
"Bisa jadi," sahut Surya.
"Memang lucu ya hidup ini? Kita yang sudah sebesar ini, tak bisa hidup terpisah. Hhh!" Nadia mendengus kasar.
"Bukan lucu, Nad. Tapi bodoh! Kita terlalu bodoh. Sampai tak bisa hidup terpisah," sahut Surya.
"Enggak ah, kamu aja yang bodoh. Aku sih enggak!" Tiba-tiba Nadia merubah mode pembicaraan serius mereka menjadi sebuah candaan.
"Iya deh. Aku bodoh. Kamu yang lucu. Dan....gemesin!" Surya mencubit pipi Nadia.
"Iih, sakit, Surya!" Nadia memekik.
"Mau yang enggak sakit?" tanya Surya.
Nadia menoleh ke arah Surya.
"Mau," sahut Nadia.
Surya mengangkat tangannya. Dan perlahan jemarinya meraih pipi Nadia. Lalu membelainya dengan lembut.
Nadia tak menolaknya. Dia menikmati sentuhan Surya. Sentuhan yang sudah lama diinginkannya. Tapi karena Nadia masih terbelenggu masa lalunya, dia selalu menolak.
Nadia meraih jemari Surya dan semakin melekatkan di pipinya.
Perlahan Surya mendekatkan wajahnya ke wajah Nadia. Hingga hembusan nafas mereka menyatu. Hangat. Dan semakin panas.
Nadia terkesiap saat hembusan itu semakin panas. Dia mendapati wajah Surya tinggal beberapa centi lagi.
Nadia langsung memalingkan wajahnya.
"Kenapa, Nad?" Suara Surya terdengar parau.
"Kita ada di luar, Sur. Jangan sampai ada yang melihatnya dan kita diteriaki," jawab Nadia.
Surya terkekeh. Benar juga kata Nadia.
Surya meraih pinggang Nadia dan memeluknya dari belakang.
"Tapi kamu tak menolaknya kan, Nad?" bisik Surya di telinga Nadia.
"Surya....udah dong. Malu kan kalau dilihat orang." Nadia berusaha melepaskan pelukan Surya.
Meski hati kecilnya menginginkan, tapi akal sehatnya masih bisa diajak kompromi.
"Iya, Nad. Maaf," ucap Surya.
"Aku....terbawa suasana," lanjut Surya.
"Hm! Sok romantis!" ucap Nadia.
"Sekali-kali romantis boleh dong?" sahut Surya.
"Enggak salah orang, romantisnya?" tanya Nadia.
"Enggaklah. Kalau sama Yogi, itu baru salah orang."
Dan tiba-tiba Surya terkekeh. Dia ingat sesuatu.
"Idih, ketawa. Emang ada yang lucu?" tanya Nadia.
Lalu Surya menceritakan kejadian saat di cafe dekat rumah mereka. Saat dia dan Yogi lagi bicara serius, dan tiga cewek memperhatikan mereka.
Tapi kemudian cewek-cewek itu menganggapnya dan Yogi pasangan gay.
"Emang pantes kalian berdua jadi pasangan gay," ucap Nadia.
"Enak aja. Pantes gimana, coba?" tanya Surya.
__ADS_1
"Yang satu pecicilan, yang satunya gemulai. Hahaha."
"Maksud kamu, aku gemulai gitu?" Surya bertanya dengan geram.
"Bukan cuma aku yang bilang, Sur. Kamu itu terlalu lembut untuk jadi laki-laki. Seorang lelaki sejati itu..."
Ingatan Nadia kembali pada sosok Dewa yang sangat dikaguminya. Bahkan mungkin dicintainya.
Sekilas penampilan Dewa mirip Yogi. Sikapnya juga sebelas dua belas. Sedikit urakan. Konyol. Kadang keras.
Tak seperti Surya yang dari kecil lebih pendiam. Penurut. Sopan dan juga lembut.
Dewa juga sangat suka tantangan. Suka mencoba hal-hal baru. Terutama yang memacu adrenalin.
Lain dengan Surya. Hidupnya terlalu monoton. Ibarat jalan, terlalu lurus tanpa tanjakan dan turunan, apalagi berkelok.
Tapi sayangnya, orang yang dimaui Nadia malah menghilang tanpa jejak. Sedang yang dihadapinya hanya Surya.
Surya yang selalu ada untuknya. Selalu siap membantu kesulitannya. Keluar dari masalahnya.
"Heh! Malah melamun!" Surya membuyarkan lamunan Nadia.
"Eh, sorry....sorry, Sur. Aku terbawa suasana," sahut Nadia asal.
"Hmm. Itu kata-kataku tadi, Nadia!"
"Iya tau! Pinjem. Boleh dong pinjem?" tanya Nadia.
"Kalau pinjem tuh ngomong dulu!" sahut Surya.
Salah satu perubahan Surya. Kalau dulu, Surya pasti akan bilang, pakai aja. Atau, ambil kalau kamu mau.
Tapi tidak dengan sekarang. Surya sudah mampu menolak kemauan Nadia.
Sekarang Surya sudah berpikir kalau dia juga berhak mengambil keputusan.
Jadilah diri elu sendiri, Surya. Kata-kata Yoga masih melekat di dalam otaknya.
"Katanya aku mesti jadi lelaki sejati. Ya harus galak dong," sahut Surya.
"Tapi kan enggak harus galak juga, Surya!"
"Masa segitu aja galak? Memang wajahku kelihatan galak, ya?" Surya menatap wajah Nadia.
"Enggak! Cuma nyebelin!" sahut Nadia.
"Sekali-kali nyebelin, boleh dong?" Surya terkekeh.
"Udah, ah. Ayo pulang. Aku kan mesti ambil motor juga," ajak Nadia.
"Bengkelnya tutup sampai malam," sahut Surya.
"Terus kita mau di sini sampai malam?" tanya Nadia.
"Kalau iya, kamu mau kan nemenin aku di sini?" Surya malah merebahkan badannya di atas batu besar itu.
"Ogah!" jawab Nadia.
"Ya udah kalau ogah. Aku juga ogah nganterin kamu ke sana!" Surya malah memejamkan matanya.
"Aku bisa pesan ojek online!" Lalu Nadia mengambil ponselnya di tas.
"Mau ngapain?" tanya Surya yang memicingkan matanya.
"Pesen ojek online!" jawab Nadia.
"Udah, enggak usah. Aku antar aja," ucap Surya.
__ADS_1
"Enggak usah repot-repot!" sahut Nadia.
"Aku enggak repot kok. Cuma nanti dulu. Aku mau...." Surya berpikir sejenak.
Nadia menoleh.
"Mau apa?" tanya Nadia.
Surya beranjak duduk. Lalu menggenggam tangan Nadia.
"Aku mau ngomong sama kamu." Surya menatap wajah Nadia dengan lekat.
Nadia pun balas menatapnya.
"Nad. Aku mau ngomong sesuatu sama kamu. Aku....cinta kamu, Nad."
Glek!
Nadia menelan ludahnya.
Surya nekat mengungkapkan perasaannya. Meski Nadia pernah menolak, tapi Surya ingin Nadia tahu, kalau dia masih menyimpan perasaan itu.
Terserah sekarang Nadia mau terima atau tidak. Surya sudah siap untuk dikecewakan lagi.
Surya juga ingin merubah kenangan Nadia dengan tempat ini. Menghapus kenangan tentang Dewa dan berubah menjadi kenangan manis bersamanya.
"Nad! Kamu dengar kan?" tanya Surya.
Nadia mengangguk.
"Kamu sudah tak mengharapkan dia lagi, kan?"
Nadia mengangguk.
"Boleh aku menggantikannya?" pinta Surya.
Ngenes banget enggak sih? Seorang lelaki sampai seperti mengemis cinta dari wanitanya.
Tiba-tiba mata Nadia berkaca-kaca. Dia tak menyangka kalau Surya masih terus menyimpan perasaannya. Meski dia pernah menolaknya terang-terangan. Dan mengatakan kalau dia masih tetap menunggu Dewa.
Perlahan air mata itu mengalir. Surya menghapus dengan jemarinya.
"Kenapa menangis, Nad?"
Lalu Surya meraih tubuh Nadia dan memeluknya dengan erat.
"Aku cinta kamu, Nad. Aku sayang banget sama kamu. Aku tak bisa jauh dari kamu," ucap Surya sambil terus memeluk Nadia.
Nadia malah sesenggukan. Surya melepaskan pelukannya.
"Udah dong, jangan nangis lagi. Nanti kalau ada liat, dikira aku nakalin kamu," ucap Surya sambil menghapus air mata Nadia.
"Kamu jelek tau kalau nangis!" ledek Surya.
"Iih. Nyebelin!" Nadia memukuli dada Surya.
"Emang jelek kok. Tuh, liat! Keluar ingusnya juga. Jorok, ih!" Surya mengedikan bahunya, pura-pura merasa jijik.
Nadia mengelap ingusnya dengan punggung telapak tangannya, lalu mengelapkan ke lengan kemeja Surya.
"Jorok, ih! Malah dilapin ke bajuku!" Surya melihat lengan bajunya yang basah.
"Biarin....!" Nadia juga menghapus air matanya sendiri.
"Udah, ah. Pulang yuk. Aku laper!" ajak Nadia. Lalu dia berdiri.
"Eit! Entar dulu!" Surya menarik tangan Nadia.
__ADS_1
"Apa lagi?" tanya Nadia.
"Kamu belum jawab pernyataanku tadi."