PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 89 JADILAH DIRI SENDIRI


__ADS_3

Rahma terkesiap. Dia tak menyangka secepat itu Novia mengungkapkan keinginannya.


"Aku kan udah bilang tadi, Itu terserah anak-anaknya aja, Nov," jawab Rahma. Meskipun dia memiliki keinginan yang sama.


"Iya, aku paham. Maksudku, tolong kamu menjaganya untuk Yogi." Novia kembali menegaskan.


"Insyaa Allah, Nov. Aku juga mau Sinta mendapatkan lelaki yang baik. Ya, seperti Yogi. Tapi...." Rahma tak melanjutkan kalimatnya. Takut dianggap mengulur-ulur waktu.


"Tapi kenapa?" tanya Novia penasaran.


"Sinta masih terlalu muda." Rahma menatap wajah Novia.


"Oh, iya. Aku juga udah paham itu. Makanya aku kan bilang, tolong jaga Sinta. Mungkin beberapa tahun ke depan kita bisa bicarakan lagi," sahut Novia.


"Aku ingin anak-anak menyelesaikan dulu kuliahnya. Kalau memang berjodoh, nanti akan ada jalannya, Nov," ucap Rahma.


"Harus dikasih jalan dong, Ma." Novia benar-benar tak mau kehilangan Sinta.


"Kenapa kamu begitu yakin dengan Sinta?" tanya Rahma.


"Enggak tau kenapa. Tiba-tiba kok merasa klik aja sama anakmu itu," jawab Novia.


"Ma, aku tak punya anak perempuan. Anakku satu-satunya, ya Yogi. Dan tadi saat ketemu Sinta, aku merasa seperti punya anak perempuan." Novia mulai bercerita.


"Menyenangkan sekali punya anak perempuan. Kita bisa mendandaninya. Kita bisa mengaturnya. Beda kan dengan anak laki-laki?" tanya Novia.


"Semua tergantung cara mendidiknya, Nov. Surya anak laki-laki. Dan aku masih bisa mengendalikannya. Bahkan, kamu lihat baju yang dipakai Sinta dan Yogi?" tanya Rahma.


"Heem." Novia mengangguk, meski belum paham maksud selanjutnya.


"Yang dipakai Yogi itu bajunya Surya yang sudah kekecilan. Aku membelikannya beberapa tahun yang lalu. Aku belikan baju yang senada. Dan Surya tak menolaknya."


Rahma ingin mengatakan kalau anak laki-laki dan perempuan sama saja. Asalkan sebagai orang tua bisa mendidik mereka dengan baik.


"Hah...! Jadi Yogi pinjam bajunya Surya?" tanya Novia dengan mata terbelalak.


Rahma mengangguk.


"Yogi malu-maluin aja. Masa baju sampai pinjam, sih." Novia menepuk keningnya.


"Dari siang, Yogi ada di rumah kami. Dan saat papanya Surya mengajak kesini, aku ajak Yogi sekalian. Lalu Yogi pinjam bajunya Surya. Karena bajunya sudah kotor dipakai sendirian," sahut Rahma.


"Dan Yogi memilih baju yang kebetulan sama dengan pilihan Sinta. Kami juga enggak nyangka, lho," lanjut Rahma.


"Nah, itu bisa jadi sudah terjalin cemistry di antara mereka kan, Ma?"


"Ya bisa jadi. Tadi juga mereka sempat jadi bahan candaan kami. Lucu sekali." Rahma tertawa pelan.


"Dan kalau Yogi tak kamu ajak, enggak bakalan begini ceritanya kan, Ma?"


"Ya bisa jadi," sahut Rahma.

__ADS_1


"Berarti sudah ada jalannya itu." Novia tersenyum penuh kepastian.


"Kalian ngomongin apaan sih?" tanya Toni yang kemudian ikut bergabung dengan Rahma dan Novia.


Arya pun ikut mendekat.


Sepertinya pembicaraan bisnis mereka sudah selesai.


"Biasa, Pa. Namanya juga perempuan," jawab Rahma.


"Oh. Kayaknya kalian bisa cepat akrab, ya?" tanya Arya. Setahu Arya, istrinya susah untuk mendapatkan teman baru.


"Iya, Pa. Rahma asik diajak ngobrol. Nyambung gitu," jawab Novia.


Rahma hanya tersenyum. Dia memang harus selalu bisa membawa diri, terutama di depan relasi bisnis Toni.


"Kita juga bisa cepet nyambung. Dan dipastikan nanti kita bekerja sama untuk bisnis di sini," ucap Arya.


"Kalian kan memang sudah akrab dari jaman sekolah dulu, kan?" sahut Novia.


