PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 145 MESTINYA KAU MILIKKU


__ADS_3

Surya hanya bisa menatap Nadia yang diam menahan tangisnya.


"Nangislah yang keras, kalau itu bisa membuat kamu lega," ucap Surya.


Nadia menggeleng. Lalu berdiri dan berjalan menuju pantai. Dia tinggalkan tas ranselnya di bangku.


Surya membawanya dan berjalan juga mengikuti Nadia.


Di pinggiran pantai Nadia duduk di atas pasir yang masih basah. Surya ikut duduk di sebelah Nadia.


Nadia hanya diam memeluk lututnya.


"Apa kamu masih butuh jawaban yang lebih jelas lagi dari Dewa?" tanya Surya.


"Ini semua salah kamu, Surya!" ucap Nadia. Suaranya yang cempreng bisa mengalahkan suara deburan ombak yang pecah di pantai.


"Kenapa aku?" tanya Surya. Dia tak merasa bersalah. Dia dekat bahkan sangat dekat dengan Nadia, saat Dewa sudah pergi.


"Mestinya dahulu kamu biarkan aku sendiri menunggu Dewa! Dan dia pasti tak akan menganggap kita punya hubungan!" jawab Nadia.


"Kenapa dahulu kamu enggak menolaknya? Bukankah kamu juga yang sering memintaku mengantarmu kemana-mana? Bukankah kamu juga yang meminta kita berlibur ke Jogja?" Surya tak mau disalahkan.


"Mestinya kamu tak menurutiku. Mestinya kamu menolakku!" sahut Nadia.


"Oke. Kalau kamu anggap itu adalah salahku, maafkan aku." Surya meletakan tas ransel Nadia di bawah, lalu pergi begitu saja.


Surya tak mempedulikan lagi saat Nadia menatap kepergiannya. Surya sudah tak mau lagi berurusan dengan Nadia yang bisanya cuma menyalahkannya.


Surya kembali ke mobilnya. Sambil dia mencari Dewa dan Viona yang tadi ikut di mobilnya. Bagaimanapun Surya mesti mengantarkan mereka kembali.


Tapi sayangnya, Surya tak menemukan mereka. Bahkan Sinta dan Yogi pun tak nampak. Hanya mobil Yogi yang masih terparkir di sebelah mobilnya.


Surya tak berniat menelpon mereka. Pikirnya, biarkan saja mereka yang sedang menikmati dunianya.


Mereka sudah mendapatkan kebahagiaannya. Tak seperti dirinya, yang tak juga bisa menggapai impiannya.


Surya bertanya pada tukang parkir letak hotel terdekat. Dia ingin tidur dan melupakan semua masalahnya.


"Ada, Mas. Keluar aja dari area sini, lalu belok kanan. Tidak jauh dari situ ada hotel. Ada beberapa sih. Tinggal pilih aja," jawab tukang parkir itu.


"Iya, Pak. Terima kasih," ucap Surya, lalu memberinya tip karena sudah menjaga mobilnya. Juga mobil Yogi. Meskipun nanti pastinya Yogi akan memberi tip juga.


Setelah mendapatkan kamar hotel, Surya mengirimkan pesan pada Yogi. Memberitahukan dimana dia menginap. Biar Yogi dan Sinta tak kebingungan lagi mencarinya.

__ADS_1


Sementara Putra sudah sampai kembali di rumah Viona.


Mereka tadi pulang dengan naik becak. Karena mereka tak enak kalau harus minta diantar Surya lagi.


Lagi pula rumah Viona tak terlalu jauh dari area pelabuhan.


Sebenarnya jalan kaki saja bisa sampai, tapi Putra yang sudah lama tak pernah naik becak, ingin mencobanya lagi.


Sepanjang perjalanan tadi, tak ada obrolan diantara mereka. Putra hanya menggenggam tangan Viona dengan erat.


Putra sendiri sedang bergelut dengan hatinya. Hati yang semestinya adalah milik Nadia. Andai saja dulu dia mau benar-benar mencari tahu tentang Nadia. Bukan hanya menebak dan percaya omongan orang lain.


Sementara Viona sedang merasa apakah benar Putra mencintainya. Atau hanya sekedar lari dari bayangan Nadia.


Dan akan kembali lagi pada Nadia setelah pertemuan tadi. Meskipun Viona sebelumnya berpikir tak akan melepaskan Putra, tapi setelah melihat kejadian tadi, sepertinya dia harus meralatnya.


Sampai di rumah Viona, sudah menjelang malam. Kedua orang tua Viona yang sedang keluar kota, belum kembali.


