. Kasihan kan dia," sahut Surya membela diri.
"Kasihan apa kasihan?" ledek Rahma.
"Ah, Mama. Udah ayo," ajak Surya yang tak mau terus-terusan diledek Rahma.
"Ambil kunci mobilnya dong."
"Naik motor aja, Ma. Biar cepet. Enggak kena macet," sahut Surya. Karena di jam-jam sibuk, jalanan pasti penuh.
"Waduh! Mama kan pake rok. Gimana boncengnya?" Rahma melihat ke pakaiannya sendiri.
"Bisa. Ayo." Surya tetap memaksa.
Rahma tak bisa menolak lagi. Pasrah meski nanti bakal kerepotan.
Surya melajukan motornya agak ngebut. Dan melewati jalanan kampung.
"Jangan ngebut-ngebut, Sur. Nanti Mama jatuh." Rahma yang bonceng menyamping, berpegangan semakin erat.
"Biar cepet sampai, Ma." Surya tak menurunkan kecepatannya.
Mereka sampai di supermarket yang terdekat.
"Tuh kan, belum buka," ucap Surya.
Rahma hanya nyengir aja. Tapi dia tak kehilangan akal.
"Kita beli buah di kios itu aja, Sur." Rahma menunjuk sebuah kios buah tak jauh dari sana.
Surya menurut. Dan Rahma turun memilih buah yang nanti akan dibawa Sinta.
Dari kios buah, Rahma minta diantar ke toko roti yang juga tak jauh dari supermarket.
"Ma. Ini udah hampir jam sembilan. Supermarketnya belum buka juga." Surya mulai gusar. Apalagi ponselnya malah tertinggal di kamarnya waktu dia mengambil kunci motor.
Rahma menghela nafasnya.
"Ya udah. Mama enggak jadi ke supermarket deh. Ini juga udah banyak," sahut Rahma.
Surya bernafas lega.
"Ayo, naik Ma," ucap Surya setelah merapikan belanjaan Rahma di motornya.
"Sur. Ban motormu kempes." Rahma menunjuk ke ban motor Surya.
__ADS_1
"Hadeh....!" Surya menepuk dahinya dengan kesal.