
Nadia tertidur di kamarnya setelah asik bernostalgia dengan masa lalunya. Entah apa yang masuk ke alam mimpinya.
Haris dan Susi pun setelah selesai makan dan istirahat sebentar, mereka masuk ke kamar.
Haris sudah tak bisa menahan lagi rasa kantuk dan capeknya.
Tengah malam, Nadia terjaga. Dia menggeliat lalu merasakan perutnya lapar. Tapi karena mata masih mengantuk, Nadia mencoba memeluk gulingnya dan merem lagi.
Tapi cacing-cacingnya terus saja seperti berkonser. Akhirnya meski dengan rasa malas, Nadia turun.
Dia berjalan ditengah keremangan lampu rumah menuju ruang makan. Di atas meja tak ada apa-apa. Karena seperti biasanya, mbok Nah akan memberesi meja makan setelah semua selesai makan.
Nadia berdecak sebal. Lalu berjalan ke lemari tempat meyimpan makanan. Di sana pun tak ada makanan. Hanya dua potong ayam goreng yang sudah dingin. Dan pastinya sudah mengeras.
Terus aku makan apaan ini? Nadia memegang dua potomg ayam goreng itu.
Keras banget. Bisa patah gigiku. Nadia meletakannya kembali ke piring dan menutup pintu lemari makan.
Tek.
Tek.
Tek.
Nadia mendengar suara sendok dan entah apaan, dibunyikan. Dia bergegas keluar, mencari tau suara apaan itu.
Dari jendela ruang tamu, Nadia mengintip keluar. Ternyata di jalanan, tak jauh dari rumahnya, ada gerobak berhenti.
Nadia keluar untuk melihatnya.
Wow....Nasi goreng!
Nadia langsung menelan ludahnya.
Cleguk.
Nadia pun membuka pintu pelan-pelan. Jangan sampai mengganggu anggota keluarganya yang sedang terlelap.
Setelah pintu terbuka, Nadia pun keluar rumah. Lagi-lagi dia harus pelan dan hati-hati membuka pintu pagar.
Nadia pun bernafas lega, setelah bisa benar-benar keluar dari rumahnya. Dia pun menghampiri tukang nasi goreng.
"Bang. Aku buatin satu, ya. Yang pedes. Antri berapa?" tanya Nadia.
"Iya, Neng. Bentar, ya. Masih ada tiga lagi ini," jawab si penjual nasi goreng.
"Ya udah. Aku masuk dulu, ya. Mau ambil piring ama uangnya."
Nadia bergegas kembali masuk ke rumahnya. Seperti tadi, Nadia pun mengendap-endap.
Di dalam rumahnya masih sepi. Tak ada satu orangpun yang terganggu.
Nadia naik dulu ke kamarnya. Dia mau ambil uang, baru ambil piring.
"Ah, beres." Nadia pun bergegas keluar kembali.
"Nih piringnya, Bang," Nadia mengulurkan piring ke tukang nasi goreng. Dia tak memperhatikan siapa yang berdiri di samping kanan tukang nasi goreng itu.
Surya yang dari tadi sudah berdiri di situ dan melihat Nadia keluar dari rumahnya, merasa serba salah. Mau menyapa tidak enak. Enggak nyapa juga lebih tidak enak lagi.
"Kalau Masnya pedes enggak?" tanya tukang nasi goreng pada Surya.
"Biar mbaknya itu dulu aja, Bang. Saya belakangan," sahut Surya.
__ADS_1
Nadia merasa mengenali suara itu. Spontan dia melihat ke arah Surya. Dan tatapan mereka beradu.
"Nad," sapa Surya.
"Surya," sapa balik Nadia.
"Kamu duluan, ya. Aku belakangan aja," ucap Surya.
"Kok gitu?" tanya Nadia.
"Iya. Ini udah malam. Anginnya gede, nanti kamu masuk angin lagi," jawab Surya.
Surya tidak tega mengingat saat Nadia tadi muntah-muntah di rumah sakit.
"Ini jadinya gimana?" tanya tukang nasi goreng.
"Dia duluan aja, Bang. Saya setelahnya," jawab Surya.
Nadia mengangguk menurut.
"Yang pedes banget ya, Bang," ucap Nadia.
"Nad. Kamu jangan makan yang pedes-pedes dulu. Kan belum sembuh," larang Surya.
"Aku udah sembuh kok," sahut Nadia.
"Tapi kamu masih keliatan pucat, Nad," sahut Surya juga.
Padahal Nadia kelihatan pucat karena bangun tidur dan lapar.