"Bapak sama ibu kamu kapan pulang?" tanya Putra setelah sampai di ruang tamu rumah Viona.


"Kemungkinan mereka menginap. Kalau kak Vino memang jarang pulang, kan," jawab Viona.


"Kamu sendirian dong di rumah?" tanya Putra.


"Ya udah. Aku temani, ya," ucap Putra.


"Kamu mau menginap di sini?" tanya Viona.


"Kalau boleh. Kapalku baru akan berlayar lagi besok sore," jawab Putra.


"Boleh aja. Kamu bisa tidur di kamar kak Vino. Kamarnya bersih, kok. Ibu selalu membersihkannya meski kakak jarang pulang. Kamarku juga," sahut Viona.


"Kenapa aku tak tidur di kamar kamu aja?" tanya Putra.


Blush!


Wajah Viona langsung merona. Dia bingung mesti menjawab bagaimana. Sedangkan mereka belum menikah. Bagaimana kalau sampai mereka melakukannya?


"Enggak usah khawatir, Viona. Aku akan menjaga diri. Kamu takutkan aku berbuat macem-macem?" tanya Putra.


Viona mengangguk pelan.


Meskipun Viona tinggal di perantauan sendirian, dia selalu berusaha menjaga diri dari pergaulan bebas.

__ADS_1


Viona tak mau kenikmatan sesaat bakal menghancurkan impiannya menjadi seorang sarjana ekonomi.


Ya, impian Viona ingin menjadi sarjana ekonomi dan bekerja di perusahaan yang ada di kotanya ini.


Viona ingin suatu saat bisa membantu ekonomi orang tuanya. Dan menjadi kebanggaan mereka.


"Kamu mau kopi?" tanya Viona. Dia berusaha menghindar dari percakapan tentang acara tidur mereka nanti malam.


"Boleh. Aku ke warung depan dulu, ya. Beli rokok," jawab Putra.


"Ya. Enggak perlu aku antar, kan?" tanya Viona. Karena warung itu berada hanya di seberang rumah Viona.


"Enggak. Kamu bikin kopi aja. Jangan terlalu manis. Liatin kamu aja udah bikin aku diabetes," goda Putra.


"Kamu, ih. Gombal!" sahut Viona, lalu masuk ke dapur rumahnya.


Perasaannya begitu sangat bahagia. Bukan karena Putra mau menginap di rumahnya, tapi Viona tak perlu lagi khawatir Putra akan bertemu dengan Nadia.


Nad, mestinya kamu sadar kalau Putra telah menjadi milikku. Kamu tak perlu menyalahkan siapapun. Karena ini bukanlah sebuah kesalahan.


Semua sudah takdir yang harus kita jalani, Nad. Jangan kamu paksa Putra untuk menerimamu kembali. Batin Viona sambil membuatkan kopi untuk Putra.


Setelah kopinya jadi, Viona kembali ke ruang tamu. Ponsel Putra tergeletak di atas meja. Putra meninggalkannya begitu saja. Mungkin karena dia berpikir hanya akan pergi sebentar.


Viona tak berniat membukanya. Karena dia menghargai privasi Putra. Putra pun tak pernah membuka ponselnya, meski Viona sering meletakannya sembarangan saat bersama Putra.


Lima menit, Viona menunggu Putra dari warung rokok. Tapi Putra tak juga datang. Padahal mestinya Putra sudah kembali.


Karena warung itu hanya berada di seberang rumah Viona agak ke kanan beberapa rumah saja.


Viona berjalan keluar. Dia ingin melihat Putra dari teras rumahnya. Dari sana, warung itu terlihat jelas.


"Ooh, ternyata warung itu tutup. Lalu Putra beli rokok dimana?" gumam Viona.


Viona berjalan lebih keluar lagi dari rumahnya. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri. Tak ada warung yang buka.


Dan setahunya di daerah itu hanya ada satu warung yang menjual rokok. Kecuali sebuah minimarket dekat perempatan.


Viona berniat menyusul Putra ke minimarket itu. Sekalian juga mau beli makanan kecil. Buat berjaga-jaga kalau Surya, Yogi dan Sinta mampir kembali ke rumahnya.


Setelah mengunci rumahnya, Viona berjalan ke arah minimarket itu.


Begitu membuka pintu minimarket, Viona disambut dengan pemandangan yang sangat menusuk hatinya.

__ADS_1


"Nadia....!" ucap Viona dengan bibir bergetar.


__ADS_2