PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 82 TUKANG OJEK BARU


__ADS_3

Keesokan harinya, rutinitas di rumah Surya masih seperti biasanya.


Rahma dengan kesibukannya menyiapkan sarapan untuk suami dan anak-anaknya. Meskipun kalau pagi ada ART yang datang membantunya, tapi Rahma tak mau lepas tangan begitu saja. Kecuali badannya lagi kurang sehat.


Apalagi ART-nya baru. Karena yang lama mengundurkan diri. Alasannya mau ikut anaknya ke luar kota.


Rahma mesti mengajarinya ini itu. Karena Rahma paling tak suka pekerjaan dikerjakan asal-asalan. Semua harus tertata rapi dan selesai tepat waktu.


Toni yang selalu menunggu saat makan pagi, duduk di teras rumah sambil membaca berita terkini dari ponselnya.


Sinta yang masih selalu berantakan menyiapkan keperluan kuliahnya.


Juga Surya yang selalu rapi dan siap lebih awal.


"Kak, aku bareng ke kampus, ya?" pinta Sinta pada Surya.


"Iya. Nanti paling Yogi bawain motor kamu ke kampus," sahut Surya.


"Lho, memangnya motor Sinta kenapa?" tanya Rahma. Dia tak tahu kalau semalam Yogi meminjam motor Sinta.


"Maaf, Ma. Semalam motor Sinta dipakai Yogi pulang. Dia ke sini bonceng Surya. Motornya bocor bannya," jawab Surya.


"Oh. Kirain kenapa. Ya udah, kamu bareng kakakmu aja. Atau mau bareng papa?" Rahma melirik ke arah Toni.


Toni hanya mengangguk. Meskipun dia harus putar balik kalau mengantar Sinta ke kampus.


"Enggak deh, Ma. Kasihan papa. Mesti putar balik. Apalagi jam segini lagi macet-macetnya. Iya kan, Pa?"


Toni mengacungkan jempolnya ke arah Sinta. Dia senang karena anaknya yang manja itu sudah mulai bisa berpikir dewasa.


"Bu. Ada tamu. Katanya nyariin mas Surya," ucap Atik. ART yang baru bekerja hari ini.


Atik masih muda. Lumayan cantik. Dia baru punya anak satu yang masih sekolah SD. Suaminya katanya pergi dan tak pernah kembali.


Dia terpaksa bekerja meskipun jadi ART, demi menghidupi dirinya dan anak satu-satunya.


Atik pun hanya datang pagi sampai siang hari. Setelah itu dia pulang, dan akan kembali sore harinya hingga menjelang malam.


"Siapa, Tik?" tanya Rahma.


"Saya lupa nanyain namanya, Bu. Tapi oranganya....ganteng," jawab Atik malu-malu.


Maklum dia sudah lama hidup sendiri, membuatnya mau melirik lelaki lain.


"Paling Yogi. Surya ke depan dulu, Ma." Surya meninggalkan makanannya.


"Suruh Yogi sekalian sarapan. Ini tadi Mama bikin nasi goreng banyak!" seru Rahma.


Rahma selalu memasak sarapannya banyak. Sisanya akan dia bawakan pada ART-nya saat mereka pulang.


"Iya, Ma." Surya terus berjalan ke depan.

__ADS_1


"Pagi kakak ipar. Mana Cintaku?" sapa Yogi dengan senyum menyebalkan bagi Surya.


"Ngeselin. Ayo masuk. Kamu sengaja kan ke sini pagi-pagi, biar bisa numpang sarapan?"


"Hh! Sekate-kate lu. Gue kan kangen sama Cintaku," sahut Yogi.


Yogi tak tersinggung sedikitpun sama ucapan Surya. Karena dia tahu kalau itu cuma bercanda.


"Sinta lagi sarapan. Jangan diganggu!" Surya masuk kembali ke ruang makan.


Atik yang lagi membersihkan ruang tamu, mendengar obrolan mereka. Dia berpikir, kok jahat banget omongan Surya. Karena Atik belum paham dengan Surya yang suka bercanda tapi wajahnya datar.


"Permisi, Mbake," ucap Yogi pada Atik dengan sopan.


"Iya, silakan Mase...." Atik terpesona dengan kegantengan Yogi.


Meskipun Surya juga ganteng, tapi di mata Atik, Yogi lebih menarik.


"Sin. Nih, tukang ojekmu udah dateng," ucap Surya asal. Lalu dia duduk kembali di kursinya.


"Pagi, Om. Pagi, Tante," sapa Yogi dengan sopan.