"Enggak ah, biasa aja," jawab Nadia, lalu tersenyum. Bukan buat menarik perhatian Surya, tapi untuk membuktikan kalau dia tidak pucat dan sudah sembuh.
Nadia sekarang akan melakukan apapun asal dia bisa makan yang diinginkannya.
"Pedas, Bang. Kan yang mau makan aku. Bukan dia," sahut Nadia.
Penjual nasi goreng jadi kebingungan.
"Jadinya gimana, ini? Pedas apa enggak?" tanya penjual nasi goreng.
"Pedas!" seru Nadia. Berbarengan dengan Surya yang juga berseru.
"Enggak!"
Tukang Nasi goreng celingak celinguk.
"Ya udah, biar adil dua-duanya saya bikinkan sama. Sama-sama enggak pedas. Biar saya bisa ngirit cabe!"
Skak mat.
Tukang nasi gorengnya udah keburu bete. Mereka berdua terpaksa menurut daripada enggak dijualin.
Tapi tukang nasi goreng, enggak pelit-pelit amat. Dia tetap memberikan cabai, walaupun cuma sedikit.
"Ini udah jadi. Rasanya sama. Biar kalian enggak rebutan."
Tukang nasi goreng memberikan dua piring yang ternyata warna dan bentuknya sama.
"Punya saya yang mana, Bang?" tanya Nadia.
"Ya....saya lupa. Piringnya sama sih," jawab tukang nasi goreng.
"Ya udah, sama aja. Kalau besok tante Susi nyariin piringnya, berarti ada di rumahku," ucap Surya.
__ADS_1
Nadia mengangguk.
"Berapa, Bang?" tanya Surya.
"Dua?" tanya tukang nasi goreng.
"Iyalah. Masa satu gerobak!" jawab Surya.
Tukang nasi goreng cuma nyengir. Lalu menyebutkan harganya.
"Ini uangnya, Bang." Surya memberikan uangnya.
Nadia juga ikut memberikan uangnya. Uang yang sama-sama pecahan limapuluh ribuan.
"Satu aja uangnya. Bayarnya jadi satu. Kalau mbaknya mau bayar, kasih aja uangnya ke masnya ini," ucap tukang nasi goreng.
Nadia menurut. Dia memberikan uangnya pada Surya.
"Enggak usah, Nad. Biar aku yang bayar punya kamu," tolak Surya.
"Enggak apa-apa. Aku ikhlas, kok," ucap Nadia.
"Aku juga ikhlas kok, bayarin kamu," sahut Surya.
"Udah...udah. Nih, kembaliannya. Saya pusing!"
Tukang nasi goreng buru-buru pergi, setelah memberikan uang kembalian pada Surya.
"Sini uang kembaliannya buat aku. Kamu bawa ini." Nadia tetap mengulurkan uangnya.
"Sama aja aku dibayarin kamu, dong," ucap Surya.
"Terus?" tanya Nadia.
"Terus kita makan nasi gorengnya. Di rumah masing-masing!" Surya langsung berbalik badan dan pulang ke rumahnya sendiri.
Nadia pun ikut membalikan badannya.
Sementara saat Nadia sedang menunggu nasi goreng tadi, Susi terbangun. Dia merasa lupa belum mengunci pintu depan, tadi saat dia mau masuk kamar.
Padahal setelah Susi masuk kamar, mbok Nah mengunci semuanya.
Susi keluar dari kamarnya.
"Nah benar kan, belum dikunci," gumam Susi. Lalu dia menguncinya dari dalam.
Setelah mengunci pintu dan membetulkan kordennya yang tersingkap, Susi masuk kembali ke kamarnya.
Nadia yang sudah selesai mengantri nasi goreng, berjalan masuk ke rumah.
"Lho! Kok enggak bisa dibuka? Siapa yang ngunci nih? Masa ngunci sendiri," gumam Nadia.
Nadia berusaha membukanya, tapi tetap saja tidak bisa.
Aduh, gimana ini?
Nadia mulai panik. Dia nengok ke kanan dan ke kiri. Suasana di luar sangat sepi. Sudah tak ada siapapun, termasuk Surya yang sudah pulang ke rumahnya.
Nadia menekan bel.
"Mati lagi!" gumam Nadia.
"Mama! Mama...! Bukain pintunya, Ma!" teriak Nadia.
__ADS_1
Nadia menggedor-gedor pintu rumah. Tapi percuma saja. Mereka sudah kembali terlelap dalam mimpinya.