"Iya. Tapi itu kan udah puluhan tahun yang lalu. Dan beruntung, waktu enggak merubah cara berpikir kita. Hahaha." Arya tersenyum puas.


Bagi Arya, ini adalah titik awal untuk memulai bisnis di kotanya sendiri. Dan dia bisa mendapatkan partner yang cocok.


"Eh, anak-anak kemana?" tanya Toni.


"Ke rooftop. Kata Novia, disana tempatnya bagus buat foto-foto. Kita ke sana yuk, Pa," ajak Rahma.


"Ayo deh, kami juga ikut. Jadi penasaran, seberapa bagusnya sih."


Mereka pun meninggalkan ruang vip.


Sampai di rooftop, Yogi lagi asik mengambil foto Sinta. Dan Sinta berlagak seperti model, Yogi sebagai fotografer merangkap penata gaya.


"Yogi! Kita mau juga difoto, dong!" seru Novia.


Yogi dan Sinta menoleh.


"Udah, ah. Malu." Sinta langsung kembali ke tempat duduk mereka.


"Ya Mama, ganggu aja!" sahut Yogi.


"Oh, maaf. Mama enggak berniat mengganggu. Maksud, Mama kalau kalian udah selesai." Novia mendekati Sinta.


"Kok udahan?" tanya Novia pada Sinta.


"Enggak apa-apa, Tante." Sinta tersipu malu.


Surya malah menyendiri di pinggir pagar pembatas. Dia melihat pemandangan kota dari ketinggian lantai tiga restaurant.


Surya tak berniat sedikitpun untuk selfie. Ataupun bergabung, foto-foto dengan yang lain.

__ADS_1


Hatinya masih terasa kosong. Sejak Nadia menolaknya dan diapun memutuskan mundur, Surya seperti kehilangan separuh jiwanya.


Meskipun dihadapan orang lain, seolah Surya bisa melupakan Nadia, tapi sebenarnya sangat sulit baginya.


Hampir enam tahun kebersamaan mereka, tak bisa semudah itu melupakan. Surya hanya sekedar melepaskan saja.


Melepaskan Nadia untuk terus mengejar cintanya. Dan Surya hanya bisa menelannya bulat-bulat.


"Surya kenapa?" tanya Novia.


"Dia emang gitu, Ma. Sukanya menyendiri. Yogi ke sana dulu." Yogi langsung mendekati Surya.


"Liat apa, Bro?" tanya Yogi.


Surya menoleh. Tanpa berniat menjawab pertanyaan Yogi.


"Indah ya, pemandangannya?" tanya Yogi lagi.


Surya masih diam. Karena menurutnya, pertanyaan Yogi tak harus dijawab. Yogi sendiri sudah tahu jawabannya.


"Masih ingat Nadia?"


Surya menoleh lagi. Lalu menggeleng.


"Lu lagi membohongi diri sendiri, Bro. Gue tau, lu pasti lagi ingat Nadia," ucap Yogi.


Yogi tahu, di sana, di antara mereka, Surya merasa sendiri. Semua berpasangan. Tapi Surya tidak.


"Itulah makanya gue enggak mau jadian dulu ama Sinta, Bro. Gue enggak mau, disaat begini, elu merasa sendiri."


Yogi mengeluarkan rokoknya. Dia menawarkan pada Surya lebih dahulu.


Surya menolaknya.


"Kenapa? Ada nyokap lu? Ada bokap lu?"


Surya hanya diam. Dia tak mau mamanya kecewa saat melihatnya merokok. Karena Surya tahu, kalau mamanya tak suka dengan asap rokok.


"Lu mengorbankan diri lagi, Bro. Kali ini, demi orang tua. Bagus. Tapi enggak bagus buat perasaan lu."


Yogi menyalakan rokoknya.


"Dulu, nyokap gue juga enggak suka melihat gue merokok. Apalagi gue merokok saat masih SMP. Tapi gue tetep ngeyel. Toh, mereka jarang nemuin gue."


Yogi menghisap rokoknya lagi.


"Dan lama-lama, mereka terbiasa. Karena gue juga tau tempat. Dimana gue bisa bebas merokok, dimana enggak. Kapan gue bisa merokok, kapan enggak," ucap Yogi.


"Jadilah diri lu sendiri, Bro. Tapi tetap jangan egois. Jangan merugikan orang lain, atau mempermalukan orang lain," lanjut Yogi.


Surya kembali menatap Yogi.

__ADS_1


Dalam hati Surya merasa salut pada sahabatnya ini. Dia mampu menciptakan dunianya sendiri. Tak seperti dirinya, yang harus menjadi pribadi yang lain, demi orang-orang di sekitarnya.


__ADS_2