"Hush! Kamu itu. Kalau ngomong sembarangan. Jangan didengerin ya, Yogi." Rahma merasa risi dengan omongan Surya.


"Enggak apa-apa, Tante. Saya udah kebal sama omongan anak Tante yang paling ganteng ini," sahut Yogi.


"Iyalah. Orang anaknya cuma dua. Masa iya, aku cantik. Melambai dong," sahut Surya.


"Aku kok tadi enggak disapa?" Sinta protes karena dia diabaikan oleh Yogi.


"Oh iya, lupa. Pagi Cinta. Eh, Sinta." Yogi malu sendiri karena keceplosan di depan orang tua Surya.


"Maaf, Om. Tante, keceplosan. Dia sih, ngajak becanda mulu." Yogi menunjuk Surya dengan dagunya.


"Kalian ini kalau becanda, bikin deg-degan mamanya Surya. Iya kan, Ma?" komentar Toni.


Rahma mengangguk. Kadang dia suka khawatir, yang dibecandain marah.


"Enggak usah khawatir, Tante. Kita sih biasa begini. Maklum anak muda," ucap Yogi.


"Ih, ngaku-ngaku muda. Umurmu lebih tua dari aku, tau!" sahut Surya.


"Iya. Tapi kan lebih muda dari Om Toni. Ya kan, Om?"


Rahma tertawa mendengar candaan Yogi.


"Ah, iya. Om suka nih yang model beginian. Bikin awet muda," sahut Toni.


"Kalau model kayak Surya bikin cepet tua ya, Om?" ledek Yogi.


"Aku tinggal nih. Biar kamu ke kampusnya sendirian," ancam Surya.

__ADS_1


"Ye....hobinya ngancam. Lagian siapa juga yang mau bonceng elu? Gue kan mau boncengin Sinta," sahut Yogi.


"Enak aja. Udah dapet ijin belum, mau boncengin anak gadis orang?" Surya terus saja meledek Yogi. Tapi giliran dibalas, langsung main ancam.


"Om, Tante. Saya boleh ya, numpang di motornya Sinta? Motor saya lagi masuk bengkel." Dengan percaya diri, Yogi meminta ijin pada Rahma dan Toni.


Rahma bukannya menjawab, tapi malah terkekeh. Karena menurutnya sangat lucu.


"Boleh. Tapi bayar!" Surya kembali meledek Yogi.


"Busyet, kakak ipar matre amat!" Yogi menepuk jidatnya sendiri. Karena kembali keceplosan.


"Maaf, Om. Tante. Keceplosan lagi," ucap Yogi sambil menagnkupkan kedua tangannya di depan mukanya.


Sinta tersipu malu mendengarnya.


"Cie...Ada yang malu-malu kucing!" Surya mengacak rambut Sinta.


"Iih, Kakak! Berantakan lagi, tau!" Sinta merajuk.


"Halah, cuma berantakan dikit aja. Paling yang lihat juga cuma Yogi!" sahut Surya.


"Eh, Papa berangkat duluan, ya. Ada meeting pagi ini," pamit Toni.


"Iya, Pa," sahut Surya dan Sinta berbarengan.


"Iya, Om. Ati-ati di jalan." Yogi pun ikutan menyahut.


Rahma mengantarkan Toni ke depan. Atik sedang menyapu lantai teras. Dia melihat, majikan barunya sangat romantis meski udah berusia tak muda lagi.


Dia membayangkan, andai saja punya suami seperti majikan lelakinya, pasti dia akan sangat bahagia. Apalagi punya suami kaya, dia tak mungkin jadi pembantu.


"Tik, kok melamun?" tanya Rahma. Toni sudah pergi dengan mobilnya.


"Eh, enggak Bu. Cuma lagi liatin Ibu sama bapak aja. Romantis banget," jawab Atik.


"Ya harus dong, Tik. Sama pasangan itu harus selalu romantis. Biar pasangannya enggak lirak lirik lagi," sahut Rahma.


Selama ini, Toni juga sangat romantis pada Rahma. Mereka mampu menjaga keromantisan sampai sekarang.


Dan keluarga mereka pun sangat harmonis. Hampir tak pernah ada masalah yang berarti.


"Ma, kita berangkat dulu, ya," pamit Sinta.


"Lho, sarapannya udahan?" tanya Rahma.


"Udah, Ma. Nanti kita kesiangan." Surya melihat jam tangannya.


"Ya udah, ati-ati. Sinta bonceng Yogi, kan?" tanya Rahma.


"Iya, Ma," jawab Sinta.

__ADS_1


"Lumayan, Ma. Tukang ojek baru!" Surya langsung kabur.


__ADS_2