PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 53 CENG CENGAN


__ADS_3

Sinta membawa nampan berisi minuman ke ruang tamu. Yogi dengan setia mengikutinya dari belakang.


Sebenarnya membuat jantung Sinta dagdigdug. Tapi Sinta berusaha tetap tenang.


"Wah, kayaknya ada pasangan baru, nih?" komentar Viona.


Surya yang sedang minum sampai tersedak.


"Ati-ati, Surya!" seru Nadia. Lalu menepuk-nepuk punggung Surya perlahan.


"Enggak apa-apa, Nad. Makasih, ya," ucap Surya. Dia bahagia, karena Nadia begitu peduli dengannya. Bahkan dilakukan di depan Viona.


Viona menghela nafasnya. Mestinya dia yang menepuk-nepuk punggung Surya. Bukan Nadia yang ngakunya cuma bersahabat dengan Surya.


Tapi sayang, posisinya duduk tak memungkinkan. Karena tak ada tempat di antara Surya dan Nadia.


"Kenapa lu? Setuju kan, kalau gue macarin Cinta?" tanya Yogi pada Surya.


Surya paham, kalau Yogi menanyakan itu tidak serius. Cuma buat manas-manasin Viona.


"Sinta, Yogi! Sinta! Bukan Cinta!" sahut Surya.


"Terserah gue lah. Elu aja manggil Nadia pake sayang-sayangan, gue kagak protes!" Yogi semakin manas-manasin Viona.


Benar saja, wajah Viona langsung memerah. Sepertinya hampir mengeluarkan asap. Hahaha. Yogi tertawa dalam hati.


"Iya kan, Nad?" Yogi berharap Nadia mengiyakan.


"Ah, kamu sukanya bikin gosip aja!" sahut Nadia.


"Ye...siapa juga yang bikin gosip. Semua orang juga tau, Nadia," sahut Yogi.


Viona yang merasa kepanasan, menenggak minumannya hingga kandas. Sampai Sinta tak tega melihatnya.


"Kak Viona mau dibuatkan minum lagi?" tanya Sinta.


"Enggak. Makasih, Sin. Oh, iya. Aku cepetan ya, Nad. Tadi cuma mampir. Aku mau....nyari buku di toko buku." Rupanya Viona sudah tak bisa menahan kekesalannya.


"Lho, kok gitu sih. Kan baru aja sampai?" protes Nadia.


"Yang penting udah lihat kondisi kamu, Nad. Aku pulang dulu, ya. Bye semua." Viona langsung berdiri dan melangkah pergi.


"Panas! Kayak cacing kena matahari!" ucap Yogi setelah Viona pergi.


"Kamu jahat, ih!" ucap Nadia pada Yogi.


"Dia yang lebih jahat, Nad!" sahut Yogi.


"Memangnya kenapa, sih?" Nadia terus berharap Yogi bisa menaklukan Viona.

__ADS_1


Bukannya Nadia tak mengijinkan Viona mengejar Surya. Tapi Nadia belum siap kehilangan perhatian dari Surya. Karena sejak Dewa pergi, hanya Surya satu-satunya sahabat setianya.


"Kan tadi udah aku ceritain. So, buat apa buang-buang waktu untuk cewek macam dia."


Semua yang mendengar hanya diam. Termasuk Surya. Meskipun yang dikatakan Yogi sangat menohoknya.


Apa yang dialami Yogi, bisa dirasakan oleh Surya. Karena dia juga mengalaminya.


Dan rupanya Susi memesan makan lewat aplikasi untuk teman-teman Nadia.


"Nad, ada kurir bawa makanan. Kamu pesan makanan?" tanya Surya yang melihatnya lebih dulu.


"Enggak. Mungkin mamaku. Surya, tolong terima dulu. Aku panggilkan mama." Nadia hendak bangkit.


"Eh, udah. Biar Sinta aja yang manggil mamamu. Kamu duduk aja di situ," cegah Surya. Dia khawatir Nadia jatuh lagi.


"Enggak usah, Sin. Yang pesan makanan aku kok," ucap Yogi.


"Hah....!" Nadia terkejut.


"Kok kamu?" tanya Surya.


"Iya. Udah sana ambil makanannya. Aku kan enggak bawa apa-apa kesini. Jadi aku pesankan makanan aja buat kita makan bareng-bareng," jawab Yogi.


"Enggak usah gitu juga, kali. Mamaku juga udah masak. Maksudku mbok Nah udah masak sebelum pamit tadi," sahut Nadia. Dia merasa tidak enak karena malah tamunya yang pesan makanan.


"Sekali-kali kan enggak apa-apa, Nad," sahut Yogi.


"Enak aja! Bisa bangkrut gue!" elak Yogi.


"Enggak apa-apa. Aku pingin lihat kamu miskin. Biar enggak belagu lagi!" sahut Surya.


"Sembarangan. Entar gue enggak bisa traktir Cinta dong." Yogi terus saja membuat wajah Sinta merona.


"Sinta enggak perlu kamu traktir. Uangnya udah banyak!" Surya pun terus berusaha menolak Yogi.


"Ee, udah ah.Ayo kita makan," ajak Nadia. Dia melihat makanan yang dibeli Yogi menggiurkan.


Sinta mengeluarkan makanan itu dari paper bag. Lalu menaruhnya di meja.


Surya mengambilnya satu box. Dan dengan telaten dia membukakannya untuk Nadia.


"Cin...Kamu mau kan melayani aku kayak gitu?" pinta Yogi pada Sinta. Yogi terus saja mengganti nama Sinta dengan Cinta.


"Enggak usah manja. Ambil sendiri!" seru Surya. Dia tak suka Yogi mendekati dan menggoda adiknya terus.


"Ya elah. Aku juga mau dilayani kali, Sur," sahut Yogi.


Sinta segera mengambil satu dan membukakannya untuk Yogi.

__ADS_1


"Tuh, Cinta mah baik. Enggak kayak elu! Jahat banget ama gue!" Yogi tersenyum senang.


"Makasih, Cinta...! Kalau kakaknya enggak jahat, udah aku pacarin kamu," ucap Yogi menggoda Sinta.


"Jangan ngarep deh. Sinta masih kecil!" sahut Surya.


"Busyet, galak amat! Cin....kita backstreet aja, yuk," ajak Yogi.


"Jangan dengerin, Sinta. Udah cepetan makan. Terus kita pulang," ucap Surya.


"Kamu juga makan, Sur. Yogi udah berbaik hati lho sama calon kakak ipar." Kini Nadia malah ikut membela Yogi.


"Kalau kamu belain Yogi, aku cium kamu di depan mereka," ancam Surya pelan di telinga Nadia.


Mata Nadia langsung melotot. Tapi terus diam. Karena tak mau Surya benar-benar melakukan ancamannya.


"Nah, diem kan kalau Nadia yang ngomong. Mau ngomong apa lagi, lu?" tantang Yogi.


"Rame amat! Eh, ini pada makan apa?" tanya Susi yang baru keluar dari kamarnya dan menghampiri mereka.


"Yogi yang mesenin, Ma. Katanya karena dia enggak bawa apa-apa ke sini," jawab Nadia.


"Aduuh....Yogi kok repot-repot sih. Di meja makan juga banyak makanan tuh," sahut Susi merasa tidak enak.


"Enggak repot kok, Tante. Mari ikut makan, Tan. Ini kan masih ada." Yogi menawari Susi untuk makan bareng.


"Tante masih kenyang. Buat kalian aja. Tante tinggal ke depan dulu, ya."


"Iya, Tante," sahut mereka berbarengan.


Susi berjalan ke depan. Seperti biasanya, saat sore hari dia akan sibuk dengan tanaman-tanaman kesayangannya.


"Mama kamu ramah banget ya, Nad. Kalau mamanya Cinta ramah enggak?" tanya Yogi.


"Mamaku galak! Jangan coba-coba kamu deketin Sinta. Bisa dimakan hidup-hidup, kamu!" Surya menakut-nakuti Yogi.


"Gue enggak percaya. Kalau galak, anaknya enggak bakalan semanis ini." Yogi menowel hidung Sinta.


"Eh, jangan pegang-pegang!" Surya menepis tangan Yogi.


"Nah kalau Surya, kelihatannya dulu mamanya salah ambil bayi waktu di rumah sakit. Yang keambil anak turunan macan. Galak banget."


Nadia dan Sinta tergelak mendengarnya. Surya langsung pasang tampang serem.


"Kurang serem, Sur. Gini nih!" Yogi mencontohkan wajah seremnya.


Kembali Nadia dan Sinta tergelak. Yogi yang punya sifat selengek'an malah terlihat lucu.


Mereka terus saja bercanda sampai makanannya habis. Bahkan tak sadar, Nadia dan Yogi nambah. Karena masih sisa dua box lagi.

__ADS_1


"Eh, kak Nadia ama kak Yogi, doyan apa laper?" komentar Sinta yang dari tadi hanya ketawa-tawa saja.


Ternyata Nadia punya sifat yang sama dengan Yogi. Lahap makan kalau ada temennya.


__ADS